Before 25

Before 25
Bab 18 Labrak?



Jam menunjukkan pukul 12.00 siang saat Melati dan Rara selesai dengan jam kuliah mereka. Melati akan pulang bersama dengan Adnan. Tadi saat menghubungi Adnan, Adnan mengatakan akan langsung menuju gerbang kampus Melati.


Saat akan melangkah menuju gerbang, tangan Melati langsung dicegat Rara. Melati hanya bisa bingung dan mengikuti saat Rara menarik tangan Melati menuju kantin.


“Kamu tahu kan aku mau pulang?” Tanya Melati saat mereka sudah duduk di salah satu bangku yang tersedia kantin.


“Tau” Jawab Rara


“Dan kamu juga tahu kan kalau Adnan mungkin sudah ada di depan gerbang untuk jemput aku?” Tanya Melati lagi


“Tau juga” Jawab Rara sibuk dengan handphonenya, Melati hanya bisa menghela napas dengan tingkah sahabatnya yang kelewat spontan ini. Entah apa yang akan mereka lakukan dengan duduk berdua di kantin.


Melati langsung merasa tidak nyaman saat Rara menariknya ke kantin. Untuk hari-hari biasa saja Melati sangat malas pergi ke kantin. Apalagi saat ini dengan gossip yang menyebar luas tentang dirinya.


Sebagian mata sudah memandang Melati dengan tatapan mencela. Bahkan mereka mulai berbisik, berkata kasar, dan juga tertawa sangat keras.


Jantung Melati mulai tidak karuan, debaran itu membuat Melati merasa sesak dan tidak nyaman. Tangannya juga mulai gemetar. Hanya dengan mendengar suara-suara dari sekitarnya membuat Melati merasa jatuh ke dalam jurang tak berdasar.


Sepi. Gelap. Menakutkan.


Mereka memang tidak langsung mengatakan sumpah serapah di hadapan Melati. Tapi dengan sikap mereka yang memandang Melati dari jauh dapat tercetak jelas rasa tidak suka.


Melati pikir dirinya sudah mulai terbiasa dengan pandangan mata itu. Tapi Melati salah. Di ruang terbuka yang penuh sesak dengan banyaknya orang yang berlalu lalang untuk makan siang, tidak ada satupun tempat untuk bersembunyi. Semua mata bisa langsung melihat Melati saat ini. Memojokkannya ke bagian terjauh dari dunia ini.


Melati mencoba menghirup udara. Menarik napas dengan cepat dan kasar, berharap paru-parunya dapat langsung dipenuhi dengan oksigen. Dapat membantunya bernafas dan mengurangi rasa sesak yang semakin menjadi. Dadanya mulai terasa berat, debaran jantungnya secara dipukul dengan palu berkali-kali. Kedua telapak tangannya mulai gemetar tak beraturan.


Melati hampir pingsan saat sebuah tangan kekar menggenggam kedua tangannya. Kehangatan langung mengalir berpindah ke tangan Melati. Rasanya nyaman.


Dengan pelan Melati menengadahkan kepala. Mata mereka saling bertemu.


Bola mata coklat gelap milik Adnan menghilangkan semua kegelisahan hanya dengan sekali tarikan nafas dari Melati. Debaran jantung Melati mulai mereda, rasa sesak yang tadi sangat menyiksa menghilang, tangannya pun berhenti bergerak tidak beraturan.


“Baikan?” Tanya Adnan. Melati hanya menganggukkan kepalanya.


Adnan benar-benar bagaikan dewa penyelamat bagi Melati. Selalu hadir saat Melati membutuhkan pertolongan. Pertolongan yang hanya bisa diberikan oleh Adnan seorang.


Adnan sudah duduk di samping Melati. Sementara Rara duduk di hadapan Melati. Suasana yang tadinya ramai mendadak hening.


“Aku senang kamu ajak makan siang bareng” Ucap Adnan. Melati yang merasa tidak mengajak makan siang langsung menatap Rara. Rara yang ditatap dengan intens sampai tergagap, bingung mencari alasan. Tadi saat sampai di kantin, Rara langsung mengirim pesan kepada Adnan mengatakan bahwa Melati mengajak Adnan untuk makan siang di kantin. Sekarang setelah Adnan tiba, Rara gelagapan sendiri karena belum menemukan alasan yang jelas kenapa dirinya mengajak Adnan.


Dan sebuah ide pun melintas begitu saja di benak Rara.


“Kalian harus traktir aku dong” Ucap Rara terbata. Kemudian suara tawa keras keluar dari bibir Rara. “Kalian kan udah jadian, jadi wajib dong untuk traktir aku makan.” Suara Rara sudah seperti teriakan. Rara harus memastikan bahwa semua orang yang ada di kantin dapat mendengar ucapannya.


“Orang-orang ini harus tahu bahwa Adnan dan Melati sudah pacaran” Batin Rara


“Oh, kalau itu sih gampang. Aku traktir deh sekarang” ucap Adnan canggung. Adnan masih syok mendengar nada suara Rara yang seperti sedang meneriaki maling. Tapi Adnan suka itu. Dengan Rara disamping Melati, Adnan bisa tenang saat dirinya tidak ada di sisi Melati. Adnan bisa mempercayakan Melati pada Rara.


“Kalau gitu aku pesan dulu ya” Ucap Rara dan dengan cepat meninggalkan Adnan juga Melati di tempat duduk mereka.


Rara menuju salah satu stan penjual makanan favoritnya dengan Melati. Nasi uduk, bakso, dan nasi goreng dipesankan Rara untuk makan siang mereka. Tidak lupa juga jus mangga, apel, dan jeruk sebagai minuman. Rara hanya memesan acak untuk Adnan. Orang-orang umumnya suka nasi goreng dan jus jeruk, serta jarang ada yang alergi dengan itu, pikir Rara.


Rara bisa saja langsung kembali setelah memesan dan membayar makanan mereka. Tapi bukan untuk itu Rara melakukan semua ini. Alasan Rara mengajak Adnan makan siang di kantin kampus mereka adalah agar mereka dilihat banyak orang. Dengan Adnan dan Melati yang duduk berdua di tempat yang ramai dan terbuka ini, banyak orang yang akan melihat mereka. Sehingga orang-orang itu bisa melihat dengan mata mereka sendiri bahwa Melati tidak seperti yang mereka bicarakan.


\*\*\*


“Aku jarang makan disini” Ucap Melati


“Terus biasanya kamu makan siang dimana?” Tanya Adnan


“Kalau ada kuliah dari pagi sampai sore aku makan disini. Tapi kalau cuma kuliah pagi atau kuliah siang aja aku makan di warung nasi uduk dekat kost” Jawab Melati


“Warung yang dekat kost kamu itu ya? Yang selalu ramai itu?” Tanya Adnan semangat


“Iya. Aku makan siang dan malam beli dari situ.” Jawab Melati


“Kalau kita makan disana gimana? Ada makanan yang kamu rekomendasikan gak?” Tanya Adnan lagi


“Aku udah coba semua menu di sana. Aku paling suka ayam bakar sama nila bakarnya. Sambal disana juga enak” Jawab Melati


“Nanti malam bisa gak kamu bawa aku kesana? Kita coba makanan yang kamu rekomendasikan itu?” Tanya Adnan berharap


“Boleh kok. Kamu biasanya makan malam jam berapa?” Melati sudah tentu sangat bersemangat, tapi Melati tetap ingat untuk jaga imeg.


“Kenapa? Kamu makan malamnya cepat ya?” Tanya Adnan lagi


“Ya” jawab Melati pelan. Melati biasanya sudah pergi membeli makan malam jam 6 sore. Dan akan mulai makan saat jam 7 malam. Itu karena Melati menghindari ramainya jam makan malam. Warung nasi uduk itu sangat laris, selain makanannya yang enak, harganya juga murah. Terutama untuk anak-anak kampus yang mayoritas tinggal didaerah itu.


“Kamu biasa makan jam berapa?” Lanjut Adnan


“Jam 6 aku udah pergi beli makanan. Jam 7 aku makan. Tapi kalau kamu memang pengen cobain makanan disitu kita bisa pergi sekitar jam setengah tujuh, biar gak terlalu ramai” Ucap Melati cepat.


\*\*\*


Sembari menunggu Rara masih terus memperhatikan Adnan dan Melati dari jauh. Tiba-tiba sebuah tangan mendorong Rara dengan kasar. Rara yang saat itu sedang duduk santai di sebuah kursi langsung jatuh terduduk di lantai.


Dengan cepat Rara bangkit berdiri dan menatap tajam orang yang baru saja mendorongnya sampai terjatuh.


“Apa maksud lo?” Tanya Silvi


“Lah, lo yang apa-apaan.” Ucap Rara kuat. Emosi langsung naik dalam darah Rara. Orang ini yang dicari-carinya sejak pagi tadi. Rara sengaja mengajak Adnan dan Melati ke kantin agar Silvi dapat melihat langsung mereka berdua.


“Kenapa lo bawa Adnan sama cewek itu ke sini? Apa yang lo harapin hah?” Nada suara Silvi juga mulai naik


“Terserah gue dong. Sahabat gue lagi bahagia karena baru jadian, jadi kami mau rayain bareng. Apa masalahnya buat lo” Jawab Rara cuek


“Lo sengaja kan. Iyakan!” Teriak Silvi. Urat malu Silvi rasanya putus sudah. Melihat Adnan yang duduk berdua dengan Melati dihadapan orang banyak membuat Silvi naik darah. Tidak dipedulikannya orang-orang yang mulai datang mendekat.


“Gila lo ya. Kenapa? Lo takut gossip yang lo sebarin itu terbukti kepalsuannya. Takut lo sekarang saat banyak orang lihat Melati jalan sama Adnan. Cowok yang selama ini lo ngemis-ngemis cintanya.” Teriak Rara. Adnan dan Melati sudah berjalan mendekati kerumunan itu.


“Gue gak pernah nyebarin gossip kayak gitu” Ucap Silvi ragu


“Gue punya bukti.” Ucap Rara dengan nada mengejek. “Jangan pikir dengan mengancam Melati lo bisa dapetin yang lo mau. Gossip murahan itu juga, sekali lagi gue dengar lo nyebarin gossip gak berbobot kayak gitu gue cabik-cabik muka cantik lo itu.” Ancam Rara.


“Sialan lo ya” Teriak Silvi, Silvi hendak menampar wajah Rara. Tapi dengan sigap sebuah tangan mencekal tangan Silvi kuat


“Jangan. Kamu bisa tambah malu disini. Lebih baik kamu pergi” Ucap Melati datar. Silvi terdiam beberapa saat dan begitu sadar Melati yang menggenggam pergelangan tangannya dengan kuat, Silvi langsung menariknya kembali.


“Gue benci sama lo” Ucap Silvi pelan tepat di hadapan Melati.