Before 25

Before 25
Bab 32 Re-Start



Sore itu udara begitu sejuk dengan ditemani sinar mentari yang menghangatkan. Setelah begitu lama mengurung diri dalam keputusasaan Melati akhirnya sekali lagi mengambil langkah berani untuk melanjutkan hidupnya.


Selama hampir 2 tahun kepergian Adnan membuat Melati bisa berpikir lebih jernih. Mimpi-mimpi buruk itu juga berangsur pergi dan meninggalkan kedamaian bagi malam-malam panjang Melati. Kehidupannya yang selalu dihampiri permasalahan perlahan kembali tenang. Dirinya benar-benar seperti terlahir kembali ke dunia ini.


Tapi meskipun begitu di dalam lubuk hatinya yang terdalam masih tertinggal setitik perasaan mengganjal. Melati harus bisa mencari tahu apa artinya itu, sehingga kehidupannya akan benar-benar menjadi damai.


Menikmati pemandangan sore hari di taman adalah pilihan yang bagus untuk Melati. Seluruh penat setelah lelah mengajar seharian di kampus seolah terangkat. Sepulang dari kampus tadi Melati tidak sengaja melihat taman tempatnya dulu sering menghabiskan waktu dengan Adnan. Kenangan indah milik mereka berdua seolah menarik kaki Melati untuk melangkah sampai ke taman itu.


Taman itu sudah banyak berubah. Fasilitasnya semakin lengkap dan pepohonan yang dulunya masih pendek sekarang sudah menjulang tinggi dengan dedaunan yang begitu rimbun. Tata letak di dalam taman juga sudah lebih terorganisir, sehingga membuat pemandangan taman pada sore hari terlihat lebih indah.


Dalam diam Melati menikmati pemandangan yang sudah begitu lama tidak dapat dilihatnya. Melihat anak-anak berlarian dengan orangtuanya membuat Melati teringat akan mimpinya memiliki anak. Membangun sebuah keluarga kecil dengan Adnan menjadi permintaan yang terus menerus terlontar dari mulutnya saat itu.


Mungkinkah saat adnan kembali nanti mereka bisa membangun kembali impian itu?


“Maaf, kamu ini Melati kan?” Tanya sebuah suara. Melati melihat sumber suara itu dengan kening berkerut. Apakah dia mengenal perempuan itu dan bagaimana perempuan itu bisa tahu namanya.


“Ini aku Nayla. Teman kamu saat SMA” Ucap perempuan itu bersemangat. Mendengar nama itu disebutkan Melati seakan memutar ulang ingatannya jauh saat masa sekolah dulu. Sebuah senyuman lalu merangkai wajah cantik Melati.


“Astaga udah berapa lama kita gak ketemu. Gimana kabar kamu sekarang?” Tanya Nayla dengan penuh semangat


“Aku baik-baik saja. Kamu gimana?” Balas Melati


“Aku juga baik-baik saja. Kamu makin cantik aja” Puji Nayla


“Kamu juga makin cantik” Ucap Melati


“Aku cantik darimana, badan aku melar begini setelah melahirkan” Ucap Nayla


“Kamu udah menikah?” Tanya Melati tak percaya.


“Kamu gak percaya kan aku udah menikah. Apa karna dulu aku selalu bilang kalau aku gak percaya soal cinta dan apalah itu karna mama dan papa aku bercerai?” Nayla balik bertanya


“Bukan, bukan gitu maksud aku” Ucap Melati gagap


“Tenang aja. Kamu sama siapa di sini?” Tanya Nayla lagi


“Aku sendiri” Jawab Melati


“Aku bahagia banget bisa ketemu sama kamu lagi. Dulu kamu menghilang gitu aja saat SMA, kamu seolah menghapus jejak kamu dan meninggalkan kami begitu saja” Ucap Nayla sedih


Melati tidak meninggalkan mereka. Keadaan lah yang membuat mereka terpisah tanpa ada penjelasan. Saat itu Melati bahkan berpikir kalau teman-temannya lah yang menjauhi Melati karena insiden itu. Syukurlah kesalahpahaman itu bisa diluruskan meskipun sudah bertahun-tahun berlalu.


“Anak kamu dimana?” Tanya Melati


“Sama papa nya, umurnya sekarang 3 tahun lagi aktif banget. Aku sama papanya kadang sampai kewalahan” Jawab Nayla senang


“Bahagia banget ya. Aku juga ingin seperti itu” Gumam Melati yang terdengar oleh Nayla


“Kamu tinggal dimana? Kapan-kapan boleh dong aku mampir” Tanya Nayla


“Aku tinggal di apartemen kalau kamu ada waktu datang aja” Jawab Melati tulus


Percakapan mereka terus berlanjut sampai matahari terbenam. Anak Nayla yang sudah tertidur menjadi alasan perpisahan mereka. Tapi sebelum itu mereka sudah saling bertukar nomor telpon dan juga alamat. Bahkan akhir pekan nanti Nayla berkata ingin berkunjung ke rumah Melati.


Minggu yang ditungggu pun akhirnya datang. Sejak pagi Melati sudah sibuk membersihkan rumah dan memasak untuk tamunya nanti. Nayla mengatakan akan datang bersama dengan putra kecilnya. Hal itu membuat Melati semakin bersemangat dengan kehadiran seorang anak kecil di rumahnya ini.


Pukul 10 pagi Nayla sampai di apartemen Melati. Begitu membuka pintu Melati langsung mencari keberadaan putra Nayla. Seingat Melati, Nayla kemarin mengatakan akan membawa putranya tapi kenapa sekarang hanya ada Nayla seorang.


“Maaf ya, tadi pas mau jalan ke sini mertua aku datang. Katanya kangen banget sama cucunya, jadinya anak aku di bawa deh” Ucap Nayla merasa bersalah


“Gak apa-apa kok, ayo masuk” Ucap Melati mempersilahkan. Jujur Melati sangat kecewa. Melati sudah membayangkan bagaimana nanti rumahnya dipenuhi suara tawa seorang anak. Dan juga bagaimana nanti dia merapikan kekacauan yang disebabkan anak itu. Tapi sekali lagi kekecawaan itu datang tiba-tiba.


“Kamu tinggal sendiri disini?” Tanya Nayla tak percaya.


Apartemen Melati memang tidak terlalu besar dan mewah. Tapi fasilitasnya memang terlalu berlebihan bagi Melati yang hanya tinggal sendirian di sini.


“Iya, ini hadiah dari Bang Mario waktu aku selesai kuliah.” Jawab Melati


“Wah, Bang Mario sukses banget ya sekarang. Jadi ingat gimana dulu teman-teman kita bujuk-bujuk bang Mario supaya mau nikah sama mereka” Ucap Nayla sambil tertawa.


Masa sekolah mereka dulu sangat menyenangkan. Mario akan menerima dengan senang hati setiap teman perempuan Melati yang datang untuk bermain atau belajar ke rumah mereka. Tidak jarang teman-teman Melati malah genit menggoda Mario yang memang memiliki paras tampan.


Pembahasan mengenai cerita masa lalu memang tak pernah bisa usai. Sebuah cerita selalu mengantarkan ke cerita baru yang tidak kalah seru untuk di kenang. Masa muda yang hanya datang sekali dalam hidup mereka. Masa remaja yang penuh dengan drama dan juga canda tawa. Mengenangnya saat sudah bertahun-tahun terlewati membuat waktu terasa begitu singkat.


“Aku numpang toilet kamu ya Mel” Ucap Nayla permisi


“Iya, toilet ada di ujung” Ucap Melati sambil melihat-lihat kembali buku kelulusan sekolah lamanya yang dibawa Nayla. Tentu saja tidak ada foto Melati di sana. Kenangan selama hampir 3 tahun di sekolahnya terlupakan begitu saja. Tidak ada jejak bahwa Melati pernah menghabiskan masa remajanya di sekolah itu. Sama sekali tidak ada.


Dengan ragu Nayla membuka sebuah pintu berwarna putih di sebelah kanan. Apa yang dilihatnya sungguh membuat tercengang. Kamar itu seperti sudah lama tidak dimasuki sehingga sangat gelap dan juga pengap. Nayla meraih saklar untuk menghidupkan lampu dan membuatnya menahan nafas atas pemandangan itu.


Sebuah kamar yang sepertinya kamar bayi ditinggalkan begitu saja tak terpakai. Kamar dengan nuansa putih itu dilengkapi dengan box bayi dan juga aneka perlengkapan bayi lainnya. Semuanya begitu lengkap seolah menggambarkan bahwa pernah ada bayi yang tinggal di kamar itu.


“Kamu ngapain di sini” Suara itu membuat Nayla begitu terkejut. Hampir saja dia berteriak jika bukan karena melihat tatapan tajam dari Melati


“Maaf aku gak bermaksud.. aku salah buka pintu” Ucap Nayla gagap


“Toilet di sebelah sini” Ucap Melati sambil membuka pintu di sebelah kirinya. Dengan gugup Nayla berjalan masuk dan cepat-cepat menutup pintunya.


“Maaf ya Mel, aku benar-benar gak sengaja” Ucap Nayla dengan perasaan bersalah segera setelah selesai dari toilet


“Gak apa-apa. Aku juga yang salah karna gak kunci kamar ini” Ucap Melati masih melihat isi kamar itu.“Kamar ini aku dan pacarku desain 2 tahun yang lalu. Saat itu aku memaksanya untuk merubah kamar ini menjadi kamar untuk anak kami kelak. Tapi sepertinya itu tidak akan terjadi” Ucap Melati sambil tersenyum


“Kalau aku boleh tahu hubungan kamu dengan pacar kamu gimana?” Tanya Nayla hati-hati


“Sudah hampir 2 tahun dia pergi, katanya aku terlalu terobsesi dengan pernikahan dan juga memiliki anak” Jawab Melati datar


Suasana yang canggung membuat Nayla tidak tahan berlama-lama di apartemen Melati. Dengan sangat terpaksa Nayla berpamitan pulang. Nayla merasa ada yang tidak beres dengan Melati. Saat melihat kamar itu tadi Melati menatapnya dengan pandangan kosong.


\*\*\*


Satu jam setelah kepergian Nayla, Melati mendapat notif pesan di handphonenya.


“Aku bukan ingin bersikap lancang tapi aku melihat bahwa kamu membutuhkan teman bercerita saat ini. Ini adalah teman suamiku, dia bekerja sebagai psikolog di sebuah rumah sakit. Kalau kamu tidak keberatan bertemulah dengannya sekali, meskipun masih muda tapi dia sangat professional.” Pesan itu disertai dengan sebuah foto kartu nama.


“Apa aku sebegitu menyedihkannya di mata teman lama ku?” Gumam Melati sedih