Before 25

Before 25
Bab 15 Penderitaan



Melati merasakan sakit pada sekujur tubuhnya. Rasa sakit yang sebelumnya tidak pernah dia rasakan. Bukan hanya sakit pada tubuh tapi juga sakit pada hati. Mengingat bagaimana keluarga yang selama ini disayanginya menatapnya dengan pandangan penuh tuduhan. Melati merasa sakit luar biasa.


Pertama kali abangnya melihat dirinya di lab waktu itu membuat Melati merasa dibuang. Pandangan yang menunjukkan bagaimana abangnya tidak suka melihat keadaan Melati saat itu. Mata abangnya tampak kosong, menandakan bahwa abangnya bahkan tidak ingin melihat wajah Melati lagi. Melati butuh pertolongan saat itu dan abangnya hanya berdiri diam, mematung tak melakukan apapun.


Mama yang sangat dicintainya hanya bisa menangis berlindung di balik pundak Ayahnya. Mama yang selama ini memanjakannya, yang membelanya dari semua orang yang jahat padanya hanya menangis memandang kondisi Melati. Melati tidak butuh tangisan Mamanya saat itu. Melati butuh pelukan Mamanya, pelukan yang selalu menenangkan sekaligus menjauhkan Melati dari orang-orang itu.


Ayah yang sangat dikaguminya bahkan bertindak lebih kasar. Selama ini Ayahnya selalu menjaga Melati, melindungi Melati dari perkataan kasar atau cemooh orang-orang disekitarnya. Meskipun Ayahnya sangat tegas dan disiplin, tapi Ayahnya tidak pernah sekalipun bersikap atau berkata kasar padanya. Tapi saat itu Ayahnya sendiri menatapnya dengan pandangan jijik. Menyiratkan bahwa dia tidak ingin melihat Melati lagi.


Hidupnya yang selalu sempurna selalu menjadi bahan omongan tetangga. Melati yang cantik, Melati yang pintar, Melati yang sopan, Melati yang baik hati, dan masih banyak lagi lainnya. Tetangganya yang memberi semua julukan itu. Tapi sekarang dengan sebuah foto yang tidak benar, mereka semua langsung memberi julukan baru bagi Melati.


Melati yang menjijikkan.


***


Melati sudah seminggu dirawat di rumah sakit. Luka di pergelangan tangannya mulai membaik. Begitupun dengan luka di wajah dan lututnya. Luka-luka itu kini menyisakan perih yang teramat karena proses dari penyembuhan luka itu sendiri.


Sejak Melati sadar dan membuka matanya, semua keluarganya selalu hadir disampingnya. Menemani, menjaga, dan memenuhi setiap kebutuhan Melati. Tapi rasanya canggung.


Selama seminggu dirawat Melati juga sadar tidak ada satupun teman-temannya yang datang menjenguknya. Bahkan sahabat dekatnya, Ignes dan Nella tidak menujukkan batang hidungnya sekalipun.


Melati bahkan tidak mengeluarkan sepatah kata pun sejak dirinya sadar. Melati hanya diam dan menatap kosong langit-langit kamar perawatannya. Tidak ada mengeluh tentang bagaimana sakitnya luka-luka di sekujur tubuhnya. Tidak ada bermanja-manja seperti saat biasa dia sakit sebelumnya. Melati hanya diam.


Keluarganya sadar akan hal itu. Mereka mengerti apa yang Melati rasakan. Dibuang oleh seluruh anggota keluarga yang dicintainya secara bersamaan adalah penderitaan paling besar di dunia ini.


Perasaan bersalah juga memenuhi setiap hati mereka, baik Ayah, Mama, dan Mario. Tapi mereka tetap berusaha tersenyum. Mencoba membantu Melati melupakan kejadian buruk itu.


Saat pertama mereka melihat Melati yang tidak sadar dengan darah mengalir deras dari pergelangan tangan. Mereka semua begitu terpukul. Tidak mereka sangka bahwa rentetan kejadian itu sangat berpengaruh bagi mental Melati. Melati bahkan melukai dirinya sendiri.


Dokter yang menangani Melati mengatakan Melati berniat keras untuk mengakhiri hidupnya. Alat yang digunakannya untuk melukai pergelangan tangannya hanyalah sebuah alat medis yang tidak tajam. Tapi melihat bagaimana luka Melati yang sangat parah dan merobek pembuluh darah. Itu menunjukkan bagaimana Melati sangat nekat mengakhiri hidupnya.


Dokter bahkan menyarankan agar Melati selalu ditemani setiap saat. Mengingat bagaimana percobaan pertama Melati yang gagal, tidak menutup kemungkinan bahwa Melati akan mencobanya lagi.


\*\*\*


“Kamu mau makan buah dek?” Tawar Mario. Melati hanya diam, Mario tahu bagaimanapun dia berusaha keras Melati tetap tidak mau bersuara.


Tangan Mario sibuk mengupas buah saat dilihatnya Melati hanya fokus menatap jendela kamar perawatannya. Perlahan Mario menyuapi potongan buah dan Melati menerimanya. Semua perlakuan keluarganya diterima Melati dengan baik. Itu membuat keluarga Melati merasa lega, setidaknya Melati makan dan meminum obat dengan teratur.


“Aku mau sekolah” Ucap Melati pelan. Sangat pelan sampai Mario terdiam beberapa saat. Seminggu sudah Melati mogok bicara dan kini penantian itu berakhir.


“Iya. Setelah kamu sembuh kamu bisa kembali sekolah. Ayah sudah mengurus kepindahan kamu” Ucap Mario senang


“Bukan pindah. Aku mau tetap sekolah disana” Ucap Melati


“Foto itu bukan salah ku. Aku juga gak ikut berunding. Aku tetap mau sekolah disana” Ucap Melati datar


“Tapi dek, ini semua kami lakukan untuk kamu..”


“Bukan untuk aku, tapi untuk kalian. Kalian malu punya anak dan adik yang berbuat menjijikkan seperti aku ini. Kalian tidak ingin nama keluarga tercoreng. Kalian lebih mementingkan harga diri kalian daripada aku. Kalian membuang aku” Kali ini Melati melihat langsung pada Mario. Nafasnya beradu keras, dadanya kembang kempis menahan gejolak emosi. Semua perasaan yang sudah ditahannya selama seminggu. Dirinya sadar akan perlakuan keluarganya, tapi Melati tidak bisa menerimanya lagi. Melati terluka, amat sangat parah.


“Dek, kamu tenang dulu ya. Kamu masih sakit” Mario berusaha menenangkan Melati. Tatapan menuduh yang jelas terlihat di mata Melati membuat Mario merasa sangat sedih.


Tiba-tiba Melati bangun dari tidurnya, duduk tegak di tempat tidurnya. Menatap sejenak pada Mario dan dengan secepat kilat Melati menarik jarum infus yang terpasang ditangan kirinya. Mario terkejut saat melihat apa yang dilakukan Melati. Darah sudah mulai mengalir dari punggung tangan Melati.


“Kalian menanggap aku ini kotor kan? Kalian jijik hanya sekedar melihatku kan? Jadi hentikan semua sandiwara kalian ini. Kalian pikir dengan berpura-pura tidak terjadi apapun akan membuatku melupakan kejadian mengerikan itu?” Teriak Melati. Mario meringis mendengar perkataan adiknya.


Dan itu semua benar. Mario tidak bisa memungkirinya.


“Abang diam, berarti itu semua benar” Ucap Melati. Detik selanjutnya Melati tertawa terbahak-bahak. Mario sampai merasa ngeri mendengar tawa Melati.


“Kalau kalian jijik harusnya kalian biarkan aku mati. Kenapa kalian menyelamatkan aku hah? Kalau aku mati aku tidak akan merasakan sakit ini lagi, aku tidak akan menderita seperti ini lagi. Aku sudah kehilangan semuanya. Sekolahku, teman-temanku, bahkan keluargaku” Ucap Melati pelan. Suara Melati yang begitu tenang membuat bulu kuduk Mario meremang. Mario tidak menyangka adik kesayangannya bisa berbicara mengerikan dengan nuansa tenang begitu.


“Kalian pikir kenapa aku bisa seperti ini? Ini semua karena kalian. Ayah yang selalu ingin nilaiku sempurna, Mama yang selalu ingin aku terlihat cantik dan sopan, dan abang yang selalu berusaha menjauhkan ku dari teman-temanku. Kalian puas?” Mario benar-benar kehilangan kata-kata. Saat ini orangtuanya mungkin masih dalam perjalanan ke rumah sakit. Mereka tadi pulang untuk mengambil keperluan selama di rumah sakit. Mario tidak tahu harus melakukan apa. Dirinya sendirian saat ini.


“Aku membenci diriku sendiri. Aku tidak ingin menjadi baik lagi. Aku tidak ingin selalu menuruti kata-kata siapapun lagi. Aku jijik” Teriak Melati sambil menjambak rambutnya sendiri.


Melihat itu Mario langsung menarik tangan Melati. Mario tidak ingin kejadian Melati mencoba melukai dirinya sendiri terulang lagi.


“Lepas” Teriak Melati. Melati berusaha berontak dan mendorong Mario sampai terjungkal.


Melati meraih pisau yang tadi digunakan Mario untuk mengupas buah. Mengarahkan bagian tajam pisau itu ke arah lehernya.


“Jangan dek” Teriak Mario.


Tangan Melati gemetar hebat memegang pisau itu. Air mata mulai mengalir membasahi pipinya. Melati sungguh membenci dirinya saat ini. Dirinya sungguh merasa kotor dan menjijikkan. Melati tidak sanggup hanya untuk sekedar melihat keluarganya.


Bersamaan dengan tarikan pisau itu pintu terbuka lebar. Menampakkan kejadian saat Melati mengiris kulit lehernya tepat di depan kedua orangtuanya.


Suara teriakan dan jeritan memenuhi ruang perawatan Melati. Dokter dan perawat segera berlari ke ruang perawatan Melati. Memberikan pertolongan pertama pada Melati. Bersyukur karena luka di leher Melati tidak terlalu dalam dan tidak melukai pembuluh darah utamanya.


\*\*\*


“Melati mengidap trauma yang sangat parah. Melihat bagaimana Melati sudah dua kali mencoba melukai dirinya dengan cara yang semakin meningkat. Untuk itu kami sarankan agar Melati mendapat perawatan intensif dengan dokter spesialis kejiwaan”


Mendengar penjelasan dokter itu, baik Ayah, Mama, maupun Mario sadar. Mereka telah merubah Melati menjadi seseorang yang berbeda.