
Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam di pesawat Melati akhirnya sampai di kampung halamannya. Bukan sebuah kota atau desa kecil melainkan salah satu kota metropolitan di negara ini. Hanya saja udara di tempat tinggalnya masih jauh lebih bersih dibandingkan dengan ibukota tempatnya menuntut ilmu.
Sambil menunggu jemputan Melati sibuk dengan handphone nya. Membalas chat dari Rara yang menanyakan apakah dia sudah sampai atau belum, sekaligus menitip salam pada keluarganya.
Seorang pemuda tampan dengan kaus putih polos dan celana jeans selutut tersenyum saat melihat Melati. Tanpa aba-aba pemuda itu langsung merengkuh Melati ke dalam pelukannya. Aroma wangi yang memabukkan itu sangat dikenal Melati. Bukannya berteriak atau berontak, Melati malah mengetatkan pelukannya.
“Udah lama nunggunya?” Pemuda itu melepaskan pelukan dan mengambil alih koper Melati
“Belum kok. Abang dah lama nunggu Melati?” Tanya Melati sambil mengikuti langkah pemuda itu.
“Abang baru sampai juga. Berapa lama kamu libur?” Tanya pemuda itu lagi dan mulai melajukan mobilnya.
“Sebulan.” Jawab Melati
“Yah, kok cepat banget sih. Tambahin lagi dong liburnya, kasihan Mama sepi katanya di rumah” Rengek pemuda itu
“Kan Melati memang liburnya cuma sebulan bang.” Jawab Melati
“Iya deh, selagi di sini sering-sering ajak Mama keluar ya. Sejak kamu kuliah Mama makin cerewet” Ucap Mario. Melati hanya tersenyum dan sesekali tertawa mendengar celotehan abangnya mengenai Mama mereka.
\*\*\*
Mario adalah sulung dari dua bersaudara. Usianya sudah menginjak 27 tahun. Mario saat ini sudah bekerja di salah satu perusahaaan swasta dengan jabatan yang lumayan. Dengan pendapatan itu Mario bisa membeli mobil dan menyicil rumah. Sekaligus memanjakan adiknya.
Meskipun belum mempunyai pasangan hidup, Mario berprinsip harus memiliki rumah dulu sebelum menikah. Dia tidak ingin menyusahkan keluarganya dengan menumpang hidup. Atau membuat istrinya merasa tidak nyaman saat harus terus dipantau oleh ibu mertua.
Karena hanya dua bersaudara dan terpaut usia yang cukup jauh. Mario sangat menyayangi Melati dan bahkan terkadang lebih overprotektif. Mario akan mengusir jauh-jauh setiap laki-laki yang datang mengunjungi rumah mereka dengan alasan belajar bersama. Auranya yang mematikan akan membuat teman-teman sekolah Melati memilih mundur teratur. Dan itu adalah salah satu alasan Melati tidak pernah berpacaran sampai saat ini.
\*\*\*
Rumah Melati adalah rumah sederhana yang tidak terlalu besar. Rumah itu terdiri dari tiga kamar, ruang tamu, ruang keluarga, dapur, dan satu kamar mandi di dekat dapur. Masing-masing kamar memiliki kamar mandinya sendiri sehingga tidak merepotkan saat pagi hari semua orang sibuk dengan keperluannya masing-masing.
Bagian depan rumah diisi dengan dua buah kursi rotan dan sebuah meja kecil. Halaman rumah Melati dulunya penuh dengan bunga. Tapi sekarang karena abangnya yang membeli mobil sebagian bunga-bunga itu dengan sangat terpaksa harus di jual. Demi tersedianya tempat parkir untuk mobil kesayangan abangnya.
Semula Mario lebih menginginkan sebuah rumah dibandingkan mobil. Tapi melihat kedua orangtuanya yang semakin menua, Mario mendahulukan adanya mobil bagi keluarga mereka. Dengan jerih payah dan kerja keras selama setahun, Mario akhirnya bisa membeli rumah impiannya. Meskipun masih menyisakan puluhan cicilan.
Sampai di rumah Melati sudah disambut Ayah dan Mama nya. Ayahnya masih tampak sangat gagah walau sudah memasuki usia 50 tahun. Sama seperti Mamanya yang tetap cantik saat usianya sudah berada di akhir 40 tahun.
Begitu turun dari mobil Melati langsung memeluk kedua orangtuanya bergantian.
“Lama gak pulang kok makin kurus aja anak Mama” Ucap Mama Melati
“Kamu gak makan di sana? Uang yang dikirimkan abang kamu kurang ya?” Sambung Ayah Melati
Melati sudah terbiasa dengan semua pertanyaan yang sejenis itu. Karena setiap pulang ke rumah daripada ucapan rindu, Melati akan lebih dulu disuguhkan dengan kata-kata yang berhubungan dengan berat badannya.
Melati bukannya tidak makan dengan teratur. Hanya saja kerinduan dengan masakan dan suasana rumah membuatnya tanpa sadar mengurangi porsi makan. Dengan tinggi 160 cm dan berat 46 kg membuat tubuh mungil Melati tampak semakin mungil.
“Melati rindu masakan Mama” Ucap Melati
Dan begitu saja, Mario pun terlupakan.
“Sebulan ini anggap saja kamu cuma anak kostan di rumah ini Mario” Gumam Mario sambil membawa masuk koper Melati.
\*\*\*
Selesai mandi Melati langsung menyusul keluarganya yang sudah siap duduk menunggu di meja makan. Meja yang hanya muat untuk empat orang itu kini sudah terisi penuh dengan makanan. Dan semuanya adalah makanan kesukaan Melati. Ada ayam bakar pedas, tumis kangkung pedas, ayam goreng kriuk dengan sambal pedas, dan jangan lupakan banana cake kesukaan Melati.
Makan malam berlangsung senyap. Ini merupakan salah satu aturan tak tertulis di rumah Melati. Saat makan tidak boleh ada yang bersuara, kalau ingin tambah ambil sendiri, kalau ada yang ingin dibahas tunggu sampai selesai makan. Jangan membuat acara makan berubah menjadi tempat berperang, ucap Ayah Melati dulu saat Mario dan Melati bertengkar di jam makan malam. Dan aturan itu tertanam sampai sekarang.
Makan malam yang berlangsung sepi dan senyap itu akhirnya berakhir juga. Melati kadang berpikir Ayahnya terlalu memaksa.
Saat awal Mario ingin kuliah, Ayah mereka sangat menentang keras Mario kuliah di luar negeri meskipun dibiayai dengan beasiswa. Katanya Mario adalah anak laki-laki satu-satunya. Harus selalu ada di dekat ayah dan ibunya. Maka dari itu Mario kuliah di kota tempat tinggal mereka, bekerja di sana, bahkan membeli rumah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah orangtuanya.
Tapi saat Melati dikatakan lulus di salah satu universitas negeri ternama di ibukota. Ayahnya langsung mengiyakan, alasannya Melati harus belajar hidup sendiri. Bangun tidur tanpa harus diteriaki, memasak, membersihkan rumah, mencuci. Melati harus belajar itu semua sebelum nanti hidup berumah tangga.
Keluarga Melati termasuk keluarga dengan tingkat kedisiplinan tinggi. Satu-satunya orang yang berani menentang, berlaku ceroboh, atau sengaja megabaikan aturan di rumah itu adalah Mamanya. Mama Melati adalah sosok wanita humoris dan rasanya akan sangat menyiksa jika tidak mengusili kepala keluarga rumah itu meski hanya sekali sehari.
Hal itu yang membuat Melati rindu akan rumah. Rumah dimana Mama, Ayah, dan Abangnya akan menjadi sosok pelindung. Tempat yang sangat sempurna untuk menyembunyikan diri dari kerasnya kehidupan di luaran sana. Salah satunya omongan tetangga.
\*\*\*
“Bagaimana kuliah kamu? Kamu belum mengirimkan hasil ujian kamu” Tanya Ayah Melati. Mereka sudah duduk di depan tv di ruang keluarga. Sebuah acara talkshow yang sangat disukai Mamanya sedang tayang. Kadang Mamanya bisa tertawa terbahak-bahak hanya dengan menyaksikan acara talkshow itu.
“Melati udah kirim kok kemarin sama Bang Mar” Jawab Melati, mereka lalu kompak menatap Mario yang sedang asyik tertawa menonton.
Menyadari tatapan itu Mario pun mengalah, mengambil handphone yang terletak asal di atas meja lalu menunjukkan sebuah foto. “Tenang aja yah, nilai Melati bagus kok. Malah naik dari semester kemarin” Ucap Mario lalu meletakkan kembali handphonenya asal-asalan.
“Untuk skripsi gimana?” Lanjut Ayah Melati
“Melati udah mulai kerjakan yah, dosen pembimbing udah acc untuk judul. Jadi sekarang udah mulai kerjakan, tapi masih belum maksimal. Melati juga harus fokus sama mata kuliah yang lain” Ucap Melati, Ayahnya adalah tipe yang perfeksionis. Pertanyaan harus dijawab dengan sejelas-jelasnya.
“Wih, udah berapa bab dek?” Tanya Mario penasaran, pasalnya dulu saat kuliah Mario harus disidang Ayahnya selama berjam-jam karena keterlambatan Mario menyusun skripsi.
“Kemarin sebelum ke sini udah acc bab satu bang, maka nya Melati mau mulai cicil bab duanya. Mumpung lagi libur” Jawab Melati dan sorakan selanjutnya membuat mereka semua terkejut.
“No No No. Kamu gak boleh belajar, membuat skripsi, atau pegang pena pun di larang selama tinggal di rumah ini.” Teriak Mama Melati. Ayah Melati membuka mulut hendak protes namun langsung dibungkam dengan tangan oleh istri tercintanya.
“Hentikan semua kalimat membosankan dan mengerikan yang akan keluar dari mulut mu itu sayang” Ucap Mama Melati dramatis. Ayah Melati tampak tidak terima dan menyingkirkan tangan istrinya yang sejak tadi membekap mulutnya.
“Kamu ini kenapa?” Protes Ayah Melati tidak suka
Mama Melati hanya menggelengkan kepala. “Kalau kamu mengeluarkan satu kalimat pun yang menyuruh Melati untuk tetap fokus mengerjakan skripsi saat hari libur yang sudah aku tunggu sangat lama ini. Bersiaplah sayang. Aku akan pastikan kamu tidur bersama Benji di luaran sana. Merasakan dinginnya udara malam yang meremukkan tulang. Kamu mau hah?” Ancam Mama Melati. Benji adalah nama dari mobil Mario.
Ayah Melati hanya bisa menghela napas kasar. Meskipun sangat disiplin dan perfeksionis, dirinya tetaplah seorang pria yang mencintai wanita keras kepala yang dipanggilnya istri itu.
“Besok kita belanja ya sayang. Mama juga mau ajak kamu ke salon, rambut kamu udah ketinggalan mode. Kita juga harus belanja baju baru, kemarin Mama lihat dress yang cantik banget kalau kamu pakai. Dan bla bla bla” Celotehan Mama Melati sepertinya tidak akan berakhir malam itu.