Blind Date With CEO

Blind Date With CEO
Alena yang penasaran



Setelah Adam yang bertandang ke rumah Vania itu, terjadi kesepakatan bahwa enam bulan lagi akan dilaksanakan pernikahan antara keduanya. Vania pasrah dan menerima pernikahannya dengan Adam. Awalnya terbersit keinginan untuk pergi saya dari rumah dan hidup seorang diri, namun dia tidak tega kepada Mamanya. Selepas kepulangan Adam, Mama Heni terus menangis dan menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian yang menimpa Vania.


"Ini semua terjadi karena Mama kan? Mama selalu mendesakmu untuk menikah sehingga dirimu mengikuti kencan dari aplikasi itu?" Sambil menangis Mama Heni menyalahkan dirinya sendiri. Vania memeluk Mamanya dan tidak mengatakan apa pun. Dia hanya diam dan menenangkan wanita yang telah melahirkannya.


"Secara tidak langsung kamu mengalami kejadian itu karena mama, mama sangat sedih mendengar kejadian yang menimpamu. Mama tidak bisa mengembalikan hal yang sudah diambil." Masih terus menangisi nasib putrinya tersebut, Mama Heni terus merasa bersalah.


"Sudah Ma, nanti aku akan segera menikah. Pak Adam merupakan orang yang bertanggung jawab. Dia tidak mungkin mengingkari janjinya. Aku bisa melihat kesungguhan dari dirinya." Akhirnya Vania membuka suaranya, tidak ingin Mamanya terus merasa bersalah atas hal yang menimpa dirinya.


"Iya, dari sikapnya sudah menunjukkan bahwa dia adalah orang yang bertanggung jawab. Sudah Mama tidak perlu lagi menangis. Jangan menyiksa diri sendiri." Gio mengatakan hal itu untuk menghentikan tangisan dari Mamanya. Mama Heni hanya mengangguk dan masih memeluk Vania, putri yang sangat disayanginya.


...🌺🌺🌺...


Adam setiap hari mengantar jemput Vania, tanpa sadar Vania menjadi ketergantungan kepada Adam. Berbeda dengan Alena yang ingin menyembunyikan hubungannya dengan Arga, Adam yang tidak ingin menyembunyikan statusnya dengan Vania. Seperti saat ini, mereka datang bersama dalam acara tujuh bulanan Alena. Kedatangan mereka yang mencolok menimbulkan tanya Alena, berbeda dengan beberapa teman kantor yang memang sudah mengetahui perihal hubungan mereka berdua. Vania belum menceritakan tentang Adam kepada Alena.


Sebenarnya apa hubungan kalian?" Alena yang curiga karena kedua orang dihadapannya datang bersama saat acara tujuh bulanan dirinya. Alena tidak menyangka hubungan antara keduanya bisa sangat dekat seperti ini. Alena berharap sahabatnya memang memiliki perasaan cinta kepada Adam karena telah lama Alena melihat Vania belum juga membuka hatinya kepada orang lain.


"Aku... Aku..." Melihat wanitanya gugup dan tidak dapat menjawab pertanyaan Alena. Gemas dengan reaksi Vania, Adam mengambil alih menjawab pertanyaan isteri bosnya itu.


"Kami akan segera menikah!" Adam menjawab dengan nada datar pertanyaan dari Alena. Dia memang orang yang tidak pandai berbasa basi. Sebenarnya ada alasan tertentu dia menjadi pribadi yang tertutup. Adam pernah dikecewakan dengan orang yang sangat dicintai. Ditinggalkan begitu saja saat masih sangat mencintai seseorang tentu sangat sakit. Tanpa seuntai kata apa lagi sebuah kenangan seorang wanita yang dia cintai meninggalkannya.


"Apa? Menikah? Benar itu Vania?" Alena mendadak heboh sendiri mendengar berita Vania akan menikah. Dia seperti ketinggalan berita terhangat bulan ini, dan haus akan rasa penasaran yang melandanya.


"Iya Len, aku akan menikah dengan Mas Adam." Mendengar panggilan Vania kepada Adam terbitlah senyum di wajah Alena. Dia terlihat geli dengan panggilan sahabatnya kepada Adam. Wajah Vania juga memerah karena Alena meledeknya. Dia teringat awal mula Adam memprotes panggilan kepadanya.


"Pak, ayo kita jalan," ucap Vania yang kala itu dijemput oleh Adam, mereka berdua hendak pergi ke kantor bersama.


"Pak, Pak, Pak memangnya aku ini Bapakmu?" Adam terlihat kesal dengan panggilan Vania.


"Apa saja kan bisa sayang, honey, love." Vania langsung bergidik mendengar opsi panggilan yang diberikan oleh Adam. Mereka belum sedekat itu sampai harus saling memanggil sayang.


"Hmmm, aku belum bisa. Bagaimana kalau aku panggil Mas Adam?" Vania memberikan usulan yang dianguki oleh Adam, dia sebenarnya ingin bersorak karena Vania menuruti perkataannya. Selama ini memang Vania lebih menuruti permintaan Adam yang terkadang sangat menggemaskan baginya.


Vania mengetahui niat Adam yang ingin mendekatkan hubungan mereka berdua, dia tidak ingin hubungan mereka hanya terjadi karena kesalahan sesaat yang telah dia dan Adam lakukan. Perlahan Adam memberikan kenyamanan padanya, hingga rasa ketergantungan itu terus ada dan menimbulkan kenyamanan sampai perasaan tumbuh di hatinya.


Kembali lagi pada acara tujuh bulanan Alena. Kali ini Alena menatap tajam suaminya, pasalnya pasti Arga telah mengetahui keinginan Adam dan Vania yang ingin menikah.


"Kamu pasti sudah mengetahui rencana mereka kan?" Arga yang mendengar nada suara isterinya yang menuntut penjelasan hanya menegukkan ludahnya sendiri. Bila begini pasti Alena akan mendiamkannya seharian, atau bahkan berhari-hari. Arga menatap tajam Adam yang tidak mengingatkannya untuk memberitahukan rencana pernikahan sekretaris dan sahabat isterinya.


"Aku.. Aku belum mengetahui rencana pernikahan mereka." Arga dengan percaya diri berbohong di depan Alena.


"Kamu pasti berbohong! Sudahlah, tidak ada jatah untukmu malam ini." Alena mengatakan sambil berlalu dan menggandeng Vania.


"Sayang, jangan seperti itu dong." Arga memasang tampang memelas, lalu beralih ke Adam dan memandang tajam sekretarisnya.


...πŸƒπŸƒπŸƒ...


Hallo, sebelum Author up bab selanjutnya.


Author punya rekomendasi bacaan yang seru banget. Yuk baca karya temanku.