Before 25

Before 25
Bab 11 Teman



Melati tampak canggung duduk berhadapan dengan Adnan. Sejujurnya Melati sedikit merindukan pemuda tampan itu. Melihatnya langsung setelah sebulan berlalu membuat jantung Melati berdebar tidak karuan. Melati sampai takut kalau debaran jantungnya sampai terdengar Adnan.


Berbeda dengan Melati yang duduk dengan tidak nyaman, Adnan malah tampak sangat santai. Setelah melihat Melati dibonceng Ridwan bulan lalu, Adnan terus mencecar Rara dengan puluhan pertanyaan. Adnan menelpon dan mengirim banyak pesan pada Rara tiap harinya. Rara yang saat itu sedang berlibur dibuat sangat terganggu.


Dengan usaha keras Adnan akhirnya meyakinkan Rara untuk dapat mempertemukan Adnan dengan Melati. Dan disinilah mereka sekarang. Duduk berhadapan sambil menatap dalam ke bola mata masing-masing. Mencoba mencari tahu perasaan yang terpendam.


“Kamu cantik” Adnan membuka suara. Melati hanya tersenyum canggung. “Boleh aku bertanya?” Tanya Adnan, Melati hanya diam. Adnan harus mengakui bahwa Melati sangat teguh pada pendiriannya.


“Kamu dan Ridwan ada hubungan apa?” Melati sontak melebarkan kedua matanya mendengar pertanyaan Adnan. Pertanyaan macam apa ini, batin Melati.


“Hubungan apa? Aku dan Ridwan tidak ada hubungan apapun” Jawab Melati


“Kamu dan Ridwan sering bertemu di luar?” Tanya Adnan lagi. Kali ini Melati mengernyitkan dahinya. Pertanyaan Adnan semakin aneh. Kenapa semuanya disangkut pautkan dengan Ridwan.


“Aku cuma ketemu Ridwan saat kita kumpul bersama. Kami tidak pernah bertemu selain itu” Jawab Melati


“Kamu yakin?” Adnan memajukan tubuhnya mendekat ke arah Melati. Melati langsung memundurkan badannya refleks.


“Kamu ini kenapa? Kan udah aku bilang aku dan Ridwan gak pernah ketemu di luar selain waktu kumpul-kumpul” Jawab Melati gelagapan. Adnan yang tiba-tiba mendekat tadi berhasil membuat kerja jantungnya meningkat berkali lipat.


“Oke. Pertanyaan terakhir. Kamu mau berteman sama aku?” Adnan kembali memposisikan tubuhnya seperti semula


“Kita kan memang berteman” Ucap Melati datar


“Bukan yang seperti sekarang ini. teman seperti Rara.” Adnan menjawab cepat. Sementara Melati hanya diam, bingung memikirkan perkataan Adnan barusan.


“Aku mau kamu terbuka sama aku, merasa nyaman sama aku, mau aku antar jemput, mau keluar jalan berdua denganku, dan tidak menghindariku” Adnan mengucapkan kata terakhir dengan penuh penekanan dan menatap langsung ke mata Melati.


“Aku gak bisa” Jawab Melati cepat


“Kenapa? Tolong kasih aku alasan yang realistis, yang bisa membuat aku yakin kamu dan aku memang tidak bisa berteman. Kalau alasan kamu tidak meyakinkan aku akan terus ganggu kamu seperti ini” Adnan mulai gusar dengan penolakan yang terang-terangan ditunjukkan Melati


Melati diam memikirkan alasan apa yang bisa diberikannya pada Adnan. Dan dia tidak menemukan satupun. Adnan yang tiba-tiba memaksa masuk ke dalam kehidupannya telah membuatnya bergantung. Pertama kalinya setelah kejadian mengerikan itu, Melati merasa sangat aman dan nyaman. Berada di dekat Adnan membuatnya merasa dilindungi, tidak akan ada orang yang bisa menganggunya lagi.


Adnan membawa sesuatu yang baru dalam warna kehidupan Melati. Rasa nyaman itu terlanjur mengakar kuat di lubuk hati Melati, menyebar luas memenuhi seluruh relung hatinya. Saat ini, detik ini dengan Adnan yang terus menatap lekat padanya. Melati tidak ingin semua itu berakhir. Melati ingin berlari kepelukan Adnan dan menyerap seluruh rasa aman yang menguar di tubuh Adnan.


Tapi bagaimana kalau kejadian itu terulang lagi? Melati tidak akan sanggup kalau harus menghadapi mimpi buruk itu lagi. Semua orang menjauhi dan menggunjingkannya. Hal paling mengerikan yang dirasakan Melati dalam hidupnya. Bagaimana kalau akhirnya Adnan juga ikut menjauhinya. Padahal Adnan adalah sumber keamanan itu sendiri. Melati tidak sanggup membayangkannya.


“Kamu berpikir terlalu jauh Melati” Ucapan Adnan mengalihkan Melati dari ingatannya akan masa lalu.


Adnan memperhatikan setiap gerak Melati sejak tadi. Saat Adnan bertanya mengenai hubungan Melati dengan Ridwan, Melati biasa saja dan tampak tenang. Tapi saat Adnan mulai membahas soal teman Melati berubah. Raut wajahnya menunjukkan ketakutan. Bola matanya menunjukkan permintaan tolong. Adnan menyadari satu hal. Perempuan yang saat ini duduk di hadapannya, perempuan yang Adnan cintai sejak pandangan pertama, memiliki masa lalu yang menyakitkan. Sebuah trauma.


Adnan mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan kanan Melati. Tangan Melati bahkan terasa sangat dingin.


“Aku berjanji akan terus ada disamping kamu. Menemani kamu dan menjaga kamu. Aku gak akan membiarkan siapapun menyakiti kamu lagi. Aku gak akan pernah meninggalkan kamu. Kamu bisa bergantung sama aku” Ucap Adnan tulus. Seketika air mata mengalir melalui kedua mata indah Melati.


Kata-kata itu yang selama ini ingin Melati dengar. Kata-kata dengan janji tulus di dalamnya. Bukan hanya sekedar pertanyaan apakah dirinya baik-baik saja atau apakah dirinya sudah melupakan kejadian itu.


Genggaman tangan yang menghangatkan dan perasaan nyaman yang disalurkan oleh Adnan membuat Melati tak mampu lagi berkata-kata. Air matanya terus mengalir tapi Adnan tetap dengan setia menggenggam tangan Melati. Menyalurkan seluruh perasaan yang telah dipendamnya selama ini. Rasa rindu membuncah di dada Adnan. Kalau saja bukan karena café yang ramai, Adnan akan segera membawa Melati kepelukannya, memberikan kehangatan yang lebih dari sekedar genggaman tangan. Tapi Adnan berpikir ribuan kali kalau harus melakukan itu sekarang. Melati akan pergi meninggalkannya atau yang paling buruk Melati mungkin saja menampar atau menyiram Adnan dengan minuman di depan mereka.


Setelah beberapa lama tangis Melati pun mereda. Melati membersihkan sisa air mata dengan tisu yang diberikan Adnan. Tangan Adnan masih setia mengggenggam tangan Melati. Melati perlahan melepaskan tangan itu dan membuat Adnan refleks mengeratkannya. Adnan tidak ingin Melati pergi.


Adnan langsung melepaskan tangan Melati. Menunggu sampai Melati siap memulai pembicaraan mereka lagi.


“Aku bukan orang yang asyik diajak berteman. Aku juga jarang pergi keluar. Aku gak terlalu suka keramaian” Melati memulai kembali pembicaraan mereka yang sempat terhenti tadi


“Menurutku aku ini asyik diajak berteman, aku juga jarang pergi keluar tapi kalau kamu mau kita bisa memulainya, aku juga gak terlalu suka keramaian tapi tenang aja aku bakal selalu jaga kamu. Kita cocokkan?” Adnan tersenyum mengungkapkan hal itu


“Kamu yakin mau berteman sama aku? Nanti gimana sama teman-teman kamu yang lain?” Tanya Melati ragu


“Memangnya kenapa sama teman-teman aku yang lain? Mereka juga pasti ikut senang kalau kita berteman. Aku juga bakal kenalin kamu sama teman-teman aku yang lain” Ucap Adnan bersemangat


“Bagaimana kalau ada dari teman-teman kamu yang gak suka sama aku?” Suara Melati semakin pelan. Melati takut Adnan akan tersinggung dengan pertanyaannya.


“Kenapa mereka gak senang. Ini hidupku, pilihanku. Aku juga gak merugikan mereka. Kecuali untuk satu hal karena kamu sangat cantik” Puji Adnan. Melati tertawa mendengar pujian Adnan itu. Rasanya lucu karena setiap kali bertemu Adnan selalu mengatakannya cantik.


“Kenapa kamu selalu bilang aku cantik?” Tanya Melati masih tertawa


“Karena kamu memang cantik. Apalagi saat tertawa seperti ini. Aku makin terpesona sama kamu” Jawab Adnan. Pandangan Adnan yang serius membuat rona merah langsung menjalar panas di pipi Melati.


“Aku gak secantik itu. Banyak perempuan diluar sana yang jauh lebih menawan dibandingkan aku” Ucap Melati


“Aku akui banyak perempuan yang lebih menawan, lebih cantik, lebih anggun di luaran sana. Tapi aku hanya terpesona sama kamu” jawab Adnan lagi. Melihat Melati yang salah tingkah, Adnan tersenyum senang.


“Jadi apakah kita berteman sekarang?” Tanya Adnan, Melati pun mengangguk mengiyakan.


“Kamu gak akan menjauhi, menghindari, atau meninggalkan aku lagi kan?” Tanya Adnan memastikan, anggukan kepala Melati membuat seluruh rasa takut yang sejak awal melingkupi hati Adnan terangkat.


Adnan mengacungkan jari kelingking nya kehadapan Melati. “Janji” Ucap Adnan. Melati mengulurkan jari kelingkingnya dan menautkan ke jari Adnan.


“Aku janji” Ucap Melati sambil tersenyum


“Kalau gitu mulai sekarang aku udah bisa panggil kamu sayang?” Tanya Adnan


“Apa? Kenapa gitu?” Tanya Melati bingung


“Kan ini hari pertama kita berteman” Jawab Adnan


“Tapi kan berteman gak pakai panggilan sayang” Ucap Melati bingung


“Lah kan kita bertemannya lain. Kita berteman untuk sehidup semati” Ucap Adnan.


Mereka berdua tertawa bersama menghabiskan waktu untuk kembali mengisi penuh kekosongan yang sempat terjadi.


\*\*\*


Beberapa meja dari mereka seorang gadis tampak menatap dengan penuh kebencian.


“Kamu benar-benar mengabaikan perkataan ku”