
Sejak sampai di café tadi perhatian Rara selalu tertuju pada Melati. Melati tampak sangat bahagia sekarang. Banyak hal yang sudah berubah dari Melati hanya selang beberapa bulan mereka tidak lagi menghabiskan waktu bersama.
Perubahan itu yang ingin Rara lihat dari diri Melati saat mereka bersama. Tawa lepas, sikap mau menerima, penampilan yang lebih feminim, dan juga merasa nyaman. Semua itu tampak jelas sekarang pada Melati. Satu hal yang membuat Rara sedih adalah fakta bahwa bukan dirinya yang berdiri di samping Melati saat ini.
Peran Rara sebagai satu-satunya sahabat dan tempat mengadu sudah diambil alih oleh orang lain. Seseorang yang merupakan salah satu dari bagian rencana Rara untuk mengubah Melati. Harusnya Rara yang menjadi sumber kontrol utama dari peran-peran yang Melati dan juga Adnan jalankan. Tapi tampaknya Rara bahkan tidak mampu untuk mengontrol alur cerita mereka berdua.
Melihat penampilan Melati malam ini membuat Rara sedikit berbangga diri. Semua hal yang diajarkannya sungguh diterapkan dengan baik oleh Melati. Cara memakai riasan agar selalu tampak natural, mencocokkan pakaian yang digunakan, serta padu padan antara tas dan juga sepatu. Melati dengan wajah cantiknya sekarang benar-benar tampak dewasa dan juga feminim.
Rasa bangga itu teralihkan dengan adanya Adnan yang setia mendampingi Melati sejak tadi. Bahkan sekarang mereka tidak malu lagi datang sambil berpegangan tangan atau Adnan yang merangkul mesra pinggang Melati.
Awalnya Rara terkejut dengan perubahan yang begitu banyak pada Melati. Tidak pernah Rara duga bahwa Melati akan bertindak jauh di luar bayangannya selama ini. Selain itu, melihat bagaimana cara Melati memandang Adnan sungguh membuat Rara iri.
Melati telah menemukan tempat baginya untuk berpulang
Sebuah rumah yang menjadi satu-satunya tempat Melati untuk berlindung
Rumah yang khusus hanya untuk Melati
\*\*\*
Pertemuan mereka malam tadi hanya berlangsung singkat. Jam delapan malam mereka semua sudah kembali ke rumah masing-masing. Pulang lebih awal akan membuat rasa bersalah sekaligus rasa sedih akan berkurang dibandingkan harus melewati sepanjang malam dengan dipenuhi perasaan bersalah yang tidak terucapkan.
Malam tadi sebelum meninggalkan café, Rara berniat untuk berbicara sebentar dengan Melati. Tapi saat melihat Melati dan Adnan yang seperti tidak terpisahkan membuat Rara mengurungkan niatnya. Dalam diam Rara memperhatikan mereka berdua yang berada di tempat parkir yang sepi.
Sebuah pemandangan yang sangat langka membuat Rara begitu terkejut. Semula semuanya tampak biasa saja, tapi saat Adnan mulai melihat sekeliling rasanya ada yang janggal. Dan tanpa aba-aba Adnan mencium bibir Melati sekilas, membuat Rara yang sudah duduk santai di dalam mobil hampir saja mengumpat kasar.
Tempat parkir itu memang sepi tapi tidak menutup kemungkinan ada orang yang tiba-tiba datang dan melihat mereka. Apalagi suasana café masih sangat ramai karena bertepatan dengan malam minggu. Rara begitu geram saat Melati hanya tersenyum mendapat perlakuan itu, seperti menunjukkan bahwa Melati sudah mengalaminya berkali-kali.
Hal selanjutnya lebih mencengangkan bagi Rara. Melati duduk di boncengan dengan memeluk erat tubuh Adnan. Orang yang melihat sekilas saja bisa tahu bahwa seluruh bagian depan tubuh Melati menempel sempurna dengan punggung Adnan.
Firasat buruk langsung menghampiri Rara, sebelumnya Melati tidak pernah pacaran. Apa mungkin Melati melewati batas karena tidak punya pengalaman sebelumnya. Pertanyaan itu bagai menghantui Rara, Melati pasti tidak akan melakukan hal itu dengan Adnan, bagaimanapun Melati adalah gadis polos di mata Rara.
\*\*\*
Pagi ini Adnan berencana akan membawa Melati ke sebuah taman yang baru saja buka. Pemandangan asri di tengah kota akan sangat membantu agar Melati lebih rileks dan mendapat energi baru untuk segera menyelesaikan skripsinya. Mereka sudah sepakat untuk berangkat jam sepuluh pagi. Karena sudah lama tidak kencan Melati berencana untuk membuat Adnan terpukau dengan penampilannya hari ini.
Sebuah ketukan di pintu membuat Melati menghentikan aktivitasnya mengeringkan rambut. Melati sangat tidak mengharapkan siapapun akan mengganggu kencannya dengan Adnan hari ini. Begitu membuka pintu dan melihat siapa yang datang membuat ekspresi Melati yang tadi sangat cerah berubah datar.
“Boleh aku masuk?” Tanya Rara ragu melihat perubahan ekspresi Melati
“Tentu saja, ayo masuk” Jawab Melati canggung
Tidak ada yang berubah dengan kamar ini sejak terakhir kali Rara berkunjung. Semuanya masih sama, berdiri kokoh di tempatnya masing-masing dan tidak akan beranjak. Rara memilih duduk di kursi belajar milik Melati dan duduk dengan sangat canggung di sana. Biasanya Rara hanya akan menerobos masuk dan menjatuhkan dirinya di kasur. Tapi kali ini semua berbeda.
“Kamu kayaknya punya janji pagi ini” Ucap Rara setelah melihat satu set pakaian tergantung rapi di dekat lemari.
“Aku mau keluar bareng Adnan” Ucap Melati sambil mendudukkan dirinya di atas kasur
“Hubungan kamu sama Adnan berjalan lancar sejauh ini?” Kalimat itu keluar begitu saja, bukan sebagai pertanyaan melainkan pernyataan.
“Kita udah lama gak keluar bareng ya” Ucap Rara sambil tersenyum. Tapi siapapun yang melihat pasti tahu senyuman itu sungguh dipaksakan
“Aku sibuk belakangan ini, kamu juga pasti sibuk untuk penelitian” Ucap Melati dan bangkit berdiri menuju meja hiasnya. Acaranya dengan Adnan harus tetap berjalan hari ini.
“Mau aku bantu pakai make up nya?” Tawar Rara
“Gak usah, aku udah terbiasa pakai sendiri kok” Tolak Melati. Suasana canggung kembali mengisi ruangan itu. Melati tampak sibuk merias wajahnya sementara Rara sibuk dengan pikirannya.
“Kemarin aku gak sengaja lihat kamu dan Adnan di parkiran café” Ucapan Rara membuat Melati langsung menghentikan aktivitasnya. Melati berbalik dan menatap Rara yang juga menatapnya dalam.
“Kami pacaran, itu hal yang wajar” Jawaban Melati sungguh mengejutkan bagi Rara
“Aku tahu itu wajar tapi di tempat terbuka seperti itu bisa saja ada banyak orang lain yang lihat” Ucap Rara menjelaskan
“Lalu apa kami harus melakukannya di tempat yang tersembunyi?” Nada suara Melati menunjukkan ketidaksukaan
“Bukan seperti itu juga Mel tapi” Kalimat Rara bahkan langsung dipotong oleh Melati
“Kamu sendiri yang bilang aku harus melakukan apapun yang aku mau tanpa harus memikirkan pendapat orang lain. Lalu sekarang saat aku sudah melakukannya kamu ingin mengkritik aku? Mengatakan bahwa perbuatanku itu salah?” Tatapan itu, dia bukan Melati yang dulu lagi.
“Aku mengatakan ini demi kebaikan kamu, dan di motor juga kamu duduk terlalu dekat dengan Adnan” Ucap Rara frustasi
“Aku tahu apa yang aku lakukan” Sebuah kalimat singkat yang begitu menohok
“Saat ini kamu seperti terobsesi dengan Adnan” Ucap Rara langsung. Melati sempat terdiam dengan perkataan Rara, Melati tersinggung.
“Kalau menurut kamu begitu aku akui, saat ini aku begitu terobsesi dengan banyak hal” Ucap Melati
“Jangan bilang kalau kamu juga sudah melakukan itu dengan Adnan?” Pertanyaan inti dari tujuan Rara datang menemui Melati hari ini. Melati hanya diam dan tidak menjawab malah melanjutkan merias wajahnya.
Diam itu menjelaskan semuanya. Jantung Rara seperti mencelos jatuh saat menyadari keadaan saat ini. Sahabatnya benar-benar sudah berubah sekarang. Dia bukan lagi Melati.
“Kenapa kamu lakuin itu? Kamu gila hah? Gimana kalau kamu hamil?” Tanya Rara dengan nada tinggi
“Aku bukan anak sekolahan yang begitu menakuti akan hal itu. Aku bahkan berharap agar hal itu segera terjadi” Jawab Melati tenang
“Kamu berubah Mel” Ucap Rara masih tidak percaya
“Bisakah kamu pergi sekarang? Adnan sebentar lagi datang” Perasaan Rara runtuh seketika, dirinya tidak diperlukan lagi.
Dengan gontai Rara bangkit berdiri, memandang sekali lagi punggung Melati dan seisi kamar itu. Ruangan itu memang tidak pernah berubah tapi pemiliknya yang berubah. Sebelum sempat membuka pintu Rara terdiam mendengar kata-kata Melati.
“Selama ini sudah menjadi sahabatku, aku sungguh berterima kasih. Tapi aku juga ingin menjalani kehidupanku. Aku bahkan tidak tahu sampai berapa lama” Ucap Melati masih memunggungi Rara.
Air mata Rara mengalir deras mendengar kata-kata terakhir dari sahabatnya itu. Seluruh perasaan marah, sedih, bahagia, kesal bercampur menjadi satu. Tetapi fakta bahwa Melati tidak membutuhkannya lagi sungguh membuat Rara kecewa.
“Aku tidak pernah tahu bahwa kita akan berakhir seperti ini. Mungkin dari awal aku tidak usah membawa kamu ke dalam dunia ku” Rara berlalu keluar dan menumpahkan seluruh emosinya sendirian di dalam mobil.