
Hujan turun dengan deras membasahi semua yang ada di bawahnya. Tanah yang semula kering perlahan basah dan mengeluarkan aroma tanah khas hujan yang sangat ku sukai.
Aku menengadahkan kepalaku menatap ke langit biru dan sinar mentari yang tak kalah terangnya. Seolah beradu dengan derasnya air hujan, berlomba siapa yang akan memenangkan cuaca hari itu.
Air hujan yang semula bening kini bercampur dengan cairan kental berwarna merah yang mengalir deras entah darimana. Kupejamkan mataku berusaha tersenyum menyadari bahwa semua ketakutanku selama ini memang benar adanya.
Suara-suara jeritan memekakan telingaku dengan masih diiringi dengan derasnya suara hujan. Perlahan kubuka kembali mataku menatap langit yang entah sejak kapan menjadi kelabu membuatku mengerti bahwa inilah saatnya.
Perkenalkan Melati, usia 21 tahun. Saat ini Melati sedang disibukkan dengan hal yang menurut sebagian besar orang tidak penting lagi saat ini. Ya… kuliah.
Di tengah kemajuan jaman yang semakin canggih dimana sebagian besar orang membuat video atau konten yang menurut mereka seru dan menghasilkan uang yang tidak sedikit jumlahnya, aku disini duduk termangu menatap dosen yang sedang menjelaskan mata kuliah.
“Mel” panggil Rara. Tapi yang dipanggil tampaknya masih tetap fokus menatap ke depan. Rara tau sahabatnya satu ini memulai kebiasaan anehnya lagi.
“Mel…” kali ini Rara lebih menekankan nama gadis itu. Merasa masih tidak ada respon Rara kemudian duduk di salah satu bangku kosong di depan meja Melati. “Mel, ayo keluar” ucap Rara sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Melati. Melati yang terkejut pun memandang aneh Rara dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran bangku.
“Sejak kapan kuliahnya selesai?” Tanya Melati sambil menutup mata dan menghela napas panjang.
“Udah 5 menitan, melamun lagi hah?” Tanya Rara menatap Melati yang masih santai menyandarkan tubuhnya sambil menutup mata. Kebiasaan aneh Melati sudah Rara rasakan sejak setahun yang lalu. Melati memang bukan anak yang banyak bicara, gadis gaul yang suka nongkrong, belanja, atau tebar pesona pada lawan jenis. Tapi Rara tau Melati juga bukan orang yang rajin melamun seperti sekarang ini.
“Ayo keluar, aku mau pulang” Melati kemudian membereskan buku-buku yang ada di meja dan memasukkannya ke dalam tas. Menatap sebentar ke arah Rara yang masih duduk sambil menatapnya diam. Merasa menyerah dengan tatapan menusuk yang dilayangkan Rara, Melati menghela napas kasar lalu duduk kembali di bangkunya.
“Jelasin mel” ucap Rara datar
“Gak ada yang perlu dijelaskan, aku baik-baik aja” jawab Melati
“Kamu gak baik-baik aja, udah setahun ini kamu aneh. Melamun itu wajar tapi gak setiap saat kayak kamu sekarang ini Mel. Cerita sama aku” ucap Rara memaksa. Di pandangnya Melati yang hanya duduk diam, semenit berlalu dan hasilnya nihil.
“Aku duluan ya” Melati lalu berdiri dan mulai melangkah meninggalkan Rara yang masih duduk termangu. Melihat Melati yang mulai menjauh Rara akhirnya pasrah dan memutuskan untuk menyusul Melati.
Mereka berjalan bersama di lorong kampus. Hening. Hanya suara langkah kaki dan suara celotehan tidak jelas dari orang-orang yang mereka lewati.
Rara menatap Melati yang hanya fokus melihat ke depan tanpa peduli bahwa sedari tadi Rara terus menatapnya tajam. Orang lain akan berpikir kalau mereka baru saja terlibat pertengkaran besar dari cara menatap Rara.
“Jadi, kenapa?” Tanya Rara
“Aku boleh ikut gak?” Tanya Melati ragu dan menghadap ke Rara. Seketika langkah mereka berdua terhenti. Kernyitan tampak jelas di kening Rara yang membuat Melati berpikir bahwa dia akan langsung di tolak. Tapi jawaban Rara selanjutnya membuatnya lega.
“Besok aku jemput jam 7 malam” jawab Rara singkat, Rara tidak akan bertanya kenapa. Dia malah sedikit senang karena Melati mau ikut. Biasanya dia selalu menolak kalau diajak berkumpul bersama teman-teman yang lain, jangankan untuk berkumpul nongkrong layaknya anak muda jaman sekarang.
Melati bahkan rela mengerjakan hampir 80% tugas kuliah agar bisa meloloskan diri dari kegiatan kumpul bersama itu. Setelah mendapat anggukan dari Melati, Rara kemudian berjalan menuju parkiran mobil. “Mau nebeng gak?” tawar Rara
“Gak usah, aku jalan aja” setelah melambaikan tangan tanda perpisahan Melati lanjut berjalan ke kost nya yang dekat dari area kampus. Jarak kampus ke kost nya hanya sepuluh menit berjalan kaki. Untuk cuaca yang tidak panas dan juga tidak mendung seperti ini berjalan kaki memang pilihan yang bagus.
Melati memang tidak sekaya Rara, tapi setidaknya untuk memiliki motor keluarga Melati masih sanggup. Dan alasan satu-satunya Melati menolak dibelikan motor adalah karena dia tidak bisa mengendarainya. Cukup memalukan memang tapi Melati pun cukup cuek dengan pandangan dan kata-kata orang lain yang mengejeknya.
Sampai di kost Melati langsung meletakkan tas nya sembarangan dan merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk lalu memejamkan mata. Kejadian itu terus berputar dikepalanya layaknya film yang sudah berpuluh kali ditonton. Dan suara itu, suara yang meneduhkan tapi entah karna apa terus *** dadanya dan selalu terngiang ditelinganya.
Melati menghela nafas kasar dan berbalik memiringkan badannya. Matanya menatap langsung ke salah satu foto yang dibingkai di atas meja belajar. Satu-satunya foto milik dirinya sendiri dengan senyuman manis yang dicetak ukuran sedang. Berfoto bukanlah kesukaan bagi Melati jadi foto itu juga bukan ide miliknya. Itu adalah hadiah ulang tahun ke 20 yang diberikan Rara. Rara beralasan bahwa Melati harus sering-sering menatap wajah cantiknya itu sehingga bisa lebih pede untuk sekedar berkumpul bersama teman-teman yang lain. Dan mungkin saja mendapat bonus dapat pacar ganteng. Garis senyuman membentang di wajah Melati mengingat celotehan sahabatnya itu.
Melati kembali meluruskan tidurnya dan memandang langit-langit kamar. Membayangkan kembali kejadian itu, mencoba mencari arti dari semua kegelisahannya selama setahun belakangan ini. Tapi tetap saja jawabannya buntu. Tidak ada pencerahan sama sekali.
“Kalau memang kejadian itu nyata kenapa? Kenapa harus padaku, memangnya aku pernah buat salah apa?” gumam Melati ke langit-langit kamarnya.
“Apa mungkin hal seperti itu bisa jadi kenyataan? Apa yang harus ku lakukan untuk menghentikannya? Apa aku mampu menghentikannya? Tapi itu hanya mimpi. Bunga tidur. Semua orang bisa mengalaminya, bukan hanya aku seorang. Ya itu hanya mimpi. Mimpi.” Ucap Melati masih fokus menatap ke atas. Semenit, dua menit, tiga menit
“Arghhhh” ucap Melati frustasi sambil *** rambutnya. Dia lalu duduk di atas kasur dan menyandarkan tubuhnya. “Meskipun itu mimpi tapi semua terasa nyata, bahkan aroma tanah khas hujan itu. Apa yang harus ku lakukan?” Helaan nafas kembali terdengar di kamar yang sunyi itu.
“Baiklah, mungkin mimpi itu untuk menegurku yang selama ini selalu menjauhi teman-temanku. Mungkin sekarang ini aku harus mulai berkumpul bersama mereka, memulai pertemanan dengan anak-anak kampus yang lain.” Melati lalu bangkit dari kasur dan meraih buku notes kecil di meja belajarnya. Duduk tegak di kursi dan mulai mencoret-coret notes nya.
Beberapa menit berlalu dan Melati tersenyum bangga dengan hasil karyanya itu. Menatap kembali ke buku kecil dan membacanya satu persatu membuat Melati geli sendiri dengan apa yang dituliskannya disitu. Hanya ada empat kalimat tersusun rapi dan coretan gambar tidak penting yang ada disitu tapi bisa membuat pipi Melati merona merah saat membaca kalimat terakhir. Mendapatkan pacar ganteng.
“Aku benar-benar sudah gila”