
Hari ini adalah hari yang sangat di tunggu-tunggu Melati selama empat tahun terakhir. Berdiri di hadapan dosen penguji untuk mempresentasikan ilmu yang sudah di dapatnya selama kuliah. Suasana sedikit menegangkan tapi tetap saja Melati dapat melewatinya dengan baik. Semua usaha dan keringatnya membuahkan hasil yang sangat memuaskan.
Tepat 3 tahun 9 bulan Melati menyelesaikan perkuliahannya dan mendapat gelar cumlaude. Rasa bahagia sungguh memenuhi diri Melati, terutama saat Adnan selalu berada di sampingnya. Menemani setiap langkah sulit yang di lewati Melati.
Dari begitu banyak kebahagiaan, Melati menyadari suatu hal. Rara tidak hadir di sana. Sekeping kecil dari bagian hidup Melati sungguh tidak hadir di hari bahagianya. Harusnya hari ini menjadi hari yang sempurna bagi Melati. Tapi apa daya Melati juga berperan dalam hancurnya hubungan persahabatan mereka.
“Aku udah pesan tempat untuk kita malam ini” Bisik Adnan pelan di telinga Melati. Melati saat ini masih sibuk berfoto dengan teman-teman kelasnya yang datang melihat presentasi Melati tadi. Wajah Melati perlahan berubah menjadi merah mendengar ucapan Adnan.
“Jangan ngomong sembarang” Tegur Melati yang membuat Adnan malah tertawa. Sikap malu-malu Melati menjadi sebuah poin penting bagi Adnan. Padahal ini bukan pertama kalinya baginya mereka. Saat Adnan selesai sidang bulan lalu mereka juga pergi ke tempat itu.
“Setelah pulang dari sini kita akan langsung ke kost mengambil barang-barang kamu dan pergi ke sana. Malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang sayang” Bisik Adnan lagi.
Dan benar saja, Adnan bahkan hanya memberi Melati waktu lima belas menit untuk bersiap-siap. Dengan terburu-buru Melati menyiapkan barang-barang yang diperlukannya untuk menghabiskan malam dengan Adnan. Melati bahkan tersenyum malu saat menyusun satu set pakaian yang akan dikenakannya nanti.
“Kita mampir sebentar ya” Ucap Adnan di sela perjalanan mereka
“Kemana?” Tanya Melati
“Beli pengaman” Jawab Adnan polos
“Gak usah, kemarin kan kamu gak pakai itu juga” Ucap Melati
“Kamu yakin?” Tanya Adnan ragu
“Tentu aja” Ucap Melati penuh makna
\*\*\*
Pagi ini mereka bangun lebih cepat. Atau bisa dikatakan mereka berdua bahkan tidak memiliki waktu untuk tidur. Mereka melewati sepanjang sore sampai pagi tadi dengan penuh semangat. Bahkan ini baru 2 jam sejak mereka tertidur tadi.
“Pagi adalah saat aku paling semangat sayang” Ucap Adnan sensual saat mengangkat tubuh Melati ke kamar mandi. Pergulatan mereka di dalam sana seolah mengatakan bahwa itu yang pertama kali.
Setelah hampir 2 jam mereka baru keluar dari kamar mandi. Rambut basah dan wajah segar dari keduanya sedikit menghilangkan raut lelah. Dengan santai mereka memakai pakaian tanpa ada rasa malu sedikitpun.
“Aku ingin menikah” Ucap Melati. Adnan yang setia memeluk tubuhnya sedikit terkejut dengan pernyataan Melati.
“Kita akan menikah sayang, secepatnya” Ucap Adnan sambil mengecup puncak kepala Melati
“Aku ingin segera setelah kita wisuda” Ucap Melati lagi
“Kita harus mendapat pekerjaan dulu ya kan? Aku janji gak akan lama, kamu sabar ya” Bujuk Adnan lagi
“Kita bisa cari pekerjaan setelah menikah nanti, lagipula bulan depan aku akan mulai bekerja di kampus.” Melati masih tetap teguh pada pendiriannya.
“Tapi menikah itu butuh modal yang besar sayang, setelah menikah kita juga butuh banyak biaya. Untuk rumah, untuk makan, untuk keperluan kita sehari-hari” Ucap Adnan memberi penjelasan
“Tapi aku ingin segera menikah dan punya anak” Ucap Melati sedih
“Aku janji gak akan lama, kamu sabar ya” Bujuk Adnan
“Atau gimana kalau aku hamil dulu aja?” Adnan langsung melepas pelukannya dan duduk tegap di atas ranjang
“Hilangkan segala pikiran seperti itu, aku gak mau punya anak sebelum menikahi kamu secara sah.” Ucap Adnan tegas
“Kamu jangan melakukan yang aneh-aneh. Tunggu sampai kita resmi menikah” Balas Adnan tak kalah keras. Air mata langsung membanjiri wajah Melati, ini pertama kalinya Adnan membentaknya.
“Maaf sayang” Ucap Adnan meraih tubuh Melati ke dalam pelukannya. “Ini semua demi kebaikan kita berdua, kalau kamu sampai hamil sebelum menikah kamu akan malu” Ucap Adnan pelan
Lama Adnan memeluk Melati dan menenangkannya sampai akhirnya tangis itu berhenti.
“Aku ingin itu lagi” Ucap Melati pelan
“Apa?” Tanya Adnan yang tidak bisa mendengar dengan jelas perkataan Melati
“Aku mau lagi” ucap Melati penuh arti. Senyum langsung mengembang di wajah Adnan dan selanjutnya hanya ada suara indah dari mereka berdua.
“Semakin sering dan semakin banyak aku melakukannya dengan Adnan, maka semakin besear juga kemungkinan itu terjadi” Batin Melati
\*\*\*
Suasana haru dan kegembiraan menyelimuti upacara yang sedang berlangsung. Ratusan mahasiswa yang berhasil menyelesaikan tugas akhirnya berkumpul bersama dan merayakan hari bahagia itu. Tidak terkecuali Adnan dan juga Melati.
Awalnya Adnan tidak berencana untuk menyapa orangtua Melati secara langsung. Adnan masih belum siap, banyak hal yang masih kurang dalam dirinya untuk bisa bertatap muka dengan kedua orangtua Melati. Tapi hal yang terjadi selanjutnya malah di luar dugaan Adnan, Melati dengan semangat mengajak kedua orangtua dan juga abangnya untuk menghampiri Adnan.
“Ma kenalin ini Adnan” Ucap Melati dengan senyum bahagia
“Ini yang namanya Adnan. Tante udah lama pengen ketemu langsung loh, gak nyangka ganteng banget gini, dapat nilai tertinggi pula” Puji mama Melati
Mereka sibuk bercanda dan berbagi cerita. Sebuah hal yang tidak terduga bagi Adnan bagaimana kedua orangtuanya juga menyukai Melati. Padahal selama ini mereka selalu mewanti-wanti Adnan untuk tidak berpacaran dulu dan fokus untuk mencari pekerjaan. Tidak disangka mereka menerima Melati dengan tangan terbuka.
“Mel” Ucap sebuah suara. Dan disana dengan anggunnya Rara berdiri bersama dengan kedua orangtuanya. Meskipun sudah bercerai ternyata papa Rara masih menyempatkan datang bersama mantan istrinya untuk melihat kelulusan putri mereka satu-satunya.
Dengan sigap Melati menyalami dan memeluk orangtua Rara bergantian. Rasa canggung itu masih ada tapi mereka berusaha menahannya. Melihat interaksi keluarga Adnan dan juga Melati yang tampak baik membuat Rara turut bahagia. Melati sepertinya telah menemukan seseorang yang tepat.
“Besok aku ikut papa, aku mau lanjut kuliah di sana” Ucap Rara. Fakta yang mengejutkan bagi Melati, bagaimana selama ini Rara berniat untuk menikmati masa mudanya tanpa memikirkan urusan lain.
“Ternyata bukan aku saja yang berubah” Batin Melati
“Semoga lancar ya” Ucap Melati dan di balas dengan senyuman tulus Rara
\*\*\*
Dan begitu saja semuanya berakhir. Sudah lebih setengah tahun sejak mereka terakhir bertemu dan semuanya seperti berlalu begitu saja. Tidak ada yang berniat memberi atau menanyakan kabar satu sama lain. Mereka menutup diri, berusaha tidak peduli, dan menenggelamkan diri dengan kesibukan masing-masing.
Sudah setengah tahun lebih juga Melati bekerja sebagai asisten dosen. Pekerjaan yang menumpuk tidak menutup kemungkinan bagi Adnan dan juga Melati untuk menghabiskan waktu bersama.
Setelah bekerja Melati bahkan pindah ke sebuah apartemen yang lumayan besar di tengah kota. Meskipun pindah ke tempat baru Melati merasakan kenyaman di sana. Terlebih lagi Adnan bisa datang dan menginap sesuka hati. Sehingga hampir tidak pernah ada malam yang dingin bagi Melati.
Adnan saat ini magang di sebuah perusahaan terkenal. Jika bisa menyelesaikan magangnya dengan baik, Adnan akan diterima menjadi salah satu karyawan di perusahaan itu. Dengan begitu Adnan mulai bisa menabung untuk masa depannya dengan Melati nanti.
Sudah banyak perencanaan yang dirancang oleh Adnan. Jika tidak ada halangan mereka akan menikah tahun depan dan untuk sementara tinggal di apartemen milik Melati. Karena apartemen Melati sedikit lebih besar dibandingkan milik Adnan. Mereka bisa menabung bersama untuk membeli rumah yang lebih besar dan mengasuh anak-anak mereka nanti di sana. Di rumah yang di penuhi dengan cinta.
Tapi sikap Melati belakangan ini sungguh membuat Adnan kewalahan. Melati selalu merengek minta menikah dan juga ingin punya anak. Adnan bahkan sering kehabisan kesabaran menghadapi tingkah baru Melati ini. Tidak jarang perdebatan mereka sampai berakhir dengan perkelahian panjang.
Adnan juga ingin segera secara resmi memiliki Melati