
Silvia yang mendengar pertanyaan Arga yang terdengar menusuk itu menunduk takut. Namun, dia tetap melangkah maju menghampiri suami isteri di depannya. Alena mengalihkan pandangannya, dia tidak ingin melihat Silvia saat ini. Rasa kesal masih memenuhi perasaannya, Alena tidak ingin emosinya malah menjadikan dirinya lepas kendali.
"Apa lagi maumu?" Arga menanyakan hal tersebut dengan nada yang sangat dingin sehingga membuat Silvia sedikit gemetar. Masih terngiang ancaman Arga kepada dirinya saat hendak mengikuti Arga yang menggendong tubuh Alena ke rumah sakit.
"Jika terjadi hal yang serius kepada isteri. Aku akan menghancurkanmu dengan tanganku sendiri." Arga mengatakan hal itu saat dirinya menggendong Alena dan melewati Silvia.
Silvia langsung mengikuti Arga dari belakang mobil yang membawa Alena. Dia sangat ketakutan melihat Alena yang tidak sadarkan diri, dia sungguh tak sengaja mendorong Alena hingga terbentur meja. Wanita itu mennyesal tidak dapat mengontrol dirinya, dia hanya bisa menangis. Bukan ini rencananya, seharusnya Alena cemburu dan marah kepada Arga sehingga merenggangkan hubungan mereka. Namun, yang didapatkan adalah perbuatannya yang lepas kontrol dan membuat Alena kesakitan bahkan pingsan. Bukan hanya rencananya yang gagal total, dirinya terancam menjadi amukan Arga.
Dia tidak pernah menyangka dorongannya kepada Alena dapat berakibat sangat vatal. Silvia meruntuki kebodohannya sendiri, selalu saja dia melakukan sesuatu yang mengakibatkan dirinya terlibat dengan hal yang tidak bisa lagi dia kendalikan. Seperti saat dirinya kedapatan berselingkuh, Arga tidak pernah lagi menerima dan memaafkan dirinya. Jangankan untuk memaafkan, berbicara berdua dengan Arga saja dia tidak pernah selain kejadian tadi yang berujung petaka bagi Alena. Tentunya berakibat vatal juga pada diri Silvia sendiri.
Kembali lagi pada saat di mana Silvia berhadapan dengan Alena dan Arga. Dengan memberanikan dirinya wanita itu bergerak maju menuju tempat Alena berbaring.
"Maaf, Maafkan aku Alena." Perkataan Silvia, ditanggapi dengan dingin oleh Alena maupun Arga. Alena masih terdiam, sakitnya memang sudah reda karena penanganan dokter. Akan tetapi, dirinya tidak semudah itu memaafkan kesalahan Silvia.
"Sudahlah, isteriku butuh istirahat. Tolong pergi saja dan jangan pernah menampakkan dirimu dihadapkan kami lagi." Arga ingin Alena beristirahat dengan tenang, dia tidak akan bersikap tenang kembali kepada wanita di depannya ini.
"Tapi Arga--" Perkataan Silvia terputus karena seorang paruh baya memasuki ruangan. Arga yang melihat Mommy Leona datang menghembuskan napasnya. Pria itu harus bersiap menghadapi mamanya sendiri yang sangat menyayangi menantunya.
"Apa yang terjadi, sayang? Kenapa kamu bisa masuk kembali ke rumah sakit?" Tanya Mommy Leona dengan raut wajah khawatir. Mommy Leona menatap tajam Arga, dia memukul lengan anaknya tersebut dengan sedikit kasar.
"Maaf ma, aku belum bisa menjaga Alena dengan baik." Arga mengakui kesalahannya yang telah lalai menjaga Alena. Alena yang ditanya hanya menatap Mommy Leona yang masih memukul Arga.
"Aku sudah tidak apa-apa, Mom. Tadi, perutku sangat nyeri, tetapi saat ini perutku sudah lebih baik. Ini bukan salahnya Arga, Mom. Aku saja yang belum pandai menjaga diri." Alena ingin menghentikan Mommy Leona yang masih saja memukuli Arga. Biar bagaimanapun memang ini kesalahan dirinya yang mudah sekali tumbang didorong oleh ulat bulu itu. Alena kemudian menatap tajam Silvia yang masih berada di ruangan rawat Alena.
Mommy Leona mengikuti arah pandangan Alena, dia belum sadar bahwa ada wanita lain di ruangan ini. Dia menatap kesal Silvia yang entah mengapa masih terpaku di tempatnya berdiri.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Mommy Leona dengan sinis. Mereka berdua pernah sangat dekat layaknya ibu dan anak, tetapi karena kesalahan Silvia yang menduakan Arga membuat Mommy Leona tidak akan pernah lagi memandang wanita ini dengan baik.
"Tante, aku.. Aku ingin meminta maaf kepada Alena dan Arga." Ucapan Silvia membuat dahi Mommy Leona mengerinyit.
"Aku... Aku yang menyebabkan Alena sakit seperti, Tan." Tidak bisa mengelak lagi, Silvia mengakui perbuatannya di depan Mommy Leona. Wanita paruh baya itu bergerak mendekati Silvia.
Plak
Suara tamparan dari Mommy Leona sangat nyaring. Alena yang melihat aksi Mommy Leona meringis, pasti tamparan dari mama mertuanya itu sangat sakit. Terbukti dari hasil tamparan itu tercetak tangan Mommy Leona dan pipi Silvia terlihat memerah.
"Mengapa kau melakukan itu kepada menantuku? Apa kamu sudah tidak waras? Beraninya kamu dengan menantu kesayanganku!" Bentakan demi bentakan keluar dari mulut Mommy Leona. Dia tidak bisa lagi mengontrol emosinya. Kesal sekali melihat menantunya ini tidak berdaya karena orang yang paling dia tidak sukai.
"Mom, sudah Mom. Aku sudah tidak apa-apa. Syukurlah calon cucu Mommy juga baik-baik saja dikandunganku." Alena yang sudah tidak ingin lagi mendengar keributan berusaha menghentikan Mommy Leona yang masih saja memarahi Silvia.
"Kamu tidak bisa terlalu baik pada wanita ini! Mengapa dia berada di kantormu Arga? Harusnya kamu bisa mencegah kedatangannya! Kalau begini kan menantu dan calon cucu Mommy." Mommy Leona berkata tanpa menyadari ucapannya sendiri.
"Tunggu, Alena. Apa tadi kamu bilang? Calon cucu?" Mommy Leona ingin memastikan lagi pendengarannya dari kata yang diucapkan Alena.
"Iya Mom, di sini ada calon cucu Mommy. Doakan Baby selalu sehat sampai kita bisa melihatnya lahir di dunia." Alena mengatakan hal itu sambil mengelus perutnya yang masih rata. Senyum Mommy Leona seketika terbit, dia melupakan semua emosi yang tadi dikeluarkan. Arga yang melihat Mommynya sudah bisa menguasai diri hanya bisa tersenyum, mudah sekali bagi Alena menghentikan amukan Mommy kesayangannya.
"Aaaa... Alena. Mengapa kamu bilang kepada Mommy?" Tanya Mommy Leona yang menggenggam tangan Alena dan menyalurkan rasa bahagianya.
"Makanya, Mommy jangan marah-marah terus. Kasian Baby mendengar Omanya marah dan emosi." Perkataan Arga itu membuat tatapan Mommy Leona mengarah kepadanya.
"Harusnya kamu bisa menjaga isteri dan calon anakmu dengan baik. Lain kali Mommy tidak akan memperbolehkan Alena ke kantormu lagi kalau selalu berakhir dengan Alena memasuki rumah sakit!" Mommy Leona mengancam Arga yang malah mengalahkan dirinya yang marah kepada Silvia. Seketika dirinya mengalihkan perhatiannya kepada wanita yang masih setia berada di ruangan Alena di rawat.
"Untuk apa kamu masih ada di sini? Pergi sana! Kami tidak ingin melihatmu lagi!" Kata-kata kasar Mommy Leona menyurutkan semangat Silvia yang masih ingin meminta maaf kepada Alena dan Arga. Dengan murung dan berjalan dengan perlahan dia memalingkan tubuhnya dan menuju pintu ruangan.
"Tunggu!" Suara wanita yang dia yakini adalah Alena menghentikan langkah kakinya. Dengan wajah penuh harap dia menghadapkan kembali tubuhnya ke arah Alena.