Before 25

Before 25
Bab 23 MAMA



Matahari bersinar begitu terang. Cahayanya masuk menyelinap dari sela-sela gorden dan menyinari wajah Melati. Perlahan Melati membuka mata dan menggeliat di atas kasurnya. Pagi yang sangat indah, pikir Melati.


“Bangun dong sayang. Kamu kalau di sini selalu bangun siang ya” Ucap Mama Melati. Mendengar suara Mamanya, Melati langsung bangkit duduk dan melemparkan senyuman manis ke arah Mamanya. Melati lupa kalau Mamanya sekarang berada di kostnya.


“Gak kok Ma. Melati bangun siang karena gak ada acara” Ucap Melati


“Siapa bilang kamu gak ada acara. Selesai sarapan kamu bawa Mama keliling kota” Ucap Mama Melati. Melati langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, Melati tahu maksud keliling kota yang dikatakan Mamanya. Kota bagi Mama Melati adalah pusat perbelanjaan.


“Pakaian Melati masih banyak. Bahkan jarang Melati pakai saking banyaknya Ma.” Rengek Melati


“Kamu ini. Anak perempuan itu pakaiannya memang harus banyak, kalau kamu pakai baju yang itu-itu aja orang akan berpikir kamu ketinggalan zaman.” Ucap Mama Melati


“Tapi Mama bilang gak usah dengar kata-kata orang lain” Gumam Melati


“Itu beda sayang. Jangan samakan itu dengan gaya berpakaian kamu. Ayo cepat bangun, mandi terus kita sarapan. Mama udah beli makanan kesukaan kamu” Ucap Mama Melati sambil menyusun piring berisi makanan di meja kecil di lantai.


Selesai mandi Melati langsung bergabung bersama Mamanya. Duduk lesehan di lantai sambil menikmati makanan. Meskipun hanya menyewa kost tapi fasilitas di kamar Melati cukup lengkap. Begitu masuk kamar akan ada susunan rak untuk sepatu, kemudian masuk lebih dalam akan langsung tampak sebuah ranjang yang muat untuk 2 orang, di depan ranjang ada meja belajar dan sebuah lemari pakaian besar. Dengan sebuah pembatas tirai akan langsung menuju dapur mini dan di pojok ada sebuah kamar mandi.


Pemilihan kost ini sudah sangat terperinci dilakukan oleh Mario. Mario sengaja memilih kamar di lantai satu dan terletak di pertengahan. Kalau terlalu depan akan bising dan terlalu ke belakang Melati bisa takut. Selain itu lokasinya juga strategis, dekat dengan warung makan, café, supermarket, dan juga pasar sederhana.


Keluarga Melati sangat teliti jika menyangkut dengan kebutuhan Melati. Apalagi saat itu adalah pertama kalinya Melati hidup jauh dari keluarganya. Sehingga pemilihan tempat tinggal menjadi sesuatu yang amat penting saat awal Melati pindah ke ibukota.


“Sudah berapa lama kamu gak masak?” Tanya Mama Melati. Mendengar pertanyaan Mamanya, Melati langsung tersedak. Salah satu hal yang paling dibenci Mamanya adalah kotor. Mamanya akan mengomel sepanjang hari saat melihat sesuatu yang kotor.


“Dapur melati kotor banget ya Ma?” Tanya Melati takut


“Gak, bersih banget malah. Kayak udah gak dipakai berbulan-bulan tapi dibersihkan terus” Jawab Mama Melati


“Sejak semester ini Melati gak masak Ma. Soalnya sibuk banget, tugas kuliah kemarin masih banyak ditambah lagi soal skripsi. Melati juga ikut kumpul bareng teman-teman” Ucap Melati menjelaskan.


Mama Melati bisa memaklumi soal tugas kuliah yang menumpuk, dirinya juga pernah merasakannya dulu. Tapi saat mendengar kalimat terakhir Melati, Mamanya langsung was-was.


“Kumpul-kumpul gimana?” Tanya Mama Melati


“Kumpul-kumpul biasa kok Ma, ada Rara juga” Jawab Melati


“Emang kalian ngapain aja?” Pancing Mama Melati


“Awal-awal Melati gabung cuma kumpul di café gitu aja Ma. Tapi sekarang kami udah buat acara lain, kayak kunjungan ke panti asuhan, ke kolam berenang, wisata kuliner, taman hiburan. Kami gak aneh-aneh kok Ma” Ucap Melati saat melihat Mamanya mendelik.


“Si Adnan itu ikut juga?” Tanya Mama Melati lagi


“Ikut Ma. Tapi ada Rara kok, ada teman cewek yang lain juga” Jawab Melati gelagapan


“Dia orang mana sih? Keluarganya tinggal disini juga gak?” Mama Melati memulai interogasinya


“Dia anak perantauan juga Ma. Keluarganya tinggal di kota lain.” Jawab Melati


“Berapa bersaudara dia?”


“Empat Ma. Dia anak pertama”


“Kenapa Ma?” Tanya Melati memastikan


“Gak kok. Dia anaknya gimana? Baik gak?” Lanjut Mama Melati


“Dia baik kok Ma, dia selalu memperhatikan Melati. Dia juga bertanggung jawab kok.” Jawab Melati cepat


“Selama dia baik dan mau bertanggung jawab, itu udah cukup sama Mama.” Mama Melati lalu menghela nafas dan menatap Melati dalam. “Kamu tahu kan Mama ini anak satu-satunya?” Melati lalu menggangguk


“Dulu Mama juga sangat dimanja oleh kakek dan nenek kamu. Mereka selalu memberikan yag terbaik untuk Mama, mungkin karena sudah terbiasa dari kecil sifat manja Mama masih terbawa sampai sekarang.” Mama Melati tersenyum manis.


“Bagi Mama dan ayah, kamu ini juga anak kami satu-satunya. Sama seperti Mario, bagi kami kalian itu seperti seseorang yang sangat berbeda. Tapi bukan dalam arti yang jelek ya. Kami memperlakukan kalian seolah kalian itu memang cuma satu-satunya harta paling berharga bagi kami.”


“Melati tahu kok ma” Ucap Melati sambil tersenyum


“Masalahnya di ayah kamu. Dia terlalu perfeksionis, terlalu kolot kalau kata anak muda sekarang. Ayah membiarkan kamu kuliah jauh seperti ini bukan karena ayah gak sayang sama kamu. Ayah justru paling menyayangi kamu. Ayah ingin kamu lepas dari masa lalu dan memulai hidup baru kamu di sini. Meskipun kami berpikir mungkin itu masih sulit buat kamu. Tapi setelah melihat keadaan kamu sekarang Mama bisa sedikit lega” Mama Melati menyeka air mata yang mulai menggenang di sudut matanya.


“Mama selalu berharap kamu mendapatkan kebahagiaan yang sempat hilang dari kamu. Mama bersikap terbuka bukan karena Mama merelakan kamu berbuat hal-hal yang dilarang. Mama yakin kamu juga sudah paham mengenai mana yang baik dan mana yang buruk. Tapi Mama ingin kamu melakukan apa saja yang kamu inginkan, apapun yang bisa membuat kamu bahagia. Mama sungguh ingin melihat kamu tersenyum seperti dulu lagi, meskipun ada hal yang harus dipertaruhkan” Air mata mulai lolos mengalir membasahi wajah Mama Melati. Melati yang melihat itu juga ikut menangis.


“Ayah kamu mungkin tidak setuju dengan pemikiran Mama. Tapi kamu tenang aja, Mama akan melakukan apapun asal kamu bahagia. Mama tidak akan pernah merasa malu bagaimanapun keadaan kamu ke depannya nanti. Mama hanya ingin kamu melanjutkan hidup sesuai dengan yang kamu inginkan. Karena bagi Mama, cuma itu satu-satunya cara menebus kesalahan Mama dulu. Mama berdosa sama kamu” Isak tangis mulai memenuhi kamar Melati.


Melati menyingkirkan meja kecil tempat makanan yang memberi jarak antara mereka berdua. Melati langsung memeluk Mamanya. Melati tahu sekarang, bahwa selama ini Mamanya masih belum terbebas dari rasa bersalah.


“Maafkan Melati ma. Mama pasti tertekan selama ini, Melati bahkan gak pernah memikirkan perasaan Mama” Isak Melati di pundak Mamanya


“Kamu gak perlu minta maaf sayang. Ini semua karena Mama dan ayah yang masih belum bisa menjadi orangtua yang baik bagi kamu. Kami juga dulunya adalah anak dari orangtua kami, kami juga selalu belajar bagaimana agar menjadi orangtua yang sempurna buat kalian” Mama Melati melepaskan pelukannya dan mengusap air mata yang membasahi pipi Melati


“Permintaan Mama, mulai sekarang lakukan apapun yang kamu mau. Mama akan mendukung kamu, apapun yang kamu lakukan” Ucap Mama Melati dan hanya diangguki oleh Melati.


\*\*\*


“Aku gak percaya Mama beli barang sebanyak ini.” Ucap Melati sambil menenteng banyak barang belanjaan.


Mereka tadi pergi membeli pakaian, sepatu, tas, dan bahkan pakaian dalam baru yang sungguh membuat Melati geli hanya dengan melihatnya. Setelah puas berbelanja, Mama Melati lalu mengajak Melati ke toko bahan makanan. Di sana Mama Melati membeli banyak bahan untuk memasak, beberapa alat memasak, dan juga snack.


Memikirkan menyusun semua hal yang di beli Mamanya, Melati bisa membayangkan dapur dan lemari esnya yang kosong akan kembali penuh sesak. Begitu juga dengan lemarinya, sebuah sudut di dekat pintu masuk kamar juga pasti akan semakin penuh dengan koleksi sepatu baru.


Melati sampai berpikir apakah Mamanya menjalankan bisinis di tempat tinggalnya. Tapi itu tidak mungkin, ayahnya bisa marah besar.


“Bang Mario dapat bonus ya ma? Atau ayah naik gaji? Tapi gak mungkin” Tanya Melati


“Mulai sekarang Mama bisa menggunakan semua harta warisan dari nenek dan kakek kamu” Ucap Mama Melati senang


“Emang ayah kasih ijin?” Tanya Melati


“Jelas enggak lah, makanya Mama kabur ke sini” Mama Melati mengedipkan sebelah matanya dan mulai melanjutkan memilih snack. Melati sampai dibuat terperangah mendengar kata-kata Mamanya barusan. Ternyata kedatangan Mamanya karena Mama dan ayahnya sedang bertengkar.


“Kami gak bertengkar asal kamu tahu. Mama cuma kasih pelajaran sama ayah kamu itu, besok juga Mama pulang. Kita lihat aja gimana menderitanya ayah kamu selama Mama gak ada. Ayah kamu itu bahkan gak tahu caranya menghidupkan kompor” Ledek Mama Melati