Before 25

Before 25
Bab 4 Pergumulan Hati



Seminggu sudah sejak pertemuan antara Melati dan Adnan. Dan sejak itu pula mereka tidak ada bertemu lagi. Melati yang bingung pun tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak tau apa yang harus dilakukannya. Untuk menghubungi Adnan, Melati tidak tau nomor ponselnya. Untuk menemui langsung tentu saja mustahil bagi Melati. Dia tidak senekat itu.


Pertemuan mereka yang tidak disengaja itu menumbuhkan sebuah rasa di sudut hati Melati. Rasa yang entah bagaimana cara mengekspresikannya. Teringat bagaimana mata hitam pekat itu menatapnya intens, membuat jantung Melati seperti diremas dengan kuat. Tapi tidak ada rasa sakit di sana.


Melati sadar hal ini sangat baru baginya. Dia belum pernah terlibat hubungan “yang harus dikatakan apa ini” dengan lelaki sebelumnya. Tapi dia ingin menatap ke arah mata itu lagi. Menjadi satu-satunya gambar yang terpantul di bola mata lelaki itu.


Melati menghela napas pelan dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Saat ini dirinya sedang berada di kelas. Mata kuliah yang semakin berat tiap harinya karena sebentar lagi akan memasuki musim ujian semester.


“Nanti ke kantin dulu yuk” Ajak Rara


Melati hanya menganggukkan kepala. Malas hanya untuk sekedar menatap sahabatnya itu.


Rara pun sadar akan perubahan sikap Melati belakangan ini. Selain suka melamun, sekarang Melati tampak sering menghela napas. Seakan ada ribuan beban tak kasat mata di pundaknya.


Rara tidak bisa selalu memaksa Melati untuk bercerita. Meskipun sudah dekat sejak awal mulai kuliah Rara tau bahwa Melati masih tertutup. Tidak semua hal bisa Rara ceritakan tentang Melati selain sifat introvert nya itu.


Rara hanya tau kalau Melati anak bungsu dari dua bersaudara. Kakak laki-lakinya sudah bekerja di salah satu perusahaan di kota tempat tinggal Melati. Ayah Melati seorang guru di sebuah sekolah menengah atas. Dan ibunya adalah ibu rumah tangga.


Bagaimana masa lalu Melati, apakah dia memiliki pacar dulunya atau bagaimana kehidupannya sebelum pindah ke kota ini Rara tidak tau. Bahkan sempat terpikirkan oleh Rara apakah Melati punya semacam trauma atau sejenisnya yang membuatnya enggan untuk bersosialisasi dengan orang lain.


“Malam minggu nanti kita mau kumpul-kumpul lagi, mau ikut?” Tanya Rara berbisik


“Mau” Jawab Melati cepat. Kini Melati menghadap langsung ke arah Rara. Tampak binar senang di matanya.


“Semangat banget, mau jumpa siapa di sana hah” Goda Rara yang membuat Melati langsung memutar kembali wajahnya menghadap slide yang sedang dijelaskan dosen.


“Nanti aku jemput jam 5, soalnya kita kumpulnya agak jauh” Lanjut Rara dan tidak mendapat respon lagi dari Melati.


***


Hari ini Adnan sangat malas untuk melakukan apapun. Setelah selesai dengan kelasnya dan tidak memiliki jadwal lain setelah ini, Adnan memutuskan untuk duduk di pendopo yang banyak disediakan di area kampus.


Sudah seminggu ini Adnan uring-uringan memikirkan Melati. Pertemuan mereka yang terakhir membuat Adnan memiliki sedikit harapan. Harus diakuinya kalau dia jatuh cinta pada pandangan pertama. Terlalu klise memang. Tapi itulah yang dirasakan Adnan sekarang.


Adnan terlalu malu pada dirinya sendiri karena begitu cepatnya menyukai bahkan jatuh cinta pada seorang gadis. Adnan takut kalau itu hanya perasaan memuja yang muncul hanya untuk sesaat. Adnan ingin semuanya berjalan perlahan dan sesuai dengan sebagaimana mestinya.


“Pede banget gue” Gumam Adnan lesu


“Ngapain lo disini? Gak masuk kelas?” Sapa Dodi yang muncul tiba-tiba dan duduk di depan Adnan


“Udah selesai kelas gue” Jawab Adnan lemah, dirinya terlalu malas untuk bertemu siapapun saat ini.


“Kenapa tu muka, kusut amat” Ucap Dodi


“Kusut banget ya?” Adnan balik bertanya dan hanya diangguki oleh Dodi


“Lo ngapain disini?” Adnan malah mengalihkan topik


“Gue mau ajak lo kumpul buat malam minggu besok, mau gak?” Tanya Dodi


“Malas nih, gue lagi gak mau keman-mana” Jawab Adnan


“Yeee, yakin gak mau ikut. Melati datang loh” Pancing Dodi. Dan yap, umpannya langsung ditangkap. Adnan yang sejak tadi ogah-ogahan langsung menunjukkan ketertarikan begitu nama Melati di sebut.


“Beneran nih?” Tanya Adnan memastikan


“Bener, tadi Rara yang bilang ke gue” Jawab Dodi tersenyum. “Ikut gak?”


“Ikut dong, ngapain gue di kost sendirian malam minggu. Kayak jones” Ucap Adnan sambil tertawa, membuat salah satu alis Dodi naik.


Dan respon Adnan selanjutnya membuat Dodi yakin 100% bahwa lelaki di depannya ini sedang jatuh cinta.


“Gue gak cuma sekali ya ketemu Melati, udah dua kali. Dua kali” Adnan menekankan kata dua kali sambil mengacungkan dua jarinya di hadapan Dodi.


“Kapan?” Tanya Dodi penasaran. Setaunya Melati sangat sulit ditemui, bahkan baginya yang satu jurusan.


“Minggu kemarin di supermarket, lo mau tau siap itu kami ngapain?” Goda Adnan membuat rasa penasaran semakin memenuhi diri Dodi.


“Apa? Ngapain lo berdua?” Dodi semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Adnan


“Kami jalan berdua ke taman” Ucap Adnan pelan di telinga Dodi, membuat Dodi sedikit bergidik.


“Eleh, gue kira ngapain. Jalan doang di taman gue juga bisa kali, biasa amat” Ejek Dodi


“Jangan sepele dong lo, emang lo bisa ajak Melati jalan berdua gitu?” Tantang Adnan


“Jelas lah” Ucap Dodi yang membuat Adnan menyesal sudah menantangnya. “Jelas gak bisa” Sambung Dodi


Tawa keras pun terdengar dari mulut Adnan. Dirinya merasa puas karena menjadi laki-laki satu-satunya yang bisa mengajak Melati jalan.


“Lo serius suka sama Melati?” Tanya Dodi


Tapi bukannya jawaban, Adnan malah bertanya balik. “Kenapa emang? Dia udah punya cowok ya?” Adnan lupa satu hal itu. Bisa saja Melati sudah punya pacar dan dirinya dengan begitu bodoh jatuh cinta pada gadis itu.


“Setau gue sih belum. Tapi Melati itu beda Nan. Lo liat sendirikan waktu kita kumpul kemarin. Gue aja sampai syok Melati bisa datang. Melati itu jarang banget bahkan hampir gak pernah ikut kumpul-kumpul kayak gitu. Bahkan nih ya, waktu gue sekelompok sama dia aja. Dianya rela ngerjain semua tugas kelompok demi bisa gak datang. Coba lo bayangin.” Ucap Dodi panjang lebar


Dahi Adnan sedikit berkerut mendengar penjelasan Dodi itu. “Mungkin karna dia gak nyaman sama kalian” Ucap Adnan


“Terus dia bisa tiba-tiba nyaman gitu sama lo? Orang yang baru sekali dia jumpain dibanding gue yang sering papasan sama dia?” Tanya Dodi ngotot


“Lo sendiri yang bilang cuma papasan, iya kalau dia juga liat lo” Jawab Adnan cuek


“Oke deh, terus sekarang gimana lo sama Melati?” Dodi akhirnya menyerah


“Itu dia gue bingung. Setelah jalan ke taman minggu lalu kami gak ada kontak lagi. Gue dah minta nomor dia sih dari si Rara tapi bingung mau bilang apa.” Keluh Adnan


“Hah. Menurut gue mending lo tanya aja dulu sama si Rara. Rara itu yang paling dekat sama Melati. Seenggaknya lo bisa tau sedikit lah tentang Melati” Saran Dodi


***


Setelah selesai mengembalikan buku dari perpustakaan Melati dan Rara berjalan menuju kantin. Saat sedang asyik berbicara handphone Rara berdering dan membuat Rara sedikit kesal, karena sudah mengganggu aktifitasnya menggoda Melati.


“Apaan” Tanya Rara cuek pada si penelepon. “Harus sekarang nih?” Melati hanya mendengar pembicaraan Rara sekilas.


“Maaf ya Mel, aku harus pergi nih. Penting banget. Lain kali aja kita makan bareng ya.” Ucap Rara cepat dan tanpa menunggu jawaban Melati langsung berlari ke arah parkiran


Melati merasa tidak perlu ambil pusing. Rara memiliki banyak gebetan, yang katanya sayang kalau dijadikan pacar. Dengan langkah gontai Melati berjalan ke pintu keluar kampus untuk pulang ke kost.


Baru saja Melati melangkah keluar dari pagar, dirinya sekilas melihat Adnan lewat di seberang jalan. Menaiki motornya dan membonceng seorang gadis. Meski keduanya memakai helm tapi Melati dapat mengenali wajah mereka berdua karna kaca helm yang tidak ditutup. Dan gadis itu adalah Rara.


Sesak tiba-tiba dirasakan Melati. Teringat ucapan Adnan waktu itu.


“Mulai besok aku bawa dua helm. Buat kita”


Melati tersenyum getir dan semakin mempercepat langkah kakinya.