
Sepanjang perjalanan Melati hanya duduk diam diboncengan Adnan. Tangannya menggenggam erat pegangan pada bagian belakang motor. Jarak café yang cukup jauh ditambah lagi macet membuat Melati merasa tidak nyaman duduk di atas motor.
Adnan yang menyadari adanya pergerakan di belakang, kemudian menghentikan motornya disalah satu supermarket. Melati yang bingung hanya turun dari atas motor dan melihat Adnan pergi memasuki supermarket.
“Minum dulu mel” Adnan menyerahkan sebotol minuman ringan
“Makasih ya” Ucap Melati menerima pemberian Adnan
“Kamu jarang naik motor ya?” Tanya Adnan
Mereka memutuskan duduk di kursi yang disediakan di depan supermarket.
“Aku gak bisa” Jawab Melati pelan, Adnan menaikkan salah satu alisnya tanda tidak mengerti. “Aku gak bisa bawa motor” Lanjut Melati pelan, kepalanya sudah menunduk sempurna. Rasa malu mulai menjalari hatinya.
Adnan sedikit terkejut dengar penuturan Melati. Zaman ini sangat jarang orang tidak tau cara mengendarai motor. Apalagi itu merupakan salah satu jenis transportasi yang sangat digemari banyak orang. Melihat Melati yang tertunduk Adnan kemudian tersenyum.
“Mau aku ajari?” Ucap Adnan lembut membuat Melati mendongak menatap Adnan
“Gak usah, aku gak bisa” Tolak Melati cepat. Melati tidak ingin bergantung pada Adnan.
“Pasti bisa kok. Gini-gini aku guru yang hebat loh, gak sampai sebulan aku yakin kamu pasti dah bisa bawa motor” Ucap Adnan semangat
“Aku gak apa-apa. Aku gak mau repotin kamu”
“Aku gak merasa repot tuh” Adnan mengedikkan bahunya santai
“Aku yang repot, aku gak bisa” Ucap Melati agak keras
\*\*\*
Begitu sampai di café Melati langsung pergi mencari Rara. Tidak dipedulikannya sopan santun dan langsung meninggalkan Adnan di area parkiran. Melihat itu hati Adnan sedikit menciut. Sepertinya dia sudah salah langkah.
Semua orang sudah berkumpul di sebuah meja kayu berbentuk persegi panjang. Makanan dan minuman juga sudah tersaji dan membuat Melati merasa tidak enak hati. Mereka berdua yang terakhir sampai di café.
Setelah mengambil tempat duduk di samping Rara, Melati hanya terdiam dan menatap acak ke segala arah.
Rasa kesal yang tadi ditahannya mulai berkurang. Melati menyukai tempat ini. Café dengan konsep outdoor, dimana jarak antara meja satu dengan yang lain lumayan jauh sehingga tidak perlu merasa terganggu dengan pengunjung lain. Ditambah lagi dengan banyak pepohonan besar yang rindang membuat uadara di sekitar terasa sejuk.
Adnan memilih duduk di hadapan Melati. Wajahnya tampak sedikit muram dan itu tak terlepas dari pengamatan Rara.
“Pasti ada yang gak beres nih” Batin Rara
Acara berlangsung seru dengan candaan dan tingkah absurd dari Ridwan. Meskipun Melati tetap sama. Hanya mengamati, menjawab seperlunya atau tersenyum saat ada yang lucu.
Sementara Adnan menghabiskan waktunya untuk terus mengamati Melati. Pergerakan sekecil apapun tak luput dari pandangannya. Adnan begitu memuja Melati yang tersenyum. Senyumannya mampu membuat jantung Adnan berdebar tidak karuan.
Mereka bertujuh tampak sangat menikmati suasana di café itu. Waktu yang semakin larut membuat udara semakin dingin dan mempengaruhi suasana hati Melati. Dia membenci dingin. Tangan dan kakinya terasa membeku saat terkena udara dingin.
“Mel, si Adnan mau ngomong sesuatu tuh” Rara berbisik di telinga Melati. Melati yang bingung menatap ke kursi di hadapannya. Adnan tadi duduk disitu dan sekarang sudah tidak ada. Melati sampai tak menyadari bahwa Adnan sudah tidak di tempat duduknya, karena sibuk menggerutu di dalam hati.
“Dimana?” Melati ikut berbisik
“Di dekat pohon besar ujung sana tuh” Rara menunjukkan arah dengan matanya. Melati sebenarnya sangat malas untuk berbicara hanya berdua saja dengan Adnan. Kejadian tadi di supermarket membuatnya kesal, karena Adnan seolah memaksakan kehendaknya.
Tak urung Melati berjalan juga menghampiri Adnan yang sedang duduk di bangku panjang di balik sebuah pohon besar. Tempatnya cukup tersembunyi karena berada di ujung area café. Tapi penerangan masih sampai ke tempat dimana mereka duduk. Pemandangan langit pun sangat cantik karena menampakkan bulan yang bulat sempurna dan beberapa bintang.
Melati duduk di samping Adnan dan memilih diam. Dia tidak mau memulai pembicaraan duluan. Dan kalau menurutnya Adnan akan memaksa seperti tadi sore, Melati akan memilih untuk langsung pergi.
“Kamu gak nyaman ya di dekat aku?” Ucap Adnan masih fokus menatap ke depan. Entah apa yang dilihatnya di sana.
Mendengar pertanyaan Adnan, Melati mengerutkan keningnya. Melati berpikir Adnan akan minta maaf karena sudah memaksakan pendapatnya. Karena selama ini Melati selalu mendapat perlakuan semacam itu, selalu permintaan maf. Dan seolah tidak mau ambil pusing Melati akan menganggukkan kepala dan seolah menghilang dari orang-orang itu. Melati tak akan berurusan lagi dengan mereka.
Tapi apa yang didengarnya dari Adnan barusan membuat Melati berpikir. Apakah selama ini semua orang didekatnya berpikir begitu. Adnan memang tidak salah. Melati selalu merasa tidak nyaman berdekatan dengan orang lain. Tapi mendengarnya langsung pada situasi seperti ini membuat Melati merasa jahat.
“Maaf.” Gumam Melati pelan tapi masih bisa terdengar Adnan.
“Kenapa kamu minta maaf?” Tanya Adnan bingung menatap Melati. Adnan terkejut bukan main saat melihat setetes air mengalir dari sudut mata Melati. “Kenapa nangis?” Ucap Adnan panik
Adnan benar-benar mati kutu saat ini. Niatnya mengajak Melati bicara berdua bukan untuk ini. Dia ingin minta maaf untuk perlakuannya tadi sore dan mencoba berbaikan dengan Melati. Adnan tidak tahan dengan sifat Melati yang seolah menjauhinya saat acara kumpul bersama tadi. Tapi lihatlah yang dilakukannya sekarang. Kata-kata tadi keluar begitu saja dari bibir Adnan.
“Mel jangan nangis dong, maaf ya.” Adnan berusaha menenangkan Melati tapi tampaknya air mata itu tak mau berhenti mengalir. Malah semakin deras dengan diikuti isakan kecil dari Melati. Tak tau harus berbuat apa Adnan kemudian memegang tangan Melati menggenggamnya kuat.
“Jangan nangis mel. Aku yang salah” Ucap Adnan pelan. Adnan yang menyadari tangan Melati sangat dingin kemudian menggosok-gosoknya dengan kedua telapak tangannya yang besar. “Imut banget tangan Melati” Batin Adnan dalam hati. Ada rasa senang karena Melati tidak menolak saat Adnan menggenggam tangannya.
Beberapa menit berselang tangis Melati berhenti dan hanya menyisakan isakan kecil. Adnan melepas genggaman tangannya dan membuka jaketnya. Memakaikan jaket itu pada tubuh mungil Melati. Melati yang sadar mendongakkan kepalanya menatap Adnan.
“Aku gerah, titip bentar boleh kan?” Ucap Adnan sambil tersenyum
\*\*\*
Mereka duduk diam sambil menatap langit malam yang cerah. Tidak ada yang memulai pembicaran. Dan tampaknya mereka menyukai keadaan sunyi seperti itu.
“Aku gak nyaman saat berinteraksi sama orang baru. Aku bingung bagaimana cara menanggapi perkataan mereka, cara menolak, dan cara menerima tawaran mereka. Aku berpikir itu akan sangat merepotkan untuk mereka dan juga untuk ku. Aku harus berusaha memberikan respon sesuai yang mereka mau. Dan itu terkadang sangat memberatkan” Melati berbicara sambil terus menatap ke langit malam.
Adnan berusaha mencerna setiap perkataan Melati. Hal baru buat Adnan tapi ada benarnya juga. Dimana saat seseorang berbicara, orang yang diajak bicara harus berpikir bagaimana cara menanggapi percakapan agar tidak ada yang merasa tidak di anggap. Hal sehari-hari yang sangat jarang terpikirkan oleh orang-orang pada umumnya. Terkesan sangat individualis memang, tapi Adnan dapat memakluminya. Semua orang berbeda.
“Aku memang baru dalam kehidupan kamu Mel. Tapi aku ingin mencoba untuk menjadi seseorang yang selalu hadir dalam setiap hari kehidupan kamu. Kalau kamu mengijinkan bolehkah aku menampakkan wajah ku yang tidak seberapa ini berkali-kali di hadapan kamu?” Tanya Adnan ragu dan sebuah tawa kecil lolos dari bibir Melati.
Adnan yang bingung hanya menatap Melati. Salah lagikah dia. Apa yang lucu sampai membuat Melati tertawa.
“Kamu masih harus ngantar aku pulang setelah ini” Ucap Melati setelah tawanya reda.
“Lampu hijau Nan” Sorak Adnan dalam hati.
“Kalau misalnya, misalnya besok aku liat kamu di jalan boleh gak aku tawarin bonceng kamu?” Tanya Adnan semangat. Melati hanya menganggukkan kepalanya.
“Oke” Ucap Adnan keras. Mereka lalu tertawa bersama.
Dari kejauhan Rara tersenyum melihat dua sejoli yang sedang asyik tertawa itu. Rara membawa kembali banana cake kesukaan Melati yang ada dipegangannya.
Tadinya Adnan ingin memberi sebuah kejutan kecil untuk Melati. Tapi karena insiden itu rencana yang sudah mereka susun kemarin gagal.
“Tak apa lah. Toh mereka mendapatkan sesuatu yang lebih dari cake ini” Rara mengangkat bahu dan berjalan meninggalkan dua sejoli itu.