
Silvia berhenti dari langkahnya yang menuju pintu. Mendengar perkataan Alena, dia menolehkan tubuhnya ke belakang. Wanita itu tersenyum, dia sudah mengira Alena pasti akan memaafkannya. Wanita yang masih terbaring dengan lemas itu menatap Silvia.
"Aku belum bisa memaafkanmu. Namun, aku harap kamu dapat mengambil pelajaran dari kejadian ini." Silvia tertunduk mendengar ucapan Alena. Dia pikir wanita yang telah menjadi isteri dari mantan kekasihnya itu akan dengan tangan terbuka memaafkan kesalahannya. Dia tahu bahwa tindakannya mendorong Alena adalah kesalahan yang vatal, apalagi itu hampir membahayakan janin yang dikandung Alena.
"Baiklah, kalau begitu terima kasih. Nantinya, kalian tidak akan melihatku lagi. Aku akan pergi dari hadapan kalian dan tidak akan muncul lagi." Silvia mengatakan sesuatu yang ambigu. Arga yang sudah mengetahui watak licik dari Silvia hanya diam tidak menjawab perkataan Silvia. Semua orang di dalam ruangan itu juga tidak ada yang menghiraukan perkataan Silvia.
Silvia melangkah keluar dan membuka pintu, bersamaan dengan itu datang Kakek Danu dan Kakek Aditya disusul pula oleh Mama dan Papa Alena, jangan lupakan pula Mommy Leona datang untuk menjenguk Alena.
"Arga, mengapa bisa seperti ini, terjadi?" Kakek Danu yang baru datang sudah menyerocos. Silvia hanya memandangi sosoknya. Dahulu mungkin Silvia merupakan sosok yang disayangi oleh Kakek Danu, namun semenjak peristiwa penghianatannya terungkap usai sudah semuanya. Tidak bisa kembali lagi seperti dulu.
Alena hanya tersenyum melihat Kakek Danu memarahi Arga yang dinilai tidak bisa menjaga isterinya. Arga yang dimarahipun hanya pasrah saja dengan perlakuan dari Kakek Danu belum lagi dia pasti mendapat amukan dari keluarga Alena, pasalnya ini kedua kali isterinya masuk rumah sakit.
"Sudah kek, jangan marah-marah terus. Nanti penyakit Kakek bisa kambuh kembali. Aku punya kabar baik untuk kalian semua." Alena tersenyum karena dapat mengalihkan perhatian dari Kakek Danu sehingga suaminya dapat terbebas dari amukan amarah Kakeknya. Walaupun sudah tua, namun tenaga Kakek sangatlah kuat, dia dapat dengan mudah menumbangkan Arga. Selain karena Arga juga mengalah, Kakek Danu juga merupakan pemegang sabuk hitam karate. Jadi, tentu saja dia selalu menang bila menghadapi cucunya yang sombong.
Semua mata menuju Alena, mereka menunggu kabar yang akan disampaikan oleh Alena. Alena sengaja lama saat akan menyampaikan kabar baik yang memang telah ditunggu-tunggu dua keluarga besar.
"Mommy Leona dan Mama akan segera menjadi Nenek, Papa juga akan segera menjadi Kakek. Tentunya Kakek-kakekku yang tampan ini akan menjadi Kakek Buyut." Alena mengatakan itu dengan sumringah, semua sangat senang mendengar perkataan cucu menantu kesayangan Keluarga Wijaya tersebut.
"Benarkah? Aaa... Terima kasih sayang." Mommy Leona terlebih dahulu memeluk Alena disusul pula dengan Mama Amira. Semuanya bersuka cita dengan kabar gembira tersebut. Kedua keluarga itu menantikan pewaris keluarga Wijaya selanjutnya dengan penuh kebahagiaan.
Silvia melangkah meninggalkan ruangan Alena, di sana dia melihat Vania yang bersama dengan Adam entah hal apa yang menjadi perdebatan mereka. Keduanya terlihat perdebatan yang cukup alot sehingga mereka tidak melihat Silvia keluar dari ruangan rawat Alena. Silvia melewati keduanya begitu saja, harinya sangat iri melihat semua orang mengunjungi Alena. Dia sangat ingin berada diposisi Alena, namun dia tahu hal tersebut tidaklah mungkin.
Silvia melihat interaksi dua keluarga besar itu dengan pandangan sendu. Dia ingin sekali merasakan kehangatan keluarga. Papanya selalu saja memikirkan reputasi dan perusahaannya sedangkan Mamanya terobsesi dengan keluarga Wijaya. Cintanya dengan Papa Arga yang bertepuk sebelah tangan membuatnya terobsesi untuk membuat Silvia sebagai menantu keluarga Wijaya. Namun, kesempatan itu hilang saat Silvia melakukan kesalahan.
Dengan langkah yang pelan, Silvia melangkah keluar dari rumah sakit. Tiba-tiba ponselnya berdering, terlihat nama Mama yang ada di layar ponselnya. Dengan enggan dia tetap mengangkat telepon tersebut.
"Hallo, bagaimana Silvia? Rencana kita berjalan dengan lancar kan? Sekarang perempuan itu pasti sedang bertengkar dengan Arga?" Helga langsung saja memberondongi Silvia dengan berbagai pertanyaan.
"Tidak ma, rencanaku gagal total. Arga sangat menyayangi dan mencintai Alena. Tidak ada lagi tempat untukku, Ma. Sudahlah hentikan obsesi Mama terhadap keluarga Wijaya. Aku sudah sangat lelah menuruti kemauan Mama." Silvia menjelaskan dengan raut wajah datar yang memang tidak bisa dilihat oleh Helga. Namun, Helga marah dengan mengatakan hal yang sangat tidak pantas dikatakan oleh seorang ibu kepada anaknya.
"Dasar anak tidak berguna! Apa yang dapat kamu lakukan dengan benar sih? Kamu itu benar-benar anak yang tidak dapat diandalkan. Lebih baik kamu menghilang saja dari dunia ini!!!" Usai mengatakan hal tersebut Helga mengakhiri panggilannya, Silvia menatap layar ponselnya dengan sedih.
"Apakah aku benar-benar anak yang tidak berguna? Aku hanya tidak ingin menambah rasa bersalahku. Hampir saja aku membunuh janin yang bahkan belum lahir di dunia ini. Apa Mama tidak bisa mengerti perasaanku?" Dari dulu memang hidup Silvia selalu disetir dan diatur oleh Helga. Dia terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan, sehingga menjadikannya pribadi yang sangat sombong. Silvia menghela napasnya, dia telah memutuskan sesuatu hal yang penting.
"Haruskah aku meninggalkan dunia ini? Apakah Mama dan Papa akan sedih kalau aku meninggal?" Dengan pikirannya yang kosong dia menuju mobilnya, dia melakukan mobilnya dengan cepat. Sambil terus menerus berpikir tentang perkataan Helga yang berputar seperti kaset di dalam otaknya.