Blind Date With CEO

Blind Date With CEO
Mengantar Vania



Adam yang menunggu Dokter pribadinya untuk memeriksa Vania datang berinisiatif memasak untuk sarapan mereka berdua. Saat masakannya telah matang dia menyajikannya di sebuah nampan lalu menuju kamar tidurnya.Ternyata Vania sedang berada di kamar mandi, terdengar gemericik air dari kamar mandi. Adam menaruh nampan tersebut di nakas dekat tempat tidurnya.


Terdengar suara pintu kamar mandi yang di buka, nampaklah Vania yang keluar hanya menggunakan bathrobe. Adam bersikap biasa saja melihat bathrobe yang dipakai oleh Vania. Namun, reaksi berlebihan terlihat dari wanita yang sedang menutupi tubuhnya padahal bathrobe itu memang telah membungkus tubuhnya dengan sempurna.


"Pak, bisa keluar dari kamar ini dulu tidak? Aku ingin berganti pakaian!" Vania menyuruh atasannya itu keluar dari kamarnya sendiri. Adam hanya berfokus pada kata panggilan yang keluar dari mulut Vania.


"Pak, Pak. Memangnya saya bapakmu?" Pria itu berjalan menuju tempat Vania berdiri.


"Apa yang Anda inginkan, Pak? Stop! Jangan dekat-dekat!" Nada suara Vania sedikit meninggi saat Adam mendekatinya.


"Dasar! Apa yang kau pikirkan?" Adam menyentil dahi Vania, dia melihat wajah Vania yang sudah seperti kepiting rebus karena didekati oleh pria tampan di depannya.


"Aku.. Aku..." Vania terbata dan mendadak gugup berdekatan dengan Adam.


"Mulai hari ini kamu harus memanggilku dengan panggilan lain. Aku tidak ingin menjadi seperti bapak-bapak. Mana ada kekasih yang memanggil prianya dengan bapak?" Adam terus saja mendumal karena panggilan Vania. Vania ingin merespon namun dia tidak tahu harus mengatakan apa. Lagi pula apa panggilan yang tepat untuk pria yang seenaknya mengatakan bahwa mereka adalah sepasang kekasih.


Dumalan Adam terhenti ketika bel apartemennya terdengar. Adam yang hendak menuju pintu apartemen, menoleh sekilas kepada Vania.


"Pakai bajumu terlebih dahulu dan langsung ke tempat tidur. Dokter akan memeriksamu terlebih dahulu," kata Adam sambil berlalu tanpa menunggu jawaban dari Vania.


Vania yang mendengar perkataan Adam segera mengikuti permintaan Adam. Tadi, Adam memberikan kemeja dan celana miliknya untuk dipakai oleh Vania. Vania telah memakai kemeja putih yang terlihat sangat kebesaran di tubuh mungilnya. Celana yang disiapkan oleh Adam tentunya sangatlah besar dan tidak dapat dipakai olehnya. Jadilah, Vania hanya menunggu menggunakan kemeja putih Adam dan menuju tempat tidur.


Tidak menunggu terlalu lama, Adam memasuki ruangan bersama dengan Dokter yang bernama Dicky. Dia merupakan dokter pribadi Adam sekaligus keluarga Wijaya. Sebagai sekretaris Arga tentu saja Adam juga mendapatkan fasilitas yang menunjang karirnya. Sehingga, dia pun memiliki dokter pribadi.


Adam melihat Vania yang akan diperiksa oleh Dokter Dicky. Saat Vania ingin membuka kancing bajunya agar Dokter Dicky dapat dengan mudah memeriksanya, Adam dengan sigap mencegahnya.


"Apa yang kamu lakukan?" Vania mengerinyit bingung melihat tatapan tajam yang diberikan oleh Adam. Adam langsung mencengkram tangan Vania yang hendak membuka kancing bajunya, lalu dia mengancingkannya kembali.


Dokter Dicky hanya tertawa melihat tingkah laku Adam. Dia dan Adam merupakan teman lama sehingga dia baru melihat kelakuan temannya. Sepertinya wanita yang sedang dia periksa merupakan teman dekat dari Adam.


"Bagaimana kondisi tubuhnya?" Adam bertanya setelah Dokter Dicky selesai memeriksa kondisi Vania.


"Baiklah, kalau begitu aku permisi dahulu ya. Selamat pagi, Nona. Semoga kau tetap bertahan dengan pria menyebalkan itu." Candaan Dokter Dicky hanya disambut dengan senyuman oleh Vania.


"Pasti dia berpikir aku adalah kekasih Adam. Eh, tapi kan memang benar aku sudah dianggap kekasihnya ya." Vania bergumam sendiri saat dia Dokter Dicky berpamitan dan Adam mengantarkan temannya ke pintu apartemen.


Hah, sudahlah aku jalani saja yang ada di depan mataku.


Vania yang tadinya menyangkal keinginan Adam untuk bertanggung jawab menjadi pasrah dengan keadaannya. Dia pusing sendiri dengan dirinya sendiri yang plin plan. Tadinya ingin berpendirian A, namun menjadi goyah ke B. Dirinya memang tidak mempunyai pengalaman tentang dunia percintaan.


Dahulu pernah dia memiliki pacar, namun kandas dalam waktu yang cukup sebentar. Hubungannya dengan mantan kekasihnya hanya bertahan selama dua bulan. Kemudian, dia diputuskan dengan alasan mantan pacarnya ingin fokus kepada karirnya. Namun, yang dia lihat bukan itu, seminggu kemudian dia melihat mantan pacarnya itu menggandeng wanita lain. Sejak saat itu, dia tidak pernah lagi mencoba suatu hubungan sampai kemarin dia ingin serius mencari jodoh karena didesak oleh Mamanya ternyata yang dialaminya malah kekecewaan dan berakhir terjerat oleh sekretaris CEO tempatnya bekerja.


Adam memang tampan, sangat tampan malah. Akan tetapi, ketampanannya itu membuat Vania khawatir. Apakah hubungan keduanya akan lancar? Dia tidak memiliki kepercayaan diri untuk memulai hubungan dengan Adam.


Lamunan Vania dihentikan oleh kedatangan Adam. Adam mengambil sarapan yang telah dibuat olehnya dan menaruhnya di depan Vania.


"Apa yang kamu pikirkan? Ayo kita sarapan, lalu nanti siang aku akan mengantarkanmu ke rumah." Adam mengatakannya sambil menyuapkan makanan ke mulut Vania.


"Aku bisa makan sendiri! Lagi pula kamu tidak perlu mengantarkanku. Aku bisa pulang sendiri." Vania dengan keras kepala tidak ingin diantarkan pulang oleh Adam.


"Aku harus mengantarkanmu pulang, karena kemarin aku sudah berkata kepada orang tuamu besok aku yang akan mengantarkanmu pulang. Tidak usah membantah kata-kataku. Kau cukup menuruti perkataanku." Vania hanya terdiam kemudian menganguk pasrah, mulutnya juga dengan pasrah menerima suapan dari Adam.


"Nah begitu. Aku lebih suka kamu menjadi wanita penurut." Belum apa-apa Adam telah menjadi kekasih yang suka mengatur. Vania hanya mengerucutkan mulutnya mendengar perkataan Adam. Dia berharap pertemuan Adam dan Mamanya tidak akan menimbulkan masalah baru dalam hidupnya.


...🌺🌺🌺...


Hallo, aku kembali menyapa kalian semua.


Sebelum ke bab selanjutnya, aku punya rekomendasi bacaan yang bagus banget. Yuk, sambil menunggu Author up, bisa banget baca karya temanku ya.