
Ruangan ini begitu nyaman dengan didominasi warna putih. Sebuah sofa berwarna pastel menghiasi ruangan pemeriksaan. Ini sungguh jauh dari dugaan Melati. Sebelum datang kesana Melati sudah membayangkan ruang pemeriksaan sempit dengan suasana membosankan. Tapi ternyata ini jauh lebih baik sekaligus menenangkan.
Setelah seminggu selalu diteror dengan mimpi yang terasa begitu nyata. Melati akhirnya memberanikan diri untuk mencari pertolongan. Bisa saja ini semua disebabkan stress akibat permasalahan yang dihadapinya selama ini. Dengan berbicara pada ahlinya mungkin bisa memberikan saran untuk mengatasi semua mimpi buruk itu.
Tapi setelah menunggu selama satu jam dokter itu tidak juga datang. Perawat sudah berkali-kali menghubunginya untuk mengingatkan soal janji dengan pasien baru. Melati sampai kesal karena terus duduk menungggu dokter yang akan menanganinya itu. Karena sudah tidak tahan lagi Melati bangkit berdiri hendak keluar dari ruang pemeriksaan.
Namun saat hendak membuka pintu, pintu itu sudah terlebih dulu terbuka dan menampakkan wajah ramah dari seorang pria. Pria itu tersenyum ramah dan terpaksa membuat Melati melangkah mundur dan mendudukkan kembali dirinya di kursi.
“Maaf saya terlambat. Anda pasti sudah lama menunggu” Ucapnya penuh perasaan bersalah tapi masih memasang senyum manis
“Bagaimana kalau kita duduk di sofa saja agar lebih nyaman?” Tawarnya. Dengan malas Melati bangkit berdiri dari kursi tempat kerja dokter itu. Sofa itu memang lebih nyaman dan membuat Melati bisa merasa lebih santai.
“Bagaimana dengan sebuah perkenalan singkat?” Ucap dokter itu. “Nama saya Alan”
“Saya Melati” Dokter itu terlihat masih menunggu. Karena Melati diam saja dokter itu akhirnya melanjutkan
“Usia saya 30 tahun, saya belum menikah, saya bekerja sebagai dokter sudah 5 tahun, saya suka mendengarkan musik” Ucapnya tanpa jeda. Melati mengernyitkan dahinya tidak suka dengan gaya dokter itu.
“Seorang introvert yang keras kepala rupanya” Gumam dokter itu tapi masih terdengar begitu jelas di telinga Melati. Dengan sikap tidak suka Melati akhirnya membuka mulut.
“Usia saya 23 tahun, saya belum menikah, saya bekerja sebagai asisten dosen sudah 2 tahun lebih, saya tidak suka berinteraksi dengan orang baru” Ucap Melati tidak mau kalah
“Baiklah Nona Melati sepertinya saya sudah membuat anda tersinggung. Saya minta maaf” Ucap Alan tulus
Melati sungguh tidak menyukai saat ini. Interaksi dengan orang baru sungguh menguras energinya.
“Jadi apa yang membawa Nona bertemu dengan saya?” Tanya Alan
“Saya teman dari nayla. Nayla yang merekomendasikan dokter pada saya” Jawab Melati
“Baiklah, lalu?” Tanyanya lagi
“Seminggu ini saya selalu mimpi buruk, saya bahkan takut untuk tidur. Apakah ada obat untuk itu?” Melati balik bertanya
“Tentu saja ada” Jawab Alan
“Kalau begitu saya ingin obatnya” Ucap Melati
“Nona Melati tidak bisa mendapatkannya begitu saja. Sekarang ini sangat banyak gadis-gadis yang suka bertindak sesuka mereka. Datang ke rumah sakit berpura-pura tidak bisa tidur atau mimpi buruk demi mendapatkan obat penenang” Ucap Alan datar
Melati benar-benar tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya. Apa dokter ini sedang menuduhnya dengan terang-terangan.
“Apa maksud anda?” Tanya Melati geram
“Nona jangan salah paham dulu. Saya hanya mengatakan yang sering terjadi belakangan ini. Saya harus tahu apa masalah nona sehingga harus mendapatkan pengobatan” Jawab Alan tenang
“Saya mimpi buruk dan itu sangat menggangu saya. Saya bahkan merasa mimpi itu seperti nyata sedang terjadi. Tangan saya bahkan terdapat memar” Melati menarik lengan bajunya dan menunjukkan bekas memar yang membiru
“Mimpi seperti apa?” Tanya Alan
“Ada seorang pria yang selalu menguntit saya dalam mimpi. Dia terus mengatakan hal-hal aneh dan bisa membaca pikiran saya.” Jawab Melati. Raut wajah Melati mulai berubah ketakutan dan keringat mulai membasahi keningnya
“Apa Nona mengenal pria itu” Tanya Alan lagi
“Sejak kapan Nona mengatakan bermimpi mengenai pria ini?” Alan terus bertanya sambil memperhatikan perubahan ekspresi Melati
“Minggu lalu. Sejak itu dia selalu datang setiap malam dan mengatakan hal-hal tidak masuk akal” Ucap Melati
“Kalau saya boleh tahu hal tidak masuk akal apa itu?” Tanya Alan
“Dia mengatakan kalau dia sangat kasihan pada saya karena begitu terobsesi dengan pernikahan dan memiliki anak. Dia juga mengatakan agar saya jangan salah paham dengan kebaikannya. Dan juga bahwa dia akan segera membawa saya pergi” Melati menghapus dengan cepat air mata yang mulai jatuh menetes
“Apa sebelumnya ada kejadian yang begitu membekas bagi Nona Melati?” Alan mengulurkan selembar tisu untuk Melati
“Jika saya menceritakannya apakah dokter bisa membantu saya? Saya tidak tahu lagi harus melakukan apa, hanya dokter harapan terakhir saya” Melati menatap Alan dengan pandangan penuh permohonan. Air mata masih mengalir dan membuat Alan menyadari ada sesuatu yang besar di balik semua ini.
\*\*\*
Setelah pertemuan singkat tadi, Melati memutuskan untuk langsung pulang. Melati mengatakan masih belum sanggup untuk menceritakan semuanya pada Alan. Alan hanya meresepkan obat tidur dengan dosis rendah untuk membantu Melati tidur dan juga menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.
Seminggu berselang Melati kembali datang ke rumah sakit tempat Alan praktik. Kali ini Melati tampak begitu lelah, lingkaran hitam di bawah matanya bahkan terlihat parah. Wajahnya begitu pucat dan bisa dikatakan seperti orang yang hampir pingsan.
“Apa yang terjadi? Saya tidak bisa menghubungi Nona selama seminggu ini” Tanya Alan begitu Melati duduk
“Apakah saya gila jika saya mengatakan saya mengetahui kapan kematian akan menjemput saya?” Ucap Melati
“Kenapa Nona mengatakan hal seperti itu?” Tanya Alan cemas. Penampilan Melati sungguh memprihatinkan di hadapan Alan. Melati seperti bisa pingsan kapan saja dengan kondisi seperti itu.
“Karena saya sudah melihat kematian saya puluhan kali” Ucap Melati sambil menangis terisak-isak. “Saya…saya sudah melihat bagaimana saya akan mati dengan cara yang berbeda.”
“Nona Melati tolong tenangkan diri nona. Tarik nafas panjang dan hembuskan perlahan” Alan membimbing Melati agar bisa tenang
Selang lima belas menit, Melati akhirnya bisa tenang dan berhenti menangis. Matanya bengkak dengan ujung hidung memerah, membuat penampilannya semakin mengkhawatirkan.
“Apakah Nona sudah merasa baikan?” Tanya Alan. Melati menganggukan kepalanya perlahan dan berusaha tersenyum.
“Bisa kita lanjutkan lagi pembicaraan kita tadi? Tadi Nona mengatakan sudah melihat kematian Nona puluhan kali, dengan cara apa?” Tanya Alan hati-hati
“Mimpi. Semuanya melalui mimpi” Jawab Melati
“Bisa kita mulai tahap konsultasi kita saat ini? Jika nona masih belum siap kita bisa menundanya” Tanya Alan
“Jangan di tunda lagi dokter. Saya merasa tidak banyak lagi waktu” Jawab Melati
“Baiklah kalau begitu” Alan memencet tombol di sebuah radio kecil. Semua percakapan mereka akan terekam untuk memudahkan pengobatan Melati
“Saya tidak tahu harus memulai ceritanya dari mana. Hidup saya sungguh malang dan penuh penderitaan” Ucap Melati sambil tersenyum
“Yang saya tahu pasti pemeran utama dari cerita ini adalah Ayah, Mama, abang, Rara, Adnan, wanita itu, dan juga pria itu” Melati menyandarkan tubuhnya pada sofa dan menarik nafas panjang
“Ayah, Mama, dan abang saya berperan penting pada masa sekolah saya. Rara adalah sahabat saya saat berkuliah dan sekarang Rara sedang berada di luar negri. Persahabatan kami harus berakhir karena keegoisan saya. Adnan adalah pacar saya, atau untuk saat ini mantan pacar saya. Saya juga tidak tahu bagaimana hubungan kami sekarang. Kami berpisah 2 tahun yang lalu karena saya begitu terobsesi dengan pernikahan dan keinginan untuk memiliki anak. Sedangkan wanita itu, saya pertama kali bertemu dengannya malam saat saya pertama kali bertemu dengan Adnan dan tentu saja melalui mimpi. Wanita itu mengatakan Adnan adalah penyelamat saya. Pria itu, saya bertemu dengannya pertama kali dua minggu yang lalu. Dalam mimpi-mimpi mengerikan setiap malamnya” Ucap Melati menjelaskan
“Lalu apa hubungan dari orang-orang ini?” Tanya Alan
“Bersama mereka saya tidak bermimpi tentang kematian” Jawab Melati