
Melati membuka matanya perlahan, cahaya matahari yang masuk menyusup melalui celah gorden menyilaukan pandangan matanya. Kepala Melati masih terasa berat bahkan seluruh tubuhnya terasa kaku. Pengalaman pertama yang mungkin akan selalu diingatnya sampai mati.
Melati tidur membelakangi Adnan. Tangan Adnan masih setia melingkar di perut Melati, memeluknya erat melalui dinginnya malam. Mereka baru tertidur saat subuh mulai menjelang dan sekarang mungkin sudah mulai memasuki siang hari. Aktivitas mereka malam tadi sungguh menguras energi, terlebih saat Adnan pertama mencoba menembus milik Melati. Melihat Melati yang kesakitan membuat Adnan tidak tega. Tapi untuk menghentikannya juga akan membuat mereka berdua kecewa, mereka sudah sampai sejauh itu.
Dengan perlahan Melati membalikkan badannya menghadap Adnan. Mata Adnan masih terpejam rapat, menandakan dirinya masih jauh berlabuh dalam pusaran alam mimpi. Kulit Adnan terasa hangat bagi Melati yang sangat mudah kedinginan. Mulai saat ini Adnan mungkin akan menjadi satu-satunya sumber penghangat bagi dinginnya kehidupan Melati.
Dalam diam Melati menatap Adnan dengan penuh perhatian. Diamatinya seluruh bagian wajah Adnan dan bibir yang malam tadi sudah menjamah hampir seluruh bagian tubuhnya. Rona merah langsung merayap di kulit wajah Melati. Lama-kelamaan memandang Adnan di dalam selimut yang sama tanpa memakai apapun membuat Melati merasa sangat kepanasan. Mungkin sudah waktunya Melati untuk bangun dan membasuh tubuhnya.
Perlahan Melati melepas tangan Adnan yang memeluk pinggangnya. Berusaha mengeluarkan dirinya dari balik selimut yang menutupi tubuh polos mereka berdua. Saat sadar tubuh polosnya terpampang jelas, Melati langsung menyambar kaus milik Adnan yang tergeletak begitu saja di lantai. Setidaknya kaus itu bisa menutupi separuh dari tubuh Melati.
Melati berjalan dengan rasa tidak nyaman pada bagian bawah tubuhnya. Rasanya sangat perih dan seperti terbakar. Sampai di kamar mandi Melati langsung duduk di atas kloset untuk menenangkan dirinya. Rasa takut tiba-tiba muncul entah dari mana. Menghantam dirinya dari berbagai sudut.
Apa yang sudah dilakukannya semalam adalah sebuah kesalahan besar. Kesalahan yang tidak akan bisa diampuni apalagi bagi keluarga dan sahabatnya. Air mata mulai menetes jatuh membasahi wajah Melati. Berdiri dengan segenap rasa takut Melati memandang tubuh polosnya di depan cermin. Ada begitu banyak bekas merah yang ditinggalkan Adnan, mulai dari leher sampai ke perutnya. Penyesalan memang selalu datang terlambat.
\*\*\*
Air hangat serasa mengangkat segala beban di tubuh Melati. Tubuhnya sedikit lebih rileks setelah setengah jam berdiri dibawah pancuran air. Jari-jari tangannya sudah mulai keriput tapi sepertinya tidak ada tanda-tanda Melati akan menghentikan aktivitas mandinya.
Sebuah tangan yang memeluknya dari belakang membuat Melati hampir berteriak. Pada detik berikutnya Melati baru sadar dirinya tidak sendirian di kamar hotel itu. Pelukan yang diberikan Adnan sedikit menenangkan Melati. Seperti pulang pada tempat peraduan.
“Aku takut saat bangun tadi tidak melihat kamu. Aku pikir kamu pergi meninggalkan aku sendirian di sini” Suara Adnan masih terdengar jelas serak, khas bangun tidur. Tangannya memeluk erat tubuh Melati dari belakang.
Kata-kata itu yang harusnya keluar dari mulut Melati. Harusnya Melati yang takut Adnan akan pergi meninggalkannya begitu saja. Setelah mendapatkan sesuatu yang sangat berharga bagi Melati, melebihi nyawanya sendiri. Mendengar Adnan yang takut Melati meninggalkannya, membuat rasa haru mampir pada jiwa Melati. Setakut itukah Adnan kalau Melati pergi meninggalkannya.
“Setelah selesai kuliah nanti dan mendapat pekerjaan, aku akan segera melamar kamu” Ucap Adnan pelan di telinga Melati
“Apa? Kamu mau apa?” Tanya Melati kaget. Nada suara Melati membuat Adnan heran dan kebingungan.
“Melamar kamu” Jawab Adnan masih bingung
“Tapi kenapa?” Tanya Melati gagap. Adnan lalu melepas pelukannya dan membalik tubuh Melati agar mereka saling berhadapan. Adnan menatap lurus pada mata Melati, mencari jejak kebohongan dalam diri Melati. Tapi Adnan tidak menemukannya. Melati benar-benar membuatnya terkejut, bisa-bisanya Melati bertanya kenapa saat Adnan mengatakan akan melamarnya.
Adnan adalah pria yang bertanggung jawab. Itu yang selalu diyakininya selama 22 tahun dia hidup di dunia ini. Dan sekarang seorang perempuan yang sudah dimiliki Adnan seutuhnya malah bertanya kenapa dia akan melamarnya. Pertanyaan macam apa itu, pikir Adnan.
“Kamu tanya kenapa aku mau melamar kamu?” Tanya Adnan ragu, Melati menganggukkan kepalanya cepat. Melihat itu Adnan akhirnya tersenyum, betapa polosnya perempuan yang dicintainya ini. Adnan lalu menarik tubuh Melati lebih dekat, memeluknya erat dan menghirup seluruh wangi tubuh Melati.
“Kamu tahu betapa beruntungnya aku bisa memiliki seseorang seperti kamu? Kamu benar-benar mengubah hidupku, selalu membuatku terkejut dengan setiap pertanyaan dan ekspresi yang tidak terduga darimu” Adnan lalu mengecup puncak kepala Melati. Menatap Melati dalam dan menelusuri setiap jejak yang sudah ditinggalkannya malam tadi.
“Mungkin kita bisa menunda makan siang untuk langsung makan malam nanti. Aku tidak bisa membiarkan kamu keluar dari tempat ini sekarang” Nada suara Adnan begitu sensual dan membuat Melati menyadarinya. Sejak tadi mereka berpelukan dengan tubuh polos.
“Aku lapar, lagipula aku sudah lama berada di sini” Elak Melati berusaha melepas pelukan Adnan
Dan siang yang terik itu semakin bertambah panas dengan pergulatan mereka yang tidak ada habisnya.
\*\*\*
“Kamu mau makan malam apa?” Tanya Adnan. Dirinya sudah selesai bersiap sejak setengah jam yang lalu, sementara Melati masih sibuk mondar-mandir.
“Apa aja, aku lapar banget sekarang” Jawab Melati sambil memakai celana jeans panjangnya. Tidak ada lagi kata-kata malu bagi Melati saat ini. Setelah Adnan hampir membuatnya pingsan sore tadi di kamar mandi. Mereka melewati siang bukan hanya dengan sekali pergulatan, melainkan berkali-kali. Adnan seperti tidak pernah puas di mata Melati.
Melihat Melati yang mengikat rambutnya dan memperlihatkan bekas-bekas merah di leher, membuat Adnan senang sekaligus prihatin. Ini adalah pengalaman pertama bagi Melati dan juga dirinya, tapi sepertinya Adnan terlalu bersemangat. Adnan tidak pernah tahu bahwa ada monster di dalam tubuhnya selama ini.
“Mungkin kita bisa pesan layanan kamar aja” Saran Adnan dan berdiri di belakang Melati. Adnan mengamati wajah cantik Melati melalui cermin di depan mereka.
“Aku sedikit pengap di sini, mungkin karna kita belum keluar seharian” Ucap Melati pelan. Nada suara Melati membuat Adnan benar-benar seperti laki-laki paling brengsek di muka bumi ini. Dengan lembut Adnan memeluk tubuh Melati dari belakang, merasakan wangi dan hangatnya tubuh Melati. Rasanya sudah seperti candu bagi Adnan. Candu yang menyenangkan.
“Kalau begitu kamu bisa melepas ikatan rambut kamu? Leher kamu tidak baik-baik saja saat ini menurutku” Ucap Adnan. Melati segera memandang bagian lehernya, dan benar saja. Semua bekas kemerahan yang ditinggalkan Adnan jelas terlihat, bahkan sebagian mulai berubah menjadi kebiruan.
Dengan malu Melati langsung melepas ikatan rambutnya. Membuat rambut hitam panjangnya terurai begitu indah. Bukan hanya indah tapi juga mengeluarkan wangi yang semerbak. Begitu harum sehingga mungkin bisa mengundang lebah untuk mencicipinya.
“Mungkin melepas ikatan rambut tidak bagus untuk kamu, selain denganku kamu gak boleh mengurai rambut kamu seperti ini” Ucap Adnan yang jengkel dengan pemikirannya sendiri.
“Aku jelek ya? Gak cocok kalau begini?” Tanya Melati
“Kamu justru terlalu cantik, aku gak mau ada lebah yang menggigit kamu” Ucap Adnan kesal dan berjalan menuju pintu. Melati hanya mengikuti Adnan dengan kebingungan.
\*\*\*
“Besok siang kita pulang, ada hal yang mau kamu lakukan gak?” Tanya Adnan di sela makan malam mereka.
“Aku cuma mau ada di dekat kamu. Kamu membuat aku nyaman” Jawab Melati sambil mengunyah sepotong daging bakar.
“Kalau kamu bilang seperti itu aku mungkin akan membuat kita terus berada di kasur sampai besok siang” Ucap Adnan menggoda
“Bukan seperti itu” Ucap Melati kaget dengan usulan Adnan. Melati hanya ingin Adnan terus berada didekatnya, tidak melakukan apapun, kecuali mungkin memeluknya saja.
“Ahhh… kita juga bisa melakukannya di kamar mandi seperti tadi siang” Goda Adnan. Wajah jengkel Melati membuat Adnan tidak bisa menahan tawanya. Sangat menyenangkan bisa menggoda Melati.
“Kamu dan aku akan terus bersama. Kita tidak akan berpisah” Janji Adnan