
Hujan yang turun sejak sore tadi membuat Melati malas untuk bergerak dari tempat tidur. Libur semester sudah dimulai sejak kemarin dan Melati memutuskan untuk tetap berada di apartemennya. Minggu lalu dia sudah menghubungi keluarganya bahwa libur semester inipun Melati tidak bisa pulang ke rumah. Rasanya sudah lama sekali Melati tidak pulang ke tanah kelahirannya itu.
Melati terakhir kali pulang ke rumah saat perayaan wisuda. Itupun hanya selama 3 hari karena keluarganya berkumpul bersama untuk merayakan kelulusan Melati. Semenjak itu hanya Mama atau abangnya yang datang berkunjung ke ibukota. Melati juga sudah lama tidak bertemu dengan Ayahnya. Mereka hanya berkomunikasi melalui telpon, itupun sangat jarang terjadi.
Rasa kantuk sebenarnya sudah mendera Melati sejak tadi. Tapi setiap kali mengantuk Melati merasa takut. Mimpi-mimpi itu membuatnya takut bahkan sekedar menutup mata sejenak. Melati takut tidak bisa membuka matanya lagi saat dia menutupnya. Namun, suasana malam yang dingin diikuti dengan suara hujan yang sepertinya tidak akan mereda sampai pagi menjelang, membuat Melati tanpa sadar terlarut dalam suasana. Melati pun jatuh tertidur.
\*\*\*
Melati melihat dirinya yang sedang duduk ketakutan di sebuah ruangan gelap. Pakaiannya sudah robek dan air mata terus mengalir membasahi pipinya. Dengan kedua tangan Melati berusaha menutupi tubuhnya dengan pakaiannya yang sudah robek tak beraturan.
Melati sangat familiar dengan situasi itu. Ruangan yang sepi dimana hanya ada dirinya sendiri, pakaian yang robek, dan juga suara tangis. Ini adalah dirinya saat kejadian di sekolah dulu. Kenapa Melati bisa sampai bermimpi hal itu. Padahal semenjak kejadian itu tidak pernah sekalipun Melati memimpikannya.
Tangis Melati terdengar semakin kuat, melihat itu Melati yang sedari tadi mengamatinya mengalami kebingungan. Seingat Melati dia tidak sampai menangis seperti itu. Tangisan yang mengoyak hati dan juga jiwa. Terdengar hampir seperti jeritan putus asa.
“Kamu mengingatnya? Tangisan yang begitu menyedihkan” Pria itu tiba-tiba muncul entah dari mana. Melati langsung berubah ketakutan karena sadar ini adalah mimpi yang sangat ingin dihindarinya.
“Sepertinya kamu benar-benar tidak ingat” Ucap pria itu. “Lihatlah, ini adalah kamu waktu itu. Kamu yang menangis memohon agar aku datang menjemputmu.”
“Aku tidak pernah menangis seperti itu, aku juga tidak pernah memohon untuk kamu” Ucap Melati ketakutan
“Lihatlah baik-baik apa yang kamu minta pada hari itu” Pria itu mengarahkan pandangannya pada Melati yang menangis terisak di lantai
“Aku mohon jangan biarkan aku hidup terlalu lama. Ini sangat menyiksa dan aku sangat malu. Ku mohon pada siapapun itu jangan biarkan kehidupan bertindak tidak adil dengan ku. Aku ingin pergi dari tempat ini. Aku mohon tolong bawa aku pergi” Teriak Melati putus asa
Melati yang sejak tadi berdiri hanya bisa terdiam mendengar kata-kata yang dilontarkan dirinya sewaktu sekolah. Melati ingat kata-kata itu, bagaikan sebuah memori yang dipaksa hapus memori itu muncul lagi dengan tiba-tiba.
Mendadak Melati merasa tubuhnya terasa lemas. Melati tanpa sadar meneteskan air mata mengingat bahwa ternyata selama ini dialah yang memulainya. Perlahan satu persatu memori dari masa lalu muncul dalam pikiran Melati. Potongan-potongan memori itu memenuhi Melati dan semuanya berputar dengan begitu cepat.
Melati merasa kepalanya sangat pusing dan semua benda disekitarnya seperti berputar. Suara tangis itu masih terngiang-ngiang dikepalanya. Tubuhnya terasa terangkat dan melayang di udara.
“Kamu yang meminta, tugasku hanya mengabulkan. Jadi jangan pernah menyalahkanku atas apa yang sudah kamu jalani selama ini. Aku hanya mengabulkan harapan putus asa dari seseorang yang tidak berdaya. Aku bahkan membiarkanmu merasakan dunia sedikit lagi, berharap kamu menarik kembali kata-kata waktu itu. Tapi sayang semua sudah terlambat. Kini giliranku yang bekerja. Kamu sudah melakukannya dengan baik, Melati”
Suara itu perlahan menghilang begitupun dengan tangisan. Melati membuka matanya dan mengedarkan pandangan. Dirinya sendirian di apartemen yang begitu sunyi. Melati duduk dan menatap jam yang tergantung di dinding. Air mata tidak bisa berhenti mengalir malam itu.
\*\*\*
Adnan tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Selama 3 jam Adnan duduk di tempat tidurnya sambil mendengar rekaman yang diberikan Rara kepadanya. Selama itu pula Adnan seperti berhenti bernafas mendengar suara dalam rekaman itu.
Adnan ingin menyangkalnya tapi tidak bisa. Bagaimanapun suara itu adalah yang dirindukannya selama 2 tahun ini. Suara milik perempuan yang sudah memiliki hatinya sejak awal bertemu. Apa yang harus dilakukannya saat ini, bernafas pun Adnan sudah kesulitan.
Tubuh Adnan langsung kaku begitu mendengar kalimat pertama yang diucapkan suara itu. Dan sekarang setelah mendengar keseluruhan cerita itu, Adnan tidak tahu harus melakukan apa. Otaknya berhenti bekerja begitu juga dengan tubuhnya. Rasanya tubuh Adnan seperti jelly yang begitu lunak. Yang hanya harus terus terbaring di tempat tidur.
Bagaimana bisa Adnan tidak mengetahui apapun mengenai masa lalu perempuan itu. Hampir setiap hari mereka bertemu bahkan mereka sempat tinggal bersama. Dua tahun kebersamaan mereka bukanlah waktu yang singkat. Harusnya Adnan mengetahui semua itu langsung dari mulut perempuan itu. Bukan melalui suara rekaman yang jelas menunjukkan bahwa cerita itu bukan ditujukan pada Adnan.
Bagaimana bisa Adnan membiarkan perempuan itu tersiksa sendirian selama ini. Bahkan Adnan sampai meninggalkannya sendirian. Tidak dapat dibayangkan oleh Adnan bagaimana malam Melati tanpa ada dirinya selama ini. Melati pasti sangat ketakutan dihadapkan dengan mimpi-mimpi mengerikan itu.
Penyesalan memang selalu datang belakangan. Dan kini Adnan mengalami hal itu. Rasa menyesal karena telah mengklaim Melati sebagai miliknya tapi tidak mengetahui apapun tentang Melati. Rasa menyesal karena sudah menjadi laki-laki brengsek dalam kehidupan Melati. Rasa menyesal karena sudah membiarkan Melati melalui semua kesulitan sendirian. Dan juga rasa menyesal karena sudah mengatakan Melati terlalu terobsesi dengan kehidupan Adnan.
Kini Adnan tahu alasan dibalik sikap Melati waktu itu. Sejak awal bertemu Adnan yang menempatkan dirinya dalam posisi sebagai satu-satunya pria dalam hidup Melati. Adnan ingin dalam hidupnya Melati hanya mengenal satu laki-laki dan itu adalah Adnan. Hanya Adnan.
“Semuanya adalah kesalahanku” Ucap Adnan
“Kalau bukan karena kehadiranku Melati tidak akan begini. Kalau aku tidak meninggalkannya waktu itu Melati juga tidak akan menderita. Semuanya adalah kesalahanku” Adnan juga melewati malam itu dengan tangisan pedih.
\*\*\*
“Jangan lupa kamu memiliki janji dengan saya jam 1 siang di taman hari Rabu” sebuah pesan masuk ke ponsel Melati tapi Melati mengabaikannya.
Sejak mimpi tiga hari yang lalu tidur Melati kini selalu tenang. Tidak ada lagi rasa takut dan juga tidak ada mimpi. Semuanya begitu tenang akhir-akhir ini. Melati juga berhenti meminum obatnya karena merasa sudah bisa tidur dengan nyenyak.
Karena ini adalah hari minggu Melati berencana untuk membersihkan apartemennya. Dimulai dari kamar bayi itu. Melati membersihkan semua perabotan dan menyusun kembali barang-barang yang berserakan. Dalam waktu 2 jam kamar bayi itu sudah tampak rapi dan siap huni.
Senyum getir terpancar dari wajah Melati. Sepertinya kamar ini tidak akan pernah terisi oleh suara tangis bayi.
Melati lalu lanjut membersihkan seluruh isi apartemennya. Membuka sprei lama, mencuci dan juga menggantinya dengan yang baru. Membersihkan setiap perabotan rumah dan menempatkannya pada posisi semula. Dan terakhir menyusun kembali lemari pakaiannya.
Sebuah gaun putih polos menarik perhatian Melati. Gaun itu sangat lembut saat menyentuh kulit Melati. Panjangnya selutut dan kainnya jatuh menyelimuti tubuh Melati. Gaun itu adalah hadiah terakhir dari Adnan.
Dering ponsel membuat Melati sadar dari lamunannya. Panggilan dari Mamanya.
“Hai Ma” Ucap Melati
“Gimana kabar kamu sayang?” Tanya Mama Melati
“Melati baik-baik aja kok Ma” Sejak melihat gaun pemberian Adnan tadi, mood Melati langsung berubah ceria. Mendengar suara ceria putrinya membuat Mama Melati turut senang. Suara ini sudah lama tidak didengarnya.
“Kata Mama kamu tidak pulang liburan ini” Kali ini giliran Ayah Melati yang berbicara. Melati tidak mendengar suara ini hampir setengah tahun. Rasa rindu tentu saja langsung menyeruak dalam hati Melati. “Pulanglah, Ayah rindu”
“Kalau gitu bisa Ayah tunggu 3 hari lagi? Melati akan pulang nanti” Jawab Melati