
Dewa dan Vania menuju ke Club Malam tempat Dewa janjian dengan temannya. Dewa pun mengenalkan Vania dengan temannya.
"Lang, kenalin ini temanku namanya Vania." Dewa saat itu mengenalkan Vania kepada temannya.
"Elang." Teman Dewa itu tersenyum sambil melihat Vania dari atas sampai ke bawah yang membuat Vania sangat risih. Dia mengulurkan tangan untuk menjabat Vania.
"Vania," jawab Vania sambil menerima jabatan tangan dari pria di depannya ini. Jabatan tangan itu berlangsung lama hingga Vania melepaskan tangannya.
Vania yang baru pertama kali tercengang melihat hingar bingar yang terdapat di tempat itu. Vania merasa tidak nyaman dan ingin segera pulang namun Dewa masih menahannya.
Dewa memesan minuman untuk mereka berdua, Vania tetap berusaha menghargai Dewa dengan sedikit menikmati suasana. Vania mengamati suasana yang terdapat di Club Malam. Beberapa orang terlihat melompat dan menggoyangkan tubuhnya sesuai dengan suara musik yang semakin bergemuruh. Lampu kristal mewah terdapat di atas mereka yang menyorot ke segala arah dengan warna yang berbeda. Hal tersebut membuat suasana semakin memanas, jiwa muda dan gairah menggebu seolah menyatu dalam ruangan.
"Van, kita ke bawah yuk." Dewa mengajaknya untuk mengikuti orang-orang yang sudah asik bergoyang dan melompat itu. Vania menggelengkan kepalanya, namun Dewa terus saja memaksanya.
Dewa akhirnya dapat membujuk Vania untuk bergabung bersamanya. Lantai seolah ikut meramaikan suasana, Vania sedikit terhanyut karena baru pertama kali ke tempat ini. Entahlah dia terlalu percaya kepada Dewa, atau karena dia telah terpesona dengan pria di hadapannya ini.
Selesai satu lagu, Vania meminta Dewa untuk duduk. Dia meminum orange jus yang telah dipesan sebelumnya. Vania merasakan keanehan yang terjadi kepada tubuhnya, dia tiba-tiba pusing dan ingin segera merebahkan dirinya.
"Dewa, ayo kita pulang saja." Vania mengajak pria yang menjadi teman kencannya ini untuk segera mengantarnya pulang.
"Pulang kemana, hmm?" Sekilas Vania melihat senyuman di wajah Dewa. Bukan senyuman memesona yang seharian ini diperlihatkan melainkan senyuman licik dan menyeringai yang membuat Vania bergidik.
Dengan memaksakan dirinya, Vania berdiri dari tempat duduknya. Dia ingin segera keluar dari tempat ini. Bila Dewa tidak mengantarkannya pulang dia akan segera pulang dengan kendaraan lain. Namun, rasa pusing itu menghantam kepalanya.
Elang yang sedari tadi memerhatikan keadaan Vania menangkap tubuh wanita yang sudah lemas tidak berdaya.
"Sekarang ini menjadi urusanku. Sudah kau pergi saja." Elang mengatakan sambil memapah tubuh Vania dan pergi menuju sebuah kamar yang berada di lantai atas. Dewa hanya tersenyum dan membiarkan Elang membawa Vania.
Elang membawa Vania yang sudah lemas tidak berdaya ke sebuah kamar, tanpa menutup pintunya dengan rapat dia merebahkan Vania di atas kasur. Sebelum Elang melakukan hal yang lebih, tubuhnya telah ditarik dengan kasar lalu dihajar dengan kuat oleh seseorang.
"Apa yang kau lakukan?" Elang yang merasa sakit di tubuhnya berteriak saat menerima perlakukan kasar dari seorang pria yang mengganggu kesenangannya.
"Aku yang seharusnya bertanya, apa yang kau lakukan kepada wanita itu?" Pria itu adalah Adam yang memang saat di Cafe telah mengikuti Vania dan teman kencannya yang ternyata seorang baj*ngan. Melihat hal tersebut Elang ingin memukul balik Adam, namun telah dihalangi oleh beberapa orang berseragam hitam yang memang mendampingi Adam saat masuk ke dalam Club.
"Bereskan dia!" Adam memerintahkan kepada bawahannya tersebut. Adam menggendong Vania meninggalkan club tersebut. Dia membawa Vania dengan mengendarai mobil miliknya.
Saat di perjalanan membawa Vania pulang, gadis itu terbangun dari tidurnya. Dia terkejut melihat Adam yang berada di sampingnya.
"Tuan, apa yang terjadi? Bagaimana bisa saya bersama dengan Anda." Vania bertanya sambil menajamkan pandangan matanya, dia menghela napas lega saat melihat atasan di kantornya itu.
"Aku.. Aku merasa sangat.. panas..." Vania merasakan keanehan lagi pada tubuhnya. Kali ini tubuhnya terasa sangat panas, seolah membutuhkan sesuatu untuk melepaskan dahaganya.
Vania menyambar botol minum yang terdapat di dasbor mobil Adam. Dia menenggaknya hingga tandas. Adam yang melihat hal itu menjadi sedikit panik.
"Apa lagi yang telah dilakukan oleh pria tadi?" Adam meruntuki kebodohannya tidak segera menyeret Vania untuk pulang dan memilih melihat wanita itu. Sepanjang hari hanya kekesalan yang dia rasakan melihat Vania berkencan dengan seorang pria. Tanpa sadar dia membiarkan wanita tersebut dalam bahaya.
"Tuan, aku ingin... Ya Tuhan. Apa yang terjadi pada diriku. Panas sekali." Vania melepas bolero yang dikenakan dirinya. Adam masih dengan panik melihat wanita di sampingnya. Dengan agresif Vania ingin menci*m pria di sampingnya ini. Melihat keadaan Vania, Adam memutuskan mengendarai mobilnya menuju ke apartment miliknya. Di dalam mobil Vania terus melakukan hal yang tidak dapat diduga oleh Adam.
Sampai di parkiran apartment, Vania segera menarik Adam keluar dari mobil. Adam masih mengikuti keinginan Vania, dia ingin menghubungi dokter pribadinya namun Vania mengambil ponsel miliknya.
"Tuan, tolong saya!" Vania masih merasa panas menjalar di setiap tubuhnya. Adam meraih ponsel miliknya sambil membawa wanita itu ke unit apartment miliknya. Dia berhasil menghubungi dokter pribadinya.
"Apa tidak ada cara lain? Aku tidak mungkin melakukan hal itu dengannya." Vania mendengar perkataan sayup-sayup, namun dia tetap mengikuti nalurinya. Perempuan itu sudah tidak dapat mengendalikan dirinya. Dia merasa hanya Adam yang dapat menolongnya.
Mereka tiba dengan cepat di unit apartment Adam. Tanpa sadar, Vania telah menerjang Adam. Dia benar-benar lepas kendali.
"Tuan, tolong saya. Please!" Wajah Vania memelas dan memohon kepada Adam. Adam dilema, ini bukanlah prinsipnya sebagai pria. Dia tidak mungkin mengambil keuntungan dari seorang wanita yang tidak berdaya seperti ini.
Adam adalah seseorang yang berprinsip bahwa akan melakukan hal itu setelah menikah dengan wanita yang dia sayangi. Memang Vania sudah mengalihkan dunianya beberapa waktu ini, namun dia masih belum yakin dengan dirinya sendiri. Ingin menepis hal tersebut namun dia tidak dapat lari dari Vania. Seperti yang terjadi pada hari ini, tanpa sadar dia terus mengawasi kegiatan yang Vania lakukan.
"Tolong saya!" ucap Vania kembali kepada Adam. Runtuhlah pertahanan Adam, dia tidak dapat melihat wanita di depannya ini memohon terus menerus.
"Vania, jangan pernah menyesal atas apa yang terjadi. Aku akan bertanggung jawab kepadamu." Adam mengatakan hal tersebut sambil merengkuh tubuh wanita yang memang sudah menarik perhatiannya selama ini. Dia berkali-kali meminta maaf kepada Vania.
"Maaf, maafkan aku." ucap Adam sambil memeluk erat wanita di sampingnya.
...🌺🌺🌺...
Hallo, aku kembali menyapa kalian.
Sebelum Author update bab selanjutnya, aku ada rekomendasi bacaan yang seru untuk dibaca.
Bagi yang suka genre thriller -horror yuk segera baca novel temanku yang aku jamin sangat seru.