Before 25

Before 25
Bab 12 Rumor



Silvi jenuh seharian di kamar kost. Liburan kali ini Silvi habiskan hanya tinggal di kost atau pergi jalan dengan teman-temannya. Silvi mengabaikan permintaan ayahnya untuk pulang ke rumah. Di rumah Silvi hanya akan terus diceramahi. Silvi bosan akan hal itu.


Sudah tiga hari ini Silvi hanya mendekam di kamar kostnya. Ingin pergi keluar tapi tidak ada teman. Teman-temannya yang lain sibuk berlibur atau berkumpul dengan keluarga. Karena rasa penat yang semakin menumpuk, Silvi lalu pergi keluar untuk sekedar menghirup udara segar dan mencari makan.


Sejak sampai di café Silvi sudah melihat Rara duduk di salah satu meja. Di atas meja sudah tersaji dua gelas minuman yang berarti Rara sedang menunggu seseorang. Silvi memutuskan duduk agak jauh dari Rara, untuk bisa melihat dengan siapa Rara akan bertemu.


Berselang lima menit Silvi melihat Adnan yang datang. Duduk berhadapan dengan Rara. Silvi merasa kesal saat dua orang itu sibuk berbicara. Tak lama Adnan pindah ke kursi yang ada di pojokan. Silvi sempat terkejut saat Adnan duduk hanya berjarak beberapa meja darinya. Sepertinya Adnan fokus memikirkan hal lain dan tidak menyadari kehadiran Silvi di situ.


Sambil terus memperhatikan gerak Adnan dan Rara, Silvi bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang dilakukan oleh dua orang itu. Pintu café yang terbuka membuat rasa kesal itu semakin memuncak pada diri Silvi. Melati masuk ke café dengan dandanan luar biasa cantik.


“Sejak kapan gadis itu bisa berdandan seperti itu” Maki Silvi dalam hati.


Silvi akui Melati sangat cantik. Kecantikannya yang natural membuat Silvi minder. Silvi takut Adnan akan langsung berpaling pada Melati. Dan saat ini sepertinya sedang terjadi sesuatu yang sangat penting diantara mereka.


Melati duduk di hadapan Rara dan mereka tampak asyik berbincang. Saat melihat Melati memakai sebuah gelang, kadar iri dalam jiwa Silvi semakin meronta. Gelang itu sangat cantik. Pasti harganya juga mahal. Silvi tidak suka bagaimana Rara memberikan hadiah mewah itu secara cuma-cuma pada Melati.


Silvi terus memperhatikan pergerakan mereka. Mencoba melebarkan telinga berharap dapat mendengar percakapan antara Rara dan Melati. Tapi jarak yang lumayan jauh membuat Silvi tidak dapat mendengar apapun.


Tiba-tiba Rara bangkit berdiri dan berlari meninggalkan Melati yang kebingungan. Saat itu dari arah lain Adnan bangkit dan berjalan ke arah Melati. Adnan duduk di kursi yang ditinggalkan oleh Rara. Silvi bisa menebak apa yang terjadi saat ini.


Silvi tahu sejak dirinya mengirim pesan pada Melati. Gadis itu seolah menghilang dari muka bumi ini. Melati sangat sulit ditemui meskipun mereka berada pada jurusan yang sama. Melati juga tidak lagi hadir pada acara kumpul-kumpul mereka. Adnan bahkan pernah bercerita bahwa Melati seolah menghindarinya.


“Jadi Adnan membujuk Rara untuk mempertemukan mereka lagi” Batin Silvi tidak suka.


Percakapan berlangsung antara Adnan dan Melati. Silvi dapat melihat bagaimana sikap Melati yang tampak canggung berbanding terbalik dengan sikap Adnan yang sangat santai. Lama mereka berbicara dan semakin tinggi pula rasa penasaran Silvi.


Dari kejauhan Silvi melihat Melati yang tiba-tiba menangis dan Adnan yang menggenggam erat tangan Melati. Silvi sungguh membenci adegan romantis yang disajikan dua orang itu. Rasanya Silvi ingin segera berlari kesana, menarik Adnan dan berteriak pada Melati bahwa Adnan adalah miliknya. Tapi itu tidak mungkin untuk saat ini. Saat ini yang bisa dilakukan Silvi hanya mengamati mereka berdua.


Karena rasa penasaran yang sepertinya tidak sanggup lagi Silvi tahan. Silvi lalu bergerak berpindah tempat duduk. Mencari posisi yang aman sekaligus tempat dimana dia bisa mendengar percakapan Adnan dan Melati.


Silvi amat terkejut saat Adnan mengatakan ingin menjadi teman Melati. Teman seperti apa yang dimaksud Adnan ini membuat Silvi semakin penasaran. Jawaban Melati membuat rasa kesal berubah menjadi emosi. Emosi yang tampak sangat jelas di mata Silvi. Seperti ada kobaran api yang siap melahap siapa saja di mata Silvi saat ini. Melihat Adnan dan Melati yang sibuk tertawa bersama membuat Silvi merasa sangat muak. Dengan dorongan yang kuat, Silvi berdiri dan membuat kursi yang didudukinya bergeser lumayan jauh.


“Aku harus melakukan sesuatu pada mereka berdua. Mereka tidak boleh bersama seperti itu. Tawa mereka membuatku sangat marah. Karena harusnya aku yang ada disitu saat ini” Silvi meninggalkan café dengan perasaan marah yang teramat.


\*\*\*


Melati dan Adnan baru meninggalkan café saat malam menjelang. Melati kembali duduk diboncengan Adnan. Saat melihat Melati yang masih membuat jarak yang lebar di jok motor, Adnan memberanikan diri untuk menarik tangan Melati.


“Kamu bisa jatuh kalau duduk sejauh itu. Lagipula pegangan motor itu dingin dan kotor, aku bisa memastikan kalau tanganku jauh lebih bersih dan hangat” Ucap Adnan sambil menggenggam erat tangan Melati.


Melati hanya diam saja. Perasaan senang sedang melimpah ruah di hati Melati saat ini. Walaupun hubungan mereka sebatas teman seperti kata Adnan. Tapi Melati tidak bodoh dengan semua usaha pendekatan yang dilakukan Adnan selama ini. Melati berharap suatu hari nanti hubungan mereka akan jauh lebih baik.


Sampai di kost Melati langsung turun dari atas motor. Saat hendak membuka helm, Adnan menahan tangan Melati.


“Gak usah mel. Mulai sekarang helmnya kamu bawa aja, karena mulai besokkan kita bakal pergi bareng” Ucap Adnan.


“Tapi kan..”


“Baiklah” Jawab Melati sambil tersenyum


“Aku akan kabarin kalau aku udah sampai di kost. Selamat malam sayang” Setelah mengucapkan itu Adnan langsung melajukan motornya. Tidak dilihatnya wajah Melati yang sudah sangat merah seperti kepiting rebus.


“Selamat malam juga”


\*\*\*


Pagi pukul 09.00 Adnan sudah sampai di depan gerbang kost Melati. Tadi pagi saat menelpon Melati mengatakan ada kelas jam 10 dan sebelum kelas Melati ingin mampir ke perpustakaan dulu.


Pagi yang cerah Adnan lewati dengan Melati yang ada diboncengannya. Adnan sangat tidak rela karena harus berpisah dengan Melati. Adnan menyukai saat seperti ini. Tapi karena Adnan juga ada tugas yang harus diselesaikan, Adnan hanya mengantar Melati sampai depan gerbang jurusan.


Dari jauh Rara sudah melambaikan tangan ke arah Melati. Senyum Rara langsung terkembang sempurna saat Melati sudah berdiri di dekatnya.


“Kamu mau bilang sesuatu?” Tanya Rara


“Bukannya kamu yang harus menjelaskan sesuatu” Balas Melati


“Aku gak ada buat kesalahan kok” Ucap Rara cepat. Sebenarnya Rara agak takut kalau saja Melati marah karena kejadian kemarin.


“Kalau gitu aku juga gak mau bilang apapun” Ucap Melati sambil melangkah menuju perpustakaan.


Sampai di perpustakaan Melati langsung terhanyut dengan semua buku-buku yang ada di sana. Melati harus mulai mengerjakan bab selanjutnya dari skripsinya. Saat tengah sibuk memilih buku, Melati merasa orang-orang disekitarnya mulai berbisik-bisik. Tidak mau ambil pusing Melati lantas menuju petugas perpustakaan untuk mengurus peminjaman buku.


Saat di kelas Melati kembali merasa diperhatikan. Banyak anak-anak perempuan yang menatap sinis padanya bahkan ada yang secara terang-terangan menunjukkan sikap tidak suka pada Melati. Mereka sibuk berbisik-bisik sambil terus melemparkan pandangan meremehkan pada Melati.


Melati merasa ada yang tidak beres. Meskipun biasanya tidak terlalu memperhatikan orang-orang dikelasnya. Tapi Melati sadar mereka tidak pernah seperti ini sebelumnya, setidaknya pada Melati.


“Sepertinya ada yang menyebarkan gossip tentang kamu” Ucap Rara saat kelas sudah selesai


“Sepertinya” Ucap Melati datar. Perasaan Melati sudah tak tentu sejak pagi tadi. Melati takut. Takut kejadian itu terulang lagi.


“Kamu mau tahu apa yang mereka katakan?” Tanya Rara ragu


“Apa yang mereka katakan?” Tanya Melati


“Mereka bilang kamu simpanan om-om. Katanya kamu sering keluar masuk hotel sama om-om dan memaksa untuk dibelikan ini itu. Mereka bahkan bilang kalau gelang dari papa aku itu hasil kamu menemani omo-om saat libur kuliah.” Ucap Rara pelan


“Tapi aku tahu itu gak betul kok. Aku bakal cari tahu siapa orang yang udah nyebarin omongan sampah kayak gitu. Dan aku akan pastikan dia gak akan bisa ngomong lagi” Lanjut Rara berapi-api


Sementara Melati hanya diam. Melati menatap semua perempuan yang sedang menatap sinis padanya.


“Haruskah aku kembali seperti saat itu” Batin Melati