
Suara dering hp mengusik tidur Melati. Dia baru bisa tidur jam 1 pagi karena sibuk memikirkan apa-apa saja yang harus dilakukannya demi mewujudkan empat hal dalam notes kecil itu. Suara yang tidak mau berhenti itu membuat Melati akhirnya menyerah dan menyudahi tidurnya di hari libur kuliah ini.
“Ya” Ucap Melati parau, kesal karna telah diganggu tidurnya
“Kamu jadi ikut kan nanti malam?” Tanya Rara langsung. Pertanyaan yang membuat dahi Melati berkerut, berpikir sejenak tentang acara apa yang akan didatanginya malam nanti. Ah iya. Kumpul bersama teman-teman kampus.
“Jadi kok” Jawab Melati
“Jam 7 aku jemput ke kost kamu ya, jangan sampai berubah pikiran loh. Ingat.” Ucap Rara memperingati.
Setelah memutuskan sambungan telepon Melati lanjut menutup matanya. Baru beberapa saat mata coklat bening itu langsung terbuka lebar. Dengan gerakan tiba-tiba Melati bangun dari tidurnya.
“Nanti malam aku beneran pergi nih?” Tanya Melati pada dirinya sendiri
Acara malam nanti sebenarnya hanya acara nongkrong biasa anak muda di malam minggu. Tapi karena dari awal Melati tidak pernah ikut acara seperti itu mulai timbul rasa gelisah dan tak nyaman. Orang-orang yang hadir di sana juga sebagian besar teman-teman kampusnya. Tapi kembali lagi pada sifat Melati yang pendiam dan cuek, dia tidak mengenal sebagian besar dari mereka.
“Kalau aku batalin sekarang Rara bakalan marah gak ya?” Gumam Melati, tapi seketika muncul kembali percakapan mereka beberapa saat yang lalu. Melati bergidik mengingat ucapan sahabatnya itu. Rara kalau marah ngeri, lebih parah dari ibu tiri.
Dengan langkah gontai akhirnya Melati berjalan ke arah lemari pakaian. Hal pertama yang harus dipikirkannya adalah apa yang harus dipakainya pergi kesana. Dia tidak mau dicap aneh karena berpakaian yang tidak sesuai dibandingkan dengan orang-orang yang datang disana nanti.
“Pakai ini kayaknya terlalu lebay” ucap Melati dan mengembalikan gaun terusan panjang berwarna hitam. Hadiah dari Rara saat ulang tahunnya.
“Baju yang ini terlalu pendek, nanti kalau ada cowok yang matanya jelalatan. Hiii” Ucap Melati sambil bergidik ngeri.
“Pakai ini pasti lebih aneh” Melati lalu melemparkan acak set pakaian training berwarna abu-abu.
“Pakai apa nih?” Gumam Melati pasrah melihat isi lemari yang hampir sebagian penuh dengan kaus dan kemeja untuk ke kampus. “Masa aku pakai kemeja yang biasa ngampus sih, nanti kalau ada yang ingat baju itu pasti aku diledekin.” Ucap Melati dan berjongkok di depan lemarinya.
Lama Melati memandangi lemari bajunya yang suah berantakan karna sibuk mencari baju yang sesuai dengan acara malam ini. Matanya kemudian membulat melihat kotak kado yang masih terbungkus rapi. Hadiah itu dari mama nya saat dia meraih nilai tinggi semester lalu. Karena malas melihat isinya Melati hanya meletakkannya saja di sudut bawah lemari. Berharap cemas kalau isi kotak itu bisa membantu, Melati kemudian membukanya dan tersenyum senang.
Setelah sibuk memilih baju, sepatu dan tas yang akan dipakainya nanti. Yang membutuhkan waktu berjam-jam Melati lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Melihat jam di hp nya yang menunjukkan jam 1 siang. Pantas saja perutnya sudah berdemo minta diisi. Menatap malas ke arah meja kecil tempat stok makanan membuat Melati melengos. Tidak ada yang menarik untuk dimakan. Akhirnya Melati memutuskan untuk mandi dan setelahnya pergi ke warung penjual nasi uduk kesukaannya.
Hal yang dibenci Melati saat membeli makan di jam makan siang seperti ini adalah keramaian. Dia tidak pernah merasa nyaman saat ada banyak orang disekelilingnya. Merasa seperti diawasi bahkan dibicarakan orang lain.
Saat kecil Melati adalah anak yang pemberani. Dia bahkan akan merengek pada mama nya kalau tidak diberi kesempatan untuk bernyanyi saat acara ulang tahun temannya. Tapi kebiasaan pemberani itu seolah memudar sejak dia merantau ke kota lain untuk kuliah.
Terbiasa melakukan semuanya sendiri membuat Melati hanya fokus pada dirinya. Jarang keluar dari kamar kost untuk sekedar berinteraksi dengan penghuni kost lainnya, membuat Melati menjadi semakin menjauh. Kadang dia sendiri merasa kesal dengan dirinya yang tidak bisa nyaman kalau berbicara dengan orang lain selain Rara.
Setelah antrian yang cukup panjang dan rasa tidak nyaman yang membuat nya berkeringat, Melati pun membawa pulang bungkusan makanannya.
“Jangan harap aku bisa makan disini” batin Melati saat salah satu pegawai laki-laki di warung itu tersenyum manis melihatnya.
Jam 6 Melati sudah sibuk berputar-putar di kamarnya. Masih dengan menggunakan baju kaus kebesaran yang jatuh sampai menutupi setengah paha dan celana pendek yang bahkan tidak kelihatan karena pendeknya.
“Kok aku deg-degan banget ya, mereka orang-orang baik kan? Gak suka bully kan? Kalau mereka gak suka aku gimana? Rara bakalan nolongin aku gak? Pertanyaan demi pertanyaan membuat Melati semakin gugup. Merasa hanya membuang-buang waktu Melati pun mulai berdandan.
Jam 7 malam Rara sudah sibuk mengetok pintu kamar Melati.
“Mel..Melati. Mama coming” Ucap Rara berisik di balik pintu. Pintu yang terbuka membuat Rara langsung saja menerobos masuk kedalam. Menatap penuh telisik dari atas sampai bawah sang empunya kamar.
“Aneh ya?” Tanya Melati gugup
“Cantik” Jawab Rara. “Beli baju baru ya, kok aku gak pernah liat?” Goda Rara lagi
“Aku yakin setelah malam ini kamu bakal dapat cowok ganteng.” Ucap Rara sambil mengedipkan matanya
“Apaan sih, mana mungkin” Ucap Melati cepat dan menutupi wajahnya yang merona merah.
Acara kumpul-kumpul malam ini bertempat di salah satu café di pusat kota. Malam minggu menjadikan café ini sangat ramai dikunjungi oleh kaum muda yang datang bersama pacar atau berkumpul ramai-ramai seperti Melati saat ini.
Di sana sudah duduk Melati, Rara, dan empat orang lainnya. Dua cowok dan dua cewek. Melati mengenal mereka semua meskipun hanya dua dari mereka yang Melati tau namanya. Itupun karena mereka pernah sekelompok dengannya.
“Aku gak nyangka kalau kamu bakalan datang malam ini mel” ucap Dodi
“Iya nih, kalau tau ada cewek secantik kamu datang malam ini aku bakalan dandan maksimal nih” Sambung Ridwan. Melati yang mendengar itu hanya tersenyum kikuk menatap mereka berdua.
“Jangan ganggu anak aku ya, besok-besok gak bakal aku bawa lagi ke sini” Ucap Rara galak
“Garang banget emaknya’ Celetuk Ridwan
“Si Adnan jadi datang gak?” Tanya Silvi, salah satu teman yang pernah sekelompok dengan Melati
“Katanya sih jadi, tapi agak telat kayaknya” Jawab Dodi
Percakapan yang terjadi diantara mereka sangat seru. Meskipun Melati tidak bisa mengimbangi semua percakapan mereka, dia tetap merasa senang.
“To do list yang pertama berhasil. Datang ke acara kumpul teman-teman” Batin Melati
Semua pikiran buruknya di kost tadi hilang sudah dan membuatnya malu karena sudah berpikiran yang tidak-tidak pada mereka. Rona merah yang menjalar menghiasi pipi Melati tak luput dari pandangan Rara.
“Kamu gak apa-apa mel? Muka kamu kok merah gitu” Tanya Rara
“Hah? Aku? Aku gak apa-apa kok” Jawab Melati gugup sambil memegangi wajahnya
“Cie… lagi mikirin apa sih Mel sampai merah gitu mukanya?” Goda Ridwan. Melati hanya menunduk karena malu.
“Cantik kok” Suara itu tiba-tiba muncul dan sesosok laki-laki sudah duduk di kursi di depan Melati
“Lama banget baru datang” Ucap Dodi
“Biasalah” Ucap laki-laki itu.
“Kenalin ini Melati. Mel ini Adnan, anak jurusan teknik.” Ucap Rara. Melati yang masih menunduk perlahan mengangkat kepala nya dan menatap laki-laki didepannya.
Deg
Mendapatkan cowok ganteng.
Jantung Melati terasa berdentum-dentum, menyesakkan. Ada rasa senang, rasa takut, rasa nyaman, rasa memiliki, rasa kehilangan semua bercampur aduk saat itu juga.
Matanya tertuju hanya menatap satu hal. Wajah tampan dengan bola mata hitam pekat dihadapannya.
“Cantik” Ucap Adnan.
Dan hal itu sukses membuat pipi Melati kembali merona merah, lebih merah dari sebelumnya.