
Teman-teman, dosen, dan mahasiswa yang diajar Melati satu per satu pergi meninggalkan tempat itu. Semua orang yang mengenal Melati begitu syok saat mendengar berita itu. Mereka sangat menyayangkan kepergian Melati dan mengatakan bahwa Melati adalah orang yang baik.
Kunjungan tidak henti-hentinya datang dan berganti. Mereka semua ikut bersedih dalam mengantarkan kepergian Melati. Rara yang menyaksikan itu semakin terbenam dalam penyesalan. Tidak disangka dalam kehidupan Melati yang sunyi terdapat begitu banyak orang dibaliknya. Tapi dari semua orang itu tidak ada satupun yang mengetahui tentang Melati, termasuk dirinya sendiri.
Adnan masih berdiri diam didekat keluarga Melati. Semenjak kedatangan keluarga Melati, Adnan masih bungkam dan tidak menunjukkan ekspresi apapun. Matanya hanya selalu tertuju pada Melati sampai saat ini Melati tidak terlihat lagi olehnya. Pandangannya kosong dan tidak ada air mata yang membasahi.
Hari yang semakin sore membuat Mama Melati akhirnya tergerak. Dipegangnya tangan Adnan dan dibawa pergi menjauh dari tempat itu. Angin sore yang semilir dan juga sinar matahari yang teduh menjadi satu-satunya hal yang tertinggal disana.
\*\*\*
Hari ini tepat seminggu setelah kepergian Melati, Adnan, Rara, dan juga keluarga Melati berkumpul di apartemen milik Melati. Mereka memasuki apartemen itu dengan kunci yang dimiliki Adnan. Keluarga Melati tidak mengatakan apapun soal itu, mereka hanya diam sambil memasuki apartemen.
Ini adalah pertama kalinya mereka datang ke apartemen sejak kepergian Melati. Semuanya masih sama, berdiri di tempatnya masing-masing. Tapi rumah ini sangat bersih, bahkan tidak ada noda atau debu.
Mama Melati berjalan menuju kamar putrinya itu didampingi oleh suami dan juga anaknya, Mario. Adnan dan Rara mengikuti mereka dari belakang. Saat pintu dibuka aroma wangi langsung menyambut mereka. Kamar Melati begitu rapi dan tidak ada kekacauan sama sekali.
Mama Melati berjalan dan meraih sebuah notes di dekat bantal. Buku kecil itu adalah rahasia besar Melati selama ini. Bahkan beberapa hal yang tidak mampu dibagikannya dengan Alan tertulis jelas disana.
Dengan jantung berdegup kencang, Mama Melati mulai membaca satu persatu halaman dalam buku itu. Sesekali terlihat senyuman di wajah tuanya, namun saat mulai pertengahan buku air mata mulai menetes. Dilihatnya Adnan dengan pandangan penuh arti.
Mereka lalu lanjut menyusuri apartemen Melati. Mama Melati membuka lemari es dan mendapati tidak ada apapun disana. Semuanya bersih, tidak ada makanan ataupun minuman. Sepertinya anak perempuannya itu tidak ingin merepotkan siapapun untuk merapikan rumahnya.
Mereka memeriksa semua hal yang ada dalam apartemen itu. Dan tidak menemukan apapun selain semua perabotan dan seisi rumah dalam keadaan bersih. Dan terakhir mereka menuju kamar tamu. Kamar itu yang tidak pernah dimasuki oleh siapapun kecuali Adnan.
Saat membuka pintu, Mario heran karena pintu itu terkunci. Adnan yang menyadari hal itu lalu mengeluarkan kunci dari kantongnya. Adnan membuka pintu itu dan menahan nafas begitu melihat isinya.
Tidak hanya Adnan, tapi juga semua orang yang ada di situ. Mereka tidak pernah menyangka isi kamar itu akan seperti itu. Mama Melati yang pertama kali melangkahkan kakinya masuk ke dalam lalu diikuti dengan yang lainnya.
Sebuah kamar dengan nuansa putih. Lemari besar berada disebelah kiri dan disebelah kanannya ada sebuah kasur untuk satu orang. Di sudut ada lemari kaca kecil yang penuh dengan pakaian mungil beraneka ragam. Di sudut satu lagi ada lemari kayu dengan ukuran sama, lemari itu berisi beraneka ragam mainan baik untuk perempuan dan juga laki-laki. Disudut depan ada perlengkapan mandi dan beberapa kereta dorong. Disampingnya sebuah meja lengkap dengan kursi.
Dan ditengah-tengah semua itu ada sebuah box bayi berukuran sedang. Box berwarna putih dan dilengkapi dengan gantungan mainan dan beberapa boneka. Dan tentu saja kamar itu sangat bersih.
Mama Melati memegang box itu dan mengelusnya. Permukaan halus dari box itu seakan menusuk hatinya. Air mata tidak sanggup lagi dibendung, Mama Melati menangis sejadi-jadinya di kamar itu.
Melihat itu Ayah Melati tidak mampu melakukan apapun. Semua orang dalam ruangan itu sedang berduka dan meneteskan air mata. Kehilangan seseorang yang sangat berharga bagi mereka. Tapi Adnan masih berdiri diam di dekat pintu. Tidak mengatakan apapun dan tidak melakukan apapun. Matanya hanya menatap kosong kamar itu.
Setelah beberapa lama mereka lalu berpindah menuju ruang tengah. Mereka duduk dalam diam tanpa melakukan apapun. Lalu sebuah recorder kecil diletakkan Rara di meja. Semua orang menatap tidak mengerti ke arah recorder itu.
“Dokter Alan adalah dokter yang bertanggung jawab pada Melati selama sebulan terakhir. Semua hal dalam rekaman ini harusnya menjadi rahasia, tapi menurut Dokter Alan akan sangat tidak adil bagi keluarga Melati yang tidak mengetahui apapun. Dokter Alan berpesan agar jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, rekaman ini juga menjadi hadiah terakhir dari Melati” Ucap Rara.
Setelah itu Rara bangkit dan memeluk Mama Melati erat. “Maafkan Rara Tante, harusnya Rara terus bersama Melati.” Mama Melati hanya membalas pelukan itu dengan kepala mengangguk dan diiringi air mata.
Rara berlalu dan pergi dari apartemen itu dengan masih menangis. Sehingga tinggallah Adnan bersama dengan keluarga Melati. Adnan sepertinya masih akan tetap menutup mulutnya. Jadi Mama Melati duduk didekat Adnan dan memberinya buku catatan yang ditemukan di kamar Melati tadi.
Dengan ragu Adnan menerima buku itu. Tangannya gemetar saat buku itu sudah berada dalam genggamannya. Melihat kondisi Adnan yang terus menatap dengan pandangan kosong membuat Mama Melati sesak. Sepertinya Adnan jauh lebih kehilangan dibandingkan dirinya.
Mama Melati lalu memeluk Adnan erat, mengusap punggungnya lembut dan membisikkan kata-kata penghiburan ditelinga Adnan. Setelah beberapa lama, keluarga Melati memutuskan untuk pulang ke rumah mereka.
Sebelum pergi Ayah Melati memeluk Adnan dan mengucapkan rasa terima kasihnya karena sudah menemani Melati sampai saat terakhirnya. Mario juga menepuk pundak Adnan dan berusaha tersenyum padanya.
“Kunci itu kamu saja yang pegang. Mungkin nanti suatu saat kami akan berkunjung, kalau kamu sudah siap saat itu baru kembalikan” Ucap Mario tulus.
Pintu yang tertutup menciptakan keheningan mendalam di apartemen itu. Kini hanya tinggal Adnan sendiri di sana. Adnan berjalan menuju kamar tamu, tempat dimana dia dan Melati banyak menghabiskan waktu. Adnan menyandarkan tubuhnya di tempat tidur dan mulai membaca buku catatan itu.
Hal pertama yang dilihatnya adalah empat harapan yang ingin diwujudkan Melati. Tiga harapan sudah terwujud dan hanya menyisahkan satu tanpa centang pena merah. Adnan mulai membaca halamannya satu per satu.
Wajah tanpa ekspresinya perlahan memudar. Air mata yang sudah seminggu menghilang datang kembali. Adnan menangis tersedu-sedu sambil berteriak memanggil nama Melati. Adnan seolah tidak sanggup menghadapi kenyataan yang datang begitu mendadak. Dalam seminggu terakhir, Adnan akhirnya mengetahui semuanya. Semua teka-teki itu terjawab sudah. Dan jawaban itu membuat Adnan semakin tersiksa.
“Ternyata setiap kebahagiaanku selalu diikuti dengan air mata” Tulisan terakhir Melati dalam catatan itu
\*\*\*
Lima tahun kemudian
“Aku minta maaf, mungkin ini akan menjadi terakhir kalinya aku datang kemari. Aku harap kamu tidak akan kesepian lagi disana. Aku ingin memulai hidupku kembali, tolong maafkan keegoisanku ini. Aku meninggalkan kamu lagi dalam kesendirian dan kedinginan ditempat ini. Tolong bantu aku agar menjadi lebih kuat. Aku mungkin tidak akan bisa mendapatkan pengganti seperti kamu, tapi aku harap aku bisa melanjutkan hidupku. Semoga nanti kita bisa bertemu lagi dalam cuaca yang indah dan dalam waktu yang tepat. Sehingga kita tidak akan menyakiti satu sama lain lagi.”
“Aku sungguh berharap kisah kita nanti akan berakhir bahagia”
Adnan berdiri dan meninggalkan tempat itu dengan langkah pasti. Bunga-bunga kesukaan Melati menghias tempat itu untuk memenuhi janji Adnan.
Dari kejauhan seseorang tersenyum “Aku juga berharap kita akan berakhir bahagia. Suatu hari nanti.”
\*\*\*
Selesai
Terima kasih atas semua dukungannya 🙏
Baca juga cerita baru "Trough the love"