
Arga yang menggendong Alena menarik perhatian banyak karyawan di antaranya adalah Vania. Matanya membelalak melihat sahabatnya tersebut lemas tidak berdaya. Vania segera mengambil tasnya dan berbicara dengan secepat kilat kepada atasannya dan mengikuti mobil atasannya tersebut.
Keadaan Alena membuat Arga sangat panik, saat melewati Adam dia memberikan kode agar sekretarisnya itu mengikutinya. Arga segera memasuki mobilnya, dia meletakkan Alena dikursi belakang kemudian menaruh kepala Alena di pangkuannya. Alena yang masih terpejam membuatnya meringis, dua kali dia mengalami keadaan yang sama.
"Ayo cepat jalankan mobilnya!" Arga memerintahkan Adam agar secepatnya menjalankan mobilnya. Dengan sigap pria berkacamata yang tampan itu menjalankan mobilnya. Laju mobil terasa begitu lambat, Arga masih menepuk-nepuk pelan pipi Alena yang begitu hangat.
"Bisa lebih cepat tidak?" perkataan Arga juga membuat panik Adam. Dia jadi sedikit gugup karena diminta untuk mempercepat laju mobilnya.
Setelah beberapa lama, sampailah mereka di rumah sakit. Arga dengan tergesa-gesa keluar dari mobil dengan Alena yang berada dalam gendongannya. Suasana siang itu, tampak lenggang hanya terdapat beberapa pasien di IGD.
"Tolong. Tolong isteri saya." Arga berteriak dengan panik karena telah lama Alena belum juga terbangun dari pingsannya.
"Silakan baringkan di tempat tidur ini, pak." Suster dengan sigap mengarahkan Arga untuk membaringkan Alena. Dengan segera dokter jaga memeriksanya, setelah beberapa lama dia menolehkan dirinya ke arah Arga.
"Apa yang sebelumnya terjadi, Pak?" tanya Dokter kepada Arga yang masih terlihat panik.
"Tadi isteri saya terbentur ujung meja dan dia mengeluh kesakitan di bagian perutnya. Setelah itu, dia pingsan dan belum bangun juga sampai sekarang." Dokter yang masih terlihat muda itu berkerut mendengar perkataan dari Arga. Tidak seberapa lama Alena sadar dari pingsannya.
"Ugh.. Arga, perutku masih sakit." Alena memegangi tangannya, wajahnya terlihat sangat pucat seperti mayat. Gurat kesakitan terpatri dalam wajahnya.
Arga yang mendengar Alena sudah sadar dan masih mengeluhkan hal yang sama segera bertanya kepada dokter.
"Dok, apa yang terjadi pada isteri saya?" Masih dengan rasa cemas yang melanda, dia bertanya kepada dokter yang telah memeriksa Alena tadi.
"Saya belum bisa memastikan, namun lebih baik Nyonya Alena segera diperiksa ke Dokter Obgyn." Mendengar usulan dari dokter jaga itu segara Arga menyetujui agar Alena diperiksa oleh Dokter Obgyn. Dengan diantar menggunakan kursi roda, Alena dan Arga menuju poli obgyn.
Sesampainya di ruangan tersebut, Alena diminta untuk membaringkan tubuhnya di tempat yang tersedia. Dengan dibantu oleh Arga, Alena berbaring dan diperiksa oleh dokter muda wanita bernama Dokter Sherly. Dahi dokter tersebut mengerinyit saat memeriksa Alena.
"Lihatlah titik kecil itu adalah buah hati kalian. Saat ini perkiraan usiannya 8 Minggu." Dokter Sherly memberitahukan hal tersebut perlahan. Alena yang masih menahan nyeri pada perutnya tersenyum, dia menatap Arga yang juga sedang menatapnya.
"Baiklah, yang menjadi masalah di sini. Kandungan Nyonya Alena lemah. Nyonya harus bed rest total dulu. Untuk saat ini, Nyonya Alena harus dirawat inap dahulu agar saya dapat mengetahui keadaan Nyonya dengan intens. Saya juga akan meresepkan obat penguat yang aman untuk dikonsumsi," ucap Dokter Sherly yang memberitahukan hal yang kurang baik kepada keduanya.
"Baiklah, dok. Saya percayakan semuanya kepada Anda," Ucap Arga yang saat ini sedang berusaha meredam emosinya, dia teringat dengan Silvia yang mendorong Alena saat itu. Ingin rasanya dia mendorong balik wanita yang membuat Alena dan calon anaknya sakit itu.
"Baik Tuan, sebenarnya telat sedikit saya bisa berakibat vatal. Bisa jadi hal terburuk adalah kehilangan janin yang sedang Nyonya kandung. Syukurlah kandungannya masih dapat bertahan dengan baik meskipun dengan keadaan lemah. Setelah ini, saya harap Nyonya beristirahat dan tidak memikirkan hal yang berat agar tidak stress dan berdampak pula pada janin." Penjelasan Dokter Sherly membuat mata Alena sedikit menggembun hampir saja dia kehilangan calon bayinya. Walaupun, secara tidak langsung Silvialah yang menyebabkan sakit di perutnya, tetapi Alena akan sangat merasa bersalah kalau dia kehilangan sesuatu yang bahkan belum dia miliki.
"Baik dok, saya pasti akan menjaga isteri dan calon anak saya," Ujar Arga meyakinkan Dokter di depannya ini.
Arga segera meminta Adam untuk mengurus segala keperluan yang dibutuhkan agar Alena dapat dirawat dengan baik. Saat ini, Alena telah berada di ruang perawatan.
"Padahal, belum lama aku berada di rumah sakit ya." Alena bergumam pada Arga yang saat ini duduk di kursi samping tempatnya berbaring.
"Ya, kamu harus sehat kembali ya. Aku yakin kamu dan baby kuat." Arga tersenyum kepada Alena, senyum yang sangat lembut hingga membuat Alena merona.
Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di luar ruangan. Terdapat dua orang wanita yang sedang beradu pendapat, hingga pintu ruangan Alena terbuka.
"Sudah ku bilang kehadiranmu sungguh tidak diharapkan." Ujar Vania yang sedang menarik wanita cantik yang berada di depannya. Wanita itu melangkah maju dan bersiap menghadapi sepasang suami isteri di depannya. Dari tadi dia ingin bertemu dengan Alena dan Arga namun dihalangi oleh Vania.
"Arga, Alena... aku.." Lidah wanita itu kelu, dia tergagap dan tidak dapat melanjutkan perkataannya.
"Apa lagi maumu?" Suara bariton yang dikelurkan oleh Arga terdengar sangat menusuk, wanita di depannya ini bahkan menggidikkan badannya karena takut. Takut akan amukan yang akan dilakukan oleh Arga terhadapnya karena telah mengusik wanita milik Arga.