Before 25

Before 25
Bab 5 Tentang Melati



Adnan bersikeras mengajak Rara untuk pergi ke café. Alasannya karena Adnan takut kalau-kalau Melati melihat mereka berdua pergi.


Ditambah lagi dengan helm yang saat ini sedang dipakainya. Setelah pulang mengantar Melati minggu lalu, Adnan langsung pergi ke toko helm. Adnan memilih helm berwarna biru polos untuk dipakai Melati nanti.


Helm itu setia Adnan bawa setiap hari. Dimana jika takdir berpihak padanya Adnan bisa kembali membonceng Melati. Tapi untuk saat ini Adnan hanya bisa mendengus. Helm baru itu bertengger manis menutupi kepalanya. Batinnya berteriak tidak rela kalau helm baru itu harus dipakai perempuan lain selain Melati.


“Jauh amat sampai ke sini, di dekat kampus kan banyak café sih” Protes Rara begitu turun dari motor.


Tadi saat bersama Melati, Adnan menghubunginya memaksa untuk bertemu. Dengan alasan mempertaruhkan perasaan Adnan yang sedang galau maksimal, akhirnya Rara setuju untuk bertemu.


Rara sangat yakin bahwa apa yang akan dibahas nanti pasti tentang Melati, sahabatnya. Karena beberapa hari yang lalu Adnan menghubunginya memohon untuk diberikan kontak Melati. Rara tentu saja tidak semudah itu memberikannya, sampai Adnan menceritakan bagaimana perasaannya terhadap Melati.


“Jatuh cinta pandangan pertama heh? Awas aja lo ganggu anak gue” Omel Rara dalam hati.


Setelah memesan minuman untuk mereka berdua dan memilih tempat duduk. Rara langsung saja menanyakan alasan Adnan memaksanya untuk bertemu.


“Langsung aja, gue malas bertele-tele” Ucap Rara


Adnan menelan ludah kasar, berusaha mengumpulkan semua keberaniannya. “Gue suka sama Melati. Lebih tepatnya jatuh cinta” Ucap Adnan yakin


“Kemarin lo udah bilang tuh” Ucap Rara cuek


“Tolong bantu gue Ra” Ucap Adnan pelan


“Bantu apaan?” Tanya Rara tidak tertarik


“Gue serius suka sama Melati. Tapi gue sendiri takut kalau perasaan ini cuma sekedar perasaan memuja sesaat. Gue pingin semua berjalan perlahan. Gue gak mau menyakiti perasaan Melati dan juga perasaan gue sendiri. Gue gak mau menjalin hubungan yang pada akhirnya membuat gue dan Melati sama-sama menyesal nantinya. Tapi gue bingung saat ini, Melati kayaknya tertutup banget. Gue takut kalau salah langkah malah buat Melati menjauh. Gue harus gimana Ra?” Adnan mengeluarkan semua kegelisahan yang sudah ditampungnya selama seminggu ini. Mengenyampingkan perasaan malu dan gengsi karena sudah bertingkah seperti budak cinta.


“Melati itu sahabat gue yang paling berharga, lo tau kan?” Tanya Rara, Adnan hanya mengangguk. “Dan lo tau akibatnya kalau macem-macem sama Melati kan?” Tambah Rara, kali ini Adnan mengangguk cepat.


“Tolong bantu gue Ra” Ucap Adnan memelas


***


Sampai di kost Melati langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Memandang kosong langit-langit kamar. Mencoba mencari tau rasa sakit saat melihat Adnan membonceng Rara tadi. Tidak ada jawaban apapun. Tidak ada satu hal pun alasan yang bisa membantu menenangkan hati Melati saat ini.


Melati menutup mata dan menghela napas panjang. Tak lama waktu berselang terdengar suara napas tetatur dari Melati. Dia ketiduran.


***


Cuaca hari itu sangat terik membuat Melati tambah malas untuk keluar. Tapi karna sudah ada janji dengan seseorang Melati memaksakan langkah kakinya untuk segera bersiap. Hari ini tanggal 30 Desember, sehari sebelum ulang tahunnya.


Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 13.45, Melati mempercepat langkahnya menuju tempat janjian mereka. Hari itu Melati memakai gaun polos putih selutut dan sepatu sneakers hitam. Rambutnya diikat ekor kuda dan menenteng tas kecil yang disampirkan di bahu kanannya.


Langkahnya yang tergesa-gesa membuatnya menabrak salah seorang pengunjung. Melati minta maaf berkali-kali karena dirinya membuat minuman yang dipegang orang itu tumpah membasahi sepatunya. Tapi karena suara yang begitu keras membuat Melati dan pria itu menjadi pusat perhatian. Melati meringis menyadari dirinya menjadi pusat perhatian.


Dengan kasar Melati bangun dan langsung terduduk di kasurnya. “Apaan sih mimpi kayak gitu” Ucap Melati sambil mengusap wajah dengan kedua telapak tangan.


Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Dengan malas Melati mengecek handphonenya dan tidak menemukan apapun. Tidak ada panggilan telepon dan juga pesan.


Melati menghela napas panjang dan menyadari apa yang dilakukannya. Belakangan ini dia sangat sering menghela napas.


***


“Jujur gue juga bingung mau bilang apa ke lo” Ucap Rara.


Rara sebenarnya senang saat mengetahui bahwa Adnan menyukai sahabatnya Melati. Tapi sebagai teman Melati satu-satunya, Rara juga tidak ingin melihat sahabatnya sedih. “Gue kenal Melati dari awal kuliah, dia dari dulu memang pendiam dan agak cuek. Awalnya gue cuma iseng aja ajak dia ngobrol, beberapa kali ngobrol bareng entah kenapa kami jadi lengket banget.” Rara menarik napas sejenak untuk kemudian melanjutkan ceritanya.


“Melati itu anak bungsu dari dua bersaudara. Abangnya udah kerja di tempat tinggal Melati, ayahnya guru di SMA, mama nya ibu rumah tangga biasa. Yang gue tau selama kuliah ini Melati gak pernah dekat sama cowok manapun. Melati juga terkesan menjauhi kehidupan sosial kampus, kecuali kalau harus dengan sangat terpaksa hadir. Itupun kalau ancamannya berhubungan sama nilai. Gue gak tau dia punya mantan pacar apa gak. Dan Melati bakal merasa sangat tidak nyaman kalau udah ngobrol berdua sama orang yang gak begitu dikenalnya. Atau ngobrol panjang lebar sama siapapun itu kecuali gue” Ucap Rara panjang lebar. “Lo perhatikan aja kalau Melati udah sibuk gosok-gosokin kuku ibu jarinya, itu tanda kalau dia lagi gak nyaman” Sambung Rara


Adnan hanya mengangguk mendengar semua penjelasan Rara. “Ra, mungkin gak nih. Ini aku bilangnya cuma mungkin ya, apa Melati pernah punya trauma gitu?” Tanya Adnan ragu


“Gue juga sempat berpikir kayak gitu, tapi gue juga gak tau. Gue pernah cari tau tapi nihil. Kalau urusan ngorek-ngorek kehidupan pribadi Melati itu susah banget. Gue aja nyerah” Ucap Rara


“Jadi apa yang gue lakuin?” Tanya Adnan


“Kalau untuk saat ini sih coba dulu tingkatin intensitas ketemuan lo sama Melati. Jangan terlalu memaksa, kalau Melati udah agak risih mending lo jauhin dulu. Melati kalau dah gak nyaman sama seseorang, dia bakal langsung jauhin tu orang.” Jawab Rara


“Minggu lalu gue ketemu sih sama Melati, gue bahkan ajakin dia jalan” Ucap Adnan


“Terus Melati mau?” Tanya Rara, dirinya sedikit terkejut dengan penuturan Adnan.


“Mau, kami bahkan ngobrol lama. Meskipun lebih dominan gue yang ngomong” Ucap Adnan lemah menyadari kesalahannya.


“Wah, gak nyangka gue. Seriusan nih?” Tanya Rara penasaran, Adnan hanya mengangguk. “Berarti lo ada sedikit kemajuan. Biasanya Melati bakal langsung nolak mentah-mentah loh.” Lanjut Rara


“Jadi gue ada harapan nih?” Adnan sangat berharap kali ini


“Gini aja gue ada rencana” Ucap Rara sambil meminta Adnan untuk lebih mendekat.


***


Sabtu sore Melati sudah selesai bersiap-siap untuk kumpul bersama dengan teman-teman barunya. Rara bilang mereka akan kumpul di sebuah café dengan konsep outdoor. Karena jaraknya lumayan jauh mereka harus berangkat lebih awal.


Melati sudah duduk di teras kost nya menunggu Rara. Hari ini Melati memakai celana jeans dan kaus putih polos yang sedikit kebesaran. Tas kecil tersampir di bahunya. Rambutnya kembali diikat ekor kuda dan memperlihatkan lehernya yang jenjang.


Dering ponsel membuyarkan lamunan Melati. Di lihatnya layar ponsel dan nama Rara tertera di sana.


“Aduh mel, sorry banget ya aku gak bisa jemput nih. Mobil aku mogok” Ucap Rara di seberang sana. Melati sedikit kecewa, sepertinya hari ini dia batal bertemu dengan Adnan.


“Ya udah gak apa-apa Ra” Ucap Melati pelan


“Tapi tenang aja aku udah minta tolong sama Adnan buat jemput kamu, dia bentar lagi sampai kost kamu. Gak apa-apa kan?” Tanya Rara, Melati terkejut bukan main saat mencerna ucapan Rara. “Kamu gak nyaman ya Mel?” Rara sangat khawatir kalau saja Melati menolak dan merusak rencananya.


“Bukan, aku gak apa-apa kok” Jawab Melati tergagap


“Kalau gitu kita ketemu di sana nanti ya. Bye Mel” Rara langsung memutus sambungan dan membuat Melati terdiam.


Tidak lama setelah itu suara klakson motor membuat Melati kaget. Dilihatnya Adnan yang sudah datang dan tampak sangat keren. Sambil menghela napas Melati berjalan menghampiri Adnan.


“Akhirnya kamu bisa pakai helm ini” Ucap Adnan sambil tersenyum dan menyerahkan helm biru untuk Melati. “Kita berangkat ya” Ucap Adnan saat Melati sudah duduk di atas motor.


“Meskipun jaraknya masih kayak lapangan futsal, tapi udah buat gue senang banget. Bisa menghabiskan lebih banyak waktu bareng kamu, Mel” Batin Adnan