
Anggi dan Intan yang mendengar perkataan Adam dari luar ruangan cukup bergetar. Suara Adam walaupun hanya meminta mereka untuk masuk terdengar sangat dingin.
"Silakan duduk," perintah Adam kepada kedua wanita yang bersahabat itu. Mereka berdua akhirnya duduk berhadapan dengan Adam.
"Baiklah, sebelumnya saya ingin kalian mengaku sesuatu terlebih dahulu. Sebelum saya membeberkan perilaku kalian di sini." Adam berkata dengan tenang namun membuat jantung kedua wanita di depannya berdegup kencang.
Anggi menaikkan alisnya dan berpikir mungkinkah pemanggilan mereka kali ini karena perbuatan mereka terhadap Alena. Sebagian tubuhnya gemetar membayangkan sanksi yang mungkin dia dapatkan karena tindak kekerasan yang telah dilakukannya terhadap Alena. Bukan hanya Anggi, sedari tadi wajah Intah telah pucat pasi dan samakin pucat mendengar perkataan dari Adam tersebut.
"Saya merasa tidak memiliki kesalahan apa pun, Pak." Anggi yang sedari tadi diam mencoba membuka suara. Mendengar perkataan Anggi tersebut Adam mengalihkan pandangannya dan menatap mata Anggi tajam. Intan yang melihat hal tersebut hanya terdiam dan mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Coba kalian interopeksi diri terlebih dahulu. Saya ingin kalian mengakui perbuatan kalian sendiri." Adam berkata dengan penuh penekanan.
"Ya pak, namun saya merasa tidak melakukan kesalahan apa pun apalagi dalam pekerjaan saya. Saya merasa telah menyelesaikan pekerjaan saya dengan baik." ujar Anggi yang masih dapat bersikap tenang seolah-olah tidak terjadi apa pun.
"Baiklah. Bagaimana denganmu Intan? Apa kamu mau mengakui perbuatan yang telah kalian lakukan?" tanya Adam yang mengalihkan pandangannya ke arah Intan. Intan yang ditatap tajam tidak hanya oleh Adam tetapi juga dengan sahabatnya yang berada di sampingnya.
"Saya.. Saya ingin mengaku sesuatu, Pak. Aduh." Intan mengaduh karena kakinya diinjak oleh Anggi yang berada di sebelahnya. Anggi menggelengkan kepalanya tanda bahwa dia tidak ingin Intan mengakui perbuatan yang telah mereka lakukan kepada Alena.
"Tidak, Pak. Anggi tidak ingin mengakui apapun." Mendengar hal tersebut cukup membuat sang sekretaris kepercayaan Arga tersebut marah.
"Saya tidak bertanya kepada kami, Anggi. Saya bertanya kepada Intan. Jadi, jangan menginterupsi perkataan saya," bentak Adam kepada Anggi yang nyalinya mulai menciut karena bentakan tersebut.
"Lanjutkan pengakuanmu, Intan!" perintah Adam yang kini melipat kedua tangannya di dadanya. Dia menatap Intan dengan tatapan yang penuh dengan intimidasi.
"Sa... Saya telah melakukan tindakan yang tidak baik kepada Alena pak. Sore itu, saya dan Anggi melakukan perundungan terhadapnya." Akhirnya Intan mengaku kepada Adam, entah karena perasaan lega atau perasaan bersalah terhadap Alena dia merasa bebannya terangkat.
"Aku tidak melakukan apa pun terhadap Alena! Kau jangan asal menuduh kalau tidak ada bukti!" teriak Anggi kepada Intan yang memandangnya dengan penuh kekesalan. Dia kesal mengapa mempunyai sahabat yang bodoh seperti Intan. Bisa-bisanya dia mengakui perbuatannya kepada atasan mereka.
"Iya, saya tidak bersalah. Sore itu kami langsung ke cafe x untuk makan-makan bersama para staff lain sedivi dengan kami. Kebetulan Alena tidak ikut, jadi saya tidak ada sangkut paut terhadap hal yang terjadi pada Alena," jelas Anggi panjang lebar untuk membuktikan alibinya kepada Adam.
"Bagaimana bila saya menunjukkan ini!" Adam menunjukkan gawainya kepada Anggi. Di situ terdapat video Anggi dan Intan yang masuk ke toilet setelah Alena. Kemudian ada lagi rekaman Anggi dan Intan yang keluar terburu-buru keluar dari toilet. Melihat video rekaman CCTV tersebut, badan Anggi gemetar dia sadar telah masuk ke jebakan Adam. Mau tidak mau dia harus mengakui perbuatannya.
"Saya minta maaf, Pak. Saya khilaf dan tidak sengaja melakukan tindakan tidak terpuji kepada Alena." Anggi akhirnya menyerah dan mengakui perbuatannya kepada Adam.
"Saya juga minta maaf, Pak. Saya berjanji tidak akan melakukan perbuatan seperti itu pada Alena maupun dengan orang lain." Intan ikut meminta maaf kepada Adam.
"Tindakan kalian memang sangat tidak terpuji. Bahkan, Nona Alena saat ini sedang dirawat di rumah sakit." Adam menjelaskan keadaan Alena akibat perbuatan kedua wanita di depannya ini.
"Saya tidak tahu penyebab kalian melakukan hal tersebut ,namun kalian harus menanggung akibatnya. Perusahaan ini tidak dapat menerima tindakan kekerasan yang sudah kalian lakukan karena itu kami memutuskan untuk memberhentikan kalian dengan tidak hormat. Kalian tidak akan mendapatkan surat rekomendasi dari perusahaan ini." Mendengar perkataantersebut kedua wanita tersebut terkejut.
Mereka tidak menyangka kegiatan tersebut berimbas besar pada karir mereka. Semua orang tahu apabila diberhentikan secara tidak hormat dari PT Rajawali kedepannya pasti akan sulit mendapatkan pekerjaan.
"Pak, saya mohon jangan berhentikan kami. Bagaimana dengan nasib karir kami selanjutnya? atau memang benar Alena adalah simpanan dari Tuan Arga sehingga sanksi kami sangatlah berat?" cerocos Anggi seolah menyalahkan Alena atas pemberhentiannya.
"Siapa yang bilang Nona Alena adalah simpanan Tuan Arga?" tanya Adam yang menatap Anggi tajam.
"Banyak bukti kedekatan keduanya. Benar bukan perkataan saya kalau Alena adalah simpanan CEO kita, Tuan Arga," jawab Anggi dengan beraninya mengatakan hal tersebut.
"Anda salah besar. Alena adalah isteri sah Tuan Arga. Sekali lagi saya tekankan kalau Anda masih terus menyebarkan rumor dan gosip yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Kalian akan kami proses hukum. Seharusnya tindakan kalian sudah dapat menyeret kalian berdua ke jeruji besi. Namun, Nona kami sangat baik hati sehingga tidak ingin melaporkan kasus ini kepada polisi." Penjelasan Adam tersebut membuat kedua orang tersebut terkejut.
"Jadi, Alena adalah isteri sah Tuan Arga." Anggi mengulangi kata-kata Adam. Hancurlah semua karir yang dia bangun.
Anggi sebenarnya merupakan karyawan dengan kinerja yang sangat baik, bisa saja di tahun ini dia dipromosikan menjadi kepala divisi. Namun, karena tindakan implusifnya hancur semua karir yang telah dia bangun dengan susah payah. Kedua wanita tersebut akhirnya menerima pemecatan mereka karena Adam masih mengancam akan meneruskan kasus ini ke jalur hukum kalau mereka masih tidak bisa menerima sanksi tersebut. Apalagi jika Anggi masih menyebarkan rumor dan gosip tentang Alena dan Arga.