
Setelah satu hari dirawat di rumah sakit Alena keadaan Alena telah cukup pulih. Sesuai dengan perintah Arga, Yudha tidak lagi menjadi dokter yang bertanggung jawab atas Alena dengan kekuasaan yang dimiliki oleh Arga. Bahkan kali ini, Arga memiliki rencana sendiri yang ingin sekali dia lakukan kepada Yudha yang dapat membuat Yudha pergi jauh dari kehidupan Alena.
"Aku ingin agar Yudha tidak lagi bekerja di rumah sakit ini," kata Arga kepada Adam yang sedang melaporkan beberapa pekerjaan yang harus dimintai persetujuan dari Arga. Keduanya berbicara saat Alena sedang tertidur. Adam yang mendengar perintah tersebut memincingkan matanya. Sebenarnya mudah saja membuat Yudha tidak bekerja lagi di rumah sakit ini karena Arga juga memiliki saham di rumah sakit ini.
"Tetapi Tuan, bagaimana bila Nyonya Alena tahu perbuatan Anda?" tanya Adam dengan wajah yang serius. Adam merasa tindakan tersebut sangatlah berlebihan hanya karena Nyonya Alena memiliki masa lalu dengan dokter muda tersebut.
"Kalau dia masih memiliki perasaan yang tersisa terhadap mantannya yang berkhianat tersebut maka dia akan marah, tetapi bila tidak tentunya dia tidak keberatan aku sedikit membalaskan dendamnya terhadap mantannya itu." Perkataan Arga tersebut membuatnya menggeleng-gelengkan kepalanya. Heran dengan tingkah absurd atasannya tersebut, sepertinya memang Arga menjadi cemburu buta bila berhubungan dengan Alena.
Percakapan tersebut terhenti karena Alena menggerakkan tubuhnya sepertinya dia akan segera bangun. Arga menatap wanita tersebut dan menaruh tangannya di depan mulutnya tanda bahwa mereka harus menghentikan pembicaraan tentang Yudha. Adam yang mengerti dengan kode dari Arga meminta izin untuk berpamitan dan segera melaksanakan tugas dari Arga.
***
Yudha dipanggil oleh Direktur Rumah Sakit Cahaya Internasional, terheran dengan pemanggilan tersebut, Yudha melangkah menuju ruangan direktur. Direktur rumah sakit biasanya jarang sekali memanggil dokter secara pribadi, apalagi dokter muda seperti Yudha yang belum memiliki jabatan di rumah sakit ini. Yudha baru saja dua tahun bekerja di rumah sakit ini, tentunya dia harus memYudha mengetuk pintu ruangan direktur.
"Ya, masuk." Terdengar suara dari dalam ruangan, Yudha membuka pintu tersebut perlahan.
"Silakan masuk, Dokter Yudha." Di depannya duduk Dokter Axel yang merupakan Direktur Rumah Sakit Cahaya Internasional. Dokter Axel sebenarnya masih merupakan kerabat dari Arga sehingga tentu saja Arga memiliki saham di rumah sakit ini.
"Ada apa ya, Dokter memanggil saya?" tanya Yudha yang telah duduk dihadapan Dokter Axel.
"Maaf Dokter, sebenarnya apa kesalahan saya? Mengapa saya harus pindah ke rumah sakit cabang? dan cabang di daerah mana yang Dokter maksudkan?" tanya Yudha bertubi-tubi yang keheranan dengan pemindahannya secara tiba-tiba.
"Tidak, Anda tidak memiliki kesalahan apa pun. Namun, kami melihat kinerja Anda yang begitu baik sehingga kami ingin Anda mengembangkan cabang kami yang berada di daerah Kalimantan. Di daerah sana sangat dibutuhkan dokter muda seperti Anda yang energik dan memiliki kemampuan yang baik." Dokter Axel menjelaskan dengan sangat tenang seolah pemindahan Yudha memanglah murni keinginan dari managemen rumah sakit dan tentunya telah disetujui olehnya yang merupakan direktur rumah sakit ini.
"Tidak bisakah saya tetap bekerja di rumah sakit ini, Dokter?" Yudha
"Maaf, Dokter Yudha hanya itu pilihan yang saya berikan tentunya kepindahan Anda juga dapat menunjang peningkatan karir Anda. Walaupun rumah sakit ini adalah rumah sakit pusat, namun tentunya di cabang rumah sakit kemampuan Anda sebagai seorang dokter sangat dibutuhkan." Penjelasan tersebut membuat tubuhnya lemas, dia sangat menginginkan tetap di Jakarta. Tidak hanya karena karirnya yang baru saja tumbuh cemerlang, pertemuannya dengan Alena menimbulkan keinginannya untuk membina hubungan baik dengan Alena. Dia tahu diri saat ini, Alena telah menjadi isteri seseorang, tentu saja dia tidak ingin dicap sebagai perebut isteri orang atau seperti bahasa di netizen Indonesia pebinor.
"Bisakah saya memikirkan hal ini terlebih dahulu dokter?" tanya Yudha yang masih sedikit terguncang akan permintaan pemindahan dirinya apalagi di cabang di daerah Kalimantan.
"Baiklah, Dokter Yudha. Saya akan memberikan Anda waktu untuk berpikir selama tiga hari. Setelah itu Anda harus memberitahukan keputusan Anda kepada kami. Apabila Anda keberatan dengan keputusan kami, Anda dapat mengajukan pengunduran diri Anda." Netra Yudha membola saat Dokter Axel memberitahukan hal tersebut, tentunya bila Yudha mengundurkan diri dia harus memulai karirnya dari 0. Selain itu, untuk dapat menjadi dokter di Rumah Sakit Cahaya Internasional merupakan hal yang sulit tentunya tidak mungkin Yudha mengundurkan dirinya begitu saja.
"Baiklah, Dokter Axel. Saya akan memikirkan dengan baik karena ini menyangkut masa depan karir saya. Dengan lesu Yudha akhirnya pamit untuk melanjutkan kembali pekerjaannya. Setelah dia keluar, tanpa sadar kakinya menuju ruangan Alena dirawat. Di sana terdapat Arga yang hendak keluar dari ruangan rawat Alena. Saat Yudha melewati Arga, pria bertubuh tegap itu mendekati dokter muda yang sedang memikirkan nasib karirnya.
"Bagaimana pembalasan dariku?" tanya Arga dengan nada dingin dan menusuk. Arga tersenyum dengan penuh kemenangan.