Blind Date With CEO

Blind Date With CEO
Tak Perlu Ikut Campur



"Lepaskan tanganmu! Apa yang kamu lakukan terhadap Vania?" Adam kembali ke ruangan finance ini untuk mengambil barang Alena yang masih tertinggal. Netranya melihat Vania yang sepertinya dirundung oleh beberapa orang ini. Kejadian yang dialami Alena sebenarnya cukup untuk menjadi pelajaran beberapa orang untuk bersikap baik selama masih mau bekerja di perusahaan ini , namun ternyata permecatan Anggi dan Intan malah menjadi bumerang bagi mereka. Vania yang dekat dengan Alena pasti menjadi sasaran pertanyaan dari karyawan lain.


Fina yang melihat Adam menegurnya segera melepaskan cengkraman tangannya yang berada di kerah Vania. Vania yang masih kesal dengan Fani hanya melihat perempuan tersebut dengan marah. Fina bersikap seolah-olah tidak terjadi apa pun, dia mencoba bersikap tenang dengan merapikan rambut dan poninya. Semua orang yang berada di ruangan itu pun ingin segera kabur karena melihat Adam yang merupakan sekretaris Arga. Bisa sangat gawat kalau dia mendengar pertanyaan yang dilontarkan kepada Vania!


"Lalu, mengapa kalian semua ada di sini? Cepat kembali ke meja kalian masing-masing. Lalu untuk Fina dan Vania, kalian ikut ke ruangan saya sekarang!" Perintah Adam sambil mengambil beberapa barang Alena dan berlalu terlebih dahulu, kedua perempuan itu pun menatap kepergian Arga dengan perasaan yang tak menentu. Beberapa orang yang tadi mengelilingi Vania akhirnya bubar, mereka menghela napas dengan sangat lega karena tidak diikutsertakan ke ruangan Adam.


Fina dan Vania akhirnya mengikuti Sekretaris Arga tersebut. Sebenarnya, tugas untuk mendisiplinkan tentu bukan job desk Adam. Hal tersebut lebih kepada tugas seorang HRD.  Namun, Adam melihat sendiri perbuatan yang hampir terjadi seperti kejadian yang dialami oleh Alena membuatnya turun tangan. Hal tersebut membuat Arga berpikir, apakah harus merevisi peraturan karyawan agar tidak lagi terjadi hal seperti ini? Kejadian ini benar-benar menyita pekerjaan Adam.


"Duduk!" Adam yang telah duduk terlebih dahulu meminta kedua wanita yang ada dihadapannya ini duduk. Dia melipat keduanya dan berekspresi datar menatap keduanya. Pria tampan ini memperhatikan kedua wanita di depannya dengan ekspresi yang datar.


"Apa yang terjadi tadi? Mengapa kau mencengkram kerah baju Vania?" Adam bertanya pada wanita yang memakai blazer pink itu. Fina yang sedari tadi tampak pucat sedang memikirkan hal yang harus dikatakannya.


"Saya hanya bertanya kepada Vania, tetapi dia tidak menjawabnya karena saya kesal jadi saya melakukan hal tersebut. " Dengan pelan Fina mengatakan hal tersebut.


"Apa tidak bisa bertanya baik-baik? Di mana etikamu? Apa selama ini kamu memperlakukan orang seperti itu?" Adam yang masih berwajah datar memberondong Fina dengan berbagai pertanyaan. Walaupun berwajah datar, nada bicara yang diucapkan Adam sangat membuat suasana di ruangan tersebut mencekam.


"Maafkan saya pak. Saya terlalu bersemangat ingin mengetahui informasi yang diketahui oleh Vania," jawab Fina yang dilanda ketakutan, dia meruntuki kebodohannya melakukan hal tersebut pada Vania.


"Ya tetapi bukan berarti kamu harus berperilaku seperti itu. Apa informasi yang ingin kau ketahui dari Vania?" Adam menatap tajam Fina, seperti dugaannya setelah pemecatan Anggi dan Intan pasti semua perhatian orang akan menuju Vania karena dia sahabat baik Alena.


"Saya... Saya.." Fina tergagap mendengar pertanyaan Adam. Vania hanya diam dan menatap wanita disebelahnya ini dengan tersenyum miring. Sedari tadi dia hanya diam tidak ingin mengatakan apa pun. Adam pun belum mengalihkan perhatiannya dari mencecar Fina dengan pertanyaan yang sulit untuk dijawab olehnya.


"Bagaimana Vania, apa yang ingin diketahui Fina darimu?" tanya Adam yang memerhatikan Vania dengan intens. Dilihat dengan intens seperti itu membuat jantung Vania berdebar tidak beraturan. Namun, Vania merasa ada yang menginjak kakinya. Vania menoleh melihat Fina yang menampakkan wajah yang memelas.


"Apa sih? sakit tahu!" Teriakan Vania membuat Fina meringis. Dia sengaja menginjak kaki Vania agar wanita di sampingnya ini tidak memberitahukan hal yang sebenarnya terjadi.


"Aduh, mengapa dia mengeluarkan teriakan segala?"  Fina membatin dalam hati, Vania benar-benar tidak bisa diajak kerja sama. Habislah sudah riwayat karirnya, dia takut akan mengalami hal yang sama dengan Anggi dan Intan yang dipecat dan tidak mendapatkan surat rekomendasi.


"Ada apa? Kamu masih saja berani menyakiti Vania di depan saya ya Fani?" Saat ini Adam mengatakan hal tersebut sambil membentak Fani, dia yang melihat dan mendengar terakan Vania menjadi sangat marah.


"Maaf pak. Saya minta maaf." Fani menjadi sangat ketakutan mendengar bentakan Adam. Vania yang melihatnya hanya tersenyum sinis, dia senang wanita yang sudah berwajah pucat itu tidak lagi angkuh seperti awal dia bertanya tentang hubungan Alena dan Arga.


"Dia ingin tahu hubungan Tuan Arga dan Alena. Mereka semua yang tadi di ruangan tersebut sangat penasaran dengan hubungan keduanya. Saya tidak ingin mengatakan hal tersebut, karena memang saya tidak berhak untuk mengatakannya." Vania memberitahukan panjang lebar tentang pertanyaan-pertanyaan yang menjadi sebabnya diberondong pertanyaan tersebut. Adam yang memang mengetahui kedekatan Vania dan Alena tentu bisa menebak peristiwa seperti ini akan terjadi. Apalagi dengan dipecatnhya Anggi dan Intan.


"Mengapa kalian sangat ingin tahu hubungan orang lain? Itu bukan ranah kalian untuk dapat ikut campur urusan orang lain. Kalian tidak perlu mengurusi hubungan pribadi atasan kalian. Cukup bekerja dengan baik dan dapat meningkatkan performa kalian tanpa ingin mengetahui kehidupan pribadi atasan." Adam yang emosi karena dari kemarin bawahan mereka selalu ingin mengurusi dan ikut campur tentang hubungan orang lain menjelaskan hal tersebut kepada Fina.


"Akan tetapi, tentu kami sangat penasaran pak. Mengapa Anggi dan Intan sampai dipecat karena merundung Alena? Mengapa tidak memberikan mereka surat peringatan saja?" Fina yang merasa keputusan perusahaan tidak adil terhadap teman mereka menjadi lebih berani membuka suaranya. Baginya harus ada keadilan bagi temannya.


"Kau tahu apa yang telah dilakukan mereka berdua? Mereka telah melakukan tindakan penganiayaan dan mengunci Nona Alena di toilet kamar mandi lebih dari 6 jam. Setelah itu, beliau harus dirawat di rumah sakit. Apa menurutmu tindakan tersebut harus dimaafkan? Bagaimana bila hal tersebut terjadi padamu?" Fina yang sebenarnya tidak mengetahui lebih dalam cerita tentang pemecatan Anggi dan Intan menjadi terperangah. Ternyata tindakan yang dilakukan oleh dua orang sahabat tersebut telah keterlaluan dan membuat orang lain celaka. Rumot yang beredar malah sebaliknya Alena yang membuat Anggi dan Intan dipecat karena keduanya telah mengetahui hubungan Alena dan Tuan Arga.


"Sial, ternyata mereka telah menipu kami semua!" batin Fina dalam hati.