Before 25

Before 25
Bab 17 Tutup Telinga



Adnan tentu saja sudah mendengar mengenai gossip yang mendera Melati. Sepulang kuliah tadi Adnan langsung menjemput Melati. Tapi setelah satu jam menunggu tanpa kabar, Adnan akhirnya pulang ke kostnya.


Handphone Melati masih tidak bisa dihubungi yang membuat Adnan menjadi uring-uringan. Adnan sebenarnya bisa saja datang langsung ke kost Melati. Tapi Adnan tidak ingin melanggar batas lagi. Cukup waktu itu Melati menghilang tanpa kabar selama sebulan.


Sembari menunggu kabar dari Melati, Adnan bermain game dengan teman-teman satu kostnya. Game yang sedang naik daun itu sangat bagus untuk menghilangkan stress, menurut Adnan.


Saat sedang semangatnya bermain game sebuah pesan masuk ke handphone Adnan. Sebuah notifikasi kecil menunjukkan nama si pengirim pesan. Adnan langsung berdiri dan berlari masuk ke dalam kamar. Meninggalkan teman-temannya yang berteriak memanggil Adnan untuk kembali ke dalam dunia game.


Dengan gesit Adnan membuka pesan Melati, membacanya dan menekan tanda telepon di layar handphonenya. Dering pertama, kedua, ketiga..


“Ya” Ucap Melati dari seberang sana


“Kamu baik-baik aja?” Tanya Adnan langsung.


Mendengar pertanyaan Adnan membuat Melati yakin bahwa Adnan sudah mendengar gossip itu juga.


“Aku baik-baik aja. Maaf tadi aku gak kasih kabar, aku pulang bareng Rara” Jawab Melati tidak enak


“Itu bukan masalah Mel. Asal bukan cowok lain aja yang antar kamu pulang” Ucap Adnan dan tidak disahuti lagi oleh Melati


“Besok aku jemput jam berapa?” Tanya Adnan


“Kamu ke kampus jam berapa?” Melati balik bertanya. Kalau Adnan tidak ada keperluan ke kampus besok pagi, Melati akan lebih memilih pergi dengan Rara


“Besok aku pergi lebih pagi. Sekitar jam 8. Aku ada keperluan dengan organisasi kampus” Jawab Adnan


“Kalau gitu, kita pergi jam 8 aja. Aku juga harus ke perpustakaan” Ucap Melati. Hening sesaat.


“Aku tahu kamu bukan orang seperti itu Mel. Jangan dengarkan kata-kata orang lain. Kita hidup di dunia ini untuk kesenangan kita. Kita tidak punya kewajiban apapun untuk menuruti setiap perkataan orang lain. Mereka juga tidak berhak mengatur kita” Ucap Adnan tulus


Melati sangat tersentuh dengan kata-kata yang diucapkan Adnan. Melati tidak salah membiarkan Adnan masuk dalam lingkaran kehidupannya.


\*\*\*


Adnan dan Melati sudah sampai di depan gerbang kampus Melati. Kali ini Adnan harus memastikan mengantar Melati sampai di ruang perpustakaan. Setelah memarkirkan motornya, Adnan dan Melati berjalan bersama menuju ruang perpustakaan.


Meskipun hari masih pagi ternyata sudah ada banyak orang di kampus. Baik senior maupun junior. Mereka semua sibuk dengan urusannya masing-masing. Dari banyak orang ada juga teman seangkatan Melati. Melihat Melati yang berjalan berdampingan dengan Adnan membuat mereka kembali berbisik.


“Tuh lihat. Bukannya itu Melati yang katanya simpanan om-om”


“Iya betul. Masih ada muka ya dia datang ke kampus bareng cowok lagi”


“Katanya sih dia itu sering banget nongkrong di mall. Gak tau deh ngapain”


“Pasti ketemu sama om-om lah. Kayak gak tau aja”


“Pantesan baju dia bagus-bagus. Keluaran terbaru semua. Pasti om dia tuh yang kasih”


“Gelang yang dia pakai pasti pemberian om-om juga. Setelah aku cari-cari kemarin ternyata gelang itu limited edition. Cuma ada 10 doang di dunia.”


“Yang benar? Pakai pelet apa dia sampai bisa dapat barang mewah begitu”


“Pelet apalagi. Pastinya pakai badan dialah. Mana mungkin dia dapat barang mewah dengan percuma”


“Aku gak nyangka dia orangnya kayak gitu. Padahal selama ini dia selalu kelihatan polos”


“Justru orang polos itu yang harus kita hindari. Entah udah berapa banyak laki-laki yang tidur sama dia”


Kedua tangan Adnan tiba-tiba menutup telinga Melati. Melati sempat terkejut dengan perlakuan Adnan.


“Kita gak perlu mendengar mereka” Ucap Adnan di dekat telinga Melati. Hembusan nafas Adnan yang hangat langsung mengenai kulit leher Melati. Melati sampai merinding dengan Adnan yang begitu dekat dengannya.


Adnan terus menempelkan kedua tangannya di telinga Melati sampai mereka tiba di depan perpustakaan.


“Sampai disini aja” Ucap Melati dan melepas tangan Adnan dari telinganya


“Jangan dengarkan mereka. Mereka itu hanya segerombolan semut. Sekali kamu pijak mereka semua akan mati” Ucap Adnan dingin


“Aku gak bisa lakukan itu. Mereka makhluk hidup” Ucap Melati polos


“Kalau begitu aku hanya harus mengucapkan terima kasih atas kebaikan hati kamu?” Melati tersenyum menghadap Adnan


“Bukan hanya terima kasih sayang” Ucap Adnan mengedipkan sebelah matanya. “Nanti aku jemput ya” Adnan mengusap lembut rambut Melati dan langsung pergi meninggalkan tempat itu.


Melati hampir saja bereriak histeris mendapat perlakuan seperti itu dari Adnan. Laki-laki satu-satunya yang dekat dengannya saat ini.


\*\*\*


Memasuki ruang perpustakaan, Melati berjalan langsung ke rak dengan buku yang tersusun rapi. Beberapa orang di dekatnya langsung sibuk berbisik begitu melihat Melati. Melati hanya berjalan melewati mereka. Masa bodo dengan kalian semua, pikir Melati.


Sejam Melati duduk membaca di ruang perpustakaan. Dihadapannya sudah ada beberapa buku yang tadi sudah dipinjamnya terlebih dulu. Melati hanya tinggal menunggu kedatangan Rara.


Tadi Rara mengirim pesan untuk menyuruh Melati tetap menunggu di perpustakaan. Ada hal penting yang harus disampaikan kata Rara.


Tidak lama Rara pun datang dan duduk di samping Melati.


“Aku langsung aja. Silvia adalah orang dibalik semua gossip kamu” Ucap Rara pelan


“Aku tahu” Balas Melati


“Kamu tahu darimana?” Tanya Rara penasaran. Perasaan Rara menyelidiki ini semalam suntuk dan belum memberitahukan siapapun.


“Dia suka sama Adnan. Dia juga pernah kirim pesan supaya aku jauhi Adnan” Jawab Melati datar


“Kenapa kamu gak bilang sama aku?” Tanya Rara lagi


“Aku gak tahu kalau dia berpikiran pendek seperti itu” Jawab Melati polos


Rara merasa jengkel setengah mati. Bukan pada Silvi, bukan pada orang-orang yang menceritakan gossip, tapi pada Melati.


“Kenapa dia sepolos ini ya Tuhan?” Batin Rara mengadu


“Kalau gitu kamu harus kasih tahu sama Adnan” Ucap Rara


“Untuk apa?” Tanya Melati


“Biar Adnan bisa bilang ke Silvi kalau Adnan gak punya perasaan apa-apa sama Silvi” Kini Rara sudah sangat keki sekedar melihat Melati.


“Mana aku tahu gimana perasaan Adnan ke Silvi” Melati mejawab lagi


“Ya ampun Melati. Tolong deh jangan buat aku kesal. Kamu dan Adnan pasangan kekasih dan kamu bilang kamu gak tahu gimana perasaan Adnan ke Silvi. Kamu mau main-main sama aku ya?” Kini nada suara Rara sudah naik satu oktaf meskipun dalam suasana berbisik


“Sejak kapan aku dan Adnan jadi pasangan kekasih?” Tanya Melati bingung


“Nih orang benar-benar. Kan kamu sendiri yang terima pernyataan cinta Adnan kemarin” Jawab Rara. Rasanya oksigen diotaknya sudah mulai berkurang karena menahan emosi sambil berbisik.


“Kami cuma teman Ra” Ucap Melati


“Gak ada yang namanya teman di antara perempuan dan laki-laki Melati ku sayang. Dan kamu juga Adnan bukan dalam status pertemanan. Kalian sepasang kekasih. Kamu sendiri yang menerima Adnan. Dan Adnan juga berhak ikut campur dalam masalah ini” Putus Rara


Melati diam sesaat. Memikirkan setiap perkataan Rara. Melati berpikir bahwa dirinya dan Adnan masih dalam status pertemanan. Mengingat bahwa mereka juga baru berkenalan. Tapi setelah mengingat kembali perkataan Adnan waktu di café hari itu, Melati akhirnya sadar.


Adnan memintanya untuk menjadi teman sehidup semati. Bukan teman biasa.


“Astaga… astaga” Ucap Melati cepat. Wajahnya sudah merona merah memikirkan statusnya yang sudah menjadi pacar orang.


“Aku harus bagaimana Ra? Semua orang saja sudah bercerita yang jelek tentangku saat ini. Bagaimana kalau mereka tahu aku bahkan sudah berpacaran dengan Adnan?” Tanya Melati panik.


Melihat hal itu, Rara lalu menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Melati. Biar saja orang memandang mereka berdua aneh.


“Jangan dengarkan kata-kata mereka lagi Mel. Semua itu tidak betul. Itu cuma karangan dari orang yang gak suka melihat kamu dan Adnan pacaran. Orang itu cuma iri. Karena kamu jauh lebih spesial daripada dia. Jadi sekarang ayo kita kasih pelajaran sama cewek sialan itu” Ucap Rara keras. Rara tidak lagi berbisik. Rara memastikan semua orang mendengar perkataannya.


Setelah mengatakan hal itu, Rara menarik tangan Melati. Mereka harus cepat keluar dari sini sebelum petugas perpustakaan menangkap mereka.


Rara baru saja mengumpat tadi.