Blind Date With CEO

Blind Date With CEO
Menjenguk Baby A



Vania dan Adam menunggu beberapa saat kemudian menjenguk Alena. Dia melihat Alena yang sedang menggendong bayi tampan yang terlelap. Vania mendekat ingin melihat paras yang dimiliki oleh cucu pertama pewaris keluarga Wijaya.


"Wah, baby sangat tampan seperti Tuan Arga. Siapa nama baby tampan ini?" Vania mengatakan dengan ceria. Namun, Adam menampilkan wajah yang tidak dapat didefinisikan mendengar Vania memuji ketampanan bayi yang kata Vania sangat mirip dengan Arga.


"Abian Putra Wijaya. Yah, begitulah sangat mirip dengan Papanya." Alena mengerucutkan bibirnya, dia sedikit sebal putra pertamanya sangat mirip dengan Papanya, tidak ada sama sekali mirip dengannya. Mungkin karena masih kecil, kata orang seiring dengan bertambahnya usia akan terlihat juga perpaduan antara kedua orang tua.


"Nanti kita akan membuat princess yang mirip denganmu." Sontak perkataan Arga membuat Alena menoleh dengan cepat, dia saja baru melahirkan kini sudah diminta untuk hamil kembali.


"Kalau begitu kamu saja yang hamil dan melahirkan!" Perkataan Alena disambut dengan tawa oleh Vania dan Adam. Arga hanya memandang tajam kedua orang yang sedang menertawainya itu, yang berujung Alena menatap tajam Arga.


"Sudahlah, oh iya bagaimana dengan persiapan pernikahan kalian? Apakah semua sudah berjalan dengan baik? Bukankah 3 bulan lagi kalian akan menikah?" Arga mencoba mengalihkan pembicaraan mereka agar Alena tidak menatap dirinya dengan tajam dirinya. Perhatian Alena jadi beralih kepada dua orang yang akan segera melangsungkan pernikahan mereka.


"Iya, bagaimana persiapannya? Apakah ada yang perlu kami bantu?" tanya Alena yang juga antusias dengan pernikahan sahabat baiknya.


"Sudah 80 persen persiapan pernikahan. Minggu depan orang tua saya akan datang juga untuk membantu persiapan pernikahan," kata Adam yang dianguki oleh Vania. Vania yang hanya berkomunikasi dengan calon mertuanya melalui ponsel jadi sangat gugup menyambut kedatangannya.


Orang tua Adam selama ini tinggal di Surabaya dan masih disibukin dengan pekerjaannya. Ayah Adam, Pradipta Malik merupakan pemimpin perusahaan yang cukup terkemuka di Surabaya. Namun, Adam memilih untuk bekerja di Perusahaan Wijaya karena ingin belajar dari bawah. Lagi pula, ada Ibnu Malik, kakak Adam yang telah lama menjadi kandidat pemimpin selanjutnya di Perusahaan Malik sehingga Ayahnya tidak masalah bila Adam memiliki karier di Perusahaan Wijaya. Selain itu, tadinya Pradipta merupakan tangan kanan dari Papa Arga sebelum dia membangun perusahaannya sendiri sehingga kini anaknya Adam yang menggantikannya menjadi tangan kanan Arga.


"Kenapa kamu Van? Kamu gugup ya akan bertemu calon mertua?" Alena memerhatikan Vania yang tersenyum canggung saat Adam menjawab pertanyaan Arga.


"Yah sedikit, aku kan belum mempunyai pengalaman menghadapi calon mertua," cicit Vania yang ditanggapi senyuman oleh Adam.


"Tenang saja, sayang. Ibu sangat menyukaimu. Bukankah kalian sudah sering berkomunikasi walau hanya lewat ponsel," ujar Adam sambil menepuk pelan bahu Adam.


"Ya, semoga saja beliau menyukaiku." Vania tersenyum sambil menatap calon suaminya. Dia sangat bersyukur saat itu ditolong oleh Adam walau awalnya dia menolak pertanggung jawaban dari Adam. Namun, seiring berjalannya waktu Vania mulai merasakan ketulusan yang diberikan oleh Adam. Dan timbul sebercik perasaan yang mendebarkan untuk calon suaminya.


"Tenang saja, nanti aku akan memberikan tips untuk menghadapi calon mertua," ujar Alena yang ditanggapi dengan angukan dan senyuman oleh Vania. Vania melihat sekali lagi baby Abian yang terlihat sangat lelap.


"Padahal aku ingin sekali menggendong Baby A," gumam Vania sambil menatap dengan pesona anak dari Alena dan Arga.


"Nanti kita akan memiliki anak sendiri. Aku harap anak pertama kita nanti perempuan." Perkataan Adam membuat dahi Vania berkerut. Bukankah biasanya pria sangat ingin memiliki anak pertama berjenis kelamin laki-laki.


"Mengapa kamu ingin perempuan?" Mendengar pertanyaan Vania membuat Alena juga penasaran dengan jawaban Adam.


"Sebenarnya perempuan atau laki-laki tidak apa-apa. Namun, aku tidak ingin memiliki saingan apalagi itu adalah anakku sendiri. Melihatmu terpesona dengan Baby A aku saja sudah kesal." Perkataan absurd dari Adam ditanggapi dengan cubitan diperutnya yang diberikan oleh Vania.


"Dasar Adam!" Arga hanya menggeleng mendengar perkataan aneh dari sekretarisnya.


...🍃🍃🍃...


Pertemuan pertama Vania dan orang tua Adam berjalan dengan lancar, bahkan dari pandangan pertama Vania sudah sangat disukai oleh Bu Ambar, Ibu dari Adam. Mereka sudah sangat akrab, apalagi Vania juga dapat mengimbangi pembicaraan dengan mertuanya tersebut.


"Oh iya, ibu sebenarnya ingin tahu bagaimana kamu bisa menyukai Adam? Dia kan selalu saja bekerja dan tidak pernah punya waktu untuk dirinya sendiri bahkan jarang sekali dia menjenguk kami di Surabaya." Bu Ambar ingin mengetahui kisah percintaan anaknya. Vania yang tidak mungkin mengatakan bahwa awalnya merupakan sebuah bentuk tanggung jawab ingin berbohong kepada calon ibu mertuanya. Namun, Adam sudah terlebih dulu menyela.


"Itu Adam yang awalnya menyukai Vania dan melakukan kekhilafan." Adam ingin awal yang baik bagi hubungan keduanya sehingga dia menceritakan semua kejadian yang menjadi penyebab bersatunya Adam dan Vania.


"Apa? Kamu tega sekali Adam! Ibu tidak pernah mengajarkanmu berbuat seperti itu kepada perempuan! Maafkan Adam ya Vania." Bu Ambar langsung membawa Vania ke dalam pelukannya, dia tidak menyangka bahwa awal dari pernikahan ini terjadi karena perbuatan putranya.


"Tidak, Mas Adam tidak salam Bu. Aku yang salah." Vania jadi menangis karena Bu Ambar juga langsung menangis mendengar cerita dari Adam.


Setelah itu, Bu Ambar juga memukul Adam karena sebal dengan anaknya sampai harus dihentikan oleh Ayah Pradipta.


"Sudah Bu, sekarang kita perlu menata masa depan mereka. Kamu jangan pernah sakiti Vania ya Adam," ucap Ayah Pradipta yang menatap Adam dengan tajam. Dia menyesalkan perbuatan yang dilakukan oleh anaknya namun nasi telah menjadi bubur. Saat ini, mereka harus menatap ke depan untuk masa depan anak dan calon menantu mereka. Semoga pernikahan keduanya berjalan dengan lancar.


"Iya Ayah, aku janji," jawab Adam dengan penuh keyakinan.


Dia tidak tahu bahwa ada seseorang yang ingin bertemu dengannya , orang yang dahulu tiba-tiba pergi menghilang dari hidupnya. Terdapat pesan masuk ke dalam ponsel Adam.


[Adam, saat ini aku ada di Rumah Sakit Cahaya Internasional. Aku ingin bertemu denganmu sekali saja sebelum aku pergi meninggalkan dunia ini. -Clara]


...🍃🍃🍃...


Sebelum Author update bab selanjutnya, Author punya rekomendasi bacaan seru yang bisa menemanimu sambil menunggu Author update.


Yuk kepoin dan baca novel temanku.