
Sepekan sudah Melati disibukkan dengan skripsinya, mulai dari mencari lebih banyak referensi dan bertemu dengan dosen pembimbing. Dan sepertinya upaya keras Melati mulai membuahkan hasil. Dosen pembimbingnya sangat menyukai hasil dari penelitian Melati dan sepertinya juga tidak ada masalah dalam proses pengerjaannya. Jika tidak ada halangan Melati dapat melaksanakan sidang dalam beberapa minggu ke depan.
Seharian mengurung diri di dalam kamar kost membuat Melati sangat pengap. Sudah seminggu ini dia menghabiskan hari di dalam kamar, duduk tegak di kursi sambil menatap layar laptop. Bahkan tidak jarang Melati mengerjakannya sambil berbaring di kasur karena punggungnya sakit duduk seharian.
Target pengerjaannya hari ini sudah selesai sehingga Melati bisa istirahat. Setelah merapikan semua kertas-kertas dan buku yang berserak di kasur dan juga meja belajar, Melati lalu membaringkan badannya sebentar. Senin nanti Melati bisa bertemu lagi dengan dosen pembimbing untuk membahas perbaikan yang diminta kemarin. Jadi Melati mempunyai waktu luang sampai besok.
Karena sudah begadang selama beberapa hari membuat Melati sangat mengantuk. Ketika kedua matanya hampir menutup, Melati baru ingat kalau dia akan pergi. Ini adalah akhir pekan dan dia akan berkumpul lagi bersama teman-temannya yang lain. Mengingat keseruan mereka saat berkumpul membuat Melati bersemangat. Rasa jenuh selama seminggu ini mungkin akan sedikit berkurang saat bertemu dengan mereka nanti.
Adnan tadi sudah menghubungi Melati terkait lokasi dan jam pertemuan mereka. Kali ini mereka hanya akan berkumpul di salah satu café yang baru buka. Café itu adalah milik sepupu dari Ridwan. Menurut Ridwan café itu sangat nyaman karena juga menyediakan ruangan privasi yang cocok bagi mereka.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 5 sore, berarti satu jam lagi Adnan akan datang untuk menjemputnya. Kalau Melati melanjutkan acara berbaringnya malah akan membuat Melati jatuh dalam tidur. Melati tidak bisa melewatkan kesempatan untuk bertemu teman-temannya. Mereka adalah salah satu hal yang sangat di impikan Melati saat ini. Dengan adanya mereka Melati bisa menjadi seseorang yang normal.
\*\*\*
Kamar itu penuh dengan wangi parfum sekarang. Melati berdiri sekali lagi di depan cermin untuk melihat penampilannya. Karena akan pergi bersama Adnan, Melati hanya bisa memakai celana jeans. Akan sangat tidak nyaman bagi Melati jika harus mengenakan dress saat menaiki motor.
Celana jeans Melati dipadukan dengan blous berwarna cream dan memperlihatkan kulit lehernya yang mulus. Sebuah tas kecil berwarna merah pemberian mamanya menjadi pilihan Melati malam ini. Sepatu kets menjadi pelengkap penampilan Melati. Tidak lupa juga make up tipis yang akan menyamarkan wajah lelah dan pucat milik Melati.
Melihat lehernya yang terekspos begitu jelas membuat Melati mengingat saat itu. Saat ketika Adnan meninggalkan begitu banyak tanda kemerahan di sana. Dengan perasaan geli, takut, sakit, sekaligus menyenangkan bagi Melati. Melati menggelengkan kepalanya kuat saat pikirannya semakin liar. Malam itu sangat berkesan baginya. Malam yang tidak akan pernah bisa dilupakan oleh Melati.
Sebuah notif pesan menandakan bahwa Adnan sudah berada di depan kostnya. Karena sudah seminggu tidak bertemu Melati sangat merindukan Adnan. Rasanya Melati sangat ingin berlari dan memeluk Adnan erat. Tapi itu tidak mungkin dilakukan mengingat rasa malu masih mengakar dalam diri Melati. Orang-orang yang melihat akan terganggu dengan kelakuan itu.
“Selalu seperti biasa. Cantik” Ucap Adnan begitu melihat Melati. Tapi detik selanjutnya wajah sumringah Adnan berganti dengan ekspresi kesal.
“Sepertinya aku harus memberi kamu pelajaran hari ini” Ucap Adnan yang membuat Melati bingung. “Lihat tulang berjalan ini, apa kamu tidak makan selama seminggu?” Tanya Adnan kesal
“Aku makan kok” Jawab Melati
“Selain tidak makan kamu juga sepertinya tidak tidur. Apa kamu ingin berubah menjadi panda bertubuh kurus?” Lanjut Adnan seolah tidak mendengar perkataan Melati.
Hal ini bisa berlanjut terus dan membuat mereka datang terlambat. Jadi untuk menyelesaikannya, Melati langsung duduk di boncengan dan memeluk Adnan erat.
“Aku rindu kamu” Ucap Melati pelan
Tangan Adnan lalu mengelus tangan Melati yang berada di perutnya. “Aku lebih daripada itu”
\*\*\*
Mereka berdua adalah yang paling terakhir sampai di café. Sebuah kejadian tidak mengenakkan terjadi di tengah perjalanan mereka tadi. Seorang gadis berseragam SMA tertabrak oleh sebuah mobil saat hendak menyebrang jalan. Gadis itu bahkan terpental jauh akibat kuatnya tabrakan yang terjadi. Dan hal itu terjadi tepat di depan mata Melati.
Melihat bagaimana gadis itu tertabrak membuat Melati seolah melihat sesuatu yang tidak seharusnya. Darah yang mengalir membasahi jalanan mengingatkan Melati pada sesuatu yang terasa sangat nyata. Seperti sesuatu yang sudah pernah Melati lihat sebelumnya.
“Maaf ya kami telat, tadi ada kecelakaan di jalan jadi sempat macet.” Ucap Adnan sambil duduk di sebuah kursi kosong. Melati juga ikut duduk di sebelah Adnan.
“Karena kalian sudah datang jadi kita mulai pembicaraan kali ini” Ucap Dodi membuka suara
“Kita semua sekarang sama-sama sibuk dengan skripsi kita masing-masing. Jadi gue dan Ridwan udah bicara soal gimana pertemuan kita ini untuk ke depannya. Rasanya memang sangat sulit karna kita sudah melewati tahun-tahun yang sangat berkesan bersama. Tapi gue dan Ridwan rasanya tidak sanggup saat ini.” Lanjut Dodi
“Gue juga ngerasain hal yang sama. Waktu 7 hari dalam seminggu ini saja rasanya masih belum cukup untuk gue. Tapi agak gak adil kalau kita menghentikannya begini saja. Bagaimanapun kita sudah banyak meluangkan waktu dan pergi bersama-sama” Ucap Mona
“Menurut gue juga gitu, kalau diberhentikan tiba-tiba begini pasti akan buat kita semua kehilangan. Untuk bertemu di kampus saja udah susah karena kita sibuk dengan urusan masing-masing” Ucap Silvi
“Kalau harus dilanjutkan gue harus bilang dari sekarang kalau besok gue bakal berangkat ke luar kota. Lokasi penelitian gue ada di sana, dan untuk sementara ini gue bakal tinggal di sana.” Ucap Ridwan
“Kalau gue ikut keputusan kalian aja. Gue netral” Ucap Rara
“Jadwal kita saat ini memang sangat padat. Untuk memaksakan harus bertemu tiap akhir pekan aku yakin pasti ada yang sangat tertekan. Tapi jika harus melanjutkannya dengan ketidakhadiran beberapa orang acara kita ini pasti tidak akan sama lagi. Aku akan ikut dengan keputusan Dodi dan Ridwan” Ucap Adnan
Semua orang tampak begitu serius dengan percakapan mereka. Dan tidak ada seorang pun yang menyadari mata Melati yang mulai memerah menahan tangis. Baru saja tadi Melati menyamakan acara ini dengan kehidupan normalnya. Tapi acara ini akan dihentikan begitu saja, tanpa peringatan.
“Menurut kamu gimana Mel?” Tanya Dodi
“Aku..aku.. aku senang bisa berkumpul dengan kalian. Kalian sudah sangat baik mau menerima aku di sini dan juga memperlakukan aku seperti teman-teman kalian. Tapi jika ini yang terbaik untuk semuanya, aku terima” Ucap Melati terbata sambil menahan air mata.
“Jangan ngomong gitu dong Mel. Gimana pun kamu itu memang teman kita, bagian dari kita juga” Ucap Silvi
“Jangan nangis dong mel” Ucap Mona sedih
“Acara ini bisa kita lanjutkan kok, nanti saat kita sudah punya waktu lagi. Memang tidak bisa dilakukan setiap akhir pekan gini, tapi itu lebih baik kan” Ucap Ridwan menyemangati.
Melati hanya mengangguk pasrah mendengar setiap kata-kata penyemangat dari mereka semua. Ini bukan hanya tentang perasaan Melati, mereka semua juga sedih karna harus mengakhiri sesuatu yang mereka senangi.
Tapi siapa yang tahu janji-janji dan kata-kata mereka saat ini akan terwujud atau tidak.
Kebanyakan manusia melupakan apa yang mereka katakan dan melanjutkan hidup seolah lupa dengan semua janji itu.
Menganggapnya hanya sebagai formalitas sebelum benar-benar pergi tanpa kabar.