
Kekesalan sudah memuncak dalam diri Adnan. Seminggu terakhir ini tidak ada pembahasan selain pernikahan dan ingin memiliki anak yang keluar dari mulut Melati. Melati seolah mendesak agar mereka bisa menikah sebelum hari ulang tahunnya. Bahkan Melati memaksa Adnan hanya untuk sekedar mendaftarkan pernikahan mereka.
Kesabaran Adnan bahkan sudah melewati batasnya saat tahu bahwa selama ini Melati menjebaknya. Melati selalu berkata aman saat mereka melakukan hal itu. Tapi ternyata secara tidak sengaja Adnan membaca notes kecil yang di simpan Melati di tumpukan baju. Disana jelas tertera bahwa setiap kali mereka melakukan itu merupakan saat yang sangat baik untuk kondisi Melati. Kondisi yang memungkinkan bagi Melati untuk segera memiliki anak.
Adnan merasa sungguh frustasi berada di dekat Melati saat ini. Melati seakan terobsesi dengan Adnan, ingin menjadikan Adnan seperti yang Melati mau. Tidak pernah memikirkan perasaan Adnan bahkan selalu mengambil kesimpulan sendiri.
Untuk itu Adnan berencana menata kembali hati dan perasaannya. Jika mereka ditempatkan dalam kondisi seperti ini terus, Adnan bisa membenci perasaannya pada Melati. Semua hal harus jelas bagi mereka berdua, jika mereka ingin hubungan ini berlanjut ke tahap selanjutnya.
Dan sejujurnya Adnan juga belum siap untuk memiliki anak. Membayangkan seorang anak kecil ada di tengah-tengahnya dan Melati membawa bayangan yang tidak terdefinisikan bagi Adnan. Saat ini Adnan hanya ingin menikmati kebersamaannya dengan Melati.
Kebetulan di kantor tempatnya bekerja sedang ada program magang ke luar kota selama setahun. Itu merupakan waktu yang sangat cukup untuk menata kembali pikiran Adnan. Berada jauh dari Melati untuk sementara waktu akan membantu Adnan mencari kembali alasannya untuk bisa bertahan dengan Melati.
\*\*\*
“Tumben kamu pulang cepat hari ini?” Tanya Melati yang melihat Adnan sudah sampai di apartemennya bahkan saat matahari belum terbenam.
“Hadiah untuk kamu” Adnan menyodorkan sebuah paper bag ke arah Melati
“Aku gak butuh hadiah asal kamu tahu” Adnan menghela nafas berat saat Melati sepertinya akan memulai kembali perdebatan mereka
“Aku capek Mel, tolonglah. Kita selalu bahas ini dan keputusan aku juga masih sama. Tolong sabar hanya untuk setahun ini” Ucap Adnan memelas
“Itu akan sangat terlambat” Gumam Melati pelan
“Kamu tahu kan kondisi aku sekarang di kantor gimana. Aku lagi berusaha untuk bisa menjadi karyawan tetap, itu semua untuk kamu dan masa depan kita” Lanjut Adnan lagi
“Aku udah dengar itu ratusan kali” Ucap Melati datar
“Lalu menurut kamu berapa ribu kali aku mendengar rengekan kamu soal menikah dan memiliki anak? Kenapa kamu sampai terobsesi seperti itu?” Bentak Adnan
“Aku terobsesi?” Melati balik bertanya dengan menatap tajam Adnan
“Terus kamu mau menyimpulkan apa soal sikap kamu belakangan ini? Setiap menit kamu selalu membahas soal menikah, soal punya anak. Kamu pikir aku gak punya pikiran untuk itu? Aku punya tapi bukan sekarang. Kita masih sangat muda, persiapan kita juga belum matang” Teriak Adnan frustasi. Adnan melihat Melati hanya duduk diam sambil menatapnya kosong, seolah menutup mata dan telinga dengan teriakan frustasi Adnan barusan.
“Kenapa kamu cuma diam aja? Bukannya sekarang waktu yang tepat untuk kamu marah, meneriaki aku lalu menangis?” Ucap Adnan sarkastik
“Apa permintaan ku begitu sulit untuk kamu? Apa itu semua membebani kamu?” Tanya Melati dengan pandangan kosong. Adnan menghela nafas kasar mendapat pertanyaan seperti itu dari Melati. Alangkah lebih baik kalau Melati berteriak memakinya daripada melontarkan pertanyaan yang jelas-jelas dia sudah tahu jawabannya.
“Apa kamu bahkan pernah mencintai aku?” Tanya Adnan akhirnya
“Aku selalu nyaman berada di dekat kamu, kamu adalah alasan aku bisa sampai sejauh ini. Kamu adalah satu-satunya alasan aku masih ada disini saat ini. Apakah itu cukup untuk menunjukkan bahwa aku mencintaimu?” Melati balik bertanya
Dengan kasar Adnan membuka lemari dan menarik salah satu koper di sudut lemari. Adnan mengemas seluruh barang-barangnya yang ada di apartemen milik Melati. Berada di sebuah ruangan dengan orang yang sama sekali tidak pernah mencintainya hanya membuat Adnan semakin sesak.
Tanpa suara Melati mengamati semua hal yang dilakukan Adnan. Melati tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Tadi saat melihat Adnan, Melati bisa merasakannya. Penderitaan dan beban berat terpancar jelas di bola mata Adnan. Adnan seakan tersiksa berada di dekat Melati.
Setelah selesai menyusun semua barang-barangnya, Adnan kembali menghampiri Melati yang duduk di ruang tengah. Tatapan Melati tampak begitu kosong, ini pertama kalinya Adnan melihat tatapan seperti itu. Sesedih apapun Melati, dia tidak pernah menunjukkan sisi gelap seperti ini pada Adnan. Sekeliling ruangan seakan berubah gelap mengikuti aura yang keluar dari tubuh Melati.
“Lusa aku akan berangkat ke luar kota untuk perjalanan bisnis. Kita mungkin akan terpisah sebentar, aku harap saat aku kembali nanti kamu masih sabar menunggu aku. Meskipun kamu tidak pernah mencintaiku tapi hargailah aku yang selama ini mencintai kamu” Ucap Adnan dingin
“Bolehkah aku memelukmu?” Pinta Melati masih dengan tatapan kosongnya. Bibirnya mengurai senyuman manis tapi kenapa mata itu selalu menampakkan kekosongan.
Melati bangkit berdiri dan berjalan perlahan ke arah Adnan. Sebuah pelukan hangat yang sudah lama tidak di rasakan oleh Adnan. Hatinya seakan tercekik begitu kuat, meremasnya sampai sesak tak tertahankan. Ada apa dengan pujaan hatinya ini. Apa yang salah dengan orang yang sangat dicintainya ini.
Air mata tanpa terasa mengalir membasahi wajah Adnan. Ini pertama kalinya Adnan menangis setelah beranjak dewasa. Masalah seberat apapun biasanya tidak akan membuatnya menjadi lemah seperti ini. Tapi sebuah perpisahan dengan satu-satunya wanita paling berharga dalam hidupnya membuat Adnan terlihat bagai pecundang.
“Bisakah nanti saat kamu datang untuk selalu membawakan bunga kesukaanku? Aku ingin rumahku selalu harum dan indah dengan bunga yang kamu bawakan” Pinta Melati. Adnan hanya mengangguk dan memeluk erat Melati ke dalam dekapannya.
Setelah melepas pelukannya, Melati langsung membalikkan badannya. Tidak ingin melihat bagaimana pria itu pergi meninggalkannya saat ini. Saat dimana dirinya sendiri membutuhkan begitu banyak pertolongan. Mulutnya kelu bahkan untuk mengucapkan selamat tinggal.
Suara pintu tertutup akhirnya meruntuhkan pertahanan Melati. Tubuhnya merosot begitu saja ke lantai. Dan sepanjang malam itu hanya suara tangis yang terdengar di dalam kamar sepi itu.
\*\*\*
Hari ini tepat setahun setelah Adnan pergi meninggalkannya. Suasana kamar yang biasanya selalu cerah kini berubah gelap. Melati seolah menutup diri dari dunia luar. Menikmati waktu-waktu sepinya dengan ditemani sinar redup dari dalam ruangan sepi ini.
Wajah putihnya tampak semakin mengerikan karena tidak ada rona merah dan mata yang sayu karena selalu begadang. Malam-malam selalu dilewati dengan menatap kosong ke luar jendela. Berharap waktu akan berdamai dengannya dan memberinya kabar baik. Tapi semua ini tentu saja adalah mimpi buruk yang tidak akan pernah melepas jeratannya.
Dari awal Melati sudah terjebak dalam lingkaran mimpi-mimpi buruk itu. Sekeras apapun Melati berusaha mengubah hidupnya, mimpi buruk itu selalu dengan tenang mengikutinya dari belakang. Memberinya sebuah harapan yang begitu besar dan mengambilnya kembali secara paksa.
Kembali menatap matahari tenggelam, Melati mengucapkan permohonannya dalam nada tanpa suara. Berharap setidaknya dirinya bisa terlepas dari belenggu mimpi-mimpi itu.
\*\*\*
Pagi yang kembali hadir menyadarkan Melati akan sebuah fakta yang mengejutkan. Hari ini adalah ulang tahunnya yang ke 23 tahun. Dengan langkah gontai Melati membuka tirai yang menutup sumber cahaya di kamarnya.
Pemandangan indah terpampang jelas di hadapannya. Sinar matahari yang begitu indah memberinya sedikit harapan akan hidupnya. Mungkinkah sang Pencipta mendengarkan permohonannya dan mengangkat semua beban yang ada dalam diri Melati. Kalau benar begitu tidak ada lagi alasan bagi Melati untuk mengurung dirinya dalam kamar gelap dan pengap ini.
Dia bisa memulainya dari awal lagi