
Teriakan Alena membuat kedua orang tersebut kaget. Alena yang terkejut, langsung lari meninggalkan Yudha dan Dania. Yudha yang masih terkejut masih belum dapat mengendalikan dirinya, dia bahkan masih terpaku di tempatnya.
"Sialan! Apa yang telah kamu lakukan, Dania?" Dengan berteriak Yudha membentak Dania yang saat ini masih berada di depannya. Dania yang juga masih terkejut dengan kedatangan Alena tersentak karena bentakan Yudha. Dia tidak menyangka sahabatnya ini dapat membentaknya seperti itu. Apalagi mengeluarkan kata-kata yang kasar kepadanya.
Yudha hendak berdiri namun hal itu dicegah oleh Dania yang memang masih dalam keadaan lemah. Dia memegang erat lengan tangan Yudha yang ingin menyusul Alena. Dania yang memang memiliki perasaan lebih kepada Yudha tidak ingin pria tersebut menyusul Alena. Dia ingin hubungan kedua orang tersebut berakhir.
"Tetaplah di sini Yud. Aku membutuhkanmu. Aku sedang sakit dan sangat membutuhkan kehadiranmu." Dengan memanfaatkan sakitnya saat ini, Dania dapat menahan Yudha yang memang memiliki sikap terlalu baik dan tidak tegaan terhadap sahabatnya itu. Saat itulah, awal mula kerenggangan Yudha dan Alena, Alena selalu menghidar dari Yudha dan memutuskan hubungannya dengan pria itu. Alena tidak memberikan kesempatan kepada Yudha untuk menjelaskan apa yang terjadi saat itu, disamping itu Dania terus saja mengikuti Yudha ke mana pun pria tersebut pergi. Sehingga, Alena semakin yakin bahwa kekasih dan sahabatnya tersebut memiliki hubungan yang lebih dari sekadar sahabat.
Selesai bercerita kepada Alena yang juga disaksikan oleh Arga, Yudha merasa lega sudah dapat meluruskan kesalahpahaman yang terjadi. Dia sepertinya masih sangat berharap bahwa Alena dapat memberikan dia kesempatan, bahkan di bawah alam sadarnya dia ingin kembali melanjutkan hubungannya dengan Alena yang telah lama kandas.
"Jadi, aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya Alena. Aku dapat bersumpah bahwa hubunganku dengan Dania tidak lebih dari sekadar sahabat. Lagipula saat ini, dia telah menikah dan mempunyai anak." Mendengar hal tersebut Alena masih memandang dengan datar Yudha. Dia sebenarnya lebih sakit hati karena diam-diam Dania pernah terang-terangan memintanya untuk memutuskan hubungan dengan Yudha. Dania yang merupakan sahabatnya sama sekali tidak ingin menyangkal kedekatannya dengan Yudha.
"Aku ingin kau memutuskan hubunganmu dengan Yudha. Biarkan kami bahagia tanpa bayang-bayangmu Alena," kata Dania yang saat itu mendatangi Alena yang telah selesai kelas. Dengan terkejut, Alena menatap sinis Dania, ternyata inilah sifat asli dari sahabatnya itu.
"Apa maksudmu Dania?" tanya Alena kepada Dania. Dia memang telah melihat sendiri kekasih dan sahabatnya itu berciuman. Tadinya, dia ingin memberikan kesempatan kepada Yudha yang selalu saja ingin berbicara dengannya, namun mendengar perkataan dari Dania ini pupus sudahlah kesempatan yang tadinya akan diberikan oleh Alena kepada Yudha.
"Jangan pura-pura tidak tahu. Kejadian kemarin tentu sudah menjadi asalan bagimu untuk memutuskan hubunganmu dengan Yudha. Aku mohon Alena berikan Yudha kepadaku karena aku bisa lebih membahagiakan Yudha dibandingkan dirimu." Alena yang sudah muak dengan perkataan Dania hanya memandang kesal sahabatnya itu kemudian pergi meninggalkan Dania.
"Alena! Kau mendengar perkataanku?" tanya Yudha yang sedari tadi merasa diabaikan oleh Alena. Arga yang berada disamping Alena meremas kecil tangannya. Alena yang sedikit terperangah sadar tadi telah melamun dan membayangkan masa lalunya bersama Dania.
"Maukah kau memaafkan kesalahanku? Aku tahu saat itu salah, aku tidak dapat melanjutkan hidupku kalau kau belum memaafkanku." Yudha menatap Alena penuh harap.
Keheningan melanda ruangan tersebut, Arga sedari tadi hanya menatap isterinya penuh tanya. Sedari tadi dia sangat kesal karena pikiran Alena seperti terseret ke masa lalu.
"Aku sudah memaafkanmu, Yudha." Akhirnya suara dari Alena menghentikan keheningan yang melanda. Senyum Yudha terbit di wajah tampannya tersebut. Arga yang berada di dekat Alena mengeraskan wajahnya, dia berharap Alena tidak pernah memaafkan mantan kekasih isterinya tersebut agar hubungan mereka tetap retak seperti ini.
"Terima kasih, Alena. Aku juga mempunyai permintaan lagi, aku harap keadaan kita dapat kembali seperti dahulu." Perkataan Yudha tersebut sontak menjadikan wajah Arga mengeras.
"Maaf Yudha, aku memang memaafkanmu, tetapi itu tidak mengubah apa pun. Hubungan kita tidak dapat kembali seperti dahulu, saat ini aku memiliki pasangan yang harus dijaga perasaannya. Selain itu, aku juga tidak bisa mengembalikan persahabatan kita karena pengkhianatan yang kalian lakukan sangat membekas. Aku mungkin memaafkanmu, namun aku tidak dapat melakukan kesalahanmu." Perkataan yang diucapkan Alena tersebut menyurutkan binar bahagia yang sedari tadi nampak diwajahnya.
"Baiklah, Alena. Lagipula suamimu juga telah memberikan pembalasan atas apa yang aku lakukan kepadamu." Alena mengerutkan dahinya dan menatap Arga yang berada disampingnya. Pria yang ditatapnya tersebut hanya menyunggingkan senyumnya dan tetap bersikap tenang. Yudha berpikir pasti kepindahannya ke Kalimantan ada sangkut pautnya dengan Arga karena perkataan Arga tadi tentu merujuk kepada hal tersebut. Dengan kekuasaannya, tentu Arga dapat dengan mudah melakukan hal tersebut, semudah menjentikkan jarinya.
"Nanti aku akan menjelaskannya kepadamu." Ditatap terus oleh Alena ternyata menjadikan Arga risih dan mengucapkan hal tersebut. Namun, senyumnya masih tetap tampak di wajahnya. Alena hanya mengerucutkan bibirnya melihat senyum jahil yang tetap tersungging di wajah pria tampan tersebut. Melihat Alena mengerucutkan bibirnya, dia menahan senyumnya.
"Jika, mau tidak memiliki urusan lagi, lebih baik kau pergi dari sini." Arga menoleh ke arah Yudha dan mengatakan hal tersebut. Dari awal dia sebenarnha ingin mengusir pria tersebut, tetapi dia sedikit penasaran dengan kisah mantan pacar isterinya tersebut. Sehingga dia berbaik hati mengizinkan Yudha meluruskan kesalahpahaman yang terjadi. Meski terbesit sedikit rasa khawatir yang mungkin mengembalikan Alena pada masa lalunya, tetapi dia ingin masalah yang terjadi di antara keduanya tuntas dan mereka bisa menatap masa depan tanpa bayang-bayang masa lalu.
Yudha yang diusir secara terang-terangan oleh Arga menyunggingkan senyumnya, dia ingin sedikit mengerjai suami dari mantan kekasihnya tersebut.
"Bilang saja kau takut aku mendapatkan perhatian dari Alena. Sehingga kau mengusirku," ucap Yudha.
"Percaya diri sekali kamu akan mendapat perhatian dari isteriku. Kalau bukan karena izinku saat ini kau tidak dapat berbicara dengan Alena." Arga yang duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Alena melipatkan tangannya dan menaikkan alisnya.
Yudha meringis mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Arga. Memang benar perkataannya, Alena tidak mungkin mau berbicara empat mata dengannya kalau bukan karena izin dari suami kekasihnya tersebut pasti kesalahpahaman yang selama ini Alena kira tetap terpatri dalam ingatannya. Kalau mengingat hal tersebut Yudha juga sangat menyesal atas sikapnya yang kadang mendahulukan Dania dibandingkan dengan Alena. Walaupun sebenarnya wajar karena mereka adalah sahabat, namun Alena tentu sakit hati karena perlakuannya dahulu.
"Baiklah kalau begitu. Tidak ada lagi yang dapat aku katakan untukmu Alena. Terima kasih telah memaafkanku. Izinkan aku sekedar bersalaman denganmu." Yudha mengatakan hal tersebut sambil menyodorkan tangannya, Alena menyambut tangan tersebut dan menjabatnya sebentar. Hal tersebut mendapat tatapan tajam dari Arga.
"Ehm, sudah jangan lama-lama bersalamannya," ucap Arga yang memisahkan tangan Alena dan Yudha.
"Tolong jaga Alena dengan baik. Jangan pernah membuatnya kecewa," pinta Yudha kepada Arga.
"Tentu saja. Aku akan menjaga dengan baik apa yang aku miliki," ucap Arga dengan mantap. Alena hanya merona mendengar perkataan Arga.
Yudha kemudian berpamitan kepada sepasang suami isteri tersebut. Dengan hati yang ringan dia melangkah, melangkah pergi meninggalkan masa lalunya dan tersenyum memandang masa depan yang terbentang dihadapannya.