
Liburan semester terasa begitu singkat bagi Melati. Rasanya seperti baru kemarin dia menghabiskan malam-malam panjang bersama Adnan. Tapi hari-hari ini dia harus disibukkan dengan penelitian dan berbagai hal untuk menyelesaikan skripsinya. Terasa begitu berat dan juga melelahkan.
Melati sudah bertekad untuk menyelesaikan perkuliahannya tepat waktu, sehingga tidak ada alasan baginya untuk menunda-nunda waktu. Pasalnya beberapa waktu ke depan akan ada penerimaan asisten dosen di kampus mereka. Melati belum tahu ingin melakukan apa setelah selesai kuliah nanti. Sehingga menjadi asisten dosen merupakan suatu kesempatan yang bagus bagi Melati, untuk merenung dan membuat keputusan lebih lanjut.
Proses penelitian yang memakan waktu sampai 2 bulan membuat Melati harus ektra dalam memanajemen waktunya. Waktu berkumpul bersama teman-temannya masih berlangsung setiap akhir pekan dan Adnan juga menemaninya saat sedang senggang. Karena membagi jadwal yang begitu padat, Melati melupakan suatu hal. Hal yang sangat berharga baginya.
Kesibukan yang terus menuntut setiap hari membuat Melati bahkan hampir tidak pernah berkomunikasi dengan Rara. Rara seolah terlupakan dalam hidup Melati. Bukan karena kesengajaan, tapi waktunya sekarang lebih banyak dihabiskan bersama dengan Adnan.
Melati memang masih bertemu dengan Rara setiap akhir pekan, saat mereka berkumpul beramai-ramai. Tapi sesuatu yang kasat mata membentang di antara mereka, seperti sebuah dinding transparan yang membuat mereka canggung satu sama lain.
Padahal sebelumnya Rara dan juga Melati sering menghabiskan waktu bersama. Entah itu pergi berbelanja, ke salon, atau sekedar menginap di tempat masing-masing. Waktu seakan berputar begitu cepat, menyisakan banyak keraguan dan seolah sedang memperingatkan.
\*\*\*
“Hari ini kamu pulang jam berapa?” Tanya Adnan melalui telpon
Hari ini merupakan hari terakhir Melati melakukan penelitian. Rencananya Melati akan melakukan acara perpisahan kecil dengan karyawan tempat dia melakukan penelitian.
“Sekitar jam 7 malam” Jawab Melati
“Aku selesai dari sini kira-kira jam setengah 7, mungkin akan membutuhkan waktu sampai satu jam untuk sampai ke sana. Kamu gak apa-apa nunggu aku?” Tanya Adnan lagi
“Tentu aja, aku bakal tunggu kamu di lobi.” Ucap Melati
Meski sama-sama disibukkan dengan urusan masing-masing, mereka selalu menyempatkan untuk sekedar makan malam bersama. Suatu hubungan yang sangat erat, mengingat mereka sudah melakukan hal yang lebih.
Melati sangat bersyukur bisa bertemu dengan seorang pria seperti Adnan. Tampan, pintar, penyayang, perhatian, dan bertanggung jawab. Semuanya sangat sempurna. Memiliki dan dimiliki oleh pria itu.
Sambil menunggu Adnan yang akan datang menjemput, Melati duduk si salah satu sofa di lobi. Meluruskan punggungnya yang seakan hampir remuk karena aktivitas penelitiannya yang memakan waktu panjang. Setelah ini, Melati harus bekerja lebih ekstra lagi untuk menyusun semua hasil penelitiannya.
Sangat menyenangkan jika dia memiliki kecerdasan seperti Adnan. Adnan bisa dikatakan sangat cerdas dengan IQ jauh di atas normal. Tapi hal itu juga sangat berpengaruh dengan kepribadian Adnan. Adnan sangat berhati-hati dalam melakukan sesuatu, bahkan terkadang terlalu logistik dan realistik.
Penelitian Adnan bahkan sudah selesai sejak sebulan yang lalu. Hal yang sangat luar biasa bagi mahasiswa teknik seperti dia. Memang Adnan sudah memulai rancangan penelitiannya sejak memasuki semester 7 perkuliahan. Tapi melakukan penelitian sambil kuliah merupakan sesuatu yang patut dibanggakan bagi Melati.
Melati juga merupakan mahasiswa unggulan di fakultasnya. Setiap dosen menyukainya, karena selain pintar Melati juga sangat sopan. Hal itu bisa menjadi salah satu poin penting baginya saat melamar posisi asisten dosen nanti. Karena itu Melati bertekad untuk segera menyelesaikan tugas akhir perkuliahannya.
Dengan tubuh bersandar di sofa, Melati memilih memejamkan matanya sejenak. Ruangan lobi ini sudah sangat sepi, yang dikarenakan jam bekerja sudah selesai sejak 2 jam yang lalu. Hanya tinggal seorang resepsionis dan penjaga keamanan yang berkeliling setiap 30 menit. Untuk itu Melati bisa meluangkan sedikit waktunya beristirahat sambil menunggu kedatangan Adnan.
Rasa lelah selama 2 bulan ini membuat Melati sangat gampang untuk tertidur. Karena selain penelitian Melati juga harus mulai mengolah datanya. Mencicil setiap bagian yang bisa dikerjakan agar bisa segera berkonsultasi dengan dosen pembimbing.
Suasana yang sepi pun menambah berat rasa kantuk pada Melati. Hingga akhirnya Melati tertidur sendirian di sofa besar ruangan itu.
***
\*\*\*
“Mel… Mel… bangun” Sebuah suara tampak mengusik Melati dari tidurnya
“Mel, bangun” Suara itu tampaknya tidak ingin menyerah. Dengan malas Melati membuka matanya dan menatap Adnan yang sudah duduk di sebelahnya.
“Kamu udah lama ya? Maaf aku ketiduran” Ucap Melati dan langsung meluruskan duduknya
“Tadinya aku mau biarkan kamu tidur lebih lama, tapi ini udah makin malam, lebih baik kamu istirahat di kost aja nanti” Ucap Adnan lembut
“Makasih ya” Ucap Melati. Kehadiran Adnan seperti ini sangat membantu Melati, Adnan tidak pernah meminta atau memaksakan sesuatu yang akan memberatkan. Sebaliknya Adnan akan bersikap seperti seorang suami yang menjaga istrinya.
Mereka berdua sudah duduk nyaman di atas motor. Membelah jalanan malam yang sudah mulai sepi dan menyisakan adegan romantis bagi mereka berdua. Duduk berdua di atas motor dengan Melati yang memeluk Adnan erat dan semilir angin yang terasa menyejukkan.
“Beberapa hari ke depan mungkin kita bakal sulit ketemuan” Ucap Melati membuka suara
“Kenapa? Kamu mau pergi?” Tanya Adnan tidak suka
“Bukan” Jawab Melati sambil tersenyum. Adnan sangat tidak menyukai kalau mereka terpisah dalam jangka waktu lama. “Aku ingin fokus menyelesaikan hasil penelitian dan konsultasi dan itu akan membutuhkan banyak waktu. Kalau kamu mengijinkan aku ingin fokus mengerjakannya dalam beberapa minggu ini” Ucap Melati hati-hati
“Jadi kita tidak bisa bertemu?” Nada suara Adnan terdengar jelas kalau dia sedang jengkel
“Untuk beberapa hari ini mungkin akan sulit, tapi aku akan berusaha untuk membagi waktu. Aku sangat ingin selesai sebelum bulan april nanti” Melati benar-benar harus membujuk Adnan kali ini
“Aku bisa bantu kamu. Aku bisa cari sumber referensi atau mengetik untuk kamu” Melati bisa melihat melalui kaca spion, ekspresi Adnan sungguh tidak enak.
“Aku ingin menyelesaikannya dengan kemampuanku sendiri. Lagipula aku sangat berterima kasih karena kamu sudah banyak membantu. Kamu selalu mengantar jemput aku meskipun kamu sendiri juga sangat sibuk. Setidaknya untuk kali ini aku ingin mengerahkan semua kemampuan yang aku miliki” Penjelasan Melati sangat masuk akal bagi Adnan. Adnan juga tidak mau kalau Melati membantu proses pengerjaan skripsinya. Mungkin itu yang dimaksud dengan kepuasan pribadi saat berhasil mengerjakan sesuatu sendirian.
“Baiklah. Tapi kalau kamu membutuhkan sesuatu langsung hubungi aku” Ucap Adnan akhirnya.
“Tentu aja. Makasih banyak ya” Jawab Melati senang
“Kan bilang makasih lagi. Udah berapa kali aku bilang gak usah bilang terima kasih, aku ini pacar kamu, dan semua yang aku lakukan memang kewajiban aku” Ucap Adnan kesal.
Melati selalu berterima kasih atas setiap hal yang dilakukan Adnan. Bahkan sekecil apapun itu. Bukannya Adnan tidak suka dengan sifat itu, tapi akan lebih baik jika Melati tidak mengucapkannya pada Adnan.
Dengan lembut Melati mengusap perut Adnan. Perut rata dan keras yang menjadi sesuatu yang sangat di sukai Melati belakangan ini. Dengan memeluk dan mengelusnya seperti ini membuat Melati senang dan juga menghentikan rajukan Adnan.
“Jangan terlalu lama mengusapnya seperti itu kalau kamu tidak bisa bertanggung jawab” Ucap Adnan yang membuat pipi Melati merona merah.