Before 25

Before 25
Bab 22 Kejutan



Hari berlalu sangat cepat. Tak terasa ujian akhir semester telah selesai dilalui oleh Melati dan juga Adnan. Rasa lega hadir memenuhi hati Melati. satu per satu hal dalam hidupnya sudah berubah lebih baik.


Melati kembali ikut dalam acara kumpul bersama dengan teman-temannya. Acara mereka bahkan mulai beragam sekarang, tidak hanya sekedar nongkrong di café.


Seperti minggu kemarin mereka melakukan kunjungan ke sebuah panti asuhan. Sekedar menemani anak-anak belajar dan bermain, merupakan sebuah pengalaman yang mungkin tidak ada pernah terjadi kalau saja Melati tidak membuka diri.


Mereka juga memperluas acara kumpul dengan pergi ke taman bermain atau berenang bersama. Melati sungguh bersyukur karena banyak hal baru yang bisa dilakukannya.


Pada pertemuan terakhir mereka, Silvi juga datang bergabung. Awalnya memang terasa canggung bagi mereka semua terutama Adnan dan Melati. Tapi Melati sadar bahwa semua orang pernah melakukan kesalahan. Begiu juga dengan dirinya, pertemuan terakhirnya dengan Silvi sangat tidak baik. Melati bahkan mengatakan banyak hal kasar yang membuat Silvi ketakutan.


Tidak ada salahnya untuk memulai sesuatu yang baru lagi dalam hubungan pertemanannya. Toh selama beberapa bulan ini Silvi benar-benar tidak berulah lagi. Bahkan pada bulan pertama Silvi benar-benar tidak menampakkan wajahnya sama sekali pada Melati.


Hubungan Melati dan Adnan juga berjalan lancar. Mereka sering menghabiskan waktu berdua di sela-sela kesibukan mereka. Mereka biasanya akan pergi nonton, jalan-jalan di taman, olahraga pagi bersama, atau mengelilingi kota dengan motor pada malam hari.


Hubungan mereka sangat manis. Apalagi ketika Adnan sadar bahwa Melati merupakan salah satu tipe perempuan yang gampang cemburu. Tingkah lucu Melati saat merajuk sangat lucu di mata Adnan. Tidak jarang Adnan harus memutar otak untuk menemukan berbagai macam cara dalam membujuk Melati.


Selain manis hubungan mereka kadang sedikit nakal. Adnan semakin rajin mencuri ciuman Melati. Adnan bahkan bisa sangat overprotektif saat mereka berada di keramaian. Tangannya tidak akan pernah lepas dari pinggang Melati. Adnan bahkan suka sangat dengan sengaja tangannya menggelitik pinggang Melati.


Melati menyukai semua perlakuan Adnan meskipun pada awalnya sempat merasa risih. Melati juga masih sering terkejut saat Adnan menciumnya tiba-tiba. Setiap kesempatan yang ada selalu dimanfaatkan Adnan dengan baik. Tapi entah kenapa Melati justru sangat menyukainya.


Melati merasa harus melakukan banyak hal sekarang ini. Dirinya bagaikan sedang berpacu dengan waktu. Jadi apapun yang dilakukan Adnan, Melati akan dengan senang hati menerimanya. Selama ini Adnan juga memperlakukannya dengan baik, Melati tidak kekurangan apapun saat bersama Adnan.


\*\*\*


Sore ini Adnan dan Melati memutuskan untuk berjalan-jalan di taman. Besok atau lusa Melati mungkin sudah pulang ke kampung halamannya. Jadi untuk mengobati rasa rindu selama berpisah nanti mereka akan memanfaatkan waktu ini untuk mengisi rasa rindu sampai penuh.


Adnan memilih mengajak Melati duduk di pojok taman dekat dengan pepohonan. Saat sore begini biasanya belum banyak orang datang ke taman. Jadi suasana taman masih sepi dan kalaupun ada orang pasti ada di bagian depan taman.


Adnan menggenggam tangan Melati erat dan menyandarkan kepala Melati ke bahunya. Angin sore yang semilir membuat Melati sampai mengantuk.


“Biasanya kalau di rumah kamu ngapain aja?” Tanya Adnan


“Aku selalu di ajak mama keluar rumah” Jawab Melati


“Kemana?”


“Ke mall, ke rumah teman mama, ke arisan, ke salon” Ucap Melati pelan. Matanya sudah sangat berat akibat kantuk


“Enak dong. Skripsi kamu gimana? Kalau di sini kamu rajin banget kerjakan skripsi sampai buat hari khusus untuk kerjain itu” Ucap Adnan


“Di rumah aku gak boleh kerjakan apapun yang berhubungan sama perkuliahan. Mama bisa ngamuk, kata mama kalau pulang ke rumah aku cukup jadi anak gadis” Ucap Melati


“Kamu kan udah anak gadis sekarang. Cantik lagi” Goda Adnan. Tangan Adnan mulai meraba pinggang Melati. Mengusapnya pelan dari atas ke bawah, membuat Melati sedikit geli.


“Kalau di rumah aku kayak jadi princess nya mama. Aku di manja banget” Melati mulai menahan tangan Adnan. Rasanya semakin geli tapi menyenangkan.


“Kalau gitu sebelum pulang boleh gak aku juga manjain kamu?” Nada suara Adnan yang rendah membuat Melati membuka mata yang sejak tadi terpejam. Dipandangnya Adnan dan Melati langsung mengerti apa mau Adnan saat ini.


Tanpa aba-aba Adnan langsung mencium bibir Melati. Adnan melumat bibir Melati dengan lembut. Melati yang sudah terbiasa hanya bisa mengikuti alur Adnan. Semakin lama ciuman mereka semakin panas, tangan Adnan yang tadinya mengusap lengan Melati mulai bergerak ke arah lain.


Sebuah desahan lolos dari bibir Melati saat Adnan meremas dadanya. Mendengar desahan Melati Adnan semakin semangat melancarkan aksinya. Tangan Adnan perlahan menyusup masuk ke balik kaus yang digunakan Melati. Saat dirasa sudah pas, Adnan kembali meremasnya dengan kuat.


Merasakan hangatnya tangan Adnan yang sudah menyentuh dadanya secara langsung membuat Melati terkejut. Melati langsung melepaskan tautan bibirnya dengan Adnan dan mundur, memberikan jarak yang cukup jauh dari Adnan.


Nafas mereka berdua saling berkejaran. Melati butuh menenangkan diri, hal yang barusan terjadi sungguh di luar kuasanya. Melati sangat menikmatinya, jujur. Tapi rasa takut kemudian hinggap, Melati takut ada orang lain yang melihat mereka. Apalagi tempat mereka duduk merupakan kawasan untuk masyarakat umum.


Setelah dirasa cuukup, Adnan kemudian menarik tubuh Melati agar lebih mendekat padanya.


“Gak apa-apa. Aku cuma takut ada yang lihat kita. Aku baik-baik aja“ Jawab Melati cepat


“Kamu benar gak apa-apa?” Tanya Adnan memastikan. Melati lalu menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


“Tapi aku udah terlalu kelewatan akhir-akhir ini” Ucap Adnan lagi


“Kamu gak melukai aku, kamu juga gak maksa aku. Aku suka melakukan itu dengan kamu” Ucap Melati malu.


Mendengar jawaban Melati membuat Adnan kembali bersemangat. Setidaknya Melati tidak membenci apa yang sudah di perbuat Adnan tadi.


“Kalau gitu ayo kita pulang. Bibir kamu bengkak, bisa gawat kalau dilihat orang lain” Bisik Adnan


\*\*\*


Sampai di gerbang kost Melati langsung turun dari motor Adnan. Hari mungkin sudah menunjukkan pukul 7 malam.


“Kabari aku kalau kamu udah pastikan mau balik kapan” Ucap Adnan


“Iya. Hati-hati ya” Melati melambaikan tangannya dan menunggu sampai Adnan berlalu pergi.


Saat berjalan ke dalam teras kost, Melati terus-terusan mengusap bibirnya. Melati tidak menyangka ada sisi liar di dalam tubuhnya. Melati sangat ketakutan tadi tapi Melati juga menyukainya. Ada suatu perasaan aneh yang terus berteriak meminta Melati melanjutkan hal yang tadi dilakukannya bersama Adnan.


Begitu membuka pintu kamar, Melati terkejut bukan main saat mendapati seseorang duduk di kasurnya.


“Mama” Ucap Melati syok


“Kamu dari mana saja sih? Mama udah tungguin kamu dari sore, mama telpon kamu juga gak angkat” Omel mama Melati. Perlahan Melati masuk ke dalam kamar dan menutup pintu di belakangnya.


“Mama kok bisa ada disini? Ayah sama Bang Mario dimana?” Tanya Melati takut. Bibirnya pasti masih bengkak saat ini.


“Cuma mama doang yang datang. Ayah sama abang kamu gak bisa tinggalin pekerjaan mereka” Ucap mama Melati. Melihat tingkah Melati yang seperti orang ketakutan membuat mama Melati mengernyit bingung.


Tapi hanya beberapa detik Mama Melati menemukan jawabannya. Mama Melati merasa sedikit miris, tapi tak ayal juga begitu bahagia.


“Duduk sini” Ucap mama Melati sambil menepuk kasur. Dengan takut Melati melangkah dan duduk di kasur, di samping mamanya.


“kamu udah lakuin itu?” Tanya mama Melati


“Lakuin apa ma?” Tanya Melati bingung


“Itu loh, sama pacar kamu” Goda Mama Melati


“Gak kok Ma. Serius. Melati gak ada ngapa-ngapain sama Adnan” Seru Melati gagap


“Jadi namanya Adnan. Dia baik gak?” Tanya mama Melati lagi


“Baik kok Ma. Mama tenang aja” Ucap Melati pelan


“Tapi kayaknya dia ganas ya. Bibir kamu sampai bengkak banget gitu” Goda Mama Melati. Melati refleks langsung menutup bibirnya dengan kedua tangan.


“Skripsi kamu gimana?” Tanya mama Melati lagi


“Selesai liburan Melati bakal mulai penelitian Ma” Jawab Melati masih membekap mulutnya


“Pakai pengaman kalau melakukan itu ya.” Melihat Melati yang bingung mama Melati lalu melanjutkan. “Selesai kuliah kamu bisa langsung nikah.” Ucap mama Melati sambil mengedipkan sebelah matanya.