
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Alena yang memandang tajam Yudha. Pria yang dipandang demikian hanya dapat menatap Alena dengan penuh harap agar dapat berbicara dengan wanita yang masih dicintainya itu.
Yudha berpikir bagaimana cara menjawab pertanyaan dari Alena agar wanita tersebut dapat memberikan kesempatan padanya untuk berbicara.
"Aku hanya ingin meminta izin dari suamimu untuk berbicara denganmu." Tidak dapat merangkai kata dengan baik, akhirnya Yudha menjawab dengan jujur pertanyaan dari Alena.
"Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Sebaiknya jalani saja hidup kita masing-masing." Alena mengatakan hal tersebut sambil menatap Arga dan memberikan kode untuk segera mengikutinya masuk ke ruangan.
Arga yang mengerti kode yang diberikan oleh Alena segera membantu isterinya yang membawa infus di tangan kirinya.
"Tolonglah. Aku berjanji tidak akan mengganggu dirimu lagi Alena. Aku sungguh tidak bisa tenang sebelum menjelaskan semuanya kepadamu," pinta Yudha yang mulai mendekatkan dirinya ke pasangan yang berada di depannya tersebut.
Alena menatap Arga seolah meminta pendapatnya karena menurut Alena dia harus mendapatkan persetujuan Arga walau hanya untuk sekadar berbicara. Arga yang paham dengan tatapan Alena menyunggingkan senyumnya sekilas.
"Masuklah, kita bicarakan ini di dalam. Kalau kau ingin berbicara dengan Alena, aku juga harus mendengar perkataan dari dirimu," ujar Arga sambil menolehkan kepalanya ke arah belakang tempat Yudha berdiri.
Tidak menyiayiakan kesempatan yang diberikan kepadanya. Yudha mengikuti sepasang suami isteri tersebut di belakang dan masuk ke ruangan rawat Alena. Arga membantu Alena untuk berbaring dan menaruh alat infus ke tempat semestinya. Alena dari tadi sudah menunjukkan wajah yang kurang bersahabat dengan Yudha.
"Kenapa sih kamu meninggalkan aku? Aku jadi harus bertemu dengannya." Alena menggerutu, Arga yang mendengarnya tertawa kecil sambil merapikan selimut untuk menutupi tubuh Alena sebatas pinggang. Arga heran semakin hari Alena semakin sering menggerutu, apalagi saat dia sakit seperti ini. Selain manja, Alena sering kesal kalau Arga pergi meninggalkan Alena padahal tadinya Arga hanya ingin mengambil ponselnya yang tertinggal di mobil. Namun, Arga yang melihat Yudha terlihat begitu tidak bersemangat menjadi punya keinginan untuk mengerjainya.
"Maaf, aku tadi kan hanya ingin mengambil ponselku, tetapi malah bertemu dengan mantanmu itu." Arga menjawabnya dengan santai sambil tersenyum kepada Alena. Arga melirik Yudha yang sedari tadi memerhatikan interaksi antara Alena dan Arga. Yudha seperti tercubit melihat keduanya, dia mengenang masa lalu bersama Alena yang masih sangat dicintainya itu.
"Yudha, kenapa meninggalkanku sendiri? Kan sudah aku bilang aku ingin kita pulang bersama-sama." Alena merajuk kepada Yudha sambil menggamit lengan Yudha. Seringkali Yudha sebenarnya mengabaikan Alena karena memang awalnya Alena, Dania, dan Yudha bersahabat kemudian terjalin hubungan antara Alena dan Yudha.
"Ehm.. jadi, apa hal yang ingin kau luruskan dengan istriku?" Arga menghentikan lamunan Yudha. Yudha sedikit gelagapan saat ditanyai oleh Arga.
"Aku akan tetap di samping isteriku. Kalau kau ingin bicara silakan," tambah Arga lagi.
"Baiklah. Aku hanya ingin mengatakan bahwa dahulu aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Dania." Yudha memulai untuk meluruskan kesalahpahaman yang terus mendarah daging sehingga memutuskan semua silaturahmi mereka.
Siang itu, Yudha menunggu Alena selesai kelasnya. Mereka akan mengunjungi Dania yang dari kemarin demam. Dania sakit dan berada di kosannya, saat itu sering ponsel Yudha terdengar dan pria itu mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Hallo, Yud. Kamu sedang di mana? Kepalaku sangat pusing. Bisakah kamu membelikanku obat sakit kepala dan makan siang. Dari tadi aku belum makan siang." ucap Dania yang saat itu kepalanya berdenyut sakit.
"Hallo. Ya baiklah aku akan membelikan obat sakit kepala dan makan siang. Kamu bisa menungguku sampai aku datang kan?" tanya Yudha.
"Iya. Baiklah. Aku menunggumu Yudha," jawab Dania yang kemudian menutup teleponnya.
Yudha datang dan langsung menuju ke kamar kost Dania dengan tergesa-gesa. Dia benar-benar lupa kalau berjanji untuk datang bersama Alena, bahkan lupa untuk memberitahukan Alena karena ponselnya pun mati karena habis baterai. Dania yang sedang tiduran segera dipapah hingga duduk kemudian dia meminta wanita itu untuk makan. Selesai makan, Yudha memberikan obat sakit kepala untuk dikonsumsi oleh Dania. Dan Dania pun meminum obat tersebut, wanita yang masih dalam keadaan lemah itu tersenyum melihat perhatian dari sahabatnya.
"Aku senang kamu masih memperhatikanku. Walaupun Alena sudah menjadi kekasihmu." Pernyataan tiba-tiba dari Dania sedikit membuat Yudha terperangah. Dalam beberapa hal, Yudha malah lebih mementingkan Dania dibandingkan Alena seperti saat ini, dia bahkan lupa untuk memberitahukan Alena.
"Yud, mengapa kau diam saja? Apa kau terganggu dengan perkataanku?" tanya Dania yang memerhatikan raut wajah Yudha sedikit berubah.
"Tidak. Aku rasa tidak ada yang salah dengan perhatianku padamu. Aku adalah sahabatmu, wajar bila aku memerhatikanmu sebagai sahabat." jawab Yudha yang membuat Dania sedikit kecewa. Dia pikir pria dihadapannya ini juga memiliki perasaan yang lebih sehingga terkadang lebih mementingkan dirinya dibandingkan Alena kekasihnya.
"Tetapi, aku memiliki perasaan yang lain terhadapmu, Yud. Setiap aku melihat kamu dan Alena bersama rasanya sakit. Aku senang kalau kau sedikit mengabaikan Alena dan lebih memilihku dibandingkan dirinya." Mendengar pernyataan Dania yang secara eksplisit menjelaskan bahwa perempuan tersebut memiliki perasaan lebih terhadapnya, pria tersebut mengerutkan dahinya. Rasanya tidak mungkin Dania memiliki perasaan terhadapnya, selama ini mereka telah bersahabat dan tidak ada kemungkinan perasaan cinta timbul diantara mereka. Bahkan, saat mereka bersahabat beberapa kali Dania berpacaran dengan orang lain.
"Sudahlah kamu sedang sakit saat ini, mungkin pikiranmu jadi terbang melayang kemana-mana dikarenakan rasa sakit di kepalamu," gurau Yudha sambil terkekeh.
"Tidak Yud. Ini bukan karena rasa sakitku atau apa pun. Aku merasakan perasaan cinta ini tumbuh di hatiku. Aku sakit bila kamu tertawa, berjalan, dan bercanda bersama Alena , tetapi aku sangat senang bila kamu mengabaikan Alena. Aku tahu aku jahat , tetapi aku tidak dapat menghentikan dan menghilangkan perasaan ini kepadamu." Pernyataan Dania tersebut membuat wajah Yudha memerah, dia tidak menyangka sahabatnya ini memiliki perasaan lebih kepadanya.
"Tidak Dania. Ini hanya perasaanmu saja yang terbawa suasana karena kita sedang berdua di ruangan ini," kilah Yudha.
"Aku harus membuktikan apa kepadamu kalau aku juga memiliki perasaan terhadapmu. Aku jatuh cinta kepadamu, Yud." Dania yang tetap berpendirian terhadap perasaannya menarik Yudha yang saat itu memang berada disampingnya dan menciumnya. Saat itulah, Alena datang ke kamar kost Dania yang memang saat itu pintunya tidak ditutup rapat.
"Jadi, ini yang kalian lakukan di belakangku!" teriak Alena yang melihat kekasih dan sahabatnya berciuman di depannya.