Blind Date With CEO

Blind Date With CEO
Bertanggung Jawab



Pagi menjelang, mentari menghangati bumi dengan memancarkan sinarnya. Sinar tersebut menyilaukan dan membuat kedua insan yang semalam telah menghabiskan malam dengan tanpa sengaja terganggu oleh sinarnya.


"Ugh..." Vania terbangun dengan perasaan nyeri di sekujur tubuhnya. Dia melihat pemandangan disekelilingnya, samar-samar dia mengingat hal yang terjadi semalam. Kepalanya berdenyut rasanya sakit sekali seperti ada yang menghantam. Vania melihat di sampingnya terdapat pria yang "menolongnya" semalam, pria tersebut masih tertidur dengan nyenyak.


"Apa yang harus aku lakukan?" Dengan kepala yang terus berdenyut dan merasakan perih terutama di bagian inti tubuhnya, Vania bangun dari tempat tidur dengan terburu-buru. Namun, baru dua langkah tubuhnya sudah oleng.


Adam yang melihat perempuan di sampingnya berdiri, namun secara tiba-tiba kehilangan keseimbangan tubuhnya segera menangkap tubuh Vania sebelum membentur lantai.


"Seharusnya kau tidak boleh bangun dengan terburu-buru seperti ini, untung saja aku menangkap tubuhmu dengan baik." Adam mengucapkan hal tersebut tepat ditelinga Vania. Vania sontak menghindar dari Adam, dia seakan tidak ingin di sentuh oleh atasan yang berada dibelakangnya.


"Maaf, apa aku mengagetkanmu?" Adam bertanya dengan lembut dan membawa tubuh Vania kembali berbaring.


"Kau istirahatlah dulu, nanti aku akan menelepon dokter. Kau harus diperiksa karena sepertinya pengaruh obat yang kau minum cukup serius." Adam bersikap seolah tidak terjadi apa pun di antara keduanya. Dia bersikap seperti itu karena melihat Vania yang seolah menghindar dari dirinya.


Vania yang masih sangat lemah hanya menganggukkan kepalanya. Saat ini dia memakai tanktop dan celana pendeknya saja. Entah berada di mana dressnya berada. Vania memikirkan kejadian semalam yang berputar seperti video dalam pikirannya. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, benar-benar malu dengan tingkah lakunya sendiri. Beraninya dia melakukan hal yang melibatkan atasan di kantornya.


Namun, Vania masih menyayangkan perbuatan dari Dewa yang ternyata memiliki niat buruk kepadanya. Dapat Vania simpulkan bahwa kejadian yang dialami olehnya telah direncanakan dengan rapi.


"Si*l bisa-bisanya aku tertipu dengan pria yang baru saja kutemui. Awas saja bila aku bertemu denganmu lagi Dewa. Aku akan memberikan pelajaran pada dirimu." Vania meruntuki kebodohannya sendiri, dia memang menyesalkan hal yang terjadi pada dirinya. Dia telah kehilangan mahkota yang paling berharga bagi setiap wanita. Akan tetapi, dia sendirilah yang salah dan malah melempar dirinya sendiri kepada Adam.


Perhatiannya teralihkan saat Adam keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang menutupi tubuhnya.


"Pak, bisa berpakaian dulu tidak sih? Kenapa hanya pakai handuk begitu?" Protes Vania yang menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Adam yang melihat Vania hanya tersenyum dan malah ingin menjahili Vania.


"Hmm? Untuk apa berpakaian, toh kamu sudah melihat semuanya semalam." Perkataan itu sontak membuat Vania sangat malu. Pikirannya melayang pada kejadian semalam, dia terlihat seperti wanita murahan yang menggoda atasannya.


"Sudah Pak, cepat berpakaian!" Dengan setengah berteriak Vania mengatakan hal tersebut.


Adam kemudian bergegas memakai bajunya. Ada hal yang ingin dia sampaikan kepada wanita di depannya ini. Dia sebenarnya sangat heran, wanita ini bersikap biasa saja malah cenderung angkuh. Padahal dia sering menonton drama, bila wanita mengalami hal seperti Vania dia akan merengek meminta tanggung jawab kepada pria yang telah merusak masa depannya.


"Aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku. Seperti kataku semalam aku tidak akan lari dari tanggung jawab." Adam mengatakan hal ini dengan yakin, dia akan segera menikahi wanita di sampingnya, dia tidak akan bersikap pengecut walaupun kejadian semalam bukan sepenuhnya adalah kesalahan darinya.


"Aku ingin kita melupakan kejadian ini dan bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi antara kita," kata Vania dengan wajah yang tegar dan dengan berani menatap Adam yang sudah siap dengan amarah dari wanita di hadapannya. Adam pikir Vania akan marah bila dia mengungkit lagi hal yang telah dilakukan keduanya.


"Aku akan bertanggung jawab dan kau tidak akan bisa lari dariku. Kau adalah milikku," balas Adam dengan menatap tajam wanita dihadapannya. Dia tidak akan membiarkan wanita itu menanggung sendiri perbuatan yang telah dia lakukan. Apa pun yang terjadi Vania adalah miliknya.


Dengan kesal Vania berdiri dari tempatnya berbaring, namun kepalanya masih berdenyut nyeri. Adam yang melihat hal itu, berinisiatif mengambilkan air minum untuk wanitanya. Ya, wanitanya. Dia telah melabeli Vania sebagai wanita miliknya, dia tidak akan lagi bersembunyi dan hanya memperhatikan Vania dari jauh.


"Aku tidak memerlukan tanggung jawabmu. Sudahlah, lupakan saja hal yang terjadi semalam." Vania dengan keras kepala masih menginginkan mereka melupakan semua kejadian yang terjadi.


"Sudahlah, sekarang kau pakai dulu kemejaku ini. Sebentar lagi dokter akan datang dan memeriksa keadaanmu." Adam mengatakan sambil memberikan kemeja putihnya. Aroma maskulin menguar dari kemeja itu membuat Vania merona malu.


"Aku sudah mengatakan kepada mamamu kalau kita berhubungan dan kau menginap di apartemenku. Semalam mamamu meneleponmu, dia sangat mengkhawatirkan keadaanmu karena kau belum juga pulang. Jadi, kau tidak bisa lari dariku. Kau harus menjadi kekasihku." Perkataan Adam seperti tamparan bagi Vania, mamanya telah tahu hubungannya dengan Adam. Ya Tuhan, ini menambah sakit kepalanya.


"Tapi aku.." Vania ingin menyangkal kembali perkataan Adam, namun pria itu memegang dagunya dan mengec*p bibirnya.


"Diamlah. Kau saat ini adalah kekasihku dan aku akan menikahimu secepatnya." Perkataan Adam membuat Vania terdiam. Dia seolah pasrah dengan keadaan yang dialaminya. Memang dia ingin mendapatkan kekasih tetapi bukan begini caranya. Namun, dia juga meruntuki kebodohannya yang terjebak dengan rencana buruk Dewa. Seolah mengetahui hal yang ada dibenak Vania, Adam tiba-tiba mengatakan hal yang membuat Vania tersentak.


"Aku juga telah memberikan pelajaran kepada teman kencanmu. Dia akan mendapatkan balasan karena telah berani melakukan tindakan tersebut padamu." Dengan dingin Adam mengatakan hal itu dan meninggalkan Vania dengan berbagai pertanyaan yang muncul dibenaknya.


"Apa yang telah dilakukan, Pak Adam?" gumam Vania yang menatap Adam dengan pandangan yang sulit diartikan.


...🌺🌺🌺...


Hallo, sambil menunggu Author update bab selanjutnya, aku kembali merekomendasikan bacaan yang bagus banget nih buat dibaca. Yuk, baca karya temanku ini dijamin keren ceritanya.