
Ketukan dari luar pintu terdengar sampai ke dalam kamar. Alena yang hendak bangun dari tidurnya ingin menyingkirkan tangan Arga yang melingkar di pinggangnya. Namun, pria di sampingnya malah mengeratkan pelukan mereka. Gadis yang telah menjadi wanita itu akhirnya pasrah dipeluk oleh suaminya. Alena memberikan jarak antara dirinya dan Arga sehingga dapat menatap wajah tampan di depannya.
"Sudah puas menatap wajahku?" tanya Arga dengan senyumannya tetapi matanya tetap terpejam.
Wajah Alena yang ditanya seperti itu seketika memerah, dia menyembunyikan wajahnya ke dalam dada bidang Arga.
"Hmm, aku ingin lagi." Tiba-tiba Arga mengatakan hal yang menjadi kalimat horor bagi Alena. Badannya masih sakit dan sangat terasa pegal tetapi suaminya menginginkannya lagi? Mata Arga yang masih terbuka perlahan dan pria menyunggingkan senyum yang menjadi ciri khasnya. Alena yang menatap suaminya seperti tersihir pesona suaminya. Akhirnya, terjadilah lagi kegiatan yang Arga inginkan. Baginya ini adalah pagi yang paling indah yang pernah dia lalui.
Setelah beberapa lama antara dua atau tiga jam, Alena terbangun kembali. Selain tubuhnya yang pegal-pegal dia juga sangat kelaparan. Pria di sampingnya tidak memberikan waktu untuk dia mengisi tenaganya.
"Arga. Bangun!" Alena menepuk pelan lengan Arga. Pria tersebut mengejapkan matanya, dia melihat Alena kemudian tersenyum.
"Ada apa, sayang? Kamu ingin lagi?" tanya Arga yang masih sangat mengantuk. Mendengar jawaban dari Arga, Alena menepuk keras tangan Arga. Entah mengapa, suaminya ini berubah menjadi sangat mesum.
"Ingin lagi apanya? Aku ingin makan! Mau sampai kapan kamu mengurungku?" rengek Alena kepada Arga yang segera membuka matanya.
Alena menyingkirkan tangan yang masih membelenggunya. Dia bangkit dari tempat tidurnya , namun ketika sedang berdiri dia terhuyung hampir jatuh. Untung saja Arga dengan cepat menahan tubuh Alena sehingga tubuh isterinya tidak mengenai lantai. Alena merasa sangat pusing dan matanya berkunang-kunang tubuhnya seperti melayang.
"Kamu tidak apa-apa? Yang mana bagian yang sakit?" Arga memindai tubuh Alena dan dirinya mengumpat dalam hati bisa-bisanya dia meninggalkan banyak jejak kemerahan di tubuh isterinya. Bahkan kali ini dia seperti tidak dapat menguasai dirinya, dia masih menginginkan Alena. Baginya, Alena seperti dahaga yang tidak pernah dapat selesai. Alena seperti candu baginya.
"Tidak apa-apa bagaimana? kepalaku pusing dan badanku seperti akan remuk. Sakit sekali." Alena memegang keningnya seraya memijat kecil keningnya. Arga yang melihat hal tersebut ikut memijat kening Alena.
"Aku lapar sekali." Alena mengeluh lapar. Ya Tuhan! Bagaimana dia bisa lupa untuk memberikan Alena makan? Isterinya masih sakit lalu dia menggempurnya semalaman sampai pagi pun belum dia berikan makan. Suami macam apa Arga.
"Maaf, aku akan mengambilkan makanan dahulu dan menghubungi dokter keluarga. Kamu harus diperiksa, aku takut kamu tambah sakit." Selesai mengatakan hal tersebut, Arga ingin bangkit dari tempat tidur namun tangan Alena mencegahnya.
"Kamu di sini saja. Bukankah kamu dapat meminta pelayan untuk mengambilkan makanan untukku." Alena mengerlingkan pandangannya ke telepon yang berada di nakas tempat tidur mereka. Arga menepuk keningnya singkat. Mengapa dia jadi pelupa? Segera Arga meminta pelayan untuk mengantarkan makanan ke kamarnya. Setelah itu, dia menghubungi dokter keluarga mereka yaitu Dokter Sherly.
Tak lama kemudian terdengar ketukan di depan pintu. Arga segera menggunakan piyamanya kemudian mengambil makanan yang telah diantarkan oleh pelayan. Dengan lembut dan perhatian, Arga menyuapi Alena.
"Sudah aku makan sendiri saja. Kamu makan saja makananmu. Ini adalah sarapan yang kesiangan!" Alena menyindir Arga dengan mengatakan hal tersebut. Saat itu, Alena menolak Arga yang hendak menyuapinya. Namun, Arga bersikeras untuk menyuapi Alena. Dengan pasrah Alena menikmati makanannya.
Setelah selesai makan, Arga menggendong Alena ke kamar mandi. Alena bersikeras untuk mandi sendiri, namun Arga tetap dengan kemauannya. Dia ikut membantu Alena mandi baru setelah itu dia mandi. Setelah itu, Alena menunggu dokter karena dirinya sangat pusing dan badannya sangat letih. Tidak berapa lama kemudian Dokter Sherly datang dan langsung memeriksa Alena. Dokter Sherly yang memerhatikan tubuh Alena menjadi paham dengan apa yang terjadi.
"Ehm, Maaf Tuan, seharusnya Anda perlu memerhatikan waktu dan keadaan Nyonya. Tunggu hingga Nyonya telah sembuh, baru Anda dapat melakukan hal tersebut." Arga yang paham kemana arah pembicaraan Dokter Sherly menjadi salah tingkah. Wajah Alena bahkan telah memerah menahan malu. Alena memalingkan wajahnya agar tidak bertatapan dengan Dokter Sherly, dia sangat malu.
"Tuan dan Nyonya tidak perlu sungkan kepada saya. Ini saya memberikan obat agar pusing yang diderita Nyonya hilang. Jangan lupa meminum obat dari rumah sakit. Banyak makan dan minum air putih juga mempercepat kesembuhan Nyonya." Dokter Sherly memberikan wejangan kepada kedua orang di depannya. Setelah selesai memeriksa Alena, Dokter Sherly pamit.
"Arga! Apa yang kamu lakukan kepada menantu mana yang cantik?" terdengar suara teriakan dari arah pintu. Mommy Leona menampilkan wajah sangarnya kepada Arga yang terkejut mendengar teriakan Mommy Leona.
Arga hanya dapat meneguk ludahnya sendiri. Kali ini dia akan dimarahi habis-habisan oleh Mommynya yang sangat menyayangi menantunya tersebut.