
Rintik hujan yang jatuh perlahan semakin meningkatkan intensitasnya. Suara gemuruh hujan yang membentur tanah menambah ramainya situasi di taman saat itu. Tanah yang semula kering perlahan basah dan mengeluarkan aroma yang disukai Melati.
Matahari masih bersinar dengan terangnya di atas sana. Langit juga masih membentang indah dengan warna birunya. Hanya saja hujan sepertinya menjadi tamu tak diundang, tamu yang ingin ikut meramaikan keadaan.
Seolah tidak mau kalah, matahari masih tetap memancarkan panasnya. Menerangi awan dan juga menerangi tempat Melati terbaring saat ini. Matahari tidak ingin perpisahan ini menjadi sesuatu yang menyakitkan. Setidaknya dengan sedikit sinar yang diberikannya akan menunjukkan jalan bagi mereka yang tersesat.
Melati menutup matanya merasakan air hujan yang jatuh membasahi tubuhnya. Rasanya menyakitkan sekaligus dingin. Melati lalu membuka kembali matanya dan memandang langit terang di atas sana. Cahaya dari matahari yang bersinar terang membuat Melati sedikit lega. Alam tidak meninggalkannya sendiri dalam kegelapan dan dinginnya hujan. Matahari masih setia menemaninya.
“Sakit” Rintih Melati pelan
\*\*\*
Adnan yang dari kejauhan melihat Melati hendak melangkah pergi langsung bangkit berdiri. Adnan tidak bisa membiarkan Melati pergi begitu saja, dia sudah menunggu begitu lama. Rasa rindu itu sudah hampir tak terbendung lagi.
Adnan baru saja akan berlari mengejar Melati saat sebuah mobil dengan kecepatan tinggi tiba-tiba berbelok dari jalan menuju taman. Mobil itu melaju dengan sangat cepat dan menghantam tubuh Melati dalam sekejap. Tubuh Melati terpental dan berguling di kerasnya jalanan.
Semua itu terjadi hanya dalam hitungan detik. Langkah Adnan langsung terhenti begitu juga dengan kerja otaknya. Adnan berdiri dan memandang Melati yang sudah terbaring tak berdaya di aspal.
Semuanya begitu cepat, sehingga Adnan tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Tidak ada apapun yang bisa di cerna bahkan otaknya terasa kosong. Tetesan air yang jatuh membasahi wajahnya membuat Adnan memundurkan langkahnya.
Dipandangnya kembali jalanan tempat Melati terbaring. Beberapa orang sudah berkerumun di tempat itu, mengelilingi Melati yang tidak berdaya. Teriakan dari Rara akhirnya menyadarkan Adnan kembali. Melihat Rara yang berlari ke arah Melati membuat Adnan juga melakukan hal yang sama.
Alan sudah berada di sana dan sibuk menghubungi rumah sakit. Sementara orang lainnya hanya bisa melihat dengan kasihan pada Melati. Mereka tidak bisa melakukan apapun selain melihat kondisi Melati yang memprihatinkan.
Adnan langsung duduk bersimpuh di dekat kepala Melati dan meraihnya dalam pelukan. Wajah cantik yang dilihatnya tadi kini sudah berubah pucat pasi. Gaun putih yang dipakai Melati juga sudah berubah menjadi kemerahan.
Darah masih terus mengalir entah dari mana. Ditambah lagi dengan luka lecet yang ada hampir disetiap tangan dan kaki Melati. Melati masih membuka matanya, mencoba untuk tetap tersadar ditengah rasa sakit yang dirasakannya.
Pandangan mereka akhirnya bertemu, antara Adnan dan juga Melati. Adnan tidak mampu mengatakan apapun kepada Melati. Mulutnya terasa kelu bahkan untuk sekedar membukanya saja. Rasanya begitu sesak dalam tubuh Adnan. Adnan tidak tahu harus melakaukan apa dan mengatakan apa pada Melati.
Adnan hanya bisa terus memandang wajah pucat Melati dan mengelus lembut pipinya. Melati yang akhirnya menyadari bahwa ada Adnan didekatnya berusaha untuk tersenyum. Setelah penantian yang begitu lama, akhirnya Melati dapat melihat wajah laki-laki yang dicintainya itu.
Senyuman Melati membuat pertahanan diri Adnan akhirnya jebol. Adnan menangis tersedu-sedu memandang kekasihnya yang tidak berdaya itu. Siang itu hanya terdengar suara tangisan pilu dari seorang laki-laki yang bertemu kembali dengan pujaan hatinya.
Tidak lama kemudian suara riuh ambulans terdengar di sepanjang jalan. Beberapa petugas langsung turun membawa tandu, mengangkat tubuh Melati, dan memisahkannya secara paksa dari pelukan Adnan.
“Kamu ikut dengan Melati. Biar Rara ikut dengan saya, kami akan mengikuti dari belakang” Alan mengarahkan mereka dengan perintah cepat.
Alan juga sama dengan mereka. Alan begitu terkejut melihat Melati dalam kondisi seperti ini, padahal hanya beberapa detik saat Melati melambaikan tangan dengan senyuman di wajahnya. Tapi Alan tidak bisa diam saja, Alan yang berpengalaman dan lebih tahu harus melakukan apa. Jadi saat ini Alan tidak bisa membuang-buang waktu dengan menangis.
Melati sudah berada di dalam ambulans bersama dengan Adnan yang terus menggenggam tangannya. Sebuah selang oksigen terpasang dan juga balutan seadanya dibagian belakang kepala Melati. Balutan putih itu juga sudah berubah menjadi merah, menandakan perdarahan yang terjadi tidaklah kecil.
“Tolong jangan lakukan ini pada kami berdua. Kami sama-sama tersiksa dalam perpisahan panjang dan ini seharusnya menjadi pertemuan yang indah bagi kami. Aku harus melihat senyumannya setiap hari, aku harus hidup dengannya. Ku mohon jangan lakukan ini pada Melati. Dia sudah begitu banyak menderita” Mohon Adnan dalam hati. Air mata terus mengalir membasahi pipinya. Tangan dan juga wajahnya juga berlumur darah dari Melati.
Melati membuka matanya dan mencari keberadaan Adnan. Saat wajah yang dicarinya itu kelihatan, senyuman langsung mengembang di wajah pucat Melati. Tangan Adnan menggenggam tangannya kuat, menyalurkan kehangatan pada tangan Melati yang dingin membeku.
Melati membuka mulutnya berusaha mengatakan sesuatu. Tapi karena suaranya yang begitu pelan membuat Adnan tidak bisa mendengarnya. Adnan mendekatkan wajahnya dengan wajah Melati agar bisa mendengar lebih jelas.
“Aku minta maaf” Ucap Melati pelan. Suaranya begitu pelan dan juga bergetar, seakan berbicara menjadi sesuatu yang sangat menyakitkan bagi Melati saat ini.
“Bukan kamu, aku yang salah” Ucap Adnan yang membuat isakannya bertambah kuat
“Aku sudah begitu terobsesi dan tidak memikirkan perasaan kamu. Aku… aku sungguh menyesal. Kamu harusnya bertemu dengan perempuan yang… lebih baik daripada aku” Melati berusaha untuk tetap berbicara saat rasa sakit yang bertubi-tubi menghantamnya.
“Maaf karena tidak bisa menemani kamu. Kamu harus melanjutkan hidup, jangan terlalu sering mengingatku. Kamu… harus jadi lebih kuat” Melati menarik dalam nafasnya. Air mata mengalir membasahi wajahnya yang penuh noda darah.
“Aku sudah kembali. Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi, aku tidak akan bersikap seperti pengecut lagi. Aku berjanji. Jadi aku mohon tetaplah disampingku, aku.. aku tidak bisa tanpa kamu” Mohon Adnan
“Kamu sungguh laki-laki yang baik, semua ini bukan karena kamu. Ini adalah… permintaanku yang akhirnya terwujud. Dari awal aku harusnya tidak melibatkan kamu. Tolong jangan benci padaku” Ucap Melati ditengah rasa sakitnya.
“Terima kasih untuk waktu indah yang sudah kamu berikan. Aku tidak akan melupakan itu. Terima kasih karena sampai saat ini kamu masih mencintaiku” Melati mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata yang jatuh dipipi Adnan.
Selama beberapa saat mereka hanya saling memandang tanpa bicara. Hanya isakan tangis dan suara sirene ambulans yang terdengar begitu lantang.
Tangan Melati lalu jatuh luruh ke kasur. Matanya perlahan terpejam dan senyuman diwajahnya menghilang. Hanya ada Melati dengan wajah pucat sedang tertidur didampingi Adnan yang masih setia menggenggam tangannya.
\*\*\*
Ambulans berhenti dan pintu belakang terbuka. Dua orang petugas langsung bergerak cepat menurunkan Melati dan membawanya masuk ke ruang gawat darurat. Petugas medis yang sudah bersiap langsung bergerak dan memeriksa keadaan Melati.
Semula mereka masih bekerja dengan menghubungkan monitor dan saling memberikan komando. Namun itu hanya berlangsung dalam 5 menit, monitor yang terpasang tadi satu persatu dilepaskan. Petugas medis juga mulai pergi meninggalkan Melati sendirian.
Alan yang mengerti akan hal itu langsung menangis dan tidak menahan dirinya lagi. Saat ini perannya bukanlah sebagai dokter, tapi sebagai orang kepercayaan Melati. Melihat Alan yang menangis membuat Rara sadar. Rara berteriak histeris memanggil nama Melati dan akhirnya kehilangan kesadarannya.
Sementara Adnan masih berdiri di dekat kaki Melati. Memandang wajah cantik dari perempuan yang memiliki sepenuh jiwanya.
Adnan tidak lagi menangis, pandangannya hanya tertuju pada Melati. Adnan berdiri disana entah untuk berapa lama.
Melati pergi satu hari sebelum ulang tahunnya yang ke 24.