
Alena yang telah pulih dari sakitnya diperbolehkan pulang oleh dokter. Mommy Leona dan Kakek Danu serta Mama, Papa, dan Kakek Aditya menyambut dengan baik kepulangan Alena. Saat ini, Alena masih akan pulang ke mansion Keluarga Wijaya. Alena yang sebenarnya ingin mandiri tetap tidak diperbolehkan untuk pisah rumah karena Mommy Leona beralasan akan kesepian bila tidak ada Alena.
Malam ini, diadakan makan malam bersama untuk menyambut kepulangan Alena. Keluarga Alena pun ikut untuk makan malam di mansion keluarga Wijaya.
"Ayo, sayang makan yang banyak ya agar kamu lekas pulih." bujuk Mommy Leona yang menyendokkan nasi dan menaruh lauk di piring Alena. Arga yang melihat hal tersebut hanya tersenyum, anaknya saja tidak diperlakukan seperti itu tetapi Alena sudah seperti anak kandung Mommy Leona saja.
"Iya Mom, terima kasih." Dengan senang Alena menerima perlakukan baik dari mertuanya. Mama Amira yang melihat hal tersebut sangat bersyukur karena Alena diperlakukan sangat baik dan disayang oleh mertuanya.
"Jadi, bagaimana Alena? Apa kamu sudah memikirkan tentang permintaan Mommy yang ingin kamu berhenti bekerja saja dan menemani Mommy," tanya Mommy Leona. Alena yang memang telah memikirkan hal tersebut sejak dia masuk rumah sakit, kini menolehkan wajahnya ke arah Arga yang menganggukkan kepalanya.
"Aku sudah memikirkan dengan baik mam. Baiklah aku akan berhenti bekerja saja dari perusahaan dan akan fokus pada keluarga." Mendengar ucapan Alena, Mommy Leona memekik senang, akhirnya impiannya tercapai menantunya bisa seharian bersamanya. Melihat reaksi dari Mommy Leona, Arga tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Mommynya benar-benar seperti anak kecil.
Mereka pun melanjutkan acara makan malam. Saat sedang asik menikmati makan malam, tiba-tiba langkah sepatu terdengar mengusik makan malam tersebut. Terlihat seorang wanita paruh baya bersama seorang gadis muda yang cantik. Wanita paruh baya tersebut terlihat sangat modis menggunakan dress selutut berwarna cream dan tas yang berada di lengannya. Sedangkan, wanita muda yang datang bersamanya tampak menggunakan dress berwarna merah tanpa lengan yang terlihat sangat sexy. Wanit paruh baya tersebut menyapa Kakek Danu terlebih dahulu, setelah melihat ke seluruh orang yang berada di ruang makan keluarga Wijaya.
"Selamat Malam, Kek. Wah sepertinya terdapat kumpul-kumpul keluarga besar ya. Bolehkah kami ikut bergabung dengan acara makan malam keluarga ini?" ucap wanita yang masih terlihat cantik walau terlihat sudah berumur.
"Yah, seperti yang kau lihat saat ini. Ada perlu apa? Sebaiknya kau pergi menuju ke ruang tamu dahulu. Tunggu aku di sana." Perkataan Kakek Danu sedikit ketus, mendengar hal tersebut Alena penasaran dengan kedua orang yang datang kali ini.
"Padahal aku ingin bergabung dan makan malam bersama. Aku dan Silvia juga belum makan malam, Kek." Sambil mengatakan hal tersebut wanita paruh baya itu menarik kursi yang masih kosong di meja makan tersebut. Silvia yang berada di samping wanita tersebut mengikuti tindakan dari Helga dan duduk di samping wanita itu.
"Aku belum menyuruh kalian untuk duduk, Helga. Sekarang berdiri dan tunggu aku di ruang tamu." Kakek Danu menyiratkan ketegasan dalam suaranya, sehingga mau tidak mau Helga dan Silvia terpaksa pergi menuju ruang tamu. Helga pergi dengan memandang sinis terlebih dahulu pada Mommy Leona. Mommy Leona yang dipandang seperti itu, mendongakkan kepalanya dengan angkuh seolah bersikap sombong dan menunjukkan kekuasaannya di mansion ini.
"Apa Ayah mengundang perempuan itu untuk datang ke mansion kita?" tanya Mommy Leona kepada Kakek Danu yang tidak dapat menyembunyikan ekspresi kesal di wajahnya.
"Tidak. Aku tidak pernah mengundang wanita itu untuk datang ke sini." Merasa dituduh oleh Mommy Leona tentu saja Kakek Danu membela dirinya yang tidak tahu menahu tentang kedatangan Helga.
Mommy Leona yang khawatir dengan Arga menoleh untuk melihat ekspresi dari Arga yang ternyata diluar ekspektasinya. Arga hanya menatap datar Silvia dan seperti menghindari topik kedatangan Helga dan Silvia. Mommy Leona yang mengetahui kehidupan pernikahan Arga dan Alena sudah mulai dekat khawatir dengan kedatangan Silvia dapat menggoyahkan pernikahan anaknya yang baru seumur jagung.
Setelah makan malam, Mama Amira, Papa Fauzan , dan Kakek Aditya berpamitan karena malam telah larut. Kakek Aditya sebenarnya ingin menanyakan kepada sahabatnya perihal kedua wanita yang datang tersebut. Namun, dia mengurungkan hal itu karena dia pikir itu adalah urusan dan privacy keluarga Wijaya.
Alena yang merasa lelah ingin membaringkan tubuhnya dan ingin menuju ke kamar mereka. Namun, Arga mencegahnya terlebih dahulu.
"Kita ke ruang tamu terlebih dahulu," ujar Arga yang menggandeng Alena menuju ruang tamu. Alena hanya mengangguk dan mengikuti Kakek Danu dan Mommy Leona yang sudah terlebih dahulu berada di ruang tamu.
"Nah ini dia, orang yang sedari tadi kita tunggu kedatangannya," kata Helga dengan mata yang berbinar.
Arga dan Alena memang mengantarkan kepergian keluarga Alena terlebih dahulu sehingga mereka baru dapat menyusul Mommy Leona dan Kakek Danu yang sudah ke ruang tamu.
Arga hanya menatap datar perkataan Helga kemudian duduk dan meminta Alena untuk duduk di sebelahnya. Alena yang masih belum mengetahui siapa Helga dan Silvia memilih untuk mengamati kedua orang ini. Alena melihat ekspresi Arga yang datar merasa pasti keduanya memiliki hubungan di masa lalu yang membuat Arga agak tidak memperdulikan mereka. Akan tetapi, mengapa Arga repot-repot untuk ikut ke ruang tamu? Seharusnya mereka ke kamar tidur saja karena Alena yang baru ke luar dari rumah sakit sebenarnya sudah sangat lelah.
"Apa tujuan kalian untuk datang ke sini?" tanya Arga dengan nada yang sangat dingin. Bahkan Alena sampai menggidikkan badannya saking dinginnya.
"Dasar Tuan Kulkas. Dingin sekali nada bicaranya," batin Alena dalam hati. Arga yang seolah mendengar kata batin tersebut menoleh dan melirik ke arah Alena. Alena yang dilirik hanya menyunggingkan senyumnya kepada pria tersebut.
"Jangan berbicara seperti itu Arga. Paling tidak kamu harus menghargai masa lalu diantara dirimu dan Silvia," jawab Helga sambil memincingkan matanya sinis yang ditujukkan untuk Alena.
Masa lalu? Apa hubungan masa lalu Arga dengan wanita muda tersebut? Siapa wanita itu? Kalimat tanya memenuhi pikiran Alena.