Before 25

Before 25
Bab 3 Bertemu



Takdir


Sedikit berlebihan memang mengatakan kalau pertemuan ini diibaratkan dengan takdir. Suaranya begitu merdu terdengar di telinga Melati. Tatapan mata itu begitu teduh, terasa menyenangkan. Dan senyuman yang menghiasi wajah tampan itu membuat seluruh tubuh Melati terasa melayang.


“Apakah aku sudah gila.” Batin Melati memaki dirinya sendiri


“Ehem” Suara Dodi langsung membuyarkan semua pergumulan hati Melati. Dirinya sadar bahwa saat ini dia tampak sangat bodoh menatap Adnan dengan ekspresi yang begitu memuja.


“Ganteng banget ya Mel?” Tanya Mona, salah satu gadis yang ada di situ.


“Bu…Bukan kok” Ucap Melati tergagap


“Yah… Gak ganteng ya akunya?” Tanya Adnan dengan ekspresi lesu dibuat-buat


“Bukan. Ganteng kok” Ucap Melati keras. Suaranya begitu menggelegar sampai membuat dirinya menjadi pusat perhatian. Menyadari situasi yang memalukan itu, Melati langsung menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya.


“Udah jangan godain Melati, nanti dia ngambek lagi” Ucap Rara sambil merangkul pundak Melati


“Tau nih si Adnan, jangan tebar pesona deh” Ucap ridwan


“Lah kok jadi gue sih?” Ucap Adnan sambil tertawa


Mendengar suara tawa itu Melati mengangkat wajahnya dan menatap Adnan. Sadar kalau sedang ditatap Adnan lantas menyulurkan tangannya.


“Kita belum kenalan” Ucap Adnan.


“Melati” Ucap Melati pelan sambil membalas uluran tangan Adnan. “Hangat” Batin Melati


***


Minggu adalah hari yang paling disukai Melati. Selain jam tidur yang bisa lebih memanjang, dirinya juga bisa bermalas-malasan. Seperti yang saat ini tengah dilakukannya, membaca novel dari pagi sampai siang. Setelah selesai makan siang Melati memutuskan untuk pergi ke supermarket untuk belanja beberapa keperluan.


Jarak supermarket dari kostnya lumayan jauh, sekitar 15 menit berjalan kaki. Untuk naik ojek atau transportasi umum lainnya selalu membuat Melati berpikir berulang kali. Jadi karena tidak ada pilihan lain Melati harus jalan kaki.


“Hai” Sapa seorang laki-laki yang hanya dilirik dari sudut mata Melati. Merasa tidak nyaman Melati langsung berjalan menjauh.


“Kamu lupa sama aku?” Tanya suara itu lagi, melihat Melati yang malah melangkah semakin cepat laki-laki itu kemudian menahan lengannya.


“Pergi” Ucap Melati meronta menarik tangannya. Suara nya tercekat saat menyadari siapa laki-laki yang sudah mengganggunya itu.


“Maaf, aku nakutin kamu ya?” Tanya Adnan merasa tidak enak


“Maaf, aku gak sengaja” Ucap Melati


“Aku gak apa-apa kok, harusnya aku yang minta maaf”


“Aku gak apa-apa” Ucap Melati


“Kamu sendirian?” Tanya Adnan


“Ya” Jawab Melati


“Lagi belanja apa?” Tanya Adnan sambil melihat keranjang yang di pegang oleh Melati


“Bukan apa-apa kok” Jawab Melati cepat.


Adnan hanya menghela napas pelan melihat tingkah Melati. “Kamu gak nyaman ya ketemu sama aku?” Tanya Adnan lagi, ekspresinya datar tidak seperti tadi.


“Bu.. Bukan. Aku cuma.. Cuma gak nyangka aja kita ketemu disini” Ucap Melati tergagap


Melihat hal itu senyum Adnan langsung terkembang di wajahnya. “Kita?” Ucap Adnan


“Hah? Bukan, bukan gitu maksudnya aku”


“Boleh aku temani?” Tanya Adnan langsung tanpa menunggu penjelasan Melati


“Boleh” Jawaban Melati terlampau cepat sampai terdengar seperti dia sudah menunggu momen ini sangat lama. Wajahnya mulai merona merah menahan malu.


“Mau belanja apalagi?” Adnan mulai Melangkah ke arah rak yang isinya tersusun rapi snack. Dia juga tidak sanggup berlama-lama melihat rona merah di wajah Melati. “Sabar… Sabar” Batin Adnan dalam hati. “Cantik banget sih” Gumam Adnan


Rasa aneh menyelimuti hati Melati. Biasanya dia akan merasa sangat tidak nyaman dan terbebani bila berdekatan dengan orang baru. Tapi sepertinya hal ini tidak berlaku dengan Adnan. Dia sangat nyaman berjalan berdampingan dengan lelaki itu. Sesekali dia tersenyum mendengar semua celotehan Adnan.


“Kamu udah pernah cobain ini belum?” Tanya Adnan menunjukkan bungkusan besar snack


“Belum pernah” Jawab Melati


“Kamu gak suka ngemil ya?” Tanya Adnan lagi sambil mengembalikan snack itu


“Aku jarang makan kayak gitu, aku gak tahan sama rasa penyedapnya” Jawab Melati


“Wah berarti bukan generasi micin dong” Ucap Adnan sambil tersenyum. Melati hanya menganggukkan kepalanya pelan. “Kamu buru-buru gak?” Tanya Adnan saat mereka sedang menunggu kasir menghitung belanjaan Melati.


“Gak kok” Jawab Melati


“Hah? Taman? Sekarang?” Melati balik bertanya


“Kamu menolak?” Ucap Adnan sambil mengambil plastik belanjaan Melati dan membawanya keluar dari supermarket.


“Aku bisa sendiri” Ucap Melati tidak enak melihat Adnan menenteng plastik belanjaannya.


“Kamu udah nolak ajakan aku, masa hal begini pun di tolak juga” Adnan berdiri menghadap Melati sambil mengangkat plastik itu ke hadapan Melati


“Aku gak nolak, aku cuma” Ucapan Melati kembali terhenti karena lagi-lagi Adnan memotong pembicaraannya. “Aku cuma malu kalau harus jalan berdua sama kamu” Jerit Melati dalam hati.


“Kamu naik apa ke sini?”


“Jalan kaki” Mata Adnan menyipit mendengar jawaban Melati itu


“Aku serius” Sambung Melati


“Baguslah, kita bisa naik motor aku” Ucap Adnan lalu berjalan ke arah parkiran.


Adnan sudah duduk di atas motor dan melihat Melati yang masih berdiri diam di sampingnya.


“Mau aku bantu naik ke motor?” Tanya Adnan yang membuat Melati kaget


“Aku bisa sendiri” Melati dengan cepat duduk di atas motor dan memberi jarak yang cukup luas di antara mereka.


Melihat hal itu membuat Adnan hanya tersenyum kecut.


“Jauh amat jaraknya, udah kayak lapangan futsal” Batin Adnan


“Maaf ya aku cuma bawa satu helm, mulai besok aku bawa dua deh” Ucap Adnan mulai menjalankan motornya


“Buat apa?” Tanya Melati polos


“Buat kita” Jawab Adnan dan berhasil memunculkan rona merah itu lagi.


***


Selama tiga tahun hidup di kota ini, baru pertama Melati menginjakkan kakinya di taman. Taman ini terletak di tengah kota dan selalu ramai. Saat sore hari banyak orangtua yang membawa anaknya untuk bermain. Tapi saat malam suasana akan berubah karena mayoritas anak muda yang datang.


Adnan dan Melati memutuskan duduk di bangku panjang di dekat pojokan, karena hanya itu tempat yang kosong. Semua tempat duduk lain penuh dengan keluarga yang sedang bersantai.


“Pertama kali ke sini hah?” Tanya Adnan yang membuyarkan lamunan Melati


Melati kembali melamun melihat sebuah keluarga yang sedang asyik bermain bersama. Hal itu sedikit mengusik hatinya.


“Aku sering lewat sini kalau pulang dari rumah Rara” Jawab Melati


“Berarti aku orang pertama ya?” Ucap Adnan lagi. Melati menatap bingung ke arah Adnan.


“Aku senang bisa jadi orang pertama yang ngajak kamu ke sini” Lanjut Adnan


“Aku juga” Ucapan Melati itu membuat Adnan sedikit terlonjak karena senang berlebihan. “Aku senang bisa datang ke sini, udah lama aku pengen duduk-duduk di sini” Wajah Adnan mendadak murung mendengar lanjutan ucapan Melati.


“Kalau gitu kapan-kapan aku ajak ke sini lagi mau?” Tanya Adnan. “Pantang mundur Nan, maju terus” Ucap Adnan dalam hati


“Aku gak mau ngerepotin kamu” Jawab Melati


“Gak kok, aku gak repot sama sekali. Malah aku senang kalau kamu mau” Ucap Adnan. Melati hanya mengangguk sambil tersenyum ke arah Adnan.


“Ya Tuhan lindungilah jantungku, aku gak kuat lihat senyumnya” Batin Adnan sambil memegang dada kirinya


***


Sampai di kost Melati langsung turun dari motor Adnan dan berjalan memasuki halaman kost. Dia sangat gugup saat ini. Dan ada rasa sedikit kehilangan saat tau akan berpisah dengan Adnan.


“Mel tunggu, ini belanjaan kamu” Teriak Adnan. Suara itu langsung menghentikan langkah kaki Melati dan langsung berbalik menuju Adnan.


“Makasih ya” Ucap Melati terbata menahan malu


“Sama-sama. Makasih juga” Ucap Adnan


“Untuk apa?” Tanya Melati bingung


“Aku suka liat wajah kamu merah gitu, cantik” Ucap Adnan. Melati merasa kali ini wajahnya bukan hanya merah tapi terbakar saking malunya. “Makasih karna udah mau terima ajakan aku. Lain kali tolong diterima juga ya” Sambung Adnan


“Aku juga senang ketemu kamu” Ucap Melati dan langsung membalikkan badannya berlari ke arah pintu kamar kost nya. Melati langsung masuk dan membanting pintu kasar saking malunya.


Adnan yang memperhatikan semua itu hanya bisa tersenyum manis.


“Aku jauh lebih senang bisa ketemu kamu Mel”