
Hujan turun deras sejak sejam yang lalu dan sepertinya tidak menunjukkan akan segera mereda. Suasana sore yang tampak seperti malam yang mencekam dengan gelap yang menyelimuti. Ku langkahkah kakiku semakin cepat karena sepertinya payung ini tidak mampu lagi melindungi. Sepatu dan celana ku sudah basah kuyup oleh guyuran derasnya hujan, ditambah lagi payung yang kupegangi terasa semakin berat oleh tarikan angin.
Hujan yang semakin deras tampaknya menarik orang-orang untuk tetap berada di dalam rumah. Terlihat dari jalanan yang begitu sepi dan hanya menyisakan lalu kendaraan yang muncul dan pergi. Kalau bukan karena harus mengurus jadwal magang mahasiswa, aku tidak akan pulang sampai sore menjelang terutama di akhir pekan seperti ini.
Jalan menuju apartemenku sekitar 5 menit dari halte bus. Tapi sepertinya 5 menit itu bertambah semakin lama karena aku yang kesusahan menahan payung untuk tetap berada dalam genggaman. Ditambah lagi air yang sudah mulai naik membasahi separuh dari sepatuku. Benar-benar hari yang melelahkan.
Saking sibuknya beradu dengan payung aku hampir saja menabrak seseorang. Syukurnya tepat sebelum tubuh kamu bertabrakan dia sudah menahan payungku sehingga langkah kakiku otomatis berhenti.
“Maaf saya sulit melihat ke depan karena payung ini” Ucapku meminta maaf dan sedikit menaikkan bagian depan payung agar dapat melihat wajah orang yang ada di depanku.
Tapi seperti sebuah bayangan gelap orang itu menghilang begitu saja. Aku sangat yakin bahwa tadi ada seseorang yang berhenti tepat di depanku. Aku bahkan bisa melihat dengan jelas sepatu yang digunakannya. Tapi kemana orang itu pergi. Apa ada manusia yang bisa bergerak secepat itu.
Ku balikkan badanku perlahan berharap bahwa orang itu ada di sana. Dan tidak menakutiku dengan adegan horror di sore yang gelap ini. Tapi tidak ada siapapun di sana. Hanya jalanan kosong yang digenangi air dan dijatuhi derasnya hujan. Aku mulai ketakutan.
“Mencariku?” Ucap sebuah suara. Kubalikkan kembali badan ku dan menatap seorang pemuda dengan tubuh tinggi menjulang. Apa yang dilakukan orang ini di bawah derasnya hujan dengan pakaian formal seperti ini. Seluruh pakaiannya bahkan sudah basah kuyup.
“Maaf anda tidak apa-apa?” Tanya ku memastikan, bisa saja tadi payungku sudah menghantam tubuhnya duluan
“Atas apa?” Dia bertanya balik.
“Apakah aku yang salah orang? Kenapa dia malah balik bertanya padaku” Batinku kebingungan
“Kenapa otakmu itu selalu dipenuhi dengan pikiran-pikiran? Apakah tidak melelahkan bagimu?” Pertanyaan itu membuatku semakin mengernyit heran
“Apa dia bisa membaca pikiranku?” Batinku lagi
“Sudah kukatakan jangan banyak berpikir. Kalau kamu tidak banyak berpikir dan hanya melanjutkan hidupmu seperti tidak terjadi apa-apa, kamu tidak akan kehilangan semua itu” Ucapnya dingin
Perkataannya itu begitu menohok. Tahu apa dia dengan hidupku. Aku bahkan tidak mengenal dan belum pernah bertemu dengannya.
“Apakah kedamaian yang kuberikan selama ini membuatmu bahagia? Apakah kebahagiaan itu membuatmu melupakan aku? Apakah saat ini kamu menikmatinya? Hidup tanpa bayang-bayangku?” Senyumannya begitu mengerikan. Dia menatapku dengan pandangan meremehkan yang begitu kentara.
Alarm di otakku akhirnya bekerja. Aku harus segera pergi dari sini. Mungkin saja dia orang jahat yang sangat membahayakan. Melihat penampilan dan juga gaya bicaranya sepertinya dia tidak akan segan melakukan hal yang buruk. Terlebih lagi saat suasana sepi seperti ini dan suara hujan yang begitu kuat. Berteriak pun akan sia-sia, karena suaranya akan teredam oleh kuatnya air hujan.
Perlahan ku langkahkan kaki ku mundur, membuat lebih banyak jarak dari pria itu. Senyumannya masih belum hilang juga. Kenapa senyum itu begitu mengerikan.
“Apa kamu takut sekarang? Kenapa kamu selalu ketakutan? Padahal ini pertama kalinya kita bertemu setelah bertahun-tahun menghabiskan malam bersama. Malam yang begitu panjang” Ucapnya dengan nada rendah yang semakin meningkatkan rasa takut pada diriku.
“Dia benar-benar gila” Batinku lagi
“Jangan seperti itu, kenapa kamu mengatai gila pada orang yang selalu menemani malammu?” Kakinya maju selangkah untuk mendekat pada ku
Aku benar-benar terkejut bagaimana dia bisa benar-benar mengetahui isi pikiranku. Aku harus segera pergi, berada disini terlalu lama akan sangat membahayakanku. Ku siapkan tubuhku untuk berlari menjauh dari pria itu.
Tapi bahkan sebelum aku bergerak dia sudah menarik payung dari genggaman tanganku. Air hujan yang begitu deras langsung menimpa seluruh tubuhku. Membasahiku dari ujung kepala dengan suhu yang begitu dingin.
Ku kerahkan seluruh tenagaku untuk melepaskan diri. Tapi sepertinya itu tidak berhasil melihat dia masih dengan tenang menahan tanganku. Aku ketakutan, tidak ada siapapun yang bisa kumintai tolong.
“Aku mohon lepaskan aku” Air mata mulai mengalir bersamaan dengan air hujan yang mengguyur.
“Baiklah” Tangannya langsung melepas tanganku. “Rasanya tidak adil bagimu saat pria itu bahkan tidak ada di sini. Pergilah” Ucapnya dingin.
Aku langsung mengambil kesempatan itu untuk berlari. Berlari sekuat tenaga yang aku bisa menjauh dari pria mengerikan itu. Aku sampai di lobi apartemen dengan keadaan sangat kacau. Petugas keamanan dan resepsionis sampai prihatin melihat keadaan ku. Dengan langkah gontai aku berjalan ke arah lift dan menuju tempat perlindunganku.
\*\*\*
Tubuhku terasa begitu lelah dengan kejadian sore tadi. Setelah mandi dengan air hangat aku langsung meringkuk di balik selimut. Tapi anehnya rasa dingin itu tidak berkurang. Malah semakin dingin.
Aku bergerak turun dari tempat tidur dan menuju pengatur suhu ruangan. Tadi begitu sampai aku sudah mengaturnya pada suhu yang hangat. Apakah alat ini rusak atau bagaimana.
Dengan kesal aku berjalan ke kamar tamu. Kamar itu masih tetap sama seperti dulu, sebuah kamar bayi tidak terpakai. Aku menyimpan selimut penghangat di lemari yang ada di kamar itu. Mungkin itu bisa sedikit membantu untuk menghangatkan tubuhku.
“Dingin itu wajar bagi tubuhmu. Nanti juga kamu akan merasakannya setiap hari, saat aku membawamu pergi” Suara itu begitu mengejutkanku
Pria yang tadi, kenapa dia bisa masuk ke rumahku. Dengan angkuhnya dia duduk sambil menyilangkan kaki di tempat tidur yang kusiapkan di kamar itu. Apa dia penguntit yang bisa menerobos masuk sampai ke kamar di rumah ini. Bagaimana dia bisa masuk dengan melewati petugas keamanan dan resepsionis di depan.
“Sebegitu inginnyakah kamu memiliki anak sampai menyiapkan kamar seperti ini? Kamu benar-benar menyedihkan.” Ucapnya dengan nada dingin seperti tadi
“Kenapa kamu bisa masuk ke sini?” Tanya ku ketakutan
“Mulai sekarang aku akan mengikutimu kemana pun. Kamu tidak akan pernah lepas dari genggamanku. Bersiaplah, akan ada banyak kejutan untukmu kedepannya nanti” Dia berdiri dan mendekati box bayi
“Kenapa kamu begitu terobsesi dengan pernikahan dan memiliki anak? Aku bisa saja memberikan sesuatu yang lebih dari itu. Kekayaan, kekuasaaan, kekuatan, aku bisa memberikan semuanya. Tapi ada apa dengan permintaan sepele seperti pernikahan dan juga anak” Tangannya mencabut paksa mainan yang tergantung dalam box bayi
“Apa karena wanita itu yang memberitahukan? Jangan dengarkan wanita bodoh itu. Dia hanya sedang mempermainkanmu. Dia juga sudah mengganggu pekerjaanku selama 2 tahun ini. Wanita memang merepotkan bukan?” Tanyanya padaku
“Kenapa kamu diam saja? Aku sudah mengatakan banyak hal, ku pikir kamu akan membalasnya dengan teriakan ketakutan atau makian. Aku dengar wanita sangat mudah tersinggung, tapi kamu sepertinya tidak terpengaruh sama sekali” Dia berjalan mendekat ke arahku. Tangannya meraih pipiku dan mengusapnya lembut. Dingin. Begitu dingin.
“Aku akan melakukannya dengan baik. Karena kamu juga sudah sangat baik hidup di dunia ini”
\*\*\*
“Maaf karena sudah menunggu lama. Saya baru saja menangani pasien di ruang perawatan” Ucap pria itu penuh perasaan bersalah. Tentu saja karena aku sudah menunggu selama sejam lebih.
Akhirnya aku berada disini. Disebuah rumah sakit, diruangan perawatan psikologi.
Mimpiku minggu kemarin sungguh terasa begitu nyata. Aku bahkan mendapat bekas memar di tanganku. Aku hampir gila karena seminggu terus dibayangi oleh mimpi buruk. Sehingga aku memutuskan untuk mencari pertolongan.