
Melati membuka mata dan menatap pantulan wajahnya di cermin. Wajah bulat kecil dengan mata besar, bulu mata lentik, hidung mungil mancung, dan bibir kecil merah alami.
Semua itu terangkai menjadi satu di wajah cantik natural milik Melati. Dan sekarang seolah menyempurnakan penampilannya dengan gaya rambut lurus sepunggung dan poni yang membingkai indah.
Sejak siang mamanya sudah sibuk mengajak Melati berkeliling salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota mereka. Melati hanya bisa pasrah saat sang Mama menggandeng tangannya dan membawa mereka menjelajahi hampir seluruh toko yang ada di pusat perbelanjaan itu.
Dimulai dari toko pakaian setelah proses yang amat panjang dan juga melelahkan, Melati akhirnya membawa pulang sebuah dress merah model sabrina potongan selutut, dua buah atasan berbeda model, dan sepasang celana jeans keluaran terbaru.
Petualang Melati berlanjut di toko sepatu, Mamanya menyodorkan sebuah heels berwarna hitam dengan tinggi sekitar 6 cm. Melati mengernyit melihat sepatu itu. Apa guna sepatu itu nantinya, batin Melati.
Tak sampai di situ Mama Melati memulai aksinya lagi di toko alat kecantikan. Sebuah lipstick berwarna baby pink dan blush on peach sudah berada di kantong di genggaman Melati. Melati mengingat lagi saat semester kemarin mamanya juga membelikan alat make up yang baru di sentuh dua kali oleh Melati. Lipstick nya saja masih utuh di kostan.
Petualangan menegangkan selanjutnya terjadi di toko pakaian dalam. Mama Melati terus bersikeras memaksa Melati mencoba berbagai model dari bra dan celana dalam.
Wajah Melati sampai memerah saking malunya saat sang Mama dengan semangat mengangkat seperangkat pakaian dalam dan memcocokkannya ke tubuh Melati. Setelah rasa malu yang luar biasa dan paksaan dari sang mama, Melati pun keluar menenteng kantong belanja yang berisi tiga set pakaian dalam dengan berbagai warna dan model.
“Aku rindu kost” Batin Melati
\*\*\*
Jam sudah menunjukkan pukul enam sore saat Melati dan mamanya sampai di rumah. Tadi sebelum pulang Mario menelpon mengatakan akan menjemput sang Mama dan adik tersayang. Tapi sepertinya keputusan itu sangat disesali Mario sekarang.
“Kamu kayaknya perlu koper tambahan dek” Ucap Mario saat sang Mama sudah berlalu masuk ke dalam rumah. Mau menyiapkan makan malam katanya.
“Mungkin sebagian baju aku harus ditingggal di sini bang” Ucap Melati sambil mengangkat kantong belanjaan dibantu Mario.
“Jangan… nanti kamu bakalan sampai berjamur dengar omelan mama” Bisik Mario. Melati hanya tersenyum kecut mendengar perkataan sang abang.
“Nanti kamu pakai koper abang aja. Abang punya dua” Mario meletakkan semua kantong belanjaan di tempat tidur Melati
“Maaf ya bang jadi repotin” Ucap Melati dan membuat Mario menaikkan alis tidak suka
“Abang gak suka dengar kamu ngomong kayak gitu, udah berapa kali abang bilang. Kita ini saudara, aku abang kamu. Jangan pernah sungkan sama abang. Abang berhak dan wajib untuk jaga dan juga memenuhi kebutuhan kamu. Memastikan kamu aman dan nyaman. Jangan bilang kamu sekarang mulai gak nyaman sama abang kamu sendiri, iya? Apa kamu lebih mementingkan omongan orang di luaran sana ketimbang keluarga kamu sendiri?” Tangan Mario mengepal kuat dan wajahnya mulai merah menahan emosi.
Melati sangat tidak suka saat abangnya mulai mengungkit kejadian itu lagi. Sampai sekarang rasanya tetap menyesakkan dan membuat Melati gemetar hebat. “Maaf bang. Melati gak bermaksud” Ucap Melati pelan. Matanya mulai berkaca-kaca. Sekuat tenaga Melati menahan agar air matanya tidak menetes jatuh. Sudah cukup selama ini dia membuat keluarganya sedih.
Melihat adiknya yang berusaha menahan tangis itu membuat Mario menghela napas. Diraihnya tubuh Melati membawanya ke dalam pelukan. Mario tahu betul kejadian empat tahun lalu masih sangat membekas pada Melati. Hal itu juga terjadi karena kelalaian Mario sebagai abang.
“Kamu tahu kami semua sangat menyayangi kamu kan? Mama, Ayah, abang akan selalu ada di samping kamu. Jangan berusaha keras untuk menutup diri seperti ini. Kamu dan orang-orang disekitar kamu akan sama-sama menderita” Mario mengelus lembut rambut Melati. Melati hanya diam merasakan kenyamanan yang diberikan abangnya. Dia rindu bermanja-manja pada satu-satunya saudara yang dimilikinya itu.
“Ngomong-ngomong rambut kamu halus banget dek, wangi lagi. Abang mau dong perawatan juga, mahal gak?” Tanya Mario memecah keheningan dan membuat Melati melepas paksa pelukan abangnya.
“Abang keluar sana. Melati mau mandi, gerah seharian diseret-seret mama” Ucap Melati kesal
“Keluar gih” Melati mendorong paksa Mario keluar dari kamarnya.
\*\*\*
Saat ini mereka sekeluarga sudah duduk di ruang keluarga. Tayangan di tv masih sama yaitu acara talkshow kesukaan sang mama. Acara itu menampilkan bintang tamu pasangan baru menikah. Mereka menceritakan awal mula pacaran sampai cerita lucu saat honeymoon. Mama Melati sangat fokus menonton acara itu dan sesekali tersenyum saat mendengar betapa romantisnya pasangan muda itu.
Di meja sudah tersedia pudding mangga yang pagi tadi dibuat sang Mama sebelum pergi bersama Melati. Mario sibuk bermain handphone dan memakan pudding buatan mamanya itu. Sang Ayah hanya menatap datar acara itu. Sementara Melati juga sibuk berbalas pesan dengan Rara.
Rara tadi mengirimkan foto dirinya sedang berlibur di luar negeri. Mama dan Papa Rara memutuskan berpisah saat Rara di bangku sekolah menengah atas. Rara adalah anak satu-satunya dan ikut tinggal bersama sang Mama di ibukota. Sedangkan papanya sudah menikah lagi dan tinggal di luar negeri.
Hubungan Rara dengan istri baru papanya sangat baik. Bahkan Rara selalu menghabiskan libur semester untuk berkunjung ke rumah keluarga baru papanya.
Pemandangan pantai di belakang Rara sangat indah di mata Melati. Melati sangat ingin pergi berlibur ke pantai seorang diri. Melupakan semua rasa penat dan menyesakkkan yang selama ini menumpuk dalam hatinya.
“Mama pengen banget Melati dapat suami kayak pria itu” Ucap Mama Melati. Sontak semua orang menatap ke arah sang Mama yang masih fokus menatap layar tv.
“Melati masih kuliah ma, jangan ngomong sembarangan” Tegur Ayah Melati
“Kan Mama gak bilang harus sekarang yah” Ucap Mama Melati. “Kasihan Melati nanti kalau harus menikah punya suami yang kaku, disiplin, gak humoris kayak orang yang Mama kenal” Sindir Mama Melati
Mario dan Melati hanya tersenyum mendengar celotehan sang mama. Tidak begitu dengan Ayah mereka. Ayah Melati langsung menunjukkan ekspresi tidak suka yang terpampang jelas. Melihat itu Mama Melati hanya tertawa.
“Tenang aja yah. Meskipun orang itu dingin, cuek, gak romantis, perfeksionis Mama tetap gak bisa meninggalkan orang itu. Hati Mama sepenuhnya udah berada di tangan orang itu” Ucap Mama Melati menggoda
Dan sekarang Melati tahu dari mana asal muasal wajah memerah itu. Sang Ayah kini sedang berdehem dengan senyuman yang tersungging lebar di wajahnya. Dihiasi dengan rona merah yang membuat wajah sang Ayah tampak lucu menggemaskan.
\*\*\*
Melati hampir saja tertidur saat sang Mama mengetok pintu kamarnya. Melati tahu apa yang akan disampaikan mamanya. Karena itu Melati tetap berbaring di tempat tidurnya dan mengabaikan sang mama.
“Kamu tahu kan Mama mau bicara apa?” Tanya Mama Melati serius
“Melati tahu. Dan jawaban Melati masih sama kayak dulu” Jawab Melati datar
“Mama harap kamu bisa segera membuka hati. Mama sangat mengharapkan semester depan kamu membawa pulang atau setidaknya menceritakan sesuatu yang berhubungan dengan pacar. Mama bukan seperti Ayah kamu yang berpikiran sempit itu. Kalau kamu mau kamu juga bisa pulang sambil bawa cucu mama” celoteh sang Mama panjang lebar
“Mah” Melati duduk dan menggenggam tangan sang mama. Matanya memelas memohon agar sang Mama tidak melanjutkan perkataan yang sudah kelewat batas itu.
“Oke Oke. Mama tunggu kabar baik dari kamu” Mama Melati menyerah dan keluar dari kamar putrinya.
“Padahal aku berpikir kali ini dia pulang membawa cucu. Dasar gadis keras kepala. Dia tinggal di ibukota tapi kenapa gak bisa berpikiran lebih terbuka” Gumam Mama Melati kesal.