Before 25

Before 25
Bab 35 AKU



Semuanya berawal dari kejadian saat SMA, saat itu Bang Mario sangat perhatian padaku. Bahkan bisa dikatakan perhatian yang sangat berlebihan. Pergi dan pulang sekolah aku selalu bersamanya, saat itu aku menyukainya. Banyak teman-teman perempuan yang berharap agar bisa bertukar hidup denganku. Tapi ternyata itu sangat mengganggu.


Teman laki-laki semuanya berusaha menghindar tapi ada beberapa diantara mereka yang masih juga berani mengajak bertemu. Secara diam-diam tentu saja. Aku yang saat itu masih terlalu polos tidak bisa menolak permintaan mereka. Ternyata kelakuan itu memicu rasa tidak suka bagi perempuan lainnya.


Mereka menganggap aku terlalu berlebihan. Bertemu dengan teman laki-laki secara sembunyi-sembunyi malah memancing masalah baru. Mereka yang tidak tahan lagi mendengarnya memutuskan untuk memberi pelajaran. Aku tidak tahu kenapa mereka berhak memberi pelajaran saat kami masih sama-sama duduk di bangku sekolah.


Kejadian memalukan itupun tidak terelakkan. Abangku bahkan berpikir kalau aku ini perempuan nakal. Saat pertama kali melihatku dalam kondisi kacau itu, matanya menunjukkan pandangan marah. Menganggap bahwa aku telah melakukan kesalahan sangat besar yang tidak dapat dimaafkan.


Ayah menamparku dihadapan orang banyak dan Mama hanya bisa berlindung dibalik Ayah. Aku yang tidak tahu apa-apa ditinggalkan begitu saja. Tidak ada yang memberiku pertolongan, saat usiaku masih 17 tahun. Aku hanya remaja yang tidak tahu apa-apa tapi mereka menghakimi seolah aku adalah perempuan hina.


Keluargaku melakukan hal yang tidak ku minta. Mereka bersikap seolah kejadian itu tidak pernah terjadi dan mengabaikan kondisi ku. Yang kubutuhkan saat itu adalah tempat perlindungan, menjauhkanku dari orang-orang jahat di luar sana. Tapi mereka seolah mengurungku agar tidak bisa merasakan kehidupan layaknya remaja normal.


Kemudian mimpi itu mulai datang, menyuruhku untuk meninggalkan dunia ini. Aku terlena dengan bujuk rayu dan melakukannya. Tapi sepertinya saat itu aku sedang di hukum atas sifatku, sehingga yang kurasakan hanyalah rasa sakit yang semakin menjadi.


Melihat bagaimana semua orang memperlakukanku sebagai seorang penyakitan, membuat rasa benci tumbuh dan mengakar kuat. Sejak itu aku memutuskan untuk menjauhi dunia luar dan berfokus untuk mengurus diriku sendiri.


Mimpi itu seolah berhenti sejenak. Namun saat itu tepat 3 tahun setelah kejadian mengerikan itu aku kembali bermimpi. Awalnya semua hanya mimpi-mimpi aneh yang sering ku lupakan saat terbangun dari tidur. Tapi semakin hari mimpi itu semakin jelas dan mulai menampakkan wujud yang nyata.


Tepat saat usiaku 20 tahun, aku bisa melihatnya dengan jelas. Aku melihat diriku yang sedang berdiri di sebuah atap bangunan, aku tidak tahu itu dimana dan kenapa aku ada di sana. Dan aku yang sedang berdiri di ujung bangunan menjatuhkan diriku begitu saja ke bawah. Aku menjerit ketakutan saat melihat aku yang terjatuh. Suara hantaman tanah terdengar begitu jelas di telinga ku.


Sejak saat itu setiap malam aku selalui dihantui dengan mimpi buruk. Semuanya terjadi seolah aku melihat langsung bagaimana kejadian itu. Memperingatkanku bahwa hal itu sedang direncanakan entah oleh siapa. Dan seakan benar akan terjadi aku melewati setiap ulang tahunku dengan kejadian yang sama persis seperti di mimpi itu.


Satu hari sebelum ulang tahun semua kejadian sudah bisa ku tebak, karena sebelumnya aku sudah melihatnya dalam mimpi-mimpi itu. Yang mengejutkanku adalah fakta saat aku bersama dengan keluarga atau sahabatku, mimpi itu seolah berbelok. Semua hal yang harusnya terjadi tiba-tiba berubah haluan. Ceritanya berubah saat kehadiran keluarga dan sahabatku.


Kemudian pada suatu malam aku bertemu dengan wanita itu. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas tapi suaranya begitu lembut. Wanita itu meyakinkanku bahwa Adnan adalah satu-satunya yang dapat melepaskanku dari mimpi-mimpi itu. Wanita itu mengatakan bahwa Adnan harus selalu ada di sampingku.


Tapi semakin aku berusaha membuat Adnan tetap berada disisiku, semakin jauh pula Adnan dari jangkauanku. Aku menjadi terobsesi dengan kepentinganku, setidaknya dengan bersama Adnan aku bisa terus melanjutkan hidupku. Aku ingin hidup normal seperti orang-orang lain.


Sejak Adnan pergi mimpi itu juga tiba-tiba menghilang. Tidak ada lagi rasa ketakutan yang mengganggu setiap malamku. Sejenak aku berpikir apakah aku telah mengambil keputusan yang salah mengenai Adnan. Aku tidak tahu siapa wanita itu tapi kenapa aku harus mendengarkan kata-katanya.


Selama hampir 2 tahun aku hidup dengan nyaman. Waktu seakan berlalu begitu cepat dan aku menjalaninya dengan rutinitas yang sama setiap hari. Monoton tapi setidaknya tidak menakutkan.


Lalu sejak 2 minggu yang lalu mimpi itu kembali hadir. Bahkan lebih menakutkan dan mengerikan dari sebelumnya. Kali ini aku seperti merasakannya langsung, bahkan saat bangun tidur tubuhku merasakan sakit yang luar biasa. Sama seperti yang kurasakan saat tidur.


\*\*\*


Alan melepaskan kacamatanya dan mematikan pemutar suara itu. Ini sudah ketiga kalinya Alan mendengar cerita Melati. Mereka menghabiskan waktu selama 3 jam untuk menceritakan semua kisah Melati.


Alan tidak habis pikir dengan apa yang dialami Melati saat bersekolah dulu. Bagaimanapun juga keluarganya adalah yang berperan penting dengan masalah yang terjadi saat itu. Harusnya mereka bisa membantu menyembuhkan trauma yang dialami Melati, bukannya mengubur dan menganggap kejadian itu tidak pernah ada.


Selain itu, hal yang masih tidak bisa di pahami Alan adalah soal mimpi itu. Melihat bagaimana ketakutannya Melati saat bercerita tadi sungguh tidak memungkinkan bahwa Melati berbohong. Melati bahkan bercerita dengan rinci semua mimpi yang dialaminya.


Bagaimana bisa manusia bermimpi mengenai kematiannya, melihatnya langsung dan bahkan merasakan rasa sakitnya. Itu sangat tidak masuk akal.


Tadi setelah konsultasi mereka berakhir, Alan menaikkan dosis obat Melati. Menyadari kondisi Melati yang semakin memburuk menunjukkan obatnya kemarin tidak bekerja dengan baik. Mereka sudah mengatur pertemuan minggu depan. Minggu depan serangkaian terapi akan dimulai untuk membantu pengobatan Melati.


Hal pertama yang akan dilakukan Alan adalah mencari tahu dampak trauma saat Melati bersekolah dulu. Bisa saja trauma itu meninggalkan bekas di suatu tempat yang bahkan Melati sendiri tidak menyadarinya. Trauma itu mungkin mengakar kuat dan tertidur selama ini, menunggu saat Melati lengah.


“Bagaimana perasaan kamu saat ini?” Tanya Alan. Mereka sudah berkonsultasi sejak sejam yang lalu dan Melati bercerita lebih banyak mengenai mimpi yang dialaminya seminggu terakhir.


“Masih buruk, mengalami mimpi dan menceritakannya lagi membuat aku hampir muntah” Jawab Melati lemah. Wajah pucatnya masih sama, bahkan setelah Melati berusaha menutupinya dengan make up.


“Kita harus menempatkan seseorang di samping kamu” Ucap Alan


“Maksudnya?” Tanya Melati tidak mengerti


“Kondisi kamu saat ini sangat membutuhkan pengawasan. Efek obat penenang dan obat tidur itu bisa saja sudah mempengaruhi kamu” Ucap Alan sambil melihat tangan Melati.


Sejak minggu lalu tangan Melati mulai gemetar tanpa sebab. Melati diam saja dan tidak memberitahunya pada Alan, Alan mungkin akan menurunkan dosis obatnya kembali. Padahal dengan dosis yang baru ini Melati bisa tidur nyenyak meskipun hanya sebentar.


“Dari awal kita sudah berjanji untuk saling terbuka dan saling mempercayai bukan?” Ucap Alan


“Aku baik-baik saja. Selama ini aku juga bisa melewati semuanya sendiri” Ucap Melati


“Bagaimana dengan orangtua atau abang kamu?” Tanya Alan


“Sudah ku bilang jangan pernah menyebut mereka saat sedang mengobati aku” Ucap Melati keras


“Mereka bisa membantu kamu Melati. Lagipula aku tidak sedang mengobati kamu, kita hanya saling membantu satu sama lain” Bujuk Alan


“Mereka hanya akan terbebani. Kalau dokter masih ingin bertemu denganku minggu depan, jangan pernah menyebut siapapun. Hanya ada aku, Melati” Ucap Melati dan bangkit berdiri meninggalkan ruangan Alan tanpa permisi.


\*\*\*


“Mama udah lebih baik, papa gak usah khawatir. Mama kan memang selalu seperti itu, selalu mengutamakan pekerjaan daripada kesehatan. Maaf liburan kali ini aku harus bersama Mama” Rara memutuskan panggilan dan memasukkan kembali handphonenya ke dalam tas.


Rara berjalan menuju kantin untuk membelikan pesanan Mamanya, namun saat itu dia melihat Melati. Awalnya Rara ragu jika itu adalah Melati. Tubuhnya lebih kurus dan wajahnya juga sangat pucat. Setelah memastikan bahwa itu memang benar Melati, Rara lalu berteriak memanggil namanya. Tapi Melati sudah terlalu jauh untuk mendengar panggilan Rara, atau malah terlalu lelah.


“Aku yakin itu Melati” Gumam Rara


“Permisi nona. Kenapa anda berteriak di rumah sakit” Ucap Alan yang datang entah darimana


“Maaf saya tidak sengaja. Tadi saya melihat teman saya dan tanpa sadar saya berteriak memanggilnya” Ucap Rara


“Kamu kenal dengan nona itu?” Tanya Alan


“Iya, dia teman saya” Jawab Rara


“Kalau begitu apakah anda nona Rara?” Tebak Alan


“Darimana anda tahu nama saya?” Tanya Rara bingung


“Bisa saya berbicara dengan nona Rara sebentar? Ini mengenai nona Melati” Ucap Alan