
Melati bangun dengan tubuh segar. Kemarin Melati begadang menonton salah satu drama baru yang dibintangi aktor idolanya. Setelah sekian lama meninggalkan aktivitas kesukaannya itu, Melati merasa senang sekaligus sedih. Sudah lama dia tidak memberikan waktu bersenang-senang bagi dirinya sendiri.
Melati berjalan menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya. Apakah karena berapa hari ini Melati bisa tidur dengan nyenyak. Lingkaran hitam di bawah matanya sudah menghilang dan wajahnya tidak lagi pucat. Bahkan rona merah yang sudah lama hilang itu muncul kembali.
Melati tersenyum melihat pantulan wajahnya di cermin. Cantik, pikir Melati. Sudah sangat lama rasanya Melati tidak merasa begitu segar sehabis bangun tidur. Tubuhnya seakan enteng dan penuh dengan energi positif.
Setelah puas memandangi wajah cantiknya, Melati melangkah ke dapur untuk membuat sarapan. Hari ini dia juga bisa mencium aroma lezat dari nasi goreng buatannya. Beberapa waktu yang lalu, untuk mencium wangi masakan dari jauh saja Melati sudah menahan mual.
Kata dokter Alan itu efek samping dari obat yang dikonsumsi Melati. Tapi hari ini, setelah menghentikan konsumsi obatnya, Melati dapat menikmati makanan.
Nasi goreng buatannya terasa sangat nikmat hari ini. Dilengkapi dengan telur mata sapi yang bulat dan matang sempurna, membuat sarapannya terasa lengkap. Melati sarapan sambil menonton televisi acara lokal.
Hal ini juga sudah sangat lama tidak dilakukan Melati. Sarapan sambil duduk menghadap televisi, menyaksikan acara yang beraneka ragam. Entah itu berita, gossip, sinetron, atau kartun. Pagi yang sempurna setelah sekian lama.
Setelah menyelesaikan sarapannya yang sebentar dan acara menonton televisi yang lama, Melati pun beranjak ke kamar mandi. Melati merasa tubuhnya begitu lengket, mungkin mandi lebih lama akan membuatnya lebih baik. Dan dimulailah acara kebersihan tubuh bagi Melati.
Melati mencuci rambutnya dan memberi banyak pelembab rambut. Menggosok tubuhnya dari atas sampai ujung kaki bahkan sampai dua kali, agar benar-benar bersih. Memakaikan lotion pada kulitnya agar terasa semakin lembab. Aktivitas itu memakan waktu yang lama.
Dengan handuk yang membungkus rambutnya, Melati membuka laci tempat kumpulan make upnya berada. Melati merindukan saat-saat dimana dia merias wajahnya dan menjadikan seorang Melati yang cantik.
Senyum tidak pernah lepas dari wajah Melati sejak bangun tadi. Tangannya dengan lembut memoles riasan pada wajah. Dan sentuhan terakhir sebuah lipstick berwarna merah Melati aplikasikan pada bibirnya.
Wajah itu sungguh cantik, pikir Melati. Melati sampai merasa tidak puas juka hanya melihat wajahnya sebentar. Jadi sembari menata rambut, dia terus mengamati wajahnya dan tersenyum senang.
Setelah semuanya selesai Melati sekali lagi mematut dirinya di cermin. Bagaimana wajah cantik ini bisa bersedih selama bertahun-tahun. Menyia-nyiakan setiap momen yang mungkin tidak bisa diulang lagi. Di masa muda yang penuh warna ini, Melati ingin sekali lagi mewarnai hidupnya.
Hari ini Melati memakai gaun putih pemberian Adnan. Sepatu sneaker hitam dan tas putih kecil menjadi pelengkap penampilan Melati. Dengan semangat Melati memandang penampilannya di cermin besar. Melalui cermin itu Melati dapat melihat keseluruhan tubuhnya. Sangat sayang kalau penampilan hari ini hanya orang lain yang bisa melihat.
Jika saja Adnan juga bisa melihatnya, Melati akan merasa sangat puas.
Jam di dinding membuat Melati terkejut. Harusnya Melati bertemu dengan Alan jam 1 siang dan ini sudah terlambat hampir sejam.
“Kali ini biarkan mereka yang menunggu” Batin Melati dan melangkah keluar apartemen.
Sebelum keluar Melati sekali lagi mengamati rumah dimana Adnan pernah tinggal dengannya. Suara tertawa dan juga tangisan kembali terlintas dalam benak melati. Melati lalu menarik gagang pintu dan benar-benar menutup pintu itu.
\*\*\*
“Melati jadi datang atau tidak?” Pertanyaan yang terus keluar dari mulut Adnan sejak 5 menit keterlambatan Melati. Dan ini sudah hampir satu jam, bayangkan saja sudah berapa kali Adnan mengatakan hal itu.
“Melati baru saja mengirim pesan, katanya dia sebentar lagi akan sampai.” Ucap Alan
“Baiklah, kalau begitu kami akan menunggu di bangku sebelah sana” Ucap Rara menunjuk bangku yang berseberangan dengan tempat mereka duduk saat ini.
Lokasi bangku itu tidak terlalu jauh dan mereka bisa melihat dengan jelas jika Melati sudah datang nanti. Tadi mereka bertiga sudah sepakat bahwa Alan akan berbicara lebih dulu dengan Melati. Setelah itu, baru Alan memberi kode agar Adnan dan Rara datang menemui Melati.
Tidak berapa lama Melati akhirnya muncul. Ditengah cuaca yang terang, memakai gaun putih dan rambut yang terurai. Jantung Adnan berhenti seketika melihat Melati yang tidak jauh dari tempatnya duduk mengamati.
“Kamu tampak berbeda hari ini” Ucap Alan
“Pagi tadi saat membuka mata aku merasa sangat bahagia. Aku sarapan nasi goreng dengan telur mata sapi tanpa menahan mual. Rona merah di wajahku juga sudah kembali dan membuatku tampak lebih sehat.” Ucap Melati
“Itu hal yang bagus. Apalagi yang kamu rasakan?” Tanya Alan
“Beberapa hari ini aku tidak bermimpi. Aku bisa tidur dengan nyenyak dan tanpa rasa takut. Aku juga tidak meminum obat lagi. Aku akhirnya bisa merasakan kembali hidupku yang sempat hilang.” Jawab Melati senang
“Aku juga senang melihat kamu hari ini” Ucap Alan tersenyum tulus. Ini pertama kalinya sejak bertemu Melati dapat tersenyum bebas.
“Terima kasih karena dokter sudah mau mendengar ceritaku yang tidak masuk akal. Dokter adalah satu-satunya yang menyimpan seluruh cerita hidupku. Bahkan orangtua atau orang terdekatku tidak tahu semua itu” Ucap Melati
“Aku yang berterima kasih karena kamu sudah bertahan sejauh ini. Aku tahu semua itu berat apalagi saat pertama kali kamu memutuskan untuk datang kepada ku” Ucap Alan tulus
“Oh iya setelah ini aku akan pulang ke rumah. Kemarin ayah menelpon dan mengatakan rindu padaku. Aku juga merindukan mereka” Ucap Melati bersemangat
“Itu kabar baik. Kamu bisa membuka diri sekaligus memaafkan dan meminta maaf pada mereka. Kamu bisa memulai semuanya dari awal lagi” Balas Alan
“Menurut dokter apakah saya bisa memulainya lagi?” Tanya Melati langsung dihadapan Alan
“Semua manusia punya kesempatan untuk menjadi lebih baik” Jawab Alan
“Tapi kurasa aku sudah diberi terlalu banyak kesempatan” Ucap Melati
“Kamu sudah berusaha melakukan yang terbaik selama ini. Kamu sudah melewati masa-masa kelam itu dengan bersusah payah. Jadi pada kesempatan kali ini hiduplah dengan baik Melati” Ucap Alan
Melati tersenyum menatap taman yang masih sepi pengunjung. Biasanya saat datang ke sini Melati selalu bisa melihat banyak orang. Anak-anak yang berlari dengan orangtua mereka mengejar dibelakang, pasangan tua yang berjalan-jalan mengitari taman, atau pasangan muda yang dimabuk cinta.
Melihat taman yang sepi seperti ini membuat Melati rindu. Rindu akan saat-saat Adnan menggenggam tangannya erat dan berbagi kehidupan bersamanya.
“Kalau begitu saya harus pulang dokter. Saya tidak sabar bertemu dengan keluarga saya, saya harap hari ini tidak hujan agar saya bisa sampai di rumah tepat waktu” Ucap Melati dan berdiri diikuti oleh Alan.
“Hari ini sangat cerah jadi kuatkan hati kamu dan beranilah” Kata-kata semangat dari Alan membuat Melati semakin senang.
Melati berjalan ke ujung taman dengan langkah pasti. Hari ini pasti tidak akan mengkhianatinya, bukan. Dengan penuh kegembiraan Melati berbalik dan melambaikan tangannya pada Alan.
“Sampai jumpa lagi dokter” Teriak Melati
Alan baru sadar bahwa ada dua orang yang menunggu untuk bertemu dengan Melati. Alan kembali berteriak memanggil nama Melati tapi sepertinya Melati tidak mendengarnya.
Melati lanjut berjalan setelah mengucapkan perpisahan pada Alan, tapi baru saja dua langkah sebuah suara hantaman terdengar begitu keras. Alan dan orang-orang yang ada di taman itu dibuat terkejut dengan apa yang mereka saksikan.
Perlahan rintik-rintik hujan mulai berjatuhan. Awalnya hanya beberapa lalu kemudian bergiliran bertambah semakin banyak. Siang itu hujan turun dengan derasnya di bawah terik matahari. Dan seorang gadis tersenyum menatap awan biru.
“Sekali lagi hidup ini tidak pernah mengecewakanku” Melati