
Melati sibuk membalik-balikkan badannya di atas tempat tidur. Sudah 2 jam yang lalu Adnan mengantarnya pulang dari acara kencan pertama mereka. Harusnya Melati senang saat ini, apalagi ini adalah kencan pertama kali dalam hidupnya. Tapi Melati justru merasa gelisah. Ada perasaan gundah, perasaan yang tidak mengenakkan yang membuat Melati sampai tidak bisa tidur.
Kencan pertamanya bisa dikatakan hampir semurna, kecuali pada bagian pakaian yang tidak sesuai dipakainya tadi. Tapi Adnan juga tidak mempermasalahkannya, Adnan malah memujinya sangat cantik.
Lalu apa yang salah, pikir Melati.
Semuanya berjalan dengan lancar, hubungannya dengan Adnan baik, ada Rara yang selalu mendampinginya, permasalahan dengan Silvi juga bisa dikatakan sudah selesai. Namun, rasa gelisah itu tak juga kunjung hilang.
Melati sampai hampir berteriak frustasi karena rasa tidak nyaman yang dirasakannya sekarang. Perutnya seperti diaduk dan diremas, ada rasa panas tapi bukan karena pencernaannya terganggu. Dadanya juga serasa dihimpit batu besar, sedikit sesak tapi semakin menambah rasa tidak nyaman pada tubuh Melati.
Handphone Melati tiba-tiba berdering tanda pesan masuk. Dengan malas Melati meraih handphone di samping bantalnya dan membaca isi pesan itu.
“Lo pikir ini semua udah berakhir. Meskipun lo pacaran sama Adnan tapi gue akan tetap ganggu lo. Setidaknya hubungan kalian akan berantakan”
Melati hanya bisa menghela nafas setelah membaca isi pesan itu. Siapa lagi kalau bukan Silvi. Silvi bahkan mengirimnya pesan saat tengah malam. Melati sadar bahwa saat ini bukan hanya dirinya sendiri yang mengalami kesulitan di dunia ini. Contohnya saja Silvi, gadis itu pasti masih sibuk menyusun rencana baru untuk menjatuhkan Melati.
\*\*\*
Keesokan harinya gossip yang lebih parah menyebar lagi disekitaran kampus. Semua orang dari jurusan Melati sibuk membicarakan gossip terbaru itu.
Bahkan saking berpengaruhnya, gossip tentang Melati itu sampai terdengar ke telinga para dosen. Bu Mirna selaku dosen pembimbing Melati di kampus sampai harus turun tangan karena gossip yang beredar mengenai mahasiswa favoritnya itu.
Pukul 3 sore selesai perkuliahan Bu Mirna memanggil Melati ke ruangannya. Melati tentu saja sudah tahu apa maksud pemanggilan dirinya ke ruangan salah satu dosen paling disukai di universitasnya itu.
Rara juga ikut bersama dengan Melati. Rara harus ada selalu disamping Melati saat ini. Adnan tidak mungkin melakukannya karena meskipun masih dalam satu universitas, Adnan tetap saja mahasiswa diluar jurusan Melati. Rara hanya bisa duduk menunggu di luar ruangan Bu Mirna.
“Saya mendengar rumor yang tidak mengenakkan mengenai kamu” Ucap Bu Mirna langsung
“Saya juga bu.” Ucap Melati. Alis Bu Mirna bertaut tajam mendengar nada suara Melati yang datar. Kalau memang gossip itu benar harusnya Melati ketakutan sekarang, karena sisi buruk dirinya sudah terekspos pada banyak orang. Tapi melihat Melati yang tampak tenang Bu Mirna hanya bisa menyimpulkan dua hal, gossip itu tidak benar atau Melati pandai menyembunyikan ekspresinya.
“Lalu apa pendapat kamu mengenai rumor itu?” Tanya Bu Mirna
“Saya sangat menyayangkannya. Saya hanya ingin fokus dengan kuliah saya, saya juga tidak ingin mencari ribut dengan siapapun.” Jawab Melati datar
“Rumor ini sangat berpengaruh karena mengingat sikap kamu selama ini yang terkenal disiplin. Saya juga sangat menyayangkan rumor seperti ini sampai terdengar ke telinga saya. Saya juga tidak ingin fokus kamu terbagi untuk hal-hal seperti ini. Lalu apa rencana kamu selanjutnya?” Tanya Bu Mirna lagi
“Ini kedua kalinya saya mendapat gossip yang tidak menyenangkan. Saya juga mengetahui siapa dibalik semua ini. Jika ibu berkenan, tolong beri saya waktu untuk menyelesaikan masalah ini. Saya berjanji tidak akan membuat keributan dan mempermalukan orang-orang di dekat saya” Pinta Melati. Bu Mirna diam sejenak, mempertimbangkan permintaan Melati.
Selama ini Melati tidak pernah sekalipun terlibat dalam permasalahan apapun. Melati juga merupakan mahasiswa kesayangan dari banyak dosen. Tidak ada salahnya memberi Melati waktu untuk membereskan persoalan ini. Kalau nantinya persoalan ini tidak juga mereda, barulah Bu Mirna akan turun tangan.
“Baiklah kalau begitu. Saya beri kamu waktu 3 hari untuk menyelesaikan masalah ini” Putus Bu Mirna
“Terima kasih bu” Ucap Melati sambil tersenyum tipis
“Kamu adalah mahasiswa berprestasi. Saya harap kejadian-kejadian seperti ini tidak terulang di masa depan. Jika kamu memang memiliki perselisihan di luar kepentingan pendidikan, saya sarankan kamu juga menyelesaikannya dengan cara-cara di luar lingkup pendidikan.” Ucap Bu Mirna saat Melati sudah beranjak berdiri. Melati lalu menatap diam Bu Mirna.
“Saya juga pernah muda seperti kamu. Saya melalui banyak hal tidak menyenangkan di masa muda saya. Terkadang dengan menjadi orang berpendidikan tidak akan menyelesaikan semua permasalahan. Tidak jarang kamu juga harus melakukan hal-hal tidak bermoral untuk menghentikan masalah tidak bermoral lainnya. Begitulah hidup. Selalu berbuat baik tidak menjamin semua orang juga akan berbuat baik pada kita” Bu Mirna mengakhiri perkataannya dengan senyum tulus.
Melihat senyuman itu Melati juga ikut tersenyum. Melati belajar hari ini bahwa semua hal tidak akan terjadi sesuai dengan keinginan pribadi. Ada hal-hal yang tidak terduga bisa terjadi hanya dengan sekejap. Hal kecil itu bahkan bisa memporak-porandakan pondasi yang sudah dibangun dengan kokoh.
Melati berjalan keluar dari ruangan Bu Mirna dengan semangat membara. Sesuai perkataan Bu Mirna tadi tidak menutup kemungkinan perbuatan tak bermoral harus dilawan dengan perbuatan tidak bermoral juga. Melati mungkin saja terlalu baik hati dulu, tapi saat ini ada yang harus dijaga Melati. Sesuatu yang melebihi dari keluarganya. Ada Rara sahabat yang selalu mendampinginya. Dan juga Adnan pria yang disayanginya. Terlebih dari itu, masih ada satu hal lagi yang belum diwujudkan oleh Melati.
“Gak kok.” Ucap Melati “Bu Mirna kasih aku waktu tiga hari untuk selesaikan masalah ini” Lanjut Melati
“Terus apa yang harus kita lakukan sekarang? Gadis gila itu benar-benar menyebalkan” Celoteh Rara
“Rara” Panggil Melati pelan. Rara kemudian menatap wajah Melati yang memanggilnya
“Selama ini kamu selalu bantu aku. Untuk kali ini, bisakah kamu mempercayakan masalah ini sama aku?” Tanya Melati serius.
“Kamu yakin?” Rara balik bertanya. Rara tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Melati. Melati adalah sahabat yang paling disayangi Rara. Meskipun Rara tidak mengatakannya, tapi Melati selalu memahami Rara. Melati bahkan bisa mengetahui bagaimana perasaan Rara hanya dengan menatap mata Rara.
“Aku akan berusaha. Tapi kalau seandainya aku belum mampu tolong ajari aku” Pinta Melati tulus. Rara tidak bisa melakukan apapun sekarang. Ini adalah pertama kalinya Melati meminta sesuatu sejak 3 tahun mereka berkenalan.
“Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku. Kapanpun itu aku akan langsung datang bantu kamu” Ucap Rara. Melati hanya tersenyum mendengar perkataan sahabat satu-satunya itu.
\*\*\*
Melati menimbang-nimbang lagi saat akan menghubungi mamanya. Selama kuliah di ibukota Melati tidak pernah sekalipun menelpon keluarganya terlebih dahulu. Selalu saja mama atau abangnya yang menghubungi duluan. Tapi kali ini Melati butuh sebuah dorongan yang lebih besar.
Dengan tangan gemetar Melati menekan tombol hijau untuk menelpon mamanya. Hanya dua kali deringan telpon langsung diangkat.
“Ya sayang” Ucap Mama Melati ceria di seberang sana
“Mama, Melati mau tanya sesuatu” Ucap Melati langsung
“Kamu ini gak pakai basa-basi. Kamu mau tanya apa?” Keluh Mama Melati
“Kalau misalnya Melati buat salah, gimana menurut mama?” Tanya Melati ragu. Sejenak tidak ada jawaban, Melati sampai takut mamanya akan marah besar.
“Mama akan sangat bahagia. Selama ini kamu selalu hidup teratur. Kamu selalu berprestasi di sekolah, kamu disiplin, selalu menuruti permintaan mama, ayah dan juga abang kamu, meskipun kami tahu kamu tidak menyukai bahkan membenci permintaan kami itu” Suara mama Melati sedikit bergetar mengucapkan kalimat terakhir.
“Sekarang sudah saatnya kamu hidup seperti yang kamu mau. Tidak usah pedulikan pandangan orang lain, bahkan tidak usah mendengar ucapan mereka. Dari manusia terlahir sampai meninggal pun, manusia itu tidak akan pernah terlepas dari pandangan dan perkataan baik maupun buruk orang lain. Kamu sudah hidup dengan sangat baik selama ini sayang. Jadi mulailah hidup yang kamu inginkan. Apapun itu, bagaimanapun itu, mulai sekarang mama bersumpah mama akan selalu mendukung kamu” Telpon lalu terputus. Melati tahu mamanya pasti menangis.
Melati lalu menghirup nafas dalam kemudian menghapus air mata yang tadi mengalir membasahi pipinya. Mulai sekarang Melati akan memulai hidup yang diinginkannya. Melati akan buta dan tuli terhadap orang-orang yang akan menghakiminya nanti.
Dengan penuh keyakinan Melati merobek notes tempat to do list yang selama beberapa bulan ini coba diwujudkannya.
“Masa bodoh dengan kalian semua. Ini hidupku.” Ucap Melati sambil menulis di halaman baru
To do list (AKU Berharga):
# Bergaul dengan semua orang
# Mencoba semua hal baru yang menyenangkan
# Tidur dengan pacar
# Menikah