
Rara duduk berhadapan dengan Alan di dalam ruangan pemeriksaan. Rara sibuk bertanya-tanya dalam hati mengenai siapa orang yang duduk di hadapannya. Pakaiannya memang menunjukkan bahwa dia adalah salah satu dokter di rumah sakit ini. Tapi saat melihat papan namanya tadi, Rara merasa ragu. Apa hubungan Melati dengan dokter kejiwaan di rumah sakit ini.
“Anda mungkin bertanya-tanya kenapa saya meminta berbicara dengan anda” Ucap Alan memulai pembicaraan
“Saya lebih ingin tahu kenapa teman saya datang ke tempat seperti ini” Ucap Rara
“Perkenalkan saya dokter Alan, saya yang saat ini bertanggung jawab atas Nona Melati” Ucap Alan ramah
“Dokter sudah tahu siapa saya, jadi langsung saja pada inti pembicaraannya. Kenapa teman saya menjadi tanggung jawab dokter?” Tanya Rara tidak sabaran.
Rara sudah lama tidak bertemu dengan Melati. Terakhir mereka bertemu adalah saat upacara wisuda dua setengah tahun yang lalu. Rara berpikir semuanya baik-baik saja pada Melati. Pertemuan terakhir mereka seolah mengisyaratkan hal itu. Tapi kenapa sekarang Rara justru melihat Melati berada di rumah sakit.
“Saya harus yakin terlebih dahulu bahwa Nona Rara adalah orang yang dapat dipercaya” Ucap Alan
“Maksud dokter apa?” Tanya Rara tidak suka
“Ini adalah hal yang harusnya tidak saya lakukan, ini melanggar kode etik saya. Tapi saat ini saya membutuhkan bantuan dari Nona Rara” Jawab Alan
“Kenapa dengan Melati? Melati tidak sakit parah kan?” Tanya Rara cemas
“Nona Rara tadi sudah melihat ruangan seperti apa kita berada saat ini. Nona Rara pasti sedikitnya sudah tahu pasien seperti apa yang datang ke sini” Jawab Alan.
Rara terdiam mendengar jawaban dari Alan. Rara tahu bahkan sangat mengetahui situasi saat ini. Tapi hatinya berusaha untuk menolak menerima, kemungkinan bahwa sahabatnya itu mengalami masalah kejiwaan.
“Bisakah dokter mengatakan terus terang kepada saya? Bagaimanapun saya adalah orang yang diandalkan Melati sejak kuliah” Ucap Rara sambil menahan air mata yang rasanya akan mengalir sebentar lagi
“Apakah Nona Rara bisa membantu saya?” Tanya Alan memastikan
“Saya akan bantu, apapun demi Melati” Jawab Rara mantap
“Sudah sebulan ini Melati datang menemui saya. Melati berkata bahwa saya adalah harapan terakhirnya, jadi saya berusaha sebisa mungkin untuk membantu. Saya terangkan dari awal bahwa saya belum bisa memastikan diagnosa yang tepat untuk keadaan Nona Melati saat ini. Tapi saya beranggapan bahwa trauma adalah penyebab utamanya. Apakah Nona Rara mengetahui kejadian saat SMA?” Tanya Alan
“Iya, saya tahu. Melati pernah bercerita tentang kejadian itu pada saya” Jawab Rara
“Kejadian itu sepertinya tidak terselesaikan dengan baik bagi Melati sampai saat ini. Itu yang harus saya, Melati, dan juga orang-orang terdekatnya cari tahu. Tapi yang menjadi masalah adalah Melati tidak ingin siapapun tahu kondisinya saat ini. Tadi juga Melati pergi begitu saja karena saya membahas mengenai keluarganya.” Ucap Alan menjelaskan
“Lalu bagaimana keadaan Melati?” Tanya Rara
“Ini lumayan sulit karena Melati menjadi satu-satunya sumber informasi bagi saya. Saya membutuhkan waktu untuk bisa menggali lebih dalam lagi perasaan Melati. Sekaligus mencari tahu apa yang menjadi dasar masalah yang dihadapinya saat ini” Jawab Alan
“Masalah seperti apa?” Tanya Rara lagi
“Melati mengatakan bahwa dia mengalami mimpi buruk. Mimpi ini sudah di mulai sejak kejadian saat sekolah dulu. Tapi mulai aktif saat Adnan hadir dalam hidup Melati” Jawab Alan
“Mimpi buruk apa yang dialami sampai Melati datang ke sini?” Rara mulai tidak sabaran dengan sikap Alan yang seperti masih menutup-nutupi masalah Melati.
“Anda mungkin tidak percaya saat mendengar ini. Melati bermimpi melihat kematiannya sendiri sejak kejadian sekolah dulu. Bahkan saat ini Melati mengatakan bahwa setiap bangun tidur, dia merasakan sakit yang sama seperti di mimpi itu” Ucap Alan
Rara berusaha mencerna hal yang baru saja dikatakan dokter padanya. Omong kosong apa ini, maki Rara dalam hati.
“Saya juga tidak percaya dengan hal itu. Hal itu bisa diakibatkan oleh emosi terpendam yang menciptakan ilusi dan juga halusinasi bagi Melati. Sehingga semua perasaan yang selama ini tidak diungkapkannya muncul dalam alam mimpi.” Lanjut Alan saat melihat ekspresi Rara
“Lalu apa yang bisa saya bantu?” Putus Rara akhirnya
“Saat ini Melati mengkonsumsi obat penenang dan juga obat tidur. Obat-obat ini memiliki efek samping yang sepertinya mulai berdampak pada kesehatan Melati. Saya membutuhkan Nona Rara untuk menemani Melati” Ucap Alan
“Tapi kami sudah lama tidak bertemu. Saya khawatir Melati tidak bisa menerima kehadiran saya yang tiba-tiba begini” Ucap Rara
“Tapi saya juga tidak tahu dimana Adnan sekarang” Jawab Melati tidak tahu harus melakukan apa
“Kalian dulu punya semacam perkumpulan begitu kan? Bisakah kamu cari tahu melalui teman-teman kamu itu?” Bujuk Alan
“Saya tidak yakin, tapi akan saya coba” Ucap Rara
“Baiklah kalau begitu jam 1 siang minggu depan” Alan lalu bertukar kontak dengan Rara untuk memudahkan komunikasi mereka.
\*\*\*
Dilain tempat, Adnan baru saja menginjakkan kakinya kembali di ibukota. Tidak terasa sudah 2 tahun Adnan pergi dari kota itu.
Awalnya Adnan hanya akan pergi selama satu tahun, tapi karena tuntutan pekerjaan Adnan harus menetap lebih lama. Namun usaha Adnan selama ini tidak mengecewakan, Adnan sudah berhasil menjadi karyawan tetap dan bahkan naik pangkat. Jadi mulai awal tahun nanti Adnan akan bekerja di kantor pusat, yaitu di ibukota.
Dengan langkah pasti Adnan berjalan sembari menarik kopernya. Adnan sungguh merindukan perempuan itu. Perempuan yang selalu dimimpikannya setiap malam dalam bayang-bayang penuh cinta.
Adnan ingin segera bertemu dan memeluknya erat. Meminta maaf atas keegoisannya karena telah pergi dan tidak pernah memberi kabar. Adnan takut jika bertukar kabar akan membuat rasa rindu itu semakin tak tertahankan.
Tapi sebelumnya Adnan harus menyusun rencana pertemuan mereka. Adnan akan melamar pujaan hatinya itu segera. Dengan senyum penuh percaya diri, Adnan terus melangkah. Tanpa tahu apa yang akan sebentar lagi dihadapinya.
\*\*\*
Ponsel Adnan terus saja berdering sejak tadi. Padahal sang empunya masih sibuk mandi dan tidak mendengarnya.
Adnan memutuskan sementara ini untuk kembali ke apartemen lama miliknya. Adnan sudah meminta pengurus apartemen untuk membersihkannya kemarin sebelum Adnan berangkat. Jadi begitu Adnan sampai apartemen itu sudah siap huni.
Dengan tangan masih sibuk mengeringkan rambut, Adnan mengangkat telpon dari nomor tidak di kenal itu.
“Hai aku Rara. Aku dapat nomor kamu dari Dodi, aku dengar hari ini kamu kembali ke ibukota. Bisakah kita bertemu, ini mengenai Melati.” Rara berucap langsung tanpa menunggu reaksi dari Adnan
“Baiklah” Ucap Adnan
“Besok jam 1 siang di café dekat kampus” Rara langsung memutus panggilan
Keesokannya Rara benar saja sudah menunggu Adnan di café dekat kampus mereka dulu. Café ini masih tetap sama, tidak ada yang berubah. Baik dekorasi, makanan, dan juga nuansanya. Mengingatkan Rara tentang kebersamaannya dengan Melati dulu.
Adnan mengambil tempat duduk di seberang Rara. Rasanya sedikit canggung karena mereka sudah lama tidak bertemu.
“Apa kabar?” Tanya Adnan
“Aku baik-baik saja. Bagaimana kabar kamu dan juga Melati?” Balas Rara
“Aku belum bertemu Melati” Jawab Adnan merasa bersalah
Dulu saja Adnan berperan seperti pria yang tidak akan pernah meninggalkan Melati. Tapi nyatanya keadaan justru berbalik sampai seperti ini.
“Kemarin aku bertemu dengan Melati di rumah sakit” Ucap Rara
“Rumah sakit? Ada apa dengan Melati?” Tanya Adnan, seketika rasa takut langsung menghampiri Adnan
“Bukannya aku yang harus bertanya itu pada kamu?” Balas Rara sinis. Jujur Rara masih kesal dengan Adnan. Adnan adalah penyebab hubungannya dengan Melati harus berakhir. Adnan hanya diam tidak tahu harus mengatakan apa. Memang dirinya yang bersalah.
“Melati saat ini berada di bawah pengawasan dokter kejiwaan. Dokter itu meminta bantuan kamu dan juga aku untuk pengobatan Melati. Hari Rabu jam 1 siang di taman biasa kalian menghabiskan waktu” Ucap Rara
“Kamu harus siap menghadapi kenyataan yang akan terjadi. Pesan dokter Alan jangan terlalu menyalahkan diri kamu sendiri. Aku juga sedang berusaha seperti itu” Rara meninggalkan sebuah recorder kecil di dekat Adnan sebelum beranjak pergi.