Before 25

Before 25
Bab 25 Awal Cerita



Usia 25 tahun merupakan usia dimana seseorang semakin giat melirik milik orang lain. Masa dimana membandingkan merupakan sesuatu yang wajib dilakukan. Dimana apa yang dimiliki oleh orang lain jauh lebih berharga dibandingkan milik diri sendiri.


Sebuah zona bagi orang-orang yang ingin melihat sudah sejauh mana pencapaian yang berhasil dicapai. Sebuah waktu yang memunculkan banyak pertanyaan, yang sialnya terkadang sangat menjatuhkan mental.


Terkadang seseorang akan lebih memilih untuk menjauh dari dunia sosial karena rasa takut. Ketakutan akan menghadapi banyak pertanyaan dan ketakutan saat tidak menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.


Bagaimana kuliah kamu? Harusnya sekarang ini sudah selesai S2 kan?


Bagaimana pekerjaan kamu? Sudah naik jabatan atau malah masih mencari kerja?


Kapan menikah? Teman kamu anaknya sudah 2 loh?


Sudah ada rencana beli rumah dimana?


Berbagai pertanyaan dan hanya ada satu jawaban.


Orang-orang hanya ingin tahu mengenai pencapaian. Mereka tidak perduli dan tidak mau tahu bagaimana perjuangan untuk mencapainya. Berapa banyak usaha, keringat, air mata, waktu yang sudah dikorbankan demi pencapaian yang tidak pernah puas dimata mereka.


Padahal mereka itu bukan siapa-siapa. Bukan orang yang harus dibanggakan, bukan juga orang yang memiliki hak dan tanggung jawab bagi hidup.


Tapi kenapa perkataan dan pertanyaan mereka sangat menakutkan? Banyak orang yang menjadikan mereka sebagai titik keberhasilan hidup. Semakin baik kata-kata yang diucapkan mereka maka semakin bahagia pula kehidupan.


Tidak ada yang tahu apa yang mereka bicarakan dibelakang. Pujian kah atau semakin banyak pertanyaan.


\*\*\*


Beberapa hari belakangan ini Melati selalu pulang malam. Melati menghabiskan harinya bersama dengan Adnan dari pagi hingga malam hari. Yang menguntungkan bagi Melati adalah ayahnya mengirimkan uang jajan lebih untuk liburannya. Dan abangnya juga tak kalah baik karena mengirimkan jumlah yang lebih banyak dari ayahnya. Katanya hadiah untuk menyambut tahun baru.


Dengan uang kiriman abangnya Melati bisa menikmati liburan kemana saja di ibukota. Uang dari ayahnya hanya akan disimpan untuk tabungan. Begitu juga dengan Adnan yang mendapat kiriman uang dari ayahnya. Dengan jumlah yang lebih banyak dari biasanya tentu saja.


Meskipun bukan berasal dari keluarga kaya raya, tapi keluarga Adnan bisa dikatakan sedikit berlebih. Kedua orangtuanya bekerja dan bersyukur Adnan bisa kuliah dengan mengandalkan beasiswa.


“Besok kamu mau kemana?” Tanya Adnan melalui telpon. Setelah berpisah tadi Adnan menyarankan pembahasan untuk rencana mereka selanjutnya disambung melalui telpon karena hari yang sudah malam.


“Aku gak tahu mau kemana lagi. Kamu udah bawa aku keliling kota dan bisa datang ke tempat-tempat yang belum pernah aku datangi” Jawab Melati. Liburan mereka beberapa hari ini sangat menyenangkan. Bukan liburan mahal memang tapi sungguh berkesan bagi Melati.


Selama 3 tahun lebih tinggal di ibukota Melati sangat jarang pergi liburan. Hanya mengunjungi pusat perbelanjaan dan salon beberapa kali, itupun karena paksaan dari Rara. Sisanya hanya dihabiskan di kampus dan di dalam kamar kost. Jadi pengalaman liburan ini merupakan sesuatu yang baru bagi Melati. Bebas dari penjagaan ketat ayah dan abangnya.


“Emmm Mel. Lusa itu ulang tahun kamu, dan period kamu juga udah selesai. Apakah permintaan aku kemarin masih berlaku?” Tanya Adnan ragu. Melati diam sejenak, mengingat apa jelasnya permintaan Adnan itu. Jantung Melati langsung berdebar tidak karuan saat mengingatnya. Apakah ini akhir dari hubungan mereka.


“Kalau kamu menolak gak apa-apa kok Mel. Kita masih bisa pacaran kayak biasanya kan?” Tanya Adnan lagi karena Melati tak kunjung menjawab.


“Kalau itu biar aku yang urus, kamu tenang aja” Ucap Adnan “Sekarang kamu mau apa gak Mel?” Tanya Adnan lembut.


Sejujurnya Melati masih sangat ragu. To do list itu ditulisnya dalam keadaan marah. Marah pada orang-orang yang terus memojokkannya sebagai gadis bukan baik-baik. Gejolak emosi dan luka dari masa lalu yang membuat Melati berpikiran sempit. Tapi suasana saat ini justru mendukung Melati untuk mewujudkan list itu. Melati merasa tidak baik-baik saja.


“Aku mau” Jawab Melati


Seketika dunia Melati hancur. Jawaban itu bukan berasal dari hatinya, seperti bisikan kata-kata itu keluar begitu saja. Berbanding terbalik dengan Adnan yang bahkan sudah meloncat kegirangan di kamarnya. Adnan benar-benar akan menjadi lelaki brengsek bagi Melati.


“Karena ulang tahun kamu lusa gimana kalau kita menginap selama 3 hari 2 malam? Aku punya kenalan teman yang bisa bantu hemat biaya sewa.” Tanya Adnan


“Aku ikut kamu aja” Jawab Melati


“Oke. Kalau gitu besok aku jemput kamu jam 10 pagi ya, kamu siapin barang-barang yang mau di bawa. Oh iya tempat itu dekat dengan pantai, kalau kamu mau berenang” Ucap Adnan senang dan langsung memutus sambungan telpon.


“Ini pertama kalinya Adnan menutup telpon duluan” Gumam Melati sedih memandang layar handphonenya. “Biarlah, aku juga tidak tahu apa alasan aku bertahan hidup selama ini”.


\*\*\*


Sekitar pukul 1 siang mereka sampai di penginapan milik keluarga teman Adnan. Penginapan ini langsung menghadap ke arah pantai lokal. Meskipun berada di pinggiran ibukota, penginapan ini justru sangat ramai dikunjungi terutama saat penghujung tahun seperti ini.


Rata-rata pengunjungnya adalah rombongan anak muda yang ingin menghabiskan pergantian tahun dengan teman-temannya. Ada juga beberapa rombongan keluarga yang datang menginap di sana. Lokasi yang jauh dari pusat ibukota membuat suasana di sekitar penginapan terasa lebih asri. Tidak ada hiruk pikuk dan gaduh seperti layaknya berada di pusat kota. Pemandangan yang disuguhkan pun tidak kalah cantik dari pantai-pantai terkenal lainnya. Ditambah lagi akan ada festival kembang api saat pergantian tahun nanti.


Karena penginapan ini adalah milik keluarga teman Adnan, dimana temannya itu juga sudah turun tangan dalam bisnis. Sehingga Adnan bisa mendapat potongan harga untuk menginap selama beberapa hari. Dan juga mendapat kebebasan untuk bisa menyewa hanya satu kamar untuk mereka berdua.


Begitu memasuki kamar Melati langsung dibuat terkagum-kagum. Dua buah jendela dengan ukuran lumayan besar langsung menghadap ke arah pantai. Pemandangan ramainya orang sedang berjalan-jalan di pantai langsung dapat di lihat dari balik jendela kamar mereka dilantai 3.


Kamar mereka juga lumayan besar dengan sebuah tempat tidur yang muat untuk dua orang, sebuah lemari tempat pakaian, meja hias, meja tamu lengkap dengan dua buah kursi, dan kamar mandi. Adnan juga memilih kamar dengan pendingin ruangan, karena meskipun di pinggiran cuaca pada siang hari masih lumayan terik.


“Kita istirahat dulu aja ya, nanti sore baru kita keluar lihat pantai” Ucap Adnan. Melati hanya mengangguk sambil menyusun pakaiannya ke dalam lemari. Saat sudah selesai menyusun pakaian masing-masing Adnan mengambil sebuah bantal dari tempat tidur dan meletakkannya di lantai.


“Untuk sekarang kamu aja yang tidur di atas” Ucap Adnan dan langsung membaringkan tubuhnya dilantai untuk tidur.


Sore harinya mereka habiskan untuk berkeliling pantai dan mencoba berbagai jenis makanan. Hingga tanpa terasa hari sudah beranjak larut. Adnan terlebih dahulu membasuh badannya, setelah selesai baru di susul oleh Melati.


Selama berada di kamar mandi jantung Melati terus berdebar tidak karuan. Melati sibuk memikirkan apa yang akan terjadi setelah dia keluar dari kamar mandi ini. Tidak mungkin Melati menolak permintaan Adnan sekarang, Melati sudah terlanjur berjanji.


Suasana yang ramai di luar sana berbanding terbalik dengan suasana di dalam kamar Adnan dan Melati. Sudah setengah jam mereka hanya berbaring diam di atas tempat tidur, tidak ada suara dan tidak ada pergerakan. Melati sudah merasa senang karena Adnan tidak juga mengatakan apapun kepadanya. Saat akan masuk ke alam tidur, Melati mulai terusik dengan Adnan yang mulai menciumi lehernya.


Gerakan Adnan sangat lembut dan memabukkan, membuat Melati tidak bisa menolak. Semua terjadi begitu saja malam itu. Yang diingat Melati hanya rasa sakit seperti dikoyak tapi setelahnya sebuah rasa baru yang belum pernah ada dirasakan oleh Melati. Mereka melewati malam itu dengan penuh gairah.