
“Kamu gak apa-apa?” Tanya Melati khawatir sambil memeriksa tubuh Rara dari atas sampai bawah. Melati sangat takut saat mendengar suara Rara dan Silvi yang saling berteriak. Apalagi namanya dan juga Adnan ikut terseret dalam perkelahian itu.
“Aku gak apa-apa. Aku kan kuat” Rara mengedipkan sebelah matanya pada Melati
“Tapi kamu tadi jatuh loh” Ucap Melati masih takut
“Cuma jatuh doang kok. Gak berarti apa-apa sama aku” Ucap Rara menenangkan Melati
“Ayo kita duduk dulu” Ajak Adnan. Banyak orang yang memandangi mereka dan itu membuat Adnan sedikit risih.
Dengan dipegangi Melati, Rara kembali ke tempat duduk mereka tadi. Karena keributan itu pesanan makanan mereka sampai lupa diantar oleh ibu kantin. Melihat Melati yang nampaknya tidak mau lepas dari Rara, Adnan memutuskan untuk pergi sendiri ke stan penjual makanan, sekedar mengingatkan mengenai pesanan mereka tadi.
“Kamu benar gak apa-apa? Kaki kamu sakit gak?” Tanya Melati lagi untuk memastikan
“Aku cuma kaget aja tadi. Aku gak apa-apa. Serius” Jawab Rara. Raut wajah Melati akhirnya sedikit tenang mendengar jawaban dari Rara.
“Terus kenapa kamu sengaja bawa aku dan Adnan kesini?” Tanya Melati lagi
“Untuk nunjukin ke orang-orang kalau kalian ini sepasang kekasih” Jawab Rara polos
“Untuk apa?” Melati bertanya lagi
“Ya biar si cewek gila itu lihat lah. Biar dia tau kalian udah pacaran terus menjauh dari kamu dan Adnan” Rara mengibaskan rambut panjangnya ke belakang. Setelah perkelahian adu mulut tadi rasanya masih agak lumayan panas.
“Silvi bisa makin gak suka sama aku kalau begini” Ucap Melati sedih
“Kamu gak butuh teman seperti dia. Aku paling benci sama orang bermuka dua, jadi lebih baik kamu juga begitu. Tetaplah jadi gadis polos yang manis seperti ini. Selamanya” Ucap Rara lebay sambil menggenggam kedua tangan Melati
“Kamu gak bisa jaga aku selamanya Ra. Untuk sekarang ini mungkin bisa, tapi kita gak tahu akan seperti apa hari-hari ke depannya. Kamu juga nanti punya pacar, teman-teman kamu yang lain juga.” Ucap Melati serius
“Kamu gak suka dekat-dekat sama aku lagi?” Tanya Rara pelan, genggaman tangannya lepas sudah.
“Bukan begitu Ra” Ucap Melati cepat “Aku sangat berterima kasih karna kamu selalu menemani aku, mengajari aku juga banyak hal. Tapi kamu juga punya dunia kamu sendirikan, jangan hanya berfokus untuk aku aja. Aku senang sekarang ini, kamu juga harus senang seperti aku. Jangan sendirian lagi. Kamu harus belajar menerima banyak cinta” Ucap Melati panjang lebar.
Meskipun Rara tidak pernah mengatakannya, tapi Melati tahu Rara takut memulai suatu hubungan. Rara takut berakhir seperti papa dan mamanya. Walaupun kedua orangtuanya berpisah secara baik-baik tapi tetap saja meninggalkan luka bagi Rara sebagai anak.
Melati tidak bisa membayangkan bagaimana dengan anak-anak lain di luar sana. Yang setiap saat harus mendengar atau melihat kedua orangtuanya bertengkar bahkan sampai berpisah dengan cara yang tidak baik. Mereka pasti memiliki luka yang lebih mendalam.
“Aku tahu. Aku juga lagi belajar kok” Ucap Rara mengerti maksud perkataan Melati.
“Aku akan selalu dukung kamu” Lanjut Melati lagi
“Kamu juga harus cerita sama aku. Jangan kayak kasus si Silvi itu, udah tahu dia ancam kamu tapi kamu gak cerita sama aku. Karna itu kamu bahkan menjauhi aku, Adnan, dan juga teman-teman yang lain” Ucap Rara kesal
“Aku janji akan cerita sama kamu” Ucap Melati tersenyum
“Oh iya kamu senang banget ya sekarang?” Tanya Rara
“Senang karena apa?” Tanya Melati bingung
“Tadi kamu bilang kamu senang karena gak sendirian lagi. Segitu sukanya kamu sama Adnan?” Goda Rara
“Apaan sih?” Ucap Melati malu. Pengalihan topik yang terlalu tiba-tiba ini membuat wajah Melati mulai merona merah.
“Tuh kan… merah lagi pipi kamu” Goda Rara sambil tertawa
“Ehem” Adnan yang dari tadi sudah berdiri di belakang kedua gadis itu terpaksa berdehem keras untuk menghentikan aktivitas mereka.
Adnan tahu menguping pembicaraan orang lain itu salah. Tapi biarlah untuk kali ini. Adnan juga penasaran akan penilaian Melati tentang dirinya dihadapan orang lain.
Mendengar Melati yang senang, Adnan juga turut senang. Bahkan saat ini seperti ada jutaan kupu-kupu yang terbang memenuhi perutnya. Terasa geli tapi menyenangkan.
\*\*\*
Selesai makan mereka memutuskan untuk langsung pulang. Tentunya Melati diantar pulang oleh Adnan. Rara sempat merasa sedih karena tahu mulai sekarang ada Adnan yang akan selalu mengantar jemput Melati. Tapi Rara cepat-cepat menepis perasaan itu.
“Mungkin saatnya aku harus menerima cinta-cinta itu” Batin Rara saat melihat Adnan jalan beriringan dengan Melati menuju parkiran motor.
Tiba-tiba tangan Rara berhenti saat akan melajukan mobil. Ingatan kejadian di kantin tadi membuat Rara sampai melupakan sesuatu. Dengan cepat Rara mengetikkan pesan di handphonenya.
“Sialan. Kenapa jadi gue yang bayar makanan tadi”
Adnan hanya tersenyum membacanya.
\*\*\*
Melati sampai di kost tepat pukul 2 siang. Rasanya sangat panas dan lengket mengingat bagaimana tadi dia berada dikerumunan banyak orang. Dengan santai Melati melangkah ke arah kamar mandi. Melepas semua pakaiannya dan berdiri di bawah pancuran shower.
Air yang mengalir membasahi tubuhnya terasa amat sangat segar. Semua rasa panas seakan terangkat dari kulitnya. Penat dan juga rasa berat seolah menghilang. Melati menyukai suasana saat ini.
Lama Melati berada di bawah pancuran shower. Rasa dingin mulai menusuk kulitnya. Melati bahkan sampai mengantuk berdiri lama di bawah guyuran air itu. Setelah dirasa cukup Melati baru mulai mandi.
Melati baru keluar dari kamar mandi setelah satu setengah jam. Melati sering seperti itu. Disaat terlalu banyak hal hadir di kehidupannya. Segala keributan, kekacauan, bahkan saat Melati merasa terlalu senang, Melati akan melepas semua pakaiannya, berdiri diam di bawah pancuran air, dan saat sudah kedinginan baru Melati berhenti. Entah apa manfaatnya, tapi Melati suka melakukan hal itu.
Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata mengenai jalan hidup ini.
\*\*\*
Jam enam sore Melati sudah siap berdandan. Melati memakai celana pendek hitam selutut dan sebuah kaus pink kebesaran. Rambutnya diikat sembarangan dan membuat beberapa helai rambutnya jatuh. Melati hanya memakai sandal jepit abu-abu biasa, dan tidak membawa tas. Toh hanya makan di dekat kost, pikir Melati.
Sambil menunggu Adnan datang, Melati sibuk membaca notes kecil tempatnya menulis to do list. Beberapa waktu ini Melati sampai melupakan hal-hal yang ingin dicapainya itu. Dengan pena berwarna merah Melati menceklis lagi harapan yang sudah diwujudkannya.
“Tinggal satu lagi” Gumam Melati. “Kalau seperti ini aku bisa segera mewujudkan semua to do list ini” Ucap Melati senang.
Kemudian sebuah pesan masuk ke handphone Melati.
“Aku udah di depan” Isi pesan Adnan
Melati dengan semangat jalan keluar menghampiri sahabat barunya. Bukan pacar tapi sahabat baru selain Rara adalah isi to do list kedua Melati. Meskipun itu juga langsung mewujudkan to do list Melati yang keempat.
\*\*\*
“Kita jalan kaki aja gimana?” Tanya Adnan. Adnan ingat waktu melewati rumah makan itu selalu ramai, sulit untuk memarkirkan motor. Kalaupun bisa akan lebih sulit lagi mengeluarkannya dari parkiran yang sempit.
“Boleh kok” Jawab Melati. Melati biasanya juga berjalan kaki pergi ke rumah makan itu. “Motor kamu masukin ke parkiran aja” Ucap Melati menunjukkan area parkiran kostnya.
Setelah memarkirkan motor, Adnan dan Melati berjalan bersama menuju rumah makan. Melati baru sadar saat melihat penampilan Adnan saat ini. Adnan memakai kemeja navi lengan panjang, celana jeans hitam, dan sepatu sneakers. Adnan tampak sangat ganteng.
Melati lalu membandingkan dengan penampilannya sendiri. “Kumel banget aku” Batin Melati malu.
Tiba-tiba Adnan menggenggam tangan kanan Melati. “Kamu selalu cantik” Ucap Adnan sambil melihat Melati.
“Aku suka dengan kencan pertama kita ini. Hanya berjalan bersama kamu aja aku udah sebahagia ini, gak tau deh kalau lebih”