
Jam tiga tepat Mario sampai di gerbang sekolah Melati. Mario duduk di atas motornya sambil menunggu Melati. Berselang limabelas menit Melati belum juga tampak. Berpikir Melati mungkin lebih lama karena meminjam banyak buku untuk di bawa pulang, Mario mengeluarkan handphonenya. Membuka aplikasi pesan dan melihat satu pesan dari Ignes, teman Melati.
“Bang ini Ignes. Perasaan Ignes gak enak, tadi ada cowok yang minta ketemuan sama Melati di ruang lab. Ignes takut Melati kenapa-kenapa, tolong liatin ya bang” Isi pesan Ignes.
Dahi Mario berkerut membaca isi pesan Ignes. Kenapa ada cowok yang berani minta ketemuan dengan Melati. Apalagi hari sudah sore dan sekolah sudah sepi.
Firasat buruk langsung menghantui Mario. Ditinggalkannya motornya di dekat pos satpam dan langsung berlari ke arah ruang laboratorium. Dilihatnya sekilas ada tiga perempuan yang tidak lagi memakai seragam sekolah. Mereka sepertinya baru keluar dari arah lab. Dengan cepat Mario kembali berlari.
Di depan pintu lab Mario bisa mendengar suara tangis. Mario sangat mengenali suara tangis itu. Suara tangis yang tidak ingin di dengarnya.
Segala pikiran buruk terlintas dibenak Mario. Bagaimana kalau adiknya sudah dilukai, bagaimana kalau adiknya sudah dijamah oleh lelaki brengsek itu.
Mario menghela napas kuat. Tangannya menggenggam pegangan pintu kuat dan membukanya cepat.
Dilantai adiknya Melati terduduk. Dengan rambut berantakan, pakaian sobek, dan lutut yang berdarah. Jantung Mario serasa mencelos jatuh. Darahnya seakan berhenti mengalir.
Mata bulat Melati seolah menyiratkan permintaan tolong. Tapi Mario tidak bisa melakukan apapun. Tangan dan kakinya serasa kaku. Mulutnya membisu dan pandangan matanya terasa kosong.
Isak tangis Melati semakin kuat saat melihat abangnya mengabaikannya. Melati merasa dibuang, dicampakkan, dan tidak diinginkan saat melihat pandangan mata Mario.
Melati menjambak rambutnya sendiri. Menarik-narik rambut panjangnya sampai tangannya penuh dengan rambut yang rontok. Melihat hal itu Mario tersadar. Adiknya membutuhkan pertolongan dirinya.
Mario menarik tangan Melati, menggenggam kedua pergelangan tangan Melati kuat. Matanya menatap lurus ke bola mata Melati. Berharap semua pikiran buruk yang ada di dalam otaknya tidak benar terjadi.
“Kamu diapain sama cowok itu?” Tanya Mario
“Bukan cowok tapi kakak kelas Melati” Ucap Melati di sela tangisannya
“Kakak kelas yang mana?” Tanya Mario keras. Melati diam ketakutan saat nada suara abangnya meninggi. “Jawab abang dek, kakak kelas yang mana?” Sentak Mario
“Kakak kelas Melati, ada tiga orang. Marisa, Keke, sama Yuni” Ucap Melati terbata. Air mata masih terus mengalir deras di pipi Melati.
Mendengar hal itu Mario bernafas lega. Setidaknya pikiran buruk yang tadi melintas tidak benar-benar terjadi. Kalau sampai hal itu terjadi Mario akan langsung membunuh siapapun laki-laki keparat itu.
“Tolong Melati bang. Tadi mereka.. mereka foto Melati” Isak Melati. Mario kembali sadar akan hal itu. Seragam Melati sudah sobek tidak beraturan. Mario langsung melepas jaketnya dan memasangkannya pada Melati. Memastikan tidak ada sedikit pun tubuh adiknya itu terekspos.
“Apa yang mereka lakukan ke kamu?” Tanya Mario
“Mereka foto Melati kak, seragam Melati sobek” Tangis Melati semakin kuat mengucapkan hal itu.
Mario terkejut bukan main. Seragam Melati sobek tak beraturan seperti itu dan mereka masih memfotonya. Pikiran buruk kembali menyelimuti benak Mario. Mario harus cepat bertindak. Sebelum semuanya terlambat.
Dengan cepat Mario menggendong Melati, membawa Melati ke arah pos satpam. Pos yang tadinya kosong sudah diisi lagi dengan seorang pria paruh baya. Satpam itu terkejut melihat Mario yang menggendong Melati. Ditambah lagi dengan penampilan Melati yang berantakan.
“Ini kenapa nak? Kok nak Melati bisa begini?” Tanya satpam itu cemas. Dirinya mengenal betul Melati. Gadis yang sopan dan juga pintar.
“Adik saya dikerjai kakak kelasnya pak. Saya minta tolong untuk lihat video cctv di area laboratorium” Pinta Mario. Satpam itu hanya mengangguk cepat.
Mario menurunkan Melati di atas motornya, memakaikan helm, dan mengatur agar posisi Melati nyaman.
Dijalanan Mario sudah seperti orang gila. Dia melajukan motor dengan kecepatan tinggi dan melanggar lampu lalu lintas. Beruntung mereka sampai di rumah dengan selamat.
Sampai di depan rumah, Mario dan Melati heran melihat banyak tetangga yang mengerubungi teras rumahnya. Mario menggenggam erat tangan Melati dan membawanya menuju teras rumah.
Bisikan dari mulut tetangga membuat Melati kembali menangis. Kata-kata mereka begitu kasar. Mereka memaki dan menyumpahi Melati.
“Saya kira dia anak yang baik dan sopan. Tapi siapa sangka tingkahnya diluar sana seperti orang yang tidak terpelajar”
“Saya menyesal sudah mengenalkan anak saya pada keluarga ini. Syukur anak saya tidak tertarik dengan dia, kalau tidak anak saya pasti sudah dapat bekas.”
“Siapa yang tahu kalau diluaran sana dia sudah mengobral kesuciannya”
“Lebih baik kamu mati saja. Sudah membuat malu keluarga, sekolah, dan masyarakat”
Banyak dan banyak lagi makian terdengar di telinga Melati. Mario berusaha menerobos semua kerumunan itu dan menggedor pintu. Dari balik pintu Ayah Melati berdiri dengan pandangan yang penuh amarah.
Dihadapan semua orang Ayah Melati menampar putri satu-satunya itu. Suasana tiba-tiba langsung berubah sunyi. Hanya terdengar teriakan dari Mama Melati.
Darah mengalir dari sudut bibir Melati. Pipinya merah bekas tamparan Ayahnya. Air mata mengalir dengan deras dari kedua matanya.
Tidak pernah Melati sangka dalam hidupnya. Sang Ayah akan menamparnya, terlebih di depan orang banyak seperti ini. Ayah yang sangat disayanginya berubah dalam sekejap.
“Yah, Mario bisa jelaskan semuanya. Ini bukan salah Melati, Melati dijahati kakak kelasnya” Ucap Mario cepat
“Jelaskan ini” Ucap Ayah Melati sambil menunjukkan sebuah foto di handphonenya. Melihat itu Mario mengerti maksud kakak kelas Melati memfotonya.
Di foto itu tampak rambut Melati yang berantakan, wajahnya tertutup sebagian oleh rambut. Tapi masih dapat dikenali dengan jelas bahwa perempuan di foto itu adalah Melati. Seragamnya sobek dan memperlihatkan pakaian dalamnya. Dan tulisan di bawah foto itu membuat amarah memuncak dalam diri Mario.
Bersenang-senang hari ini dengan kamu di tempat sepi. Aku membodohi mereka semua.
Mario merebut handphone itu dari tangan Ayah Melati. Dirinya hampir tidak bisa berpikir jernih lagi saat ini. Seluruh emosi campur aduk dalam dirinya. Tapi itu tidak membantu. Hanya dirinya saat ini yang bisa menolong adiknya.
“Ini gak betul Yah, Mario lihat betul cewek-cewek itu keluar dari ruang laboratorium. Mereka yang udah jebak Melati dan menyakiti Melati. Ignes bahkan kirim pesan ke Mario bilang kalau perasaannya gak enak saat ada yang minta ketemuan sama Melati di laboratorium. Melati gak seperti yang Ayah pikirkan. Melati masih suci Yah” Ucap Mario panjang lebar
“Kalau begitu buktikan. Kita cek apa betul Melati ini masih perawan apa tidak. Kamu bisa saja bohong demi menutupi aib keluarga kalian” Teriak seorang ibu-ibu.
“Iya betul itu. Sekarang kita ke rumah sakit, kita cek” Seru ibu-ibu lainnya.
Melati menatap Mario dengan sejuta permohonan. Meskipun Melati yakin dirinya masih suci tapi untuk diperiksa seperti itu tetap saja menjadi aib baginya. Mario juga tidak bisa melakukan apapun. Ayah dan Mamanya juga tidak bisa dimintai pertolongan saat ini. Keadaan membuat mereka serba salah.
\*\*\*
Pemeriksaan berlangsung dengan penuh drama. Ibu-ibu itu bahkan membawa mereka ke rumah sakit milik kenalan mereka. Dokter perempuan kenalan mereka. Bahkan salah satu dari mereka juga ikut untuk melihat proses pemeriksaan itu.
Melati merasa dunianya hancur. Dihakimi dengan cara seperti itu membuatnya benar-benar ketakutan. Tidak ada siapapun di sampingnya. Keluarganya memilih duduk menunggu di ruang dokter. Hanya ada Melati dan dokter perempuan di ruang pemeriksaan.
Saat proses pemeriksaan itu berlangsung Melati hancur sudah. Dia merasa tidak lagi berharga di mata siapapun. Dipaksa untuk melakukan hal seperti itu membuat Melati jijik bahkan pada dirinya sendiiri.
“Melati masih perawan. Tidak ada bekas luka ataupun lecet di organ kewanitaannya. Semuanya bersih” Ucap dokter perempuan itu.
Semua orang tampak terkejut dengan hasil yang disampaikan dokter itu, terutama ibu-ibu yang sudah memaki Melati tadi. Satu persatu mereka berhamburan pulang ke rumah masing-masing. Sebagian dari mereka sempat meminta maaf, sedangkan sebagian lainnya langsung pulang tanpa rasa malu.
\*\*\*
Mama Melati langsung masuk ke ruang pemeriksaan saat semua ibu-ibu itu sudah pulang. Suara teriakan mengejutkan semua orang yang ada di ruang dokter. Dengan cepat mereka langsung menghampiri sumber teriakan itu.
Disana dengan kedua mata mereka melihat Melati terbaring menutup mata dengan pergelangan tangan yang mengeluarkan banyak darah.