Before 25

Before 25
Bab 13 Trauma (1)



Saat itu adalah masa-masa tenang setelah ujian kenaikan kelas. Seperti biasa kelas selalu ramai dengan tingkah-tingkah khas anak sekolah menengah atas. Ada yang sibuk bermain game, ada yang sibuk berlari kesana-kemari, ada yang sibuk berselfie ria, dan ada pula yang sibuk bergosip.


Suasana kelas yang begitu ramai tampaknya tidak mempengaruhi seorang gadis yang sibuk dengan buku. Sebuah buku pelajaran mengenai jenis-jenis fauna dan pengelompokkannya. Sibuk dengan buku yang dibaca membuat Melati tidak menyadari seorang teman kelasnya melempar sebuah kertas ke meja Melati.


“Cie.. yang dapat surat cinta lagi” Goda Ignes, teman sebangku Melati


“Apaan sih” Ucap Melati tidak suka menatap kertas berwarna putih yang sudah digulung tak berbentuk itu. “Siapa lagi ini yang kurang kerjaan” Melati meraih kertas itu dan membacanya


“Temui aku di dekat lab nanti jam tiga, aku punya kejutan yang sangat spesial untuk kamu” Isi tulisan itu


“Temani aku nanti ke lab ya” Ucap Melati pada Ignes


“Aku gak bisa. Kamu lupa kalau hari ini aku bakal pulang cepat karena mau temani mama belanja” Ucap Ignes


“Terus aku sama siapa dong?” Tanya Melati


“Udah gak usah pergi kenapa. Kamu itu terlalu baik sama cowok-cowok itu. Lihatkan mereka sekarang jadi melunjak” Omel Ignes


“Tapi kan kasihan” Mata Melati melebar imut untuk membujuk Ignes


“Aku tetap gak bisa, aku udah janji sama mama” Putus Ignes


“Iya deh” Ucap Melati pelan


“Iya apaan? Ingat jangan sampai kamu pergi ke sana. Bang Mario jemput kamu jam berapa?” Tanya Ignes


“Jam 3” Jawab Melati


“Udah kamu tunggu di perpustakaan aja sampai Bang Mario datang. Jangan pergi ke sana” Ucap Ignes


Melati terbiasa menuruti setiap perkataan orang-orang disekitarnya. Terutama saat ada teman cowok yang meminta untuk bertemu secara sembunyi-sembunyi. Biasanya mereka hanya akan memberi coklat, bunga, surat, atau mengungkapkan perasaan pada Melati.


Semua itu hanya bisa dilakukan secara sembunyi karena mereka tahu Melati mempunyai Mario. Abang yang sangat overprotektif dan menyeramkan. Mario sudah berkali-kali memperingatkan setiap cowok yang dekat dengan Melati. Saat kata-kata peringatan dirasa kurang, Mario akan berbuat lebih nekat dengan menghadang saat cowok itu pulang sekolah, mengucapkan kata-kata kasar, bahkan sampai ancaman.


Hal itu membuat tidak ada cowok yang mau mendekati Melati. Hanya beberapa cowok nekat yang berani mengajak Melati bertemu secara diam-diam seperti ini. Alasan yang membuat Melati mau menemui mereka adalah karena perasaan bersalah. Melihat bagaimana abangnya tanpa sungkan mengeluarkan sumpah serapah terhadap cowok-cowok itu di depan Melati langsung.


Melati tidak ingin dijauhi teman-temannya. Melati ingin tetap bisa menghabiskan waktu untuk belajar kelompok atau sekedar berkumpul bersama setelah pulang sekolah. Dengan sifat abangnya yang keras kepala itu, aktivitas Melati bersama teman-temannya mulai berkurang.


Bahkan saat ini abangnya selalu mengantar jemput Melati ke sekolah. Hasilnya Melati harus menunggu lama saat abangnya masih memiliki bayak urusan di luar sana.


\*\*\*


Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore saat Melati keluar dari ruang perpustakaan. Sekilas Melati melihat ke arah laboratorium di ujung koridor. Perasaan bersalah kembali menggelayuti hati Melati. Melati tidak tahu siapa pengirim pesan itu jadi Melati juga tidak tahu bagaimana cara memberitahu kalau Melati tidak bisa datang. Melati takut kalau orang itu akan terus menunggu.


Melati sudah hampir sampai dengan ruang kelasnya saat Melati kembali memutar arah, berjalan menuju ruang laboratorium. Biarlah abangnya menunggu sedikit lama, asalkan Melati tidak dipenuhi rasa bersalah saat pulang nanti.


Melati hanya akan mengatakan kalau dia tidak bisa berbicara dengan ‘siapapun pengirim pesan’ itu karena abangnya sudah menjemput dan langsung pergi dari tempat itu. Hanya itu, tegas Melati dalam hati.


Ruang laboratorium yang terletak di ujung koridor membuat tepat itu sangat sepi saat sekolah sudah bubar. Beruntungnya tidak ada kisah menakutkan yang pernah didengar Melati tentang laboratoriumnya ini. Dengan langkah pasti Melati berjalan ke ruang laboratorium.


Sejenak Melati ragu saat akan membuka pintu laboratorium. Selama ini Melati selalu ditemani Ignes atau Nella untuk menemui cowok-cowok nekat itu. Tapi sekarang dirinya berdiri sendiri. Ignes sudah pulang sejak jam 11 tadi, sedangkan Nella ijin tidak masuk karena pergi ke acara pernikahan sepupunya.


Melati menggosokkan tangannya yang basah oleh keringat ke rok. Setelah merasa semua akan baik-baik saja Melati membuka pintu ruangan itu.


\*\*\*


Hal pertama yang dilihat Melati adalah kekosongan. Tidak ada apapun dan siapapun di sana. Ruangan laboratorium memiliki ruangan kosong tepat di pintu masuk. Untuk mencapai ruang lab Melati harus masuk lebih ke dalam.


Suasana hening sempat membuat Melati ragu untuk masuk. Tapi mengingat sebelumnya tidak pernah ada cowok yang bersikap aneh atau kurang ajar padanya Melati pun memutuskan untuk masuk.


“Hai… ada orang.” Ucap Melati. Tidak ada sahutan.


“Ini aku Melati. Tadi kamu kirim pesan untuk ketemu di sini” Ucap Melati lagi sambil masuk ke ruang lab lebih dalam. Melati berdiri diam karena tidak mendengar jawaban apapun.


“Mungkin dia gak jadi datang” Gumam Melati dan berbalik untuk keluar.


Saat dirinya hendak berbalik seseorang yang entah darimana mendorong tubuh Melati sampai Melati jatuh tersungkur di lantai. Melati terkejut bukan main, seketika dia menyesali keputusan sudah datang ke tempat itu.


Sambil berusaha berdiri Melati melihat orang yang tadi mendorongnya. Ternyata bukan hanya satu orang, ada tiga orang lainnya yang berada di ruangan itu selain Melati. Melati menelan ludah kasar, rasa takut langsung menjalar di seluruh tubuhnya. Alarm di otaknya menyuruh Melati untuk meninggalkan tempat itu, berlari kencang untuk menemui abangnya yang mungkin sudah menunggu di pintu gerbang. Tapi saat hendak melangkah Melati merasa perih pada kedua lututnya.


Melirik ke bawah Melati mendapati kedua lututnya terluka. Lutut kanannya menunjukkan bekas goresan yang parah dan lutut satunya lebih mengerikan karena sudah mengeluarkan darah. Melati mencoba menahan sakit dan perih, melangkah perlahan ke pintu keluar. Tapi sebuah tarikan di rambut membuat Melati memekik kuat.


“Mau kemana hah?” Ucap seorang gadis


“Jadi ini yang katanya cewek pujaan itu. Cantik darimana, kampungan gini” Ucap gadis lainnya sambil menarik dagu Melati kuat. Air mata langsung mengalir deras dari sudut mata Melati.


Tiga gadis ini adalah kakak kelasnya. Mereka terkenal sangat jahat pada junior, dan bukan tidak mungkin mereka juga akan menyakiti Melati.


“Malah nangis lagi. Kamu itu belum diapa-apain. Tunggu sebentar ya, setelah ini kamu bisa nangis sepuasnya.” Dan suara tarikan keras membuat bola mata Melati membulat lebar.


Salah satu gadis itu menarik kasar seragam sekolahnya. Membuat semua kancing seragam sekolah Melati terlempar berserakan dan juga sobekan pada seragamnya. Wajah Melati memucat begitu melihat bagian depan seragamnya terbuka dan memperlihatkan baju dalamnya. Meskipun memakai kaus tanpa lengan tetap saja hal itu menunjukkan bentuk sempurna tubuh Melati.


“Lepaskan Melati Kak” Tangis Melati


“Sabar ya sayang, kita pose dulu” Ucap seorang gadis sambil memfoto Melati. Melati menundukkan kepalanya malu saat gadis itu terus saja mengambil gambar dirinya dengan handphone.


“Selesai. Sekarang kamu bebas” Ucap gadis-gadis itu dan kembali mendorong Melati ke lantai


“Kamu harus baik-baik jadi orang. Jangan terlalu sok kecantikan dan murahan begitu dengan meladeni semua cowok. Kan sekarang kamu jadi beneran murahan di mata semua orang” Ucap salah satu gadis.


Melati hanya terus menangis. Salahnya. Semua adalah kesalahannya. Harusnya dia mendengar kata-kata Ignes untuk tidak datang kesitu. Harusnya dia langsung pulang menemui abangnya. Harusnya dia tidak perlu merasa bersalah pada semua laki-laki itu. Semua salahnya.


\*\*\*


Pintu yang terbuka membuat Melati mendongakkan kepalanya. Abangnya berdiri disana, terdiam menatap kosong ke arah Melati.